
Saat dia sedang memasak tadi, Tiara sempat memikirkan cara mengatakan pada Rivan untuk bisa tinggal bersama dengan suaminya di rumah ini. Mengingat pertengkaran mereka tadi malam, karena disebabkan oleh kurangnya kepercayaan serta komunikasi diantara mereka. Agar hal serupa tidak terjadi lagi di kemudian dari Tiara memutuskan agar mereka bisa tinggal bersama. Hal itu dilakukan agar diantara mereka harus terjalin komunikasi yang baik dan saling percaya satu sama lain. Dan sekarang waktu yang tepat mengatakan semuanya pada Tiara sekaligus ibu mertuanya
Dan pernyataan Tiara barusan sukses membuat Rivan menatap istrinya yang juga tengah menatapnya dan tersenyum.bibir Rivan langsung tersenyum bahagia mendengar keputusan yang telah diambil oleh sang istri.
" Baguslah dengan begitu kalian bisa memulai kehidupan rumah tangga kalian dengan baik" dapat bunda lihat wajah putranya yang sangat bahagia dengan keputusan Tiara. Dia yakin bahwa kehidupan pernikahan mereka akan berjalan dengan baik, melihat tatapan mata keduanya yang menyiratkan tatapan penuh cinta diantara mereka.
" Berarti kamu gak bawa baju, Tiara?" tebak bunda Amel melihat menantunya yang memakai piyama Rivan yang sedikit kebesaran ditubuh Tiara. Karena jika tidak gak mungkin Tiara mau memakai baju tidur Rivan.
" Nggak, Bun. Tadi malam juga agak ada niat buat nginap di sini" jawab Tiara.
" Ya udah nanti bunda suruh orang rumah anter baju buat kamu, kebetulan di rumah ada beberapa baju Vani" ucap bunda Amel.
" Rumah bunda dekat dari sini?" tanya Tiara yang begitu polosnya seolah bunda Amel mengatakan kalau rumah mereka berdekatan.
Bunda Amel langsung menatap ke arah Rivan penuh selidik. " Tiara gak tau kalau kita tetanggaan?" tanya bunda Amel menyimpan begitu banyak makna.
" Tiara aja baru tau tadi malam kalau ini rumah Rivan, bun" sahut Rivan.
Melihat reaksi Tiara yang seperti tadi sudah pasti bunda Amel tau akan hal itu. Tapi yang jadi pikirannya saat ini apa Tiara tidak melihat rumahnya yang begitu megah dan kokoh berdiri yang dibangun sebagai rumah utama yang diapit berdekatan dengan dua rumah kanan dan kirinya termasuk rumah Rivan tersebut yang di sebelah kanan dari rumah utama.
" Emang pas datang ke sini gak lihat ada rumah utama?" tanya bunda Amel yangs seolah memberitahukan salah satu kebenaran tentang Rivan yang belum diketahui oleh Tiara.
" Rumah utama?" tanya Tiara bingung sambil melihat ke arah Rivan menuntut penjelasan dari suaminya.
" Rumah bunda kan agak jauh dan ketutupan , Bun.." sahut Rivan akhirnya dengan nada yang dibuat setenang mungkin.
Rivan belum siap menunjukkan siapa jati diri keluarga besarnya. Dia takut dan khawatir Tiara tidak akan siap menerima kenyataan tentang keluarganya. Baru mengetahui rumahnya saja Tiara sudah merasa minder dan mencurigai dirinya, apa kabar nantinya jika dia mengetahui rumah megah dan Kokok milik orang tuanya yang bahkan lebih besar daripada rumahnya sendiri.
" Rivan....Rivan..." bunda Amel hanya bisa terheran sambil menggelengkan kepalanya yang mengerti maksud ucapan putranya. Lalu beliau kembali menatap menantunya kembali. "Nanti bunda suruh orang buay ngantar bajunya ke sini buat kamu" ucapnya pada Tiara.
" Kalau rumahnya jauh, gak usah repot repot nganter bajunya, bun. Tiara kan masih bisa pake baju Tiara yang kemarin, bun" merasa sungkan jika harus merepotkan ibu mertuanya.
" Gak repot kalau buat keluarga sendiri" sahut bunda Amel meyakinkan menantunya kalau dirinya sama sekali tidak direpotkan justru beliau sangat suka bisa melakukan sesuatu buat menantunya. " Atau jangan jangan kamu masih belum menganggap bunda sebagai orang tua kamu. Dan kamu hanya memanggil bunda hanya untuk basa basi saja?" lanjutnya bertanya penuh dengan sindiran pada menantunya.
" Ngg.... nggak Bun..." sahut Tiara merasa sungkan karena harus menolak kebaikan ibu mertuanya yang merasa sedikit tersinggung dengan penolakannya meskipun dia tidak sengaja melakukannya. Akhirnya Tiara hanya bisa pasrah dan tidak ingin membantah ibu mertuanya.
" Ya udah bunda pulang dulu kalau begitu" pamitnya lalu beranjak berdiri dari duduknya diikuti oleh Tiara dan Rivan. " Ditunggu ya bajunya" ucapnya lagi menyuruh Tiara untuk menunggunya.
