
Tiara mengajak Rivan untuk segera pergi dari sana dengan menggenggam tangan Rivan. Hal itu tentu saja membuat Rivan kembali menahan rasa terkejutnya saat Tiara menggenggam tangannya dengan erat. Ada rasa bahagia kala istrinya yang terlebih dahulu menggenggam tangannya karena biasanya dirinyalah yang selalu terlebih dahulu melakukannya.
Meskipun sebenarnya dia tahu bahwa yang dilakukan istrinya saat ini karena ingin menghindari sosok pria yang Rivan ketahui adalah mantan dari istrinya. Di ekor matanya dapat Rivan lihat sesosok pria yang berdiri sedikit jauh dari mereka dan pria tersebut yang kemarin pagi juga mendatangi istrinya di butik setelah kepergiannya. Tentu saja rasa penasaran dalam hatinya bergejolak dalam hatinya antara marah dan kecewa.
Marah karena pria tersebut kembali mendekati istrinya saat itu juga sebelum dirinya datang menjemput Tiara. Dan kecewa karena Tiara sama sekali tidak bercerita mengenai kedatangan mantan kekasihnya yang dia ketahui juga sudah memiliki seorang istri. Tapi ada sedikit rasa lega saat tadi dia melihat seperti sebuah penolakan yang dilakukan Tiara. Dan pria tersebut tampak kecewa dan tidak senang saat melihat dirinya dan Tiara berjalan bersamaan.
Sebenarnya Rivan tadi sempat melihat Tiara sedang berbincang dengan pria tersebut bahkan dapat dia yakini pria tersebut juga yang telah mengajak Tiara pergi tadi pagi. Namun dia tidak ingin merusak suasana yang indah tersebut, makanya dia berusaha untuk menahan rasa penasaran di hatinya. Saat ini Rivan ingin menikmati debaran dalam hatinya karena tangannya yang ditarik Tiara dengan lembut.
Rivan terlihat pasrah saat tangan Tiara terus menariknya menjauhi pria tersebut, dan Rivan juga tidak peduli kemanapun Tiara akan membawanya. Ke ujung dunia pun dia rela untuk terus mengikuti Tiara asalkan selalu berada di samping istrinya dan Isa seperti itu selamanya, dia rela.
Tiara ingin mengajak suaminya mendekati mobil yang tadi pagi dibawa oleh suaminya. Tapi Tiara sama sekali tidak menemukan mobil milik suaminya membuat dirinya celingak celinguk mencari mobil yang dia tumpangi tadi pagi.
Mengerti maksud istrinya Rivan langsung mengajak Tiara mendekati salah satu mobil yang tidak jauh dari mereka berdiri saat ini.
" Yuk masuk, sayang" ucap Rivan yang langsung membukan pintu mobil antik berwarna hijau.
Mata Tiara kembali terbuka dengan lebar saat melihat mobil yang ada di depannya. Sebuah mobil antik VW kodok ijo yang Tiara ketahui harganya pasti juga selangit seperti mobil mobil mewah milik Rivan sebelumnya.
" Mas...." ucap Tiara melihat ke arah Rivan yang masih setia memegang pintu mobil sebelah kemudi.
" Iya... sayang..." sahut Rivan dengan lembut dan senyum tipis terbit di bibirnya melihat reaksi Tiara yang sangat berbeda jauh dengan perempuan pada umumnya.
" Ini... mobil kamu..?" tanya Tiara yang masih ragu untuk masuk ke dalam mobil dengan merk Volkswagen tersebut.
" Hmmm..." jawab Rivan hanya bergumam sambil mengangguk mengiyakan.
" Kenapa gak bawa mobil yang tadi pagi? trus mobil yang tadi di mana?" tanya Tiara merasa risih menjadi tontonan beberapa orang yang ada di sana karena keberadaan mobil yang ada di depannya tersebut
" Tadi aku minta pak Rudi buat nganterin mobilnya di kantor, soalnya mau di servis" jawab Rivan dengan santai.
" Trus kita pakai ini?" tanya Tiara masih belum percaya kalau suaminya ini benar benar orang yang tajir melintir.
" Iya, sayang. Kenapa? ada masalah?" tanya Rivan balik yang masih merasa merasa heran dengan sikap istrinya.
" Menurut kamu?!" tanya balik Tiara.
" Hmmm.... menurut aku gak ada masalah. Lagian ini bukan mobil mewah seperti yang kita pakai tadi pagi" jawab Rivan dengan pelan.
" Tiara, bersisik deh. Masuk dulu gih!" ucap Rivan sambil pura pura mengorek telinganya. Dalam hati dia puas sekali berhasil mengerjai istrinya lagi. Reaksi Tiara sungguh tepat sekali, sesuai dengan harapannya.
Dengan wajah cemberut Tiara masuk ke dalam mobil dengan menghentakkan sepatu hellsnya terlebih dahulu hingga terdengar lantang di telinga Rivan. Kepala Rivan hanya bisa menggeleng melihat reaksi Tiara yang terlihat menggemaskan baginya.
