The Four Emirs

The Four Emirs
Keributan Dua Emir



"Bang Ayrtoooonnn! Bisa nggak sih pegang tongkatnya? Kok bisa mukul si Gundala!" bentak Alaric yang masih duduk diatas kuda abu-abu berbintik putih itu. Tampak Gundala mengetuk-ngetuk kaki depannya yang terkena mallet atau tongkat polo milik Ayrton tanpa sengaja.


"Sorry Al. Nggak sengaja" cengir Ayrton.


Alaric pun langsung turun dari sadelnya dan langsung memeriksa kaki kiri depan kudanya dan terlihat memang sedikit memar yang membuat Alaric naik pitam. Seumur-umur dirinya bermain polo bersama Gundala, baru kali ini kudanya kena pukul tongkat.


"Tanggung jawab lu!" teriak Alaric jengkel.


"Namanya juga nggak sengaja bambaaannggg!"


"Nggak bisa gitu juga cumiii!" hardik Alaric kesal.


Ayrton yang moodnya lagi jelek karena semalam dia ribut dengan Mariana gara-gara melihat calon istrinya foto bareng dengan aktor Hollywood saat launching produk baru Carolina Herrera dan tangan aktor itu menyentuh bahu gadisnya, akhirnya tersulut dengan Omelan adiknya.


Pria itu pun turun dari kudanya dan menghampiri Alaric dengan wajah kesal.


"Memar segitu saja, tinggal dikompres dan diobati biasanya juga cepat sembuh!"


"Enak saja bang Ayrton bilang begitu! Gundala itu sensitif bocahnya! Lihat! Dia mewek tuh!" hardik Alaric sambil menunjuk wajah kudanya yang memang agak memelas.


Ayrton tahu tadi dia memukulnya agak keras tapi memang posisinya dengan Alaric sedang berhadapan berebut bola.


"Ya sudah, Abang minta maaf! Dasar Gedhe ambek!"


"Apaaa!" Alaric menatap Ayrton dengan tatapan marah. Tanpa sadar dirinya mendorong bahu kakak sepupunya.


"Kamu tuh! Gitu saja marah nya sampai kayak gitu!" balas Ayrton yang juga mendorong bahu Alaric. Kedua pria tampan yang tingginya sama itu saling mendorong sambil berteriak satu sama lain.


Teman-teman satu tim mereka langsung menarik Alaric dan Ayrton sebelum terjadi baku hantam hanya gara-gara masalah sepele meskipun menurut Alaric tidak sepele.


Akhirnya pertandingan polo dilanjutkan tanpa Alaric dan Ayrton yang didiskualifikasi sedangkan kedua kuda mereka dibawa oleh pawang masing-masing dan Gundala langsung dirawat oleh dokter hewan istana Al Azzam.


***


"Kalian berdua tuh apa-apaan sih!" bentak Aidan ke arah putra bontotnya dan keponakannya. "Bertanding seperti itu saja bisa berantem! Kalian itu bersaudara, for God's sake!"


"Bang Ay yang mulai" sungut Alaric sambil bersedekap.


"Kamu saja yang lebay!" balas Ayrton.


Kedua sepupu itu saling berpandangan dengan judes.


Joey yang berdiri di depan pintu ruang VIP hanya tersenyum. "Kalian berdua itu lagi PMS barengan ya? Sensitif banget!"


Alaric dan Ayrton menoleh ke arah Joey yang tersenyum jahil. "Siapa juga yang PMS?"


"Kekasih kalian masing-masing mungkin tapi efeknya ke kamu semua?" ledek Joey.


"Sekarang, cerita kenapa kamu begitu emosionalnya dengan kejadian yang tidak disengaja itu tapi bikin kamu ngamuk seperti itu?" Aidan bersedekap menatap putra bungsunya. "Kamu juga Ay!"


Alaric hanya mengerucutkan bibirnya sedangkan Ayrton melengos.


"Fix! Pasti gara-gara Nura dan Mariana! Putuskan saja mereka berdua kalau gara-gara keduanya, kalian jadi berantem antar saudara ini!" ucap Aidan gemas.


"Jangan Dad!"


"Jangan Oom!"


"Makanya kalau berantem itu patut diselesaikan dengan tuntas!" Aidan menatap tajam ke keduanya. "Habis ini, kalian telpon cewek kalian masing-masing!"


Aidan kemudian berbalik meninggalkan Alaric dan Ayrton, hanya Joey yang disana.


"Kalian berdua tuh ya! Siap-siap jadi sasaran empuk tabloid dan kolom gosip!" kekeh Joey yang mengikuti Aidan keluar.


Alaric dan Ayrton hanya terdiam dan cukup lama keduanya tidak saling berkata apapun. Di ruang VIP, mereka hanya menonton televisi yang menayangkan Direndra yang sedang berkuda. Ayrton dan Alaric mengakui bahwa Direndra memang jago berkuda apalagi dirinya dan Hurricane tampak menyatu serta kompak.


