The Four Emirs

The Four Emirs
Opa Senna, Raja Ngadi-ngadi



Senna memindai pria yang usianya mungkin seumuran Karl tapi lebih tua sedikit. Pria berambut pirang yang sudah beruban itu tampak anggun khas para bangsawan aristokrat menatap ramah ke Senna.


"Opanya...Zee? Oh, anda yang bertemu dengan cicit saya?" Senna menjabat tangan raja Maximilian dengan hangat.


"Akhirnya saya bertemu dengan Opanya Zinnia. Perkenalkan ini istri saya, Elisabeth." Ratu Elisabeth mengatupkan kedua tangannya di dada yang dibalas oleh Senna dengan meletakkan tangan kanannya di dada kirinya sambil mengangguk hormat.


"Perkenalkan ini istri saya Fatimah, lalu itu kedua orang tuanya Zee. Ay, Mariana ayo bertemu dengan Raja Maximilian dan Ratu Elisabeth yang kemarin mengundang Benji dan Zee."


Fatimah, Ayrton dan Mariana memberikan salam hormat kepada keluarga kerajaan Belgia itu.


"Kenapa anda berpakaian casual, yang mulia?" tanya Senna.


"Saya ... Eh kami hanya ingin santai saja, tuan Al Jordan. Oh ngomong-ngomong dimana Zinnia?" tanya Raja Maximilian sambil celingukan.


"Zee sedang bersama dengan Oomnya..." jawab Mariana. "Itu dia."


Tak lama Zinnia datang bersama Benji. Keduanya terkejut melihat keluarga kerajaan Belgia. berada dalam ruang VIP khusus.


"Yang mulia." Benji membungkuk hormat begitu juga dengan Zinnia yang memberi hormat seperti yang diajarkan Mariana.


"Wah, anak cantik mau pulang ke Dubai?" tanya ratu Elisabeth ke Zinnia.


"Tidak yang mulia, Zee masih sekolah disini. Nanti Desember baru ke Dubai" jawab Zinnia.


"Wah harus terpisah ya tuan Al Jordan dengan cucunya" kekeh Raja Maximilian.


"Iya, mau bagaimana. Cicit saya itu sekolahnya disini, mamanya juga masih ada pekerjaan disini. Jadi biar diselesaikan dulu baru nanti ke Dubai" senyum Senna santai.


Ayrton, Mariana dan Benji hanya saling berpandangan satu sama lain. Dasar Opa tukang ngadi-ngadi!


Para orang tua tampak asyik mengobrol dan Ratu Elisabeth tampak antusias ketika tahu Mariana bekerja di Carolina Herrera dan meminta untuk dikirimkan rancangan dan koleksi terbaru jika nanti ada.


Zinnia akhirnya duduk di kursi tunggu dan seorang pengawal wanita Al Jordan mendekati Zinnia.


"Nona muda mau apa? Roti? Susu?" tanya pengawal itu.


"Tidak, terimakasih. Zee cuma capek saja pengen duduk" jawab Zinnia sambil menyandarkan kepala mungilnya di pinggiran sofa.


"Ini nona, pakai bantal yang mulia permaisuri agar nyaman." Pengawal itu meletakkan bantal milik Fatimah di sofa dan Zinnia pun langsung menaruh kepalanya diatas bantal empuk dan harum Jasmine. Tak berapa lama, gadis cilik itu terlelap.


Pengawal wanita itu menjaga Zinnia untuk tidak jatuh karena pesawat baru akan ready sepuluh menit lagi.


"Lho anakku malah bobok" ucap Mariana ketika melihat putrinya tidur nyenyak diatas bantal.


"Biarkan saja Mariana, biarkan Zinnia tidur. Ohya, kamu belum berkenalan dengan cucu kami. Sean? Lho kemana anak itu?" Ratu Elisabeth celingukan mencari cucunya.


"Pangeran Sean sedang ke kamar mandi yang mulia Ratu.


Tak berapa lama datang seorang anak laki-laki berambut pirang kecoklatan dengan wajah songong. Ayrton melirik ke Benji.


"Itu yang namanya pangeran Sean" bisik Benji.


"Lebih songin dari mas Hoshi."


Benji menatap bingung. "Songin?"


"Songong dan dingin, Ben" jawab Ayrton asal.


"Oh Astaga, kamu ketularan Opa Eiji hobinya bikin kata baru."


***


Sean melihat adanya orang - orang asing yang berada dalam satu ruangan dengan Grandad dan Grandma nya. Melihat gaya dari pria tua yang mengobrol dengan Grandad nya, Sean tahu bahwa pria itu adalah seorang bangsawan timur tengah.