Kemudian Rivan menutup kembali pintu mobil setelah dirasa Tiara sudah duduk dengan tenang di dalam. Sebelum dia beranjak menuju ke pintu kemudi, sejenak dia menatap ke arah Dika yang masih terdiam dan menatap ke arahnya. Sejenak mereka beradu pandang dalam jarak yang cukup jauh, ada kilat amarah yang tersimpan dalam hati keduanya karena satu orang wanita yang telah mengisi hati mereka.
Hingga Rivan memutuskan pandangannya dan beralih menuju ke arah kemudi mobil. Lalu Rivan masuk dengan santai dan segera menutup pintu mobil tersebut dan tersenyum menatap ke arah istrinya yang masih terlihat cemberut.
Saking gemasnya dengan gerakan cepat Rivan langsung mencium bibir Tiara sekilas yang sedang cemberut . Sementara itu Tiara yang terkejut dan matanya langsung membulat dan reflek tangannya langsung memukul paha suaminya dengan kesal.
" Oughh...! kasar deh ya kamu mainnya" ujar Rivan dengan tersenyum lalu merangkul pinggang Tiara dan memeluknya. Rivan bermaksud menggoda istrinya karena Rivan pikir Tiara akan semakin meledak oleh rangkulannya. Tapi Tiara justru malah balas memeluk Rivan dengan erat yang membuat Rivan begitu senang karena hari ini Tiara benar benar memberikan beberapa kejutan tak terduga.
" Aku capek, malas bercanda dulu, mas" keluh Tiara dengan nada yang lirih dan manja di telinga Rivan. Selama ini Tiara belum pernah menampilkan sisi lemahnya di hadapan Rivan sehingga membuat Rivan gelagapan untuk menghadapi istrinya yang seperti itu.
Rivan mempererat pelukannya sambil mengusap punggung Tiara dengan lembut untuk membuat Tiara nyaman dan tenang. Dalam hati dia justru bersyukur dengan kemajuan hubungan mereka yang memperlihatkan sisi lemah istrinya sehingga dirinya bisa menjadi pria yang dapat diandalkan oleh Tiara.
" Apapun untuk nyonyaku...." kata Rivan lembut. Keduanya terdiam meresapi pelukan yang begitu menenangkan bagi keduanya, rasanya tidak ingin melepaskan pelukan tersebut.
Sudah sekian lama Rivan tidak merasakan kehangatan seperti saat ini saling berpelukan dengan istrinya. Meskipun selama ini dirinya selalu dikelilingi oleh banyak perempuan yang menawarkan kasih sayang padanya tapi Rivan tidak menanggapi karena dia hanya merasakan kehampaan saja berbeda saat bersama dengan Tiara.
Tapi kini saat Tiara yang berada di pelukannya membuat Rivan sadar bahwa ada sosok perempuan yang hanya untuk dirinya. Sosok perempuan yang khusus tercipta untuk memenuhi kebutuhan jiwanya hingga rasa hampa yang selama ini dia rasakan sirna begitu saja.
Lama mereka terdiam dalam pelukan yang membuat rasa nyaman dan tenang dalam hati masing masing. " Kita pulang sekarang? atau mau makan di malam di luar?" tanya Rivan yang masih memeluk tubuh Tiara dengan erat belum siap untuk melepaskan tubuh kecil yang menempel dengan pas di dadanya.
" Kita pulang aja ya, mas. Nanti aku masakin buat makan malam kita" sahut Tiara tersenyum lembut yang melepaskan pelukan suaminya terlebih dahulu yang telah berhasil membuat dirinya lebih tenang.
"Baiklah, sayang kita pulang ke rumah nanti aku bantuin masak ya!" ujar Rivan yang juga tersenyum senang.
Rivan kemudian memakaikan sabuk pengaman Tiara yang sedari tadi belum dipakai oleh istrinya, lalu bergantian memakai sabuk pengamannya sendiri. Tidak ingin berlama lama di sana Rivan segera menyalakan mobilnya dan melajukan mobil Volkswagen kodok dengan warna hijau mentereng membaur dengan kendaraan lainnya di jalan raya.
Sementara itu dari kejauhan Dika yang diam terpaku akhirnya tersadar saat melihat Tiara dan pria yang sepertinya pernah dia temui tersebut terlihat begitu mesra. Dika tau banyak mengenai Tiara karena dia adalah satu satunya perempuan yang sanggup Dika cintai. Jadi, dia pun tau dari Tiara menatap pria tersebut, bahwa cinta Tiara kini telah berpaling darinya berganti pada pria tersebut yang terlihat dicintai oleh Tiara.
Dulu selama bertahun tahun dirinya mendapatkan tatapan mata Tiara padanya yang penuh cinta dan damba seperti yang dilakukan Tiara saat menatap pria tadi. Sehingga dia bisa merasakan perasaan yang dirasakan Tiara melalui tatapan Tiara saat melihatnya secara langsung.
Namun, Dika tidak akan membiarkan hal tersebut berlangsung lama. Baginya, tidak ada yang boleh dan berhak menerima tatapan penuh damba Tiara, selain pada dirinya. Dalam hati dia berjanji akan melakukan apa saja agar Tiara hanya kembali menjadi miliknya lagi.