" Iya, Bun" sahut Tiara mengiyakan tidak ingin membantah perintah ibu mertuanya.
Tiara begitu terpana dan terkagum dengan halaman rumah Rivan yang begitu sangat luas. Jika dipakai untuk parkir mobil lebih dari cukup untuk puluhan mobil. Dan di pinggir sudah terparkir 2 mobil yang dipakai Rivan kemarin yang memicu kecurigaan Tiara hingga tejadi pertengkaran kecil.
Di sana juga terdapat ruang santai yang terhubung dengan pintu kaca besar dengan ruangan di dalam rumah. Tempat tersebut dipakai untuk bersantai yang dapat dinikmati untuk berjemur ataupun menikmati semilir angin yang menyegarkan. Mengingat kehidupan di perkotaan yang sudah sulit merasakan udara segar karena polusi udara. Di tempat tersebut begitu asri dengan berbagai tanaman hias yang tertata rapi yang langsung terhubung dengan kolam renang yang cukup luas sebagai kolam renang pribadi.
Dulu Tiara berkeinginan memiliki rumah dengan halaman yang begitu luas yang bisa digunakan untuk apa saja. Dan apakah semua keinginannya bisa terwujud lewat tangan Rivan yang akan terus menggandengnya. Tiara tidak mau berharap banyak, bisa menjalani kehidupan bersama Rivan saja sudah membuat hidupnya bahagia. Tapi jika Tuhan memberikan semua keinginannya selama ini, maka dia dengan tangan terbuka akan menerimanya dan mensyukurinya.
Tiara membayangkan apa saja yang bisa dia lakukan di rumah tersebut, dia pasti akan dengan betah untuk tinggal bersama Rivan di rumah tersebut jika Rivan mengijinkannya. Tapi lamunannya buyar saat dia merasakan dua tangan melingkar di perutnya dengan sempurna dan siapa lagi kalau bukan aksi Rivan yang memeluknya dari belakang.
" Kamu suka?" tanya Rivan sembari meletakkan baginya di bahu Tiara.
" Hemm..." Tiara hanya menjawab Rivan dengan gumaman dan anggukan kepalanya.
" Kamu gak bohong kan, kalau mulai hari ini kamu akan tinggal di rumah ini bersamaku?" tanya Rivan ingin memastikan keseriusan dari ucapan Tiara tadi di hadapan sang bunda. Dia tidak ingin kecewa jika akhirnya Tiara hanya berbohong saja di hadapan bundanya.
" Nggak.... aku yakin aku akan tinggal di sini mulai hari ini" jawab Tiara serius dan meyakinkan. " Lagian mana ada cewek yang akan menolak tinggal di rumah semewah ini, hahaha" lanjutnya dengan tertawa lucu karena ucapannya yang terdengar materialistis.
Rivan yang mendengar ikut tertawa mendengar lelucon istrinya yang terdengar garing. Namun dibalik itu semua dia bahagia akhirnya perjuangan dirinya untuk bisa meyakinkan Tiar berbuah manis. Bahkan lebih dari yang dia perkirakan sebelumnya bahwa Tiara akan dengan susah didekati.
" Aku pikir omongan kamu yang nggak mau ngadain resepsi itu juga serius..?" tanya Rivan dengan dagunya masih berada di bahu Tiara.
Rivan mengingat ucapan Tiara bersedia diadakannya resepsi pernikahan mereka, padahal sebelumnya dia sendiri bilang tidak ingin direpotkan dengan acara resepsi begitu juga dengan dirinya. Tapi tadi Tiara langsung menyetujui dan membiarkan sang bunda mengatur resepsi pernikahan mereka.
" Kamu kecewa aku setujuin permintaan bunda?" tanya Tiara yang menoleh untuk melihat wajah suaminya.
"Bukannya kecewa, sayang" Rivan membalikkan tubuh Tiara hingga saat ini mereka berdiri dengan saling berhadapan. " Aku tu maunya kita satu suara. Tadi tu aku sudah bersiap buat ngebelain kamu, tapi kakinya malah melempem" lanjutnya.
" Aku gak tega lihat bunda tadi, mas. Aku lihat bunda tadi sedih banget karena kita nikah gak ngelibatin beliau sama sekali. Makanya aku gak tega kalau bantah bunda buat ngadain resepsi pernikahan kita" sahut Tiara memberikan alasannya menyetujui keinginan ibu mertuanya.
" Jadi? Mau ada resepsi?" tanya Rivan dengan senyum tipis.
" Kita lihat dulu aja, mas. Lagian masak iya bunda kuat ngurusin resepsi pernikahan kita sendirian? kita aja yang nikah males ngurusin, iya gak?" jawab Tiara dengan entengnya seolah meremehkan kemampuan ibu mertuanya.
" Hahaha... kamu tuh ya..." Rivan merasa gemas dengan pikiran Tiara hingga membuatnya tertawa.
Tiara justru tersenyum dengan jahil saat tangan Rivan menepuk nepuk kepala Tiara pelan. Rivan yakin bundanya lebih dari mampu untuk mempersiapkan acara pernikahan mereka sendiri dan nanti pasti akan membuat Tiara kagum.???