Suddenly Married

Suddenly Married
Dia suami kamu



Tiara hanya bisa tersenyum kikuk saat mendengar candaan dan godaan yang dilontarkan oleh karyawannya tentang Rivan. Tapi dia tidak ingin menanggapinya lebih jauh dan membiarkan mereka mengira kalau Rivan adalah pacarnya. Biarkan saja semua orang beranggapan lain tentang hubungan mereka selama mereka tidak berlaku buruk terhadap dirinya.


Berbeda dengan Rivan yang terus menggandeng tangan Tiara seolah tidak ingin melepaskannya dan tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya. Meskipun hampir semua orang saat ini tengah menatapnya penuh kagum melihat ketampanan yang dimiliki Rivan.


" Aku ke atas dulu ya" pamit Tiara pada semua karyawannya yang ada di lantai bawah dengan senyuman canggung.


" Iya, mbak"


" Ok mbak Tiara" sahut mereka semua secara bersamaan masih dengan nada menggoda dan jahil.


Tiara sungguh merasa malu dengan semua yang sedang dilakukan Rivan saat ini. Rasanya dia ingin sekali menenggelamkan wajahnya ke dalam dasar laut agar tidak ada yang melihat wajahnya yang pasti sudah seperti kepiting rebus.


Rivan terus mengajak Tiara naik ke lantai atas dimana tempat ruangan kerjanya berada tanpa memperdulikan orang lain. Bahkan tangannya kini bergantian memeluk pinggang Tiara dengan mesra dan mereka berjalan beriringan menaiki tangga.


" Mas... semua orang melihat kita" Tiara berusaha melepaskan tangan Rivan yang berada di pinggangnya.


Namun sayang tenaga Rivan lebih dari kuat daripada Tiara sehingga dia tidak bisa melepaskan tangan suaminya yang terus memaksa memeluk pinggang Tiara.


" Biarkan saja... aku gak peduli" sahut Rivan dengan tangan yang masih asyik dan erat memeluk pinggang istrinya bahkan tersenyum lembut saat melihat wajah Tiara begitu menggemaskan karena merasa malu dengan candaan dan godaan para karyawannya.


Mereka terus berjalan hingga kini sudah berada di lantai 2 dengan beberapa ruangan kerja di beberapa bagiannya.


" Dimana ruangan kamu, sayang?" tanya Rivan sesekali mengamati beberapa ruangan yang sudah dilaluinya.


" Di sana" tunjuk Tiara pada salah satu ruangan yang tepat berada paling ujung.


Rivan yang sudah mengetahui letak ruangan kerja istrinya, terus mengajak Tiara ke ruangannya. Namun tiba tiba langkah mereka berhenti saat seorang perempuan keluar dari ruangannya sambil membawa beberapa map ditangannya.


Perempuan tersebut langsung berhenti di tempatnya dia berdiri dengan pandangan yang menatap ke arah Tiara dan Rivan. Tatapannya tajam penuh selidik pada keduanya, apalagi melihat tangan pria di depannya yang terus memeluk pinggang sahabatnya. Ya! perempuan yang baru keluar dari ruang kerjanya adalah Nita sahabat sekaligus orang kepercayaannya.


" Ha...hai... Nit!" sapa Tiara dengan suara yang terbata dengan senyuman yang terlihat kaku.


" Hmm..." jawab Nita hanya dengan gumaman dan anggukan kepalanya, namun matanya terus menatap Rivan penuh selidik.


' Apa pria ini Rivan? suaminya Tiara?' tanya Nita dalam hati. ' Gak mungkin Tiara main selingkuh dengan pria lain. Tapi... bukankah seharusnya saat ini dia berangkat kerja, lalu kenapa saat ini pria tersebut ada di sini?' berbagai pertanyaan berkeliaran di otaknya mengenai pria yang memeluk Tiara dengan erat saat ini.


Nita berjalan mendekati mereka berdua yang tidak jauh berdiri di hadapannya. " Hai, Ara. tumben kamu batu datang?" tanya Nita saat sudah berdiri di hadapan Tiara.


" Hmmm.." bukannya menjawab pertanyaan Nita,Tiara justru hanya bergumam sambil berfikir keras. " Nit... kenalin ini Rivan" akhirnya Tiara memperkenalkan Rivan pada sahabatnya.


" Rivan?" tanya Nita memastikan. " Maksud kamu... dia suami kamu?" lanjutnya bertanya lagi untuk memperjelas ucapan Tiara.


Tiara tidak menjawab pertanyaan Nita namun hanya mengangguk mengiyakan dengan senyuman yang terbit di kedua sudut bibirnya.


Nita tersenyum dan langsung memberikan tangan kanannya pada Rivan. " Kenalin aku Nita, sahabat Tiara" ucap Nita mengajak Rivan berkenalan dengan benar.


Sekilas Rivan menatap ke arah Tiara seolah meminta persetujuan Tiara terlebih dahulu sebelum berkenalan dengan Nita. Sedangkan Tiara yang mengerti maksud tatapan suaminya hanya bisa tersenyum dan mengangguk meyakinkan.


Rivan mengalihkan tatapannya ke arah Nita lalu menerima jabatan tangan Nita. " Kenalkan aku Rivan, suami Tiara" ucap Rivan yang langsung memperkenalkan diri setelah mendapatkan ijin Tiara.


