The Four Emirs

The Four Emirs
Kembali ke Dubai



Dubai Airport UAE


Alaric dan Joey turun dari pesawat pribadi keluarga Al Azzam bersama dengan dua pengawal yang selalu menemani kemana Alaric pergi. Kedua bersaudara itu sama-sama mengenakan jas bewarna abu- abu. Keempatnya pun berjalan menuju mobil Range Rover yang sudah disiapkan dan segera pulang ke istana Al Azzam. Karena Alaric adalah salah satu Emir di Dubai, maka dia mendapatkan hak istimewa penjemputan mobil pribadi, bisa dilakukan di hanggar.



Alaric... ganteng amat dik...



Babang Joey


***


Naadhira menunggu kedatangan pesawat milik Alaric di ruang penjemputan VIP . Dia menunggu Alaric keluar dari pintu kedatangan karena biasanya para bangsawan selalu melewati pintu itu.


Hampir satu jam Naadhira menunggu dan tidak ada tanda-tanda Alaric keluar dari gate khusus itu. Naadhira pun bertanya kepada petugas disana.


"Maaf, pak. Apakah pesawat dari kerajaan Al Azzam sudah mendarat?" tanyanya penasaran.


"Maaf nona, kami tidak bisa memberitahukan tentang informasi keluarga kerajaan baik Al Azzam atau pun kerajaan lain."


"Tapi pak, saya hendak menjemput pangeran Al Azzam."


Petugas itu memindai Naadhira dan wajahnya menatap sangsi. "Maaf nona tapi itu sudah menjadi tugas kami untuk tidak memberitahukan informasi apapun kepada siapapun termasuk nona."


Naadhira mendengus kesal karena dia sendiri tidak bisa memberikan suap karena bisa dihukum karena CCTV di bandara sangatlah ketat.


"Baiklah! Saya permisi." Naadhira pun pergi meninggalkan ruang jemput eksklusif.


"Naadhira!" panggil seorang temannya yang bekerja di bandara. "Ketemu dengan pangeran Al Azzam?"


Naadhira menggelengkan kepalanya. "Petugasnya brengsek! Tidak mau memberi tahu!"


"Kamu tahu pesawat nya sudah mendarat dari tadi."


Naadhira melongo. "Apa-apa?!"


"Sudah mendarat dari tadi dan mereka sudah pulang ke istana Al Azzam."


Naadhira menatap temannya dengan tatapan marah.


Brengseeekkk!


***


Alaric dan Joey tiba di istana Al Azzam lalu segera menuju ruang kerja eyangnya, Hasyim Al Azzam.


"Assalamualaikum" salam Alaric dan Joey ketika mereka berada di pintu ruang kerja Hasyim.


"Wa'alaikum salam. Lho sudah pulang? Kok Joey ikut?" balas Hasyim sambil melepaskan kacamata bacanya. Hasyim sendiri didampingi oleh asistennya Fahd.


"Iya Opa, aku lagi kangen Dubai. Oma Aisyah dimana Opa?"


"Omamu sedang ada urusan dengan kaum ibu-ibu untuk acara besok Sabtu." Hasyim menatap wajah Alaric yang cemberut. "Cucu eyang ada apa? Kok cemberut?"


Alaric pun duduk di kursi depan meja kerja Hasyim.


"Eyang, apakah eyang mengenal Raina Al Baraka?" tanya Alaric penasaran.


Hasyim tampak berpikir. "Pemilik kebun kurma Al Baraka?"


"Bingo."


"Kenapa memangnya?"


"Cucunya gila!"


Hasyim terkejut. "Maksudnya?"


"Dia baru bertemu dengan Al sekali waktu touring kemarin terus habis itu meneror Al dan bilang ke Maliq kalau dia calon istri Al!"


"Sebentar...sebentar. Kok bisa cucunya seperti itu? Memang kamu bilang apa ke cucunya waktu bertemu?"


"Astaghfirullah Al Adzim! Al tuh nggak bilang apa-apa, eyang. Al hanya bertamu sopan kesana tapi Al tidak bilang apa-apa atau pun berjanji apa-apa."


Hasyim menatap cucu tampannya. "Raina Al Baraka itu ingin menjadi besan eyang karena tahu eyang punya kamu dan Direndra tapi eyang putrimu menolak perjodohan karena menurut eyangmu, namanya jodoh kita tidak tahu siapa dan yang mana."


