
Rivan dan Tiara duduk di kursi bersebelahan di depan meja yang melingkar. Cahaya panas matahari masuk melalui jendela kaca yang terbuka kordennya, hingga nampak gedung gedung megah yang menjulang tinggi. Namun Tiara tidak memperdulikan hal itu sama sekali, karena saat ini dia merasa sedikit cemas menunggu kedatangan adik iparnya yang sama sekali belum pernah dia ketahui.
Perasaannya beda dengan saat Tiara bertemu dengan bunda Amel kemarin. Mungkin dikarenakan kemarin Tiara bertemu dengan bunda Amel secara mendadak tanpa ada rencana sama sekali jadinya mengalir begitu saja. Sangat berbeda dengan hari ini yang akan bertemu dengan Vani seolah sudah direncanakan terlebih dahulu.
Otak Tiara seolah bekerja dengan sangat keras memikirkan apa yang akan dia lakukan saat dia bertemu dengan adik iparnya nanti. Apa yang akan mereka bicarakan, apakah mereka akan merasa cocok satu sama lain atau malah Vani tidak bisa menerima kehadiran Tiara sebagai kakak iparnya?. Itulah sekelabat pikiran konyol Tiara yang memenuhi otaknya saat ini. Itulah sebabnya dari tadi Tiara diam dan merasa tegang saat mereka baru saja sampai di the Sab House.
" Sayang.... tenanglah" kata Rivan memegang tangan Tiara untuk memberikan support karena dia tau saat ini istrinya merasa cemas.
Tiara menoleh dan melihat wajah Rivan yang tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sekilas seolah mengatakan ' gak usah khawatir' dan sejenak Tiara bisa lebih rileks saat tangan suaminya memegangnya lembut.
" Percayalah... Vani pasti akan menyukaimu dan menerimamu sebagai kakak iparnya" ucap Rivan lembut dan tersenyum lalu mencium tangan Tiara untuk memberikan ketenangan pada Tiara.
Tanpa menjawab perkataan suaminya, Tiara hanya bisa menghela nafas mengatur detak jantungnya dan ikut tersenyum kemudian mengangguk sebentar untuk mengurai kecemasannya.
Sementara itu dua orang wanita cantik berjalan terburu buru menuju ke ruangan tempat janji makan siang. Siapa lagi kalau bukan Vani dan Ella yang langsung keluar dari ruang kerja mereka untuk bertemu dengan Rivan. Mereka langsung meninggalkan pekerjaan mereka setelah salah satu pegawai bilang ada yang menunggu di ruangan VIP.
" Tumben banget, mas Rivan ngajak kamu ketemuan?" tanya Ella yang berjalan di belakang Vani. " Biasanya dia paling anti ngajakin kamu makan bersama bersama, kecuali jika kek Gun atau orang tua kamu yang ngajak, kalian baru bisa makan bersama kayak biasanya" lanjutnya tersenyum tipis mengingat Rivan yang jarang mau atau bisa dibilang gak pernah mau makan berdua dengan adiknya.
" Mana aku tau, dia gak bilang apa apa sama aku. Dua cuma bilang pengen makan siang bersama" jawab Vani yang memang tidak tau akan maksud ajakan makan siang Rivan saat ini. " Mungkin dia mau cerita soal mbak Tiara, kata bunda kemarin ketemu sama mbak Tiara di rumah mas Rivan" lanjutnya.
Kemarin sore bunda Amel cerita ke Vani kalau beliau sudah ketemu dengan istrinya mas Rivan. Bunda Amel juga bertanya banyak hal sama Vani meskipun Vani sendiri juga gak tau apa apa. Salah satunya mengenai Tiara yang ingin bunda Amel jodohkan dengan Rivan, dan gak taunya sudah lebih dulu menjadi istri Rivan. Dan hal itu yang membuat sang bunda sangat bahagia dan begitu senang akhirnya putranya menikah dengan orang yang dia suka.
" Jadi beneran mereka sudah menikah?" tanya Ella yang masih belum percaya dengan berita pernikahan Rivan, meskipun dirinya sudah mendapat kabar langsung dari Rivan, entah kenapa dalam hatinya dia masih belum percaya.
" Hemmm...." Vani hanya bergumam sambil menganggukkan kepalanya. " Kata bunda sih begitu, mereka sendiri yang bilang sama bunda" sambung Vani.
" Apa bunda gak marah sama mereka?" tanya Ella begitu penasaran dengan reaksi mantan bosnya dan juga ibu dari bosnya sekarang mengenai pernikahan Rivan yang tidak mengundang keluarganya sama sekali.
" Bunda marah banget lah! tapi setelah itu beliau terpesona dan kagum banget sama mbak Tiara" sahut Vani masih berjalan menuju ruangan VIP.
Mereka terus melangkahkan kaki mereka, hingga akhirnya mereka telah sampai di depan pintu ruangan VIP yang sudah diberitahukan oleh pegawai yang tadi mengantarkan Rivan dan Tiara ke ruangan tersebut.
Dengan penuh semangat Vani mendorong pintu tersebut dengan sekuat tenaga, sehingga pintu ruangan tersebut terbuka sangat lebar.