" Senang berkenalan dengan kamu" ucap Nita dengan senyum senangnya bisa mengenal suami sahabatnya.


" Sama sama" sahut Rivan yang masih berbicara dengan datar tanpa ada senyuman di sudut bibir Rivan meskipun hanya tipis.


Sikap Rivan sungguh sangat berbeda jauh, bahkan Tiara menganggap Rivan memiliki kepribadian ganda. Bagaimana tidak saat bersama dengan dirinya dia bersikap sangat baik, selalu tersenyum, suka menggombal ataupun menggodanya. Beda lagi jika berbicara dengan ayah ibunya Rivan begit sangat sopan, ramah dan menampilkan sedikit senyuman di bibirnya.


Dan sangat beda jauh saat dia berbicara ataupun bertemu dengan orang luar, Rivan akan bersikap datar tanpa ekspresi terlihat sombong dan tidak pernah menampilkan senyumannya sedikit saja walaupun hanya tipis.Makanya Tiara merasa suaminya itu memiliki kepribadian ganda yang selalu bertolak belakang saat bersama dirinya dan bicara dengan orang lain.


" Baiklah... kalau begitu aku pamit dulu. Sekali lagi senang bertemu denganmu" pamit Nita setelah menggoda Tiara dengan mengangkat turunkan kedua alisnya.


Nita kembali lagi ke ruangannya tidak ingin mengganggu sepasang suami istri yang sedang ingin berduaan saja. Nita juga bersyukur melihat Rivan yang sepertinya memang sangat menyayangi Tiara, dapat dia lihat saat Rivan terus memeluk pinggang Tiara dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.


Setelah bayangan tubuh Nita menghilang dibalik pintu ruangan kerjanya, Rivan kembali menuntun langkah Tiara agar segera masuk ke dalam ruangan kerjanya sendiri. Tentu saja dengan tangannya yang masih memeluk erat pinggang istrinya.


" Kamu duduk dulu mas, biar aku ambilkan minumnya" suruh Tiara begitu mereka masuk ke dalam ruangannya.


Dia langsung keluar lagi menuju ke pantry dapur yang ada di butiknya. Dia mengambil air putih 2 gelas dan langsung membawanya kembali ke ruangannya.


Rivan yang sedang sendirian menunggu istrinya, pandangannya mengamati seluruh isi ruang kerja istrinya yang terlihat kecil, tidak begitu besar. Di sana hanya ada meja dan kursi kerja untuk Tiara, ada juga satu sofa panjang serta meja untuk menerima tamu dan ada satu lemari kecil mungkin dipakai untuk menyimpan berkas berkas penting. Banyak foto serta desain gambar Tiara yang tertempel di dinding yang menjadi hiasan ruangannya.


Rivan langsung duduk di kursi sofa panjang dan meletakkan 2 paper bag bekal yang dibawakan istrinya tadi. Rivan segera mengeluarkan bekal makanan di atas meja agar mereka segera langsung menyantap sarapan bersama begitu Tiara tiba.


Tiara yang sudah datang membawa 2 gelas air putih langsung duduk bersebelahan dengan suaminya. " Maaf mas, aku hanya bawa air putih saja, takut mas keburu berangkat ke kantor" ucap Tiara yang memang tidak membuatkan minuman lain selain membawakan air putih mengingat waktu Rivan yang tidak bisa terlalu lama untuk datang ke kantornya.


" Gak apa apa, sayang.... ayo kita makan dulu" kata Rivan memberikan kotak bekal makanan milik Tiara.


Lalu mereka makan sarapan bersama di tempat kerja istrinya. Rivan tentu saja merasa puas karena semua karyawan dan teman istrinya tau bahwa Tiara sudah memiliki pasangan. Dengan begitu tidak akan ada yang berani mendekati dia lagi.


Ada kekhawatiran di hati Rivan tentang Tiara yang akan pergi meninggalkan dirinya jika saja Tiara tidak mencintainya. Hubungan mereka yang masih diketahui oleh beberapa orang membuatnya khawatir akan ada orang yang mendekati dirinya.


Sebenarnya kemarin pagi setelah mengantar Tiara dia tau bahwa mantan istrinya datang menemui Tiara di depan butiknya. Karena saat itu dia masih berada tidak jauh dari tempatnya menurunkan Tiara yang kebetulan dia harus memutar balik mobilnya untuk menuju ke kantornya.


Saat itu dia melihat dari kaca spion melihat seorang pria menghampiri istrinya dengan sebuket besar bunga mawar merah. Tentu saja dia langsung menghentikan mobilnya mengamati mereka dari dalam mobil. Ingin sekali saat itu dia turun dan menghampiri mereka berdua dan mengatakan bahwa dia adalah suaminya. Tapi dia tidak melakukan hal itu saat melihat Tiara menolak bunga pemberian pria yang dia ketahui mantan kekasih istrinya.


Makanya dia berfikir untuk mulai membuka hubungan mereka di depan umum terutama orang orang yang mengenal Tiara agar tidak ada yang berani mendekati istrinya lagi. Apalagi Tiara bahkan tidak bercerita padanya mengenai pertemuannya dengan pria tersebut, padahal dia sudah siap mendengarkan cerita Tiara. Meskipun Tiara menutupi darinya, tapi dia juga tidak akan memaksakan Tiara untuk bercerita.