
Nita dan Tiara makan siang di salah satu kafe yang biasa mereka datangi saat mereka masih kuliah dulu. Mereka makan siang dengan diselingi obrolan panjang lebar dengan berbagai topik yang berganti ganti.
Tidak lama setelah mereka selesai makan siang mereka berdua langsung melanjutkan me time mereka dengan pergi ke salah satu mall yang tidak jauh dari tempat mereka makan siang. Seperti biasa Nita selalu membawa mobil sendiri, hampir tidak pernah dia mengendarai kendaraan umum seperti Tiara yang suka sekali menggunakan fasilitas umum saat bepergian.
Rupanya Nita mengajak Tiara pergi nonton film di bioskop yang ada di dalam mall tersebut. " Ngapain kita kemari, Nit?" tanya Tiara yang mengira Nita akan mengajaknya untuk mencari gaun seperti yang dikatakan Nita sebelumnya.
" Ya nonton lah, Ara. Masak di sini kita mau olah raga!" sahut Nita.
" Katanya tadi Lo mau nyari gaun?" tanya Tiara lagi yang masih bingung.
" Soal baju mah gampang! habis nonton kita masih bisa nyari kan" sahut Nita yang melihat beberapa poster film yang sedang tayang di bioskop saat itu. " Udah lama kita gak nonton bareng" lanjut Nita yang kemudian pergi ke loket pembelian tiket film yang diinginkan setelah berdiskusi dengan Tiara.
Tiara tidak menolak karena memang sudah cukup lama mereka berdua tidak keluar untuk jalan jalan bareng atau nonton film bersama. Kebetulan film yang akan mereka tonton sudah tayang beberapa menit yang lalu sehingga pembelian tidak tidak begitu antri. Setelahnya mereka langsung masuk ke dalam bioskop dan mencari tempat duduk yang sesuai dengan yang tertera di dalam tiket.
" Suami Lo gak bakalan marah atau nyariin Lo kan?" tanya Nita begitu mereka duduk di bangku.
" Nggak! dia justru yang nyuruh gue buat jalan sepuasnya sama Elo" jawab Tiara jujur karena memang Rivan yang menyuruhnya untuk pergi keluar bareng Nita menghabiskan waktu bersama.
Mereka larut dalam pemutaran film yang sedang tayang di layar yang sangat besar di depan mereka. Dengan sesekali memakan camilan yang sudah mereka beli sebelum mereka masuk ke dalam bioskop.
Sesekali Tiara mengirimkan gambar atau mengirimkan pesan singkat pada suaminya yang sedang berada di rumah sendirian. Dia menunjukkan pada suaminya dimana dia berada dan apa saja yang sedang dia lakukan saat ini bersama dengan Nita.
Begitu selesai dengan kegiatan nonton film mereka berdua berjalan menyusuri mall yang terdapat banyak toko toko berjejer dengan segala penjualannya. Hingga akhirnya Nita mengajak Tiara masuk ke dalam salah satu toko yang menjual berbagai macam baju dan ternyata toko baju tersebut merupakan toko baju khusus untuk perempuan.
Bagaimana tidak di dalam toko tersebut menjual segala perlengkapan produk dan berbagai macam baju tidur dengan kualitas yang bagus. Tidak hanya menjual baju tidur di toko tersebut juga menjual berbagai macam pakaian dalam khusus untuk wanita, makanya jika para pria datang ke toko tersebut mereka pasti akan terintimidasi dengan produk produk yang terpajang dan dijejerkan di dalam toko tersebut.
Tiara mengamati Nita yang sedang memilah milah baju, dia hanya menggeleng geleng pelan melihat Nita yang begitu antusias mencari baju yang menurut Tiara kekurangan bahan.
" Gak usah liatin kayak gitu juga Ara! wajah gue gak bakalan tambah jelek!" ucap Nita sambil mengamati deretan pakaian yang ada di depannya.
" Nit… waktu lo bilang mau gue temenin nyari gaun…." ucap Tiara balik dengan masih kata kata yang masih menggantung, bingung mau mengatakan apa.
" Hmmm..." gumam Nita yang masih sibuk melihat beberapa gaun di depannya sambil menunggu kelanjutan kalimat Tiara.
" Kenapa Lo nggak bilang kalau gaun yang Lo cari lingerie sih!" ucap Tiara yang sedikit kesal dan melampiaskan emosinya karena Nita yang tidak mengatakan sebelumnya.
Memang benar kata Nita kalau di tempat butiknya tidak pernah menjual baju tidur apalagi sebuah lingerie seperti di toko tersebut. Di butik Tiara hanya menyediakan berbagai macam baju kerja, baju buat pergi jalan jalan ataupun gaun resmi yang biasa dipakai untuk ke pesta atau acara resmi lainnya.
Seumur hidup Tiara memang tidak pernah memakai baju tidur yang seksi seperti yang terpajang di hadapannya saat ini. Konon katanya laki laki akan merasa senang sekali setiap melihat perempuan memakai pakaian tersebut. Bahkan katanya, jika para laki laki melihat seorang perempuan memakai pakaian seperti itu di hadapan mereka, maka para laki laki bisa langsung seperti binatang buas. Terdengar sakti bukan?.
