The Four Emirs

The Four Emirs
Benazir Nura Jaziri



Direndra hanya cemberut menatap adiknya yang memasang wajah usil.


"Tuanku pangeran Direndra, yang mulia permaisuri, nona Badawi tidak mengalami cedera parah dan kepalanya juga tidak mengalami gegar otak atau cedera lainnya" suara seorang dokter wanita membuat Direndra, Aisyah dan Raana bernafas lega.


"Kamu tuh lewat nggak lihat apa saya disini?" ejek pria berkemeja jeans itu ke arah dokter cantik berhijab motif bunga-bunga lengkap dengan snelli.



Benazir Nura Jaziri


"Kamu tuh kasat mata, pangeran Alaric Al Azzam Blair" jawab dokter cantik itu.


"Kalau aku kasat mata, kenapa kamu bisa jawab?" goda Alaric.


"Kan suaramu terdengar, pangeran" balas gadis itu.


"Ih kalian itu kalau bertemu kok selalu ribut! Alaric tidak boleh seperti itu sama dokter Nura" tegur Aisyah.


"Eyang, nama dia Benazir Nura Jaziri. Jadi panggil saja Ben... eh tapi nanti saingan sama Benjiro... Atau dokter Benben saja gimana?" Alaric nyengir usil dan mendapatkan lirikan judes dari dokter cantik itu.


"Kamu tuh lebih muda dua tahun dari aku tapi kok berani banget sih?" sungut dokter Nura.


"Lagian kamu sendiri kan tidak berani sama aku karena aku pangeran disini... Aduuuhh!" Alaric memegang bahunya yang dicubit keras oleh Nura.


"Siapa bilang aku tidak berani, hah!" balas Nura judes.


"Kalian berdua kalau mau gelut, keluar sana!" bentak Direndra kesal melihat adiknya selalu ribut dengan sahabatnya sejak di Harvard meskipun beda jurusan. "Nura, kamu ga usah urus pangeran bahlul itu!"


Nura cekikikan sedangkan Raana masih terbengong-bengong melihat bagaimana interaksi dua pangeran itu yang tidak ada jaim-jaimnya.


"Enak saja aku dibilang bahlul! Cumlaude tahu!" balas Alaric tidak terima.


"Kalian bicara bahasa apa sih?" tanya Raana yang bingung.


"Mereka bicara dengan bahasa Indonesia. Dokter Benazir Nura Jaziri perkenalkan ini Raana Lamira Badawi" senyum Aisyah.


"Halo, aku Nura, dokter keluarga Al Azzam." Nura mengulurkan tangannya ke Raana.


"Raana. Aku guru sekolah dasar di Al Shiba."


Dua wanita cantik itu saling tersenyum.


***


"Kenapa tuanku tidak bilang kalau anda Emir Al Azzam?" tanya Raana kesal dibohongi oleh Direndra. Saat ini keduanya sedang berada di kursi taman halaman belakang istana Al Azzam. Direndra sudah meminta ijin pada Ammar Badawi agar Raana menginap semalam di istana sampai pulih esok pulang.


"Lalu kalau aku bilang aku Emir Al Azzam, terus kamu percaya gitu awalnya?" goda Direndra.


"Ya nggak sih ... penampilan tuanku..."


"Stop panggil dengan kata 'tuanku'! Risih kupingku!" sungut Direndra.


"Jadi? Aku harus panggil apa?"


"Panggil nama saja lah!" sahut Direndra cuek.


"Hah? Tapi..."


"Ayrton dipanggil sama ceweknya Ton malahan" sahut Direndra.


"Tapi pangeran Direndra, kan saya bukan cewek pangeran" jawab Raana.


"Apa kamu tidak mau jadi pacar aku?" tanya Direndra dengan tatapan serius.


"Tapi saya kan baru putus dari Veer... Lho nasib Veer gimana pangeran?" Raana baru teringat terakhir mereka bertengkar dan Direndra yang menahan tangan Veer lalu dengan cueknya meminta dikirim $100,000.


"Sudah aku deportasi karena dia melanggar visa yang dipegang. Veer berani berbisnis disini dan mengajar padahal Visa dia adalah mahasiswa."


"Oh astagfirullah. Betul dia dideportasi?" Raana menatap tidak percaya.


"Apa kamu tidak ikhlas dia dideportasi?" selidik Direndra.


