The Four Emirs

The Four Emirs
Alaric dan Nura



Nura tidak menyangka jika Alaric berani mencium bibirnya di depan Oom dan Tantenya. Tentu saja pria itu mendapatkan tamparan di wajahnya usai menciumnya.


"Alaric!" hardiknya dengan mata berkaca-kaca.


"Al! Kamu tuh yang benar saja!" bentak Reyhan melihat bagaimana wajah Nura tampak terluka.


"Maaf tapi aku benar-benar mencintaimu, Benben." Alaric menatap Nura dengan tatapan mesra.


"Kamu tuh!" Dina menjewer keponakannya. "Kan kasihan Nura, kamu sosor macam bebek!"


"Aduuuhh, Tante! Sakit!" rengek Alaric dengan wajah memelas.


"Nura, atas nama Alaric, saya minta ...."


"Oom, tidak usah minta maaf. Aku yang berbuat, aku yang bertanggung jawab" sergah Alaric sambil mengelus telinganya yang memerah akibat dijewer Dina.


"Untung ini di ruang private, jadi tidak kelihatan paparazi!" ucap Reyhan. "Al, kamu tanggung jawab sama Nura."


"Iya Oom."


"Kami tinggal dulu, kalian berdua selesaikan disini dulu." Dina menatap tajam ke Alaric.


Setelah Emir Al Jordan itu pergi meninggalkan Alaric dan Nura, pria itu pun berdiri di hadapan gadis itu.


"Benazir Nura Jaziri, maaf aku mencuri ciuman mu tapi aku benar-benar mencintaimu dan sebelum kamu pergi, aku ingin menyatakan perasaan ku padamu."


Nura menatap wajah Alaric yang tampak serius. Tidak ada wajah usil, yang ada wajah pria yang memandang dirinya mesra dan penuh cinta.


"Sejak kapan Al?"


"Hah? Apanya?" tanya Alaric bingung.


"Sejak kapan kamu sama aku?"


Alaric tersenyum. "Sejak kamu datang pertama kali ke istana Al Azzam pas liburan semester dikenalkan mas Rendra."


"Selama itu?" bisik Nura tertahan. Berarti Alaric sudah enam tahun menyukainya?


"Iya, enam tahun Benben. Aku baru lulus SMA dan bersiap-siap masuk Cambridge. Pas liburan itu mas Rendra datang bersama kamu dan awalnya kalian berpacaran tapi ternyata hanya bersahabat jadi setiap aku bisa menggoda dirimu Yaaaa... aku lakukan lah!"


"Al, apa kata kedua orangtuamu dan kakakmu kalau tahu kamu menyukai aku?"


"Mas Rendra tahu."


Nura melotot. "Direndra tahu?"


"Hei, kita tuh nyari tidak bisa menyimpan rahasia" kekeh Alaric.


Nura memegang pelipisnya. "Al, bolehkah aku memikirkan hal ini dulu?"


Alaric menatap tidak suka dengan ucapan Nura.


"Al, ini terlalu cepat dan aku terlalu kaget dengan sikap kamu. Dan aku harus meyakinkan diri aku sendiri."


"Apa kamu tidak ada perasaan padaku, Benben?"


Nura menatap Alaric. "Bukannya tadi aku sudah bilang..."


"Iyaaa kamu bilang aku, mas Rendra, Bang Ayrton dan Enzo adalah saudara laki-laki kamu! Tapi perasaan ku padamu bukan sebagai saudara perempuan, Benben!" suara Alaric terdengar agak keras.


Nura memegang wajah Alaric. Meskipun gadis itu termasuk tinggi, namun dia tetap saja harus mendongakkan wajahnya.


"Al, aku juga tadi bilang, ini terlalu cepat. Aku tidak mau menerima kamu karena terpaksa. Biarkan hatiku mantap dulu Al. Aku sangat bersyukur dicintai sedemikian rupa oleh seorang Emir tapi aku seorang yang jika dicintai seseorang, aku juga ingin mencintai dengan perasaan yang sama. Untuk saat ini, aku belum memiliki perasaan yang sama dengan mu Al, dan aku tidak mau kamu yang berusaha sendiri."


Alaric hanya menatap wajah cantik itu. Benben benar, akunya yang terlalu terburu buru, terlalu memaksa sedangkan Benben tipe semuanya harus tertata dengan jelas.


"Maafkan aku, Benben. Maaf aku yang terlalu memaksakan perasan aku."


Nura tersenyum manis. "Tidak apa Al, aku lebih menghargai orang yang menyatakan perasaannya apa adanya tapi bukan mencuri ciuman macam tadi!"


