The Four Emirs

The Four Emirs
Di Dubai



Istana Al Jordan Dubai UAE


Pagi ini semua orang di istana tampak heboh karena calon menantu Reyhan Al Jordan akan datang. Enzo sudah pergi ke bandara untuk menjemput Georgina yang tetap mengeyel pakai pesawat komersial padahal Enzo sudah menawarkan memakai pesawat pribadi keluarga.


Zinnia sudah ikutan heboh dengan kedua Omanya di dapur meskipun para pelayan meminta agar cicit Fatimah dan Tamara itu duduk manis tapi gadis cilik itu tetap mengeyel harus membantu.


"Oma, ini aku hias ya?" pinta Zinnia ke cupcake yang sudah matang.


"Bisa Zee?" tanya Tamara.


"Bisa. Zee udah belajar dari YouTube cara menghias cupcake."


"Astaga anak jaman sekarang ya" kekeh Fatimah sambil mengawasi Zinnia menghias cupcake.


"Zee, mamamu sudah ke butik?" tanya Tamara.


"Sudah Oma. Katanya mau ambil baju buat Tante Georgi."


***


Dubai International Airport


Enzo tampak gelisah menunggu kedatangan kekasihnya membuat para pengawalnya hanya menggelengkan kepalanya melihat pangerannya mondar mandir macam setrikaan tidak jelas.


"Pangeran Al Jordan" panggil salah satu pengawalnya.


"Ya?"


"Apa anda tidak pusing dengan anda seperti itu?"


"Hah? Aku itu gugup Ali. Kenapa juga Georgi tidak mau pakai pesawat pribadi ku sih?" gerutu Enzo.


"Nona Kazuo kan lebih suka hidup sederhana."


"Iyaa tapi kan dia calon istri Emir !" sungut Enzo gemas.


Ali hanya tersenyum. Tapi memang rata-rata pasangan keluarga Al Jordan, tipe orang sederhana.


Tak lama Georgina datang sambil membawa koper besar dan tas ransel serta memakai topi, jacket dan kacamata. Gadis mungil itu tersenyum melihat Enzo di tempat para penjemput.



"Astagaaa! Georgi!" Enzo nyaris tidak mengenali kekasihnya.


"Kenapa Zo?"


"Kamu mirip anak kuliahan!" gelak Enzo.



Georgi manyun. "Lha habis, di Heathrow banyak paparazi. Aku kan menyamar apalagi kan sudah pada tahu calon istri kamu, Zo!"


"Makanya kalau aku bilang pakai pesawat pribadi, itu nurut. Soalnya, kamu bakalan bebas dari para paparazi." Enzo lalu menggandeng tangan gadis mungil itu dan berjalan menuju parkiran mobil Range Rover miliknya.


***


Istana Al Azzam


Direndra dan Raana hanya bisa melongo melihat Alaric dan Nura berpelukan erat saat gadis itu datang ke istana.


"Dik, dihalalin dulu kenapa?" goda Direndra.


"Masih harus bersabar mas" cengir Alaric sambil merangkul Nura. "Benben ditawari untuk menjadi dokter di Malaysia."


"Alamat deh!" ucap Direndra.


"Alamat apanya mas?" tanya Raana ke suaminya.


"Alamat bakalan kabur melulu dengan alasan ke Jakarta tuh bocah" cebik Direndra.


"Hahahaha tahu saja Abang ku satu ini" gelak Alaric.


Direndra hanya mendengus sebal. "Kamu masih banyak kerjaan lho disinil dik! Grow up!"


"Lho aku dah grow up. Tinggi pula! Kalau kata mas Hoshi, bikin gerhana matahari malahan" jawab Alaric cuek.


"Bukan badanmu, tapi sifatmu dik!"


"Ooohhh... Memang kenapa sifatku?" Alaric menatap Nura.


"Tipikal anak bontot!" balas Nura judes.


***


Dua hari kemudian para keluarga klan Pratomo sudah hadir di Dubai untuk menghadiri pernikahan Enzo dan Georgina. Seperti permintaan keduanya, mereka hanya ingin ijab qobul yang sederhana tidak ada pesta mewah karena mereka sendiri menjaga perasaan Ashley dan Kristal setelah Fayza kembali ke rumah.


"Ash beneran tidak datang" ucap Arjuna ke semua sepupunya.


"Oom Javi sudah memberikan ultimatum?" tanya Bara.


"Sudah. Kalau memang Hideo ingin bersama Fayza, harus memilih. Fayza dan anaknya atau Silver Shining. Dan info terakhir, Hideo memilih Fay dan anaknya." Levi menatap saudara-saudaranya.