"Sean, ayo kemari. Grandma perkenalkan dengan orangtua dan Opa Omanya Zinnia" panggil Ratu Elisabeth.


Sean pun menghampiri grandmanya dengan bibir tertarik keatas sedikit yang menurutnya itu sudah berupa senyuman.


"Ih, Sean senyumnya yang manis dong!" tegur Grandmanya. "Kamu sudah kenal Uncle Benji kan? Ini orang tuanya Zinnia, Uncle Ayrton dan Aunty Mariana. Uncle Ayrton salah satu Emir di Dubai."


Sean mengulurkan tangannya untuk bersalaman tanpa mengucapkan suara sedikit pun.


"Ayo, Grandad perkenalkan dengan Opa dan Omanya Zinnia. Tuan Al Jordan, nyonya Al Jordan, perkenalkan ini cucu saya yang nomor dua, Sean. Sean, salaman dengan Opa dan Oma Al Jordan."


Dengan sopan, Sean menyalami Senna dan Fatimah. "Lalu dimana anak centil itu?"


Senna dan Fatimah melongo. Anak centil.


"I'm sorry Opa dan Oma, tapi Zinnia memang centil."


Senna terbahak. "Ya mau gimana, Zee memang kesayangan kami semua. Namanya juga cicit perempuan satu-satunya jadi wajar lah kalau dia centil."


Ayrton dan Benji hanya melengos. Semakin menjadi ngadi-ngadi nya.


Sean lalu celingukan dan melihat Zinnia tidur dengan nyenyaknya. Lalu bocah itu menghampiri Zinnia dan hanya memandangi wajah imut yang terlelap.


Kamu tuh! Ada banyak orang malah tidur ! Dasar centil!


***


JFK Airport, New York


Joey akhirnya meminta ijin pada pihak rumah sakit dan istrinya Georgina untuk ikut Alaric ke Dubai karena dia penasaran dengan cewek gila yang ngaku-ngaku jadi calon istri adiknya.


"Bang, bilang saja elu butuh refreshing, nggak usah pakai acara bilang bantu aku atau ceweknya mas Rendra sakit kaleee" cebik Alaric ketika keduanya kini berada di pesawat pribadi Al Azzam.


"Dokter Jaziri bisa Abang tinggal kok karena dia sudah ganti konsulen sementara jadi Abang tenang."


Alaric mengerenyitkan dahinya melihat abangnya tampak santai mengganti konsulen seenaknya.


"Gue curiga deh! Siapa konsulennya?"


"Oom Fuji."


Sudah kuduga pasti ada Onta di balik Piramida!


"Lho jadwal Dokter Jaziri besok itu pasiennya rata-rata bedah jantung dan siapa di New York yang kompeten dokter jantungnya? Oom Fuji kan? Lagian dia juga nganggur kok."


Alaric hanya memegang pelipisnya. "Bener-bener deh keluarga aku!"


***


Cambridge Massachusetts USA


Nura terkejut karena Joey dengan santainya mengganti konsulen untuk dirinya seenaknya ketika pihak rumah sakit memanggilnya.


"Saya harus ganti konsulen?" tanya Nura bingung.


"Dokter Jaziri jadwal anda untuk melakukan operasi kan tiga pasien berikutnya adalah pasien jantung bukan?" ucap kepala bedah itu.


"Iya betul. Jadwal saya besok memang bedah jantung."


"Oleh karena dokter Bianchi ada urusan keluarga mendesak selama dua Minggu, beliau sudah mengganti konsulen anda."


"Siapa kah dok?" tanya Nura penasaran.


"Dokter Fuji Al Jordan."


Nura melongo. Astagaaa! Sama saja keluar dari mulut macan masuk mulut tyrannosaurus Rex!


***


Dubai UAE


Naadhira tersenyum mendapatkan informasi kalau Alaric sedang dalam perjalanan menuju Dubai setelah pergi ke Cambridge.


Tidak sia-sia aku punya koneksi di JFK. Sepertinya aku akan menjemputmu, Al.


Naadhira bersiap dengan gaunnya yang paling bagus untuk pergi ke Dubai Airport demi menjemput Alaric.


Sepertinya kakek dan nenekmu lupa kalau kita sebenarnya sudah dijodohkan. Tidak dapat Direndra, Alaric pun tidak masalah. Yang penting , aku menjadi istri Emir Al Azzam. Nanti tinggal menyingkirkan Direndra, pangeran sombong itu!


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Maaf telat ...


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️