Suddenly Married

Suddenly Married
Jadi Jodohku saja, bagaimana ?



Sudah sebulan lamanya Ananya bekerja dengan Alvaro. Kinerjanya cukup bagus, dan Alvaro pun mengakuinya. Yang menjadi masalah disini adalah Vino, kerap kali ia mengajak Ananya untuk bolos bekerja hanya untuk menemaninya kelayapan. Untung saja Ananya bersikap profesional, ia tidak akan memenuhi permintaan sahabatnya pada saat jam kerja.


Pagi itu, Ananya baru saja menerima Laporan dari divisi penjualan. Terlebih dahulu ia akan memeriksa laporan tersebut sebelum di serahkan ke Alavaro.


"Ikut ke ruangan saya !" Kata Varo yang baru saja tiba di kantor. Ananya pun mengikutinya sambil membawa map berwarna biru di tangannya.


Ananya, mengetuk pintunya dua kali kemudian langsung membukanya tanpa diperintah.


"Maaf pak, bapak memanggil saya ?"Tanyanya.


"Iya, Laporan dari Divisi penjualan sudah kamu terima bukan? Persiapkan diri kamu pukul sebelas nanti, kita akan meeting dengan Client penting." Kata Alvaro penuh penekanan seolah tidak ingin di bantah.


"Apa bapak yakin ? Tapi, saya...." Perkataan Ananya di potong oleh Varo.


"Saya percaya kamu bisa, sebulan waktu yang cukup buat kamu belajar. Heri lagi berhalangan, Vino tidak mungkin. Jadi kamu satu-satunya yang bisa kuandalkan." Kata Varo meyakinkan Ananya.


"Baik, pak. Kalau begitu, Nya mau periksa file meetingnya. I'll do the best." Ucap Ananya semangat dengan mengepalkan tangannya ke atas. Varo hanya tersenyum melihat semangat Ananya yang kini telah berlalu dari hadapannya.


Meeting berlangsung selama kurng lebih dua jam dan beralan dengan sempurna sesuai dengan yang di harapkan.


"Sudah jam makan siang, apa kamu ada janji dengan Vino ?" Tanya Varo kepada Ananya. Ia berniat mengajaknya makan siang, namun khawatir jika Ananya sudah ada janji dengan Vino. Setaunya, Vino dan Ananya makan bersama setiap harinya.


"Hhmm... tidak kok pak." Jawabnya singkat sambil menyamai langkahnya dengan Varo.


"Santai saja, kita lagi tidak di kantor." Kata Varo yang tetap menatap lurus ke depan. Ananya tersenyum kecil mendengar ucapan bossnya.


Merekapun sampai di basement dimana Varo memarkirkan mobilnya. Seperti biasa, Varo tidak memakai jasa supir. Ia lebih suka mengendarai mobilnya sendiri dengan leluasa dibanding harus mengguakan tenaga orang lain hanya untuk sekedar mengantar jemputnya kemana-mana. Varo melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang ke salah satu restoran mewah di kota J.


Dalam hati Ananya membatin, "Pak Varo memang sangat misterius, sangat susah untuk di tebak. Terkadang begini, terkadang begitu. Tapi dia sangat baik hati."


Keduanya memsuki restoran mewah itu, Varopun memilih makan di ruang VIP yang lebih tertutup. Ia tidak begitu suka dengan keramaian, lain halnya dengan sang adik Vino yang suka dengan kehidupan yang glamour dan suka berpesta dengan banyak orang.


"Ehm...Pak Varo mau pesan apa ?" Tanya Ananya memecah keheningan.


"Semuanya sudah saya pesan, kita tinggal menunggu makanannya dihidagkan. Atau kamu ingin memesan makanan tertentu ? Silahkan !" Jawab Varo.


Lagi-lagi Ananya tercengang. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Seingatnya sedari tadi ia tidak perah melihat atau mendengar bossnya itu menelpon untuk mereservasi restoran bahkan memesan makanan.


Makanan pun dihidangkan oleh pelayan. Ananya terbelalak kaget melihat aneka macam hidangan mewah yang tersaji di meja.


"Gila...!!! Kenapa Vino tidak pernah mentraktirku seperti ini ?" Batinnya sembari menelan salivnya dengan susah payah.


"Makanlah..!" Kata Varo datar.


"Iya, pak..! tanpa disuruh juga Nya pasti makan." Jawabnya polos, Varo tersenyum kecilmelihat tingkah Ananya yang nenurutnya sangat menggemaskan. Ananya punmakan dengan lahapnya.


"Bapak kenapa makannya sedikit sekali ? Padahal makannya enak loh pak..?" Kata Ananya dengan mulut yang terisi penuh dengan makanan.


"Makanlah dulu, bicaranya nanti saja." Jawab Varo dengan elegant. Ananya hanya terkekeh alu mendapat jawaban Alvaro.


Selesai makan, keduanya kembali ke kantor.


"Bagaimana hubunganmu dengan Vino ?" Alvaro tiba-tiba mebuka suara, dan berhasil membuat Ananya terkesiap.


"Hhm....kami baik-baik saja kak. " Jawab Ananya singkat.


"Sebenarnya apa hubungan kalian ?" Tanya Varo lagi.


"Yaahh... seperti yang kakak sering dengar dari Vino. Kami hanya bersahabat, tidak lebih." Jawab Ananya yang menunjukkan raut sedih di manik mata peraknya.


"Tapi yang aku lihat, kalian ini tidak hanya berteman, apa Kamu mencintai adikku ?" Var kembali bertanya kepada Ananya namun tak mendapat jawaban dari Ananya, ia hanya mengangkat bahu pertanda tidak tau jawaban apa yang harus ia berikan.


"Apa gunanya mencintai tanpa mendapat balasan ?" Pertanyaan itu lolos dari mulut Ananya. Entah mengapa, Varo merasa sedikit perih di dadanya mendengar ucapn Ananya.


"Kakak yakin Vino juga menyukaimu. Berusahalah." Kata Varo.


"Heemmm, makasih kak. Vino hanya menganggapku sebagai teman, tidak lebih dari itu. Lagipula, Nya tidak berharap Vino membalas perasaan Nya. Jika memang dia untuk Nya, dia tidak akan kemana. Begitupun sebaliknya, jika memang bukan untuk Nya, sekeras apapun Nya berusaha dia tidak akan bertahan di sisi Nia." Katanya kemudian.


"Sejak kapan kamu sedewasa ini ?" Varo meledek Ananya.


"Isshh... Kak Varo apaan, yaahh Nya cuma berusaha berpikiran positif aja." Ananya berusaha membela dirinya.


"Ya sudah, kalau kamu tidak berjodoh dengan Vino, jadi jodohky saja, bagaimana ?" Varo menggoda Ananya. Sebenarnya ia tulus mengatakan hal itu kepada Ananya, namun ia utarakan dengan nada bercanda takut Ananya marah.


"Boleh, asal dikasi makan kayak tadi tiap hari. Haahaa..." Ananya menjawabnya juga dengan candaan.


Keduanya terlihat semakin akrab. Sejak hari itu, Varopun semakin sering mengajak Ananya untuk mendampinginya meeting dengan client. Tidak dipungkiri kemampuan belajar Ananya diatas rata-rata, serta ketekunannya dalam bekerja patut diacungi jempol.


.


.


.


.


.


.


Mohon bantuan dan dukungannya teman-teman. Semakin banyak like dan comment maka author juga aka semkin semangat dan rajin untuk update Babnya.


Tolong tinggalkan jejak setelah membaca.


❤Author