" Mumpung badan udah kece nin, Ara! kita harus kreatif" jawab Nita yang membuat Tiara menggaruk garuk kepalanya.
" Kreatif buat apa coba" tanya tiara belum mengerti maksud sahabatnya tersebut.
" Kreatif, biar adegan ranjang tetap seru lah, Ara. Ah elo kayak gak tau aja…" sahut Nita yang suka sekali bicara vulgar tanpa tau tempat.
Mendengar jawaban Nita yang begitu vulgar membuat Tiara hanya bisa menelan ludah kasar. Nita yang tadinya hanya bicara asal langsung memerhatikan gelagat Tiara yang tidak wajar. Hingga suasana menjadi hening sejenak di antara mereka berdua.
" Sttt.. berisik ah!" Tiara langsung membukam mulut Nita dengan tangannya dan matanya mendelik menatap Nita.
" Wah kacau Lo, Ara!" ejek Nita setelah melepaskan tangan Tiara yang membukam mulutnya.
" Elo yang kacau! sama kayak otak Lo tuh!" sahut Tiara kesal.
" Dih... kenapa jadi gue?" sahut Nita tidak terima. " Sekarang gue tanya ke Elo ya! udah berapa lama Lo tinggal bareng Rivan?" tanya Nita penuh selidik
" Mau dua mingguan lah" jawab Tiara mengingat ingat dirinya sudah tinggal bersama suaminya. Biar malu setengah mati habis diteriaki pertanyaan Nita mengundang rasa penasaran Tiara.
" Selama Lo tinggal bareng Rivan, Lo berdua pisah kamar?" tanya Nita lagi.
" Nggak!" jawab Tiara sambil menggeleng.
" Pisah ranjang nggak?" tanya Nita masih belum puas dengan jawaban Tiara.
" Nggak!" jawab Nita cepat.
" Jadi hampir dua minggu ini Lo suruh Rivan puasa tiap malam? sambil ngeliatin santapan segede gini di sebelahnya!" ujar Nita pada Tiara sambil menunjuki seluruh tubuh Tiara yang bediri di depannya.
" Gue…. Dia, tuh…" Tiara bingung menjawab apa, saking pusingnya untuk mencari satu alasan agar bisa mendebat Nita.
" Kacau Lo, Ara!" kata nita sambil mengetuk pelan dahi Tiara dengan telunjuknya.
" Bawel Lo, Nit! otak lo tuh yang kacau" sahut Tiara tidak terima dengan umpatan Nita padanya.
" Gue kasih tau aja ya, suami Lo tuh kasian" kata Nita merasa iba dengan hidup Rivan meskipun dirinya nggak begitu mengenal Rivan. "Gue gak tega dengarnya tau! cowok tuh beda sama kita, mereka tuh susah banget ngendaliin nafsunya. Kalau tegang aja, kadang gak bisa mereka atur sendiri kok, tau tau keras aja gitu…" lanjut Nita mencoba memberikan pengertian pada sahabatnya.
" Kenapa ngomongin barang cowok sih, Nit" sahut Tiara merasa risih mendengar perkataan sahabatnya.
" Dan lagi, si Rivan udah pernah gitu belum sih?" tanya Nita tanpa memperdulikan ucapan Tiara sebelumnya yang merasa risih.
" Belum" jawab Tiara dengan suara pelan.
" Umurnya berapa sih?" tanya Nita yang begitu penasaran hingga membuat Tiara langsung menunduk.
Kini dia berfikir baik baik tentang Rivan, benar juga apa yang dikatakan Nita, kasihan banget sama suaminya. Usia Rivan yang sudah menginjak kepala tiga dengan sejarahnya yang belum pernah melakukan hal itu semenjak mereka menikah, bahkan saat mereka tinggal bersama. Tiara juga nggak tau apakah Rivan pernah melakukan hubungan s** bersama wanita lain sebelum menikah dengan dirinya.
Tapi dengan sabarnya Rivan bahkan tidak meminta haknya sebagai suami pada Tiara padahal bisa saja Rivan melakukannya karena mereka sudah lama tidur bersama dalam satu ranjang. Sepertimya Tiara memang diberi seorang suami yang begitu sabar, hatinya yang seluas samudra.
Kini dia membayangkan Rivan yang setiap malam begitu berusaha menahan diri untuk tidak menerkam ataupun memaksa dirinya untuk melakukan hubungan suama istri, meskipun seluruh tubuhnya memberontak meminta tubuh Tiara. Apalagi mereka sudah tidur dengan saling berhadapan ataupun berpelukan tiap malamnya.Namun posisi Rivan seolah tidak pernah berubah mulai dari awal dia menutup mata hingga membuka mata pagi harinya. Satu kata juga yang terbayang di benak Tiara. ' KASIHAN RIVAN'.
Wajah Tiara terlihat sendu seolah memikirkan nasib suaminya yang selama ini harus menahan keinginannya untuk bisa menyentuh tubuh Tiara lebih jauh. Tiara merasa bersalah dengan sikapnya yang sudah mengabaikan keinginan suaminya.