"Direndra memang jago" celetuk Ayrton yang iri melihat bagaimana Raana datang menghampiri Direndra usai melakukan acara berkudanya. Pria itu mencium punggung tangan Raana dengan gaya romantis yang membuat dua orang di ruang VIP iri.


"Benben marah karena aku lupa menelponnya kemarin."


"Mariana dipeluk aktor Hollywood."


Keduanya saling berpandangan lalu sama-sama saling menghela nafas panjang.


"Padahal bulan depan mas Rama menikah tapi Oom Arjuna bilang kalau tidak sempat datang tidak apa-apa... Aku kayaknya berangkat Al. Kangen May dan Zee juga" gumam Ayrton.


"Bang, bulan depan itu sudah dimulai pemindahan para penduduk Al Shiba tahap pertama lho..." Alaric mengingatkan. "Lagian kata mas Rama, acaranya sederhana karena ayahnnya mbak Astuti tidak mau bermewah-mewah."


"Memang kenapa kalau acaranya sederhana?" Ayrton menaikkan sebelah alisnya.


"Bukan karena acaranya tidak seperti mas Hoshi atau Safira, tapi mas Rama bilang santai saja kalau kita pada sibuk apalagi setahun ini sampai ada tiga pernikahan di keluarga kita. Awal tahun kemarin duo F, terus tiga bulan kemudian mas Hoshi dan Safira, besok Mas Rama. Kan tahulah kita-kita sudah keteteran pekerjaan akibat acara pernikahan yang terus menerus."


"Apalagi kemarin pas mas Hoshi sekalian lebaran dan kita lama di Jakarta" sambung Ayrton.


"Nah kan?" cengir Alaric.


"Nura kenapa ngambek kamu lupa telepon?" tanya Ayrton.


"Gara-garanya dia cemburu aku mengurus Naadhira. Dikira aku ada rasa sama cewek itu, padahal aku hanya berkonsultasi dengan dokter Farhan, psikiater nya. Aku sama sekali tidak menemui gadis itu. Saat aku lupa telpon dia itu, karena aku sibuk dengan mas Rendra dan paman Iqbal soal rencana pemindahan penduduk dusun." Alaric meletakkan kepalanya dia sofa. "Memang LDR itu harus sabar tingkat dewa karena salah ngomong bisa ramai."


"Tampaknya seperti itu. Aku tahu May memang seorang desainer tapi aku cemburu melihat aktor Hollywood itu memeluk bahunya" sungut Ayrton.


"Bukannya aktor itu biasa seperti itu ya? Untuk mempromosikan produk?" Alaric menoleh ke arah kakak sepupunya yang tampak kesal.


"Tapi tidak memeluk bahu May juga!"


Alaric tersenyum. "Bang, kita-kita tuh memang keturunan klan Pratomo. Posesif nya overload."


"Bukannya semua pria seperti itu?" Ayrton menoleh ke arah adiknya.


"Tidak semua pria. Tapi kita semua itu pria-pria yang istimewa dan mencintai wanita istimewa." Alaric tersenyum namun setelahnya senyumannya menghilang. "Mati aku!"


"Kenapa Al?"


"Kita sudah masuk kolom gosip. Alamat aku kena omel Benben deh" jawab Alaric sambil manyun menatap ponselnya yang diberikan oleh Maliq saat dirinya dan Ayrton diseret oleh Aidan masuk ke ruang VIP.


Ayrton melihat layar ponsel adiknya dan berita dua Emir berkelahi sudah ramai dimana - mana.


"Mati kita Al" keluh Ayrton.


***


Singapura, Singapore


"Astaghfirullah! Ayrtoooonnn!" Mariana mengelus dada ketika melihat calon suaminya bertengkar dengan adiknya sendiri bahkan sampai dorong-dorongan. "Kalian berdua tuh kenapa sih?"


"Oom Ayrton kenapa ma?" tanya Zinnia yang sedang hendak bobok siang terkejut mendengar ucapan mamanya.


"Berantem sama Oom Alaric."


Zinnia melongo. "Ih, kayak anak kecil."


Mariana tertawa mendengar komentar putrinya.


***


Cambridge, Massachusetts USA


Nura menatap tidak percaya jika Al-al nya bisa gelut dengan kakak sepupunya sendiri. Padahal setahu Nura selama dirinya liburan ke Dubai pada saat kuliah dulu, Alaric akur dengan semua saudara - saudaranya.


Apa gara-gara aku marah-marah kemarin jadi Alaric bad mood ya. Duh, jadi merasa bersalah ini.


Nura menatap pemandangan IGD di rumah sakit St Medical Center. Per hari ini, Nura dipindahkan oleh Fuji Al Jordan ke rumah sakit ini karena kasus bedah jantung lebih banyak disini daripada di Cambridge.


Benar kata Direndra, Alaric itu Gedhe ambek. Dasar bontot! Nura tersenyum lalu mengirimkan pesan ke kekasihnya itu.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️