
Saat ini mereka berempat sudah duduk di kursi meja makan dengan pak Hendra duduk di kursi paling ujung dan bu Suci di sebelah kiri berhadapan dengan Tiara dan Rivan yang duduk di sebelah kanan ayah Hendra.
Kali ini bu Suci dan Tiara memasak banyak menu makanan yang sudah disajikan di atas meja makan. Awalnya bu Suci memang sudah mengira kalau Rivan pasti akan mengantar Tiara pulang ke rumahnya dan beliau memang sudah berencana untuk mengajak menantunya makan bersama di rumahnya.
" Yuk dimakan nak Rivan, ini Tiara loh yang masak, ibu tadi cuma bantu saja" kata bu Suci memuji putrinya di depan suaminya.
" Nyindir nih ibu ceritanya" sahut Tiara dengan bibir cemberut karena dia tau tadi dirinya hanya membantu ibunya. Apalagi Tiara sendiri bukanlah orang yang pandai memasak.
" Bukan nyindir, Ara. ibu maunya kan muji kamu di depan suami kamu, hehehe" kekeh bu Suci yang memang ingin menggoda putrinya.
Rivan tersenyum melihat keakraban diantara Tiara dan ibunya. " Tadi malam sama pagi tadi, Tiara yang masakin buat Rivan kok bu" kata Rivan memuji istrinya didepan ibu mertuanya.
" Wahh... hebat kamu, Ara" kini pak Hendra yang memuji Tiara. " Itu salah satu kewajiban kamu sebagai seorang istri, jadi kamu harus sering belajar memasak sama ibu biar kamu makin pintas masak" lanjutnya menyemangati putrinya.
Pak Hendra menyuruh semua anggota keluarganya untuk segera memakan makan siang mereka. Tiara sebelumnya sudah mengambilkan menu makanan untuk Rivan di piringnya. Mereka segera menyantap makanan yang sudah tersaji di piring masing masing.
Rivan begitu merasa bahagia bisa berkumpul dengan keluarga barunya. Dapat Rivan rasakan kedua mertuanya begitu menerima dirinya menjadi anggota baru di keluarga mereka. Rivan juga merasakan kehangatan yang diberikan oleh kedua ayah dan ibu dari istrinya.
Selama ini dia sangat jarang bisa makan bersama dengan keluarganya karena kesibukan masing masing anggota keluarga. Biasanya mereka akan terlihat berkumpul dan makan bersama di meja makan, saat mereka sedang merayakan hari bahagia. Hal itu bukan berarti bahwa kelurga besar Rivan bukanlah keluarga yang hangat. Keluarga Rivan juga sama hangatnya dengan keluarga Tiara namun karena kesibukan masing masing anggota keluarga sehingga mereka sangat jarang bisa berkumpul bersama.
" Gimana, Ara... tadi bundanya Rivan ngomong apa aja sama kamu?" tanya bu suci di sela sela makan siang mereka.
" Gak ada, bu... tadi bunda cuma marah aja karena merasa tidak dianggap saat acara ijab qabul kami dan beliau minta penjelasan tentang pernikahan kami" jawab Tiara lalu memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
" Tadi bunda bilang mau mengadakan resepsi pernikahan kami, bu!" kini Rivan yang menimpali jawaban Tiara dan tidak ingin menutup nutupi semuanya dari ibu mertuanya.
" Resepsi?" tanya ibu Suci. " Ibu harap, kalian tidak menolak keinginan bundanya Rivan" lanjutnya menebak.
" Sebenarnya dulu, kami sepakat untuk tidak mengadakan resepsi pernikahan, bu. Tapi tadi tiba tiba Tiara langsung menyetujui keinginan bunda, buat ngadain resepsi pernikahan kami" beritahu Rivan mengingat istrinya yang langsung menyetujui keinginan bundanya.