"Bukan gitu karena aku sudah mati rasa begitu dia berkata kasar soal kakekku hanya saja aku tidak mengira kamu bisa melakukan hal itu."


Direndra tersenyum smirk. "Kami memiliki kekuasaan, Raana tapi bukan berarti kami seenaknya sendiri meskipun soal Veer, aku juga seenaknya" kekeh Direndra. "Tapi aku tidak suka dengan pria yang berkata kasar ke orang tua dan mengundat apa saja yang sudah diberikan. Berarti dia tidak ikhlas! Dan pria seperti itu ke wanita yang katanya dia mencintainya, saru itu bahasa jawanya. Artinya tidak patut! Bukan seorang gentleman."


"Kalau kamu sudah memberikan sesuatu pada wanita itu tapi akhirnya putus, bagaimana?" tanya Raana.


"Berarti kita tidak jodoh! Tapi aku paling pantang meminta kembali apa saja yang sudah aku berikan karena itu memang niatku memberikan."


"Hai! Boleh aku gabung?" Alaric menghampiri kakaknya dan Raana.


"Selama elu nggak macem-macem!" sarkasme Direndra.


Alaric pun nyengir.


***


Singapura, Singapore


Ayrton menatap Opanya dengan tatapan judes. Mariana dan Zinnia sudah pulang diantar oleh James dan Travis yang sekalian pulang karena Senna ingin berbicara berdua dengan cucunya.


"Apa maksudnya Opa?" tanya Ayrton judes sambil bersedekap.



"Lho maksud Opa itu baik, Ay sayang. Opa tahu kan kamu suka dan sayang sama Zee, apalagi ibu angkatnya. Kamu jatuh cinta sama Mariana kan?" kekeh Senna cuek.


"Iya Opa tapi aku merasa terlalu cepat dan asal Opa tahu, aku hendak melamar Mariana besok bertepatan dengan acara Valentine."


"Jadi kamu ingin penjajakan enam bulan ini?" tanya Senna.


"Iyalah Opa, aku tidak mungkin langsung grasah grusuh karena aku dan Mariana harus bisa klik dulu. Mariana sudah tahu perasaan aku, tapi aku tahu dia masih harus memantapkan hati meskipun dia sudah menerima aku sebagai kekasihnya."


"Tapi Opa suka dengan anak itu meskipun lebih tua dari kamu. Rajendra dan Aruna juga tua Aruna kan?"


"Mbak Runa kan tua sebulan dari Mas Jendra. Kalau Mariana kan lebih tua lima tahun dari aku."


"Age is just a number, bang" sahut Benjiro.


"Lha nih bocah malah ikutan nguping!" sungut Ayrton.


"Tidak sengaja... hehehehe" cengir Benji.


"Ya sudah, Opa harap kamu dan Mariana tetap akur sampai acara kamu melamar dia hingga menikah."


"Aamiin Opa."


Senna menatap Ayrton dan teringat bagaimana Karl juga dulu gigih mendapatkan Sabine. Hanya saja Ayrton lebih kalem dibandingkan kedua orangtuanya.


"Tapi Desember, mereka tetap ke Dubai kan?" tanya Senna.


"Tetap Opa. Aku dan Mariana sudah berjanji pada Zee."


"Bagus. Oh selama kamu terkena tahanan kota, Opa akan berada disini sama kamu dan Benji."


"Lho Opa nggak dicariin Oma Fatimah?" tanya Benji.


"Ini alasan Opa saja biar bisa kabur dari Omamu" gelak Senna durjana.


"Opaaa! Opa bikin masalah apalagi?" Ayrton dan Benji memicingkan matanya ke Senna.


Senna hanya tersenyum smirk.


"Opaaaa!" panggil Ayrton.


"Opa sama Opa Kai cuma beli yacht kok..." jawab Senna tanpa beban.


Ayrton dan Benji melotot ke arah Senna.


"Yacht? Yacht? Dan opa bilang cuma beli yacht?" teriak Ayrton tidak percaya.


"Hahahaha... pantas Opa main kabur ke Singapura!" gelak Benji yang tahu bagaimana marahnya Fatimah kalau Senna mulai boros.


"Habis, bagus kok Ay... Rugi lah kalau aku dan Kai tidak beli" bela Senna.


"Ayrton tidak ikutan kalau sampai Opa dijewer Oma lho ya!"


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️