Alaric terbahak. "Aku bukan kakakku yang sukanya slow motion. Kalau aku suka, ya langsung saja aku ungkapin."


"Selama enam tahun kamu pendam?" Nura menatap tidak percaya.


"Memangnya kamu bakalan percaya kalau aku bilang suka kamu disaat aku masih berusia belasan?" ledek Alaric.


Nura menggelengkan kepalanya. "Aku pasti akan bilang kamu cuma cinta monyet."


"Nah tuh tahu!" cengir Alaric. "Yuk, kita sambut si tukang ngebut yang juara.


"Al... Kita nggak pacaran kan?" tanya Nura meyakinkan.


"No...belum tapi kalau kamu sudah mantap apapun keputusan kamu, terima aku atau tidak, aku akan terima Benben. Karena yang namanya perasaan, aku tidak bisa memaksa meskipun aku ingin." Alaric menatap gadis cantik itu.


"Are you sure Al? Misal kita tidak bersama?"


Nura hanya terdiam.


***


Enzo tampak sumringah melihat anggota keluarganya hadir disana dan pria itu sudah menyelesaikan acara jumpa pers dan acara-acara lainnya. Kini hanyalah acara ramah tamah bersama dengan para pembalap lainnya dan tamu undangan.



Hanya mengenakan kemeja putih, dasi hitam dan celana hitam, Enzo menghampiri kedua orangtuanya yang langsung memberikan ucapan selamat. Bahkan Dina memeluk erat putra tunggalnya yang sedikit lagi akan menjadi juara dunia formula satu untuk kedua kalinya.


"Hebat boy. Papa bangga sama kamu!" ucap Reyhan sambil memeluk putranya.


"Thanks papa. Semua kan hasil doa kalian semua." Enzo membalas pelukan ayahnya.


Beberapa pengawal sang papa dan mama pun memberikan selamat kepada pangeran Al Jordan itu.


Enzo melihat Alaric dan Nura menghampirinya dengan wajah bahagia.


"Selamat ya tukang ngebut!" ucap Alaric sambil memeluk sepupunya.


"Thanks Al!" balas Enzo lalu berbisik di telinga Alaric. "Bagaimana kamu dan Nura?"


"Masih mengambang."


Enzo mengernyitkan dahinya. "Dia masih belum yakin?"


Alaric mengangguk.


"Sabar Al. Kamu tahu kan perempuan tidak bisa diburu-buru dan dipaksa. Mereka butuh meyakinkan diri mereka sendiri."


"Kelamaan" sungut Alaric.


Enzo terbahak.


"Selamat ya Enzo" suara Nura membuat keduanya menoleh.


"Thanks Nura. Jadi berangkat ke Cambridge nanti malam?" tanya Enzo.


"Iya jadi."


"Ya sudah, aku tunggu nanti di bandara."


"Heeeeiiii, apa maksudnya ini?" seru Alaric tidak suka.


"Tenang Al, aku hanya menawarkan Nura berangkat bareng sama aku ke Harvard. Kan aku juga ada acara disana hari Selasa nya jadi sekalian sajalah!"


Alaric menatap judes ke Nura. "Kok kamu nggak bilang?"


"Enzo kemarin sore menghubungi aku katanya dia ada acara ke Harvard juga jadi lumayan kan aku ada temannya kesana." Nura menatap Alaric polos. "Aku kira Enzo cerita sama kamu."


"Nggak, Enzo nggak cerita. Aku baru tahu ini!" sungut Alaric.


"Al, aku hanya melihat praktisnya. Lagian aku menganggap Nura seperti aku sama Faranisa atau Safira atau Anandhita atau Amaranggana. Tidak ada di kamusku merebut cewek yang sudah diincar saudaraku!" ucap Enzo tegas.


"Maaf Al jika kamu merasa dilangkahi tapi aku tidak tahu kalau kamu belum tahu" ucap Nura. "Lagipula apa semuanya aku harus cerita sama kamu?"


"Tentu saja!" suara Alaric terdengar agak keras membuat orang-orang menoleh ke arah mereka.


"Al, tahan emosi kamu ! Ingat kamu dimana" bisik Enzo. Dia tidak mau terjadi skandal yang bisa merusak nama Al Jordan.


Alaric mengusap wajahnya kasar. "Terserah kamu, Benben. Aku tahu aku tukang maksa tapi perasaan ku padamu itu serius!"


"Al..." ucap Nura.


"Aku butuh udara segar!" Alaric pun keluar meninggalkan Enzo dan Nura.


"Dasar bocah! Gedhe ambek!" sungut Enzo.


Nura hanya menatap kepergian Alaric.


Astaghfirullah.


***


Yuhuuuu Up Sore Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️