"Iyalah! Bagi pria yang sudah menikah dan hendak memiliki anak, sudah sepatutnya dia meninggalkan semua yang haram. Rejeki halal itu bisa dicari dan aku yakin Hideo bisa meluluhkan hati Ashley" ucap James Blair.


"Totally agree with that!" timpal Arya Ramadhan.


***


"Hideo melepaskan Silver Shinning?" Bima menatap Hoshi, begitu juga dengan para sepupunya.


"Kata Dad sih begitu. Soalnya Dad yang diminta Opa Javier untuk mengawasi Hideo diam-diam sedangkan bang Luca bagian pergerakan Silver Shinning yang akan dilaporkan ke bang Joey." Hoshi menyalakan rokoknya. "Mumpung aku nggak bisa dekat Sam V karena aku rada flu."


"Kalau elu flu itu bukan malah ngerokok, cumiii!" hardik Joey.


"Iiissshhh baru sebatang doang ini rokoknya. Selama ini aku tidak merokok di rumah karena mama macan melarang." Hoshi menghembuskan asap rokoknya.


"Mama macan?" tanya Bagas. "Ya ampun Quinn, kamu tuh hobi banget kasih nama aneh-aneh!"


"Safira asyik mau jadi ibu ya?" tanya Adrian.


"Iya, sudah jalan delapan bulan makanya nggak ikut kemari meskipun pengen. Tapi dia harus diawasi ketat, makin clumsy!" keluh Bagas. "Duh, moga-moga nggak nurun ya."


"Errr...kalau itu aku nggak yakin deh Gas" kekeh Haris.


"Ya iyalah, wong duo G kayaknya bakalan nurun elu jirihnya" sarkasme Hoshi.


"Jangan gitu dong, Quinn. Aku sudah kena omel Freya terus nih" ucap Haris memelas.


"Lha kenapa?" tanya Anarghya.


"Sekarang setiap malam ngajak lihat penampakan biar kita pada berani. Kan parah istriku. Hiks!" Haris memegang pelipisnya.


***


"Wah Alea! Sudah berani bawa Chris kemari" goda Arimbi ke adik bontotnya yang cantik.


"Chris diajak Daddy, mbak Rimbi. Makanya ikut" senyum Alea.


"Serius tuh Oom Ezra udah kasih lampu hijau?" tanya Anandhita.


"Serius. Malah aku tadinya mengira Chris nggak diajak." Alea menatap kekasihnya yang sedang mengobrol dengan Ghani dan Raymond.


"Susah kalau sesama polisi ketemu dan sama-sama dari NYPD" kekeh Arimbi.


"Fayza gimana mbak Reana? Mbak Georgina? Mbak Gandari?" tanya Natasha. "Aku kan di Manchester jadi nggak tahu perkembangan di New York."


"Yang jelas mulai mengenali satu persatu. Dan aku gantian bersama Aruna dan mbak Gandari membuat Fayza merasa nyaman. Dan mencoba membuatnya ingat kebiasaan selama ini termasuk ke tempat-tempat favoritnya" jawab Reana.


"Hideo gimana Rina? Bukannya Oom Levi yang diminta Opa Javier untuk ngawasi?" tanya Falisha.


"Kayaknya dia memilih ke Jepang dan melepaskan Silver Shinning" ucap Rina. "Opa Javier kan sudah ultimatum."


***


"Jadi kamu ditempatkan di bagian SVU?" tanya Ghani ke Chris, kekasih cucunya.


"Iya Opa. Saya ditempatkan disana."


"G, SVU itu divisi brutal menurut aku" celetuk Raymond.


"Ada dua divisi di NYPD yang menurut kami itu korbannya butuh penanganan khusus, korban kejahatan sek*sual, KDRT dan pembunuhan. Boleh dibilang kalau pembunuhan, ya sudah korban tidak trauma tapi keluarganya yang butuh pendekatan agar move on. Tapi kalau korban SVU ( Special Victim Unit ) dan dia masih hidup, seumur hidup dia menanggung traumanya sedangkan masing-masing orang berbeda mentalnya. Kuat atau terpuruk" papar Ghani.


"Aku lupa kalau Opa Ghani pernah di BAU ( Behavioral Analysis Unit ) jadi paham tentang kondisi psikologis korban" senyum Chris.


"Dan kamu harus bersyukur memiliki kekasih macam Alea" celetuk Raymond.


"Kenapa Opa?"


"Membantu otakmu tetap waras."


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Maap aku lanjut besok semuanya karena aji sirep datang macam jelangkung.


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote gift and comment


Tararengkyu ❤️🙂❤️