"Jadi, memang tidak ada perjodohan kan eyang? Soalnya aku takut ada perjanjian diantara kalian yang bikin mereka menekan kita."


"Memangnya kamu sudah punya calon istri?" goda Hasyim.


"Lha, aku pinjam pesawat kemarin memangnya buat apa? Ngejar calon istri yang diomeli sama dokter inilah!" sahut Alaric sambil menunjuk ke arah Joey.


Hasyim menatap Alaric. "Anak Lanang, eyang minta kamu berhati-hati dengan keluarga Al Baraka. Kalau besok acara polo mereka datang, kamu tegas saja bahwa kamu sudah memiliki calon istri."


"Iyalah Eyang. Al sudah tidak sabar ingin mengata-ngatai si cewek gila itu!"


"Apa perlu kamu datang besok ngopi di Burj Khalifa, Al?" tanya Joey.


"Bisa jadi. Tapi aku menunggu Benji datang supaya aku bisa mendapatkan aibnya dulu."


Joey menatap adiknya. "Kamu kan juga bisa cari aib Al? Kenapa harus menunggu Benji?"


"Benji lebih pintar carinya daripada aku."


***


Istana Al Jordan, Dubai UAE


Benji mengerenyitkan dahinya ketika dirinya sampai di kamar dengan kondisi masih jetlag akibat perjalanan dari Singapura ke Dubai. Pesan yang dikirimkan oleh Alaric membuatnya pening.


Abangku satu ini paham nggak sih kalau adiknya yang imut ini lagi teler?


Benji mengacuhkan pesan dari kakaknya dan memilih tidur.


***


Keesokkan harinya...


Direndra terkejut melihat Joey berada di meja makan karena semalam dirinya baru pulang pukul satu malam setelah kembali dari Al Shiba untuk memberikan kabar tentang proses pemindahan secara bertahap dan bertemu dengan Ammar Badawi, memberitahukan bahwa Raana terkena typhus.


"Bang Joey? Ada apa Abang kemari? Bukannya jadi konsulen buat Nura ya?" tanya Direndra bingung.


"Dokter Jaziri sudah aku oper konsulen karena aku mau liburan ke Dubai" cengir Joey.


"Seriously? Liburan kok nggak bawa mbak Gina dan Blaze kemari?"


"Blaze kan sekolah, Rendra. G kan sibuk praktek" kekeh Joey. "Ini, aku nemenin adikmu soal cewek gila itu."


"Naadhira? Berbuat apalagi dia?" tanya Direndra sembari ambil sarapan. "Eyang pada kemana ? Kok nggak sarapan?"


"Eyang Kakung sama putri sudah sarapan tadi terus kata paman Fahd, jalan - jalan ke istal" sahut Alaric yang baru datang. "Raana gimana mas? Masih lemes?"


"Aku tadi pagi lihat sudah mendingan sih, obat dari dokter Ghauth memang manjur."


Joey menatap Direndra. "Boleh aku nanti periksa Raana, Rendra?"


"Boleh saja bang. Lagipula ada dokter tambahan disini juga enak sekalian aku kenalin ke calon aku" senyum Direndra.


"Kamu sudah mantap Ndra?"


"Insyaallah sudah bang."


"Alhamdulillah kalian sudah mendapatkan pasangan yang memang cocok dengan kalian. Oom Aidan dan Tante Thara gimana? Setuju kah?" tanya Joey. Bagaimana pun screening keluarga masih berlaku.


"Mommy malah senang aku jadian sama Benben soalnya mom sudah suka sama dia sejak diajak mas Rendra kemari. Benben punya kans menantu idaman" jawab Alaric sombong.


"Haaadeehhh yang lagi jatuh cintrong" sungut Direndra.


"Kayak elu kagak saja mas!" cebik Alaric.


"Soal Raana gimana Oom Ai dan Tante Thara?"


"Mereka belum bertemu langsung, baru via zoom tapi so far mom dan dad tidak reject Raana kok." Direndra menatap ke adiknya. "Aku rasa kamu harus menghajar cewek gila itu sebelum acara polo besok Sabtu karena bisa saja dia membuat onar demi mendapatkan kamu."


"Aku sedang menunggu Benji. Jika kamu ingin menghancurkan seseorang, aku harus mendapatkan data lengkap orang itu hingga bisa mendapatkan semua kelemahannya yang aku jadikan senjata untukku."


"Bagus! Kamu harus tegas ! Belajar dari kita - kita Al." Joey menepuk bahu adiknya.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️



Sudah launching Yaaaaaa