" Gila kamu mas! nikah gak bilang bilang!" seru Vani dengan suara lantang mengatai kakaknya gila. Dia bekerja bersebelahan dengan Ella tepat di depan pintu yang terbuka.
Sementara itu Rivan dan Tiara yang tengah berbincang ringan langsung menoleh ke arah pintu yang terbuka dengan sedikit keras. Di pintu terlihat 2 bayangan seorang perempuan sedang berdiri. Tiara semakin terkejut dan cemas saat mendengar cacian serta suara keras yang dilontarkan oleh seorang perempuan yang dia yakini adalah suara Vani adik iparnya.
Tiara bahkan langsung berdiri dari duduknya dengan tangan sedikit bergetar. Dan hal itu membuat Rivan langsung menggenggam tangan Tiara lagi.
Di sisi lain Vani yang sudah mencela kakaknya dengan suara lantang langsung terdiam terpaku setelah dia lihat sosok perempuan yang berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Ella yang berdiri terdiam di sebelah Vani. Sorot tatapan mata Tiara dan Vani saling beradu namun dengan makna yang berbeda.
" Kamu itu apa apaan sih dek! bikin kaget aja!" seru Rivan memarahi adiknya yang berbicara sedikit kasar.
" Ehhmm.... maaf, aku kira mas Rivan datang sendirian" ucap Vani setelah tersadar dari diamnya. Vani berucap dengan suara terbata dan malu sambil berjalan ke arah di man Rivan dan Tiara berada.
Tiara masih terdiam mengamati wajah kedua perempuan yang kini telah berdiri di depannya. Dia pernah bertemu dengan Ella, jadi dapat Tiara yakini perempuan yang bersama Ella adalah Vani adiknya Rivan.
" Hai... mbak Tiara apa kabar?" Ella menyapa Tiara terlebih dahulu agar kecanggungan diantara Vani dan Tiara bisa teralihkan.
" Hai juga....kabar aku baik" jawab Tiara begitu yang menatap ke arah Ella dan tersenyum canggung. Kemudian tatapannya dia alihkan pada sosok perempuan bernama Vani. " Hai... kenalka__" sapa Tiara dengan suara lembut namun dia ucapannya harus terpotong.
" Hallo kakak ipar....." sapa Vani dengan suara lantang namun bahagia, bahkan Vani langsung berjalan mendekati Tiara dan memeluk tubuh Tiara yang masih berdiri termangu.
Sungguh tak pernah Tiara sangka bahwa Vani akan terlihat bahagia bahkan dia juga langsung memeluk dirinya dengan penuh bahagia. Dia masih terdiam dalam pelukan Vani yang begitu erat memeluknya.
" Aku bahagia banget, akhirnya aku bisa bertemu dengan kakak hari ini" ucap Vani sambil memeluk Tiara dengan erat.
Tiara yang baru menyadari ucapan adik iparnya langsung tersenyum bahagia karena ternyata Vani menerima dirinya. Sungguh jauh berbeda dengan apa yang ada di dalam pikirannya tadi. Tiara akhirnya membalas pelukan adik iparnya dengan mengusap punggung adiknya. Lama mereka terdiam dalam pelukan bahagia yang disaksikan oleh Rivan dan Ella yang ada di sana.
" Sudah.... lepasin!" seru Rivan yang merasa kesal dengan adik iparnya yang begitu posesif memeluk istrinya.
Dengan terpaksa Vani melepaskan pelukannya. " Kenalkan aku Vani, adik satu satunya mas Rivan" Vani memperkenalkan dirinya dengan tersenyum pada kakak iparnya sambil memberikan tangannya.
Tiara juga ikut tersenyum melihat wajah Vani yang begitu lucu seperti anak kecil. " Kenalkan juga, aku Tiara istri mas Rivan dan itu artinya aku juga kakak ipar kamu" Tiara menjabat tangan Vani dan memperkenalkan namanya sekaligus statusnya sebagai istri Rivan.
" Sumpah mbak, aku kaget banget waktu bunda bilang mar Rivan sudah nikah. Tapi aku bahagia banget waktu tau mas Rivan nikahnya sama mbak Tiara" ucap Vani yang saat ini sudah duduk di sebelah Tiara.
Tiara sangat merasa bingung bagaimana Vani bisa begitu bahagia saat mengetahui bahwa Tiara lah yang sudah menikah dengan kakaknya. Bukankah mereka baru saja bertemu untuk pertama kali dan berkenalan, tapi entah kenapa melihat reaksi Vani seolah dia sudah mengenal Tiara begitu lama.
Namun Tiara langsung menepiskan pertanyaan dalam pikirannya yang tidak penting. Baginya untuk saat ini dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Vani telah menerima dirinya sebagai istri kakaknya sekaligus kakak iparnya. Dan itu artinya sebagian keluarga Rivan sudah menerima dirinya sebagai anggota keluarga mereka.
## Sudah hari Senin nih kak, kalian sudah pasti dapat 1 voucher kan???
Boleh dong kalau othor minta dukungan kalian dengan memberikan vote kalian dari voucher yang kalian dapatkan?? biar semangat lagi nih kak nulisnya 🙏🙏🙏