" Kamu kan tau sendiri, Van... tadi bunda sangat kecewa dengan kita karena meras tidak dihargai sebagai orang tua kamu" bantah Tiara .
Bu Suci tersenyum geli melihat perdebatan kecil diantara putri dan menantuanya. " Nggak hanya mertua kamu yang kecewa, Ara. Ibu juga merasa kecewa gak diundang saat pernikahan kalian" Tiara hanya diam semakin merasa bersalah telah menyakiti ibunya yang merasa kecewa padanya.
" Baguslah kalau kalian akhirnya setuju mengadakan resepsi, nanti biar ibu yang menyiapkan segala keperluan untuk resepsi kalian" kali ini ayah Hendra menyampaikan pendapatnya.
Semua orang menatap ayah Hendra yang duduk di kursi paling ujung. Beliau dengan santainya mengusulkan pendapatnya seolah tidak ada beban. Beliau memang tidak akan tau, bagaimana repotnya seseorang yang mengurus resepsi pernikahan.
" Itu tidak perlu, yah...bu..., semuanya akan diurus sama bunda dan aku yakin bunda hanya perlu menyuruh karyawannya yang mengurusi semua keperluan resepsi pernikahan kami" larang Rivan yang tidak ingin ibu ataupun ayah mertuanya kerepotan mengurusi resepsi pernikahannya dengan Tiara.
" Tapi, Van__"
" Nanti aku kenalin ibu sama bunda, biara nanti kalian bisa bermusyawarah untuk menentukan tema resepsi pernikahan kami. Selain itu, Rivan yakin kek Gun pasti gak akan tinggal diam jika mengetahui pernikahan kami" memotong ucapan ibu mertuanya yang ingin mendebat.
" Kek Gun?" tanya pak Hendra sambil mengernyitkan kedua alis dan menyipitkan matanya mencoba mengingat sesuatu.
" Itu dari nama panggilannya?" kali ini bu suci yang bertanya dengan penuh penasaran.
Rivan tidak langsung menjawab pertanyaan ibu mertuanya. Dia hanya bisa mengangguk karena dia sedang sibuk menguyah makanan yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.
" Namanya Guntur Sanjaya, semua keluarga sendiri lebih suka dipanggil kek Gun" jawab Rivan sambil tersenyum setelah dia selesai menelan makanannya dan meminum air putih untuk mendorong makanan agar masuk kedalam kerongkongan.
" Gun__ guntur…. Sanjaya?" tanya pak Hendra dengan suara terbata karena sedang mencoba mengingat mengingat sesuatu.
" Kenapa yah?" tanya Tiara heran saat dia melihat wajah ayahnya yang terlihat sedang berfikir keras mengingat sesuatu.
Semua terdiam menatap ke arah pak Hendra yang masih mengernyitkan kedua alisnya tanpa menjawab pertanyaan putrinya. " Kayaknya nama itu gak asing di telinga ayah" katanya setelah dia terdiam dalam pikirannya.
" Kalau gak salah itu nama pengusaha terkenal. Dan seingat ayah beliau adalah orang kelima atau ke enam jajaran orang terkaya di Indonesia" sambung pak Hendra setelah mengingat nama yang disebut 'kek Gun' oleh menantunya.
" Ah masa sih, yah?? kalau iya berarti Rivan anak konglomerat dong!! beruntung banget Tiara!!" ucap bu Suci yang juga tertawa dengan maksud ingin menggoda putrinya karena dia masih tidak percaya dengan perkataan suaminya.
Tiara yang memang belum mengetahui silsilah keluarga Rivan, langsung menghentikan makannya karena tenggorokannya yang terasa tercekat mendengar ucapan sang ayah dan godaan ibunya. Kemudian dia langsung menoleh menatap ke arah Rivan dengan mata membulat penuh tanda tanya.
Merasa dirinya sedang ditatap oleh istrinya, Rivan ikut menoleh dan kini mata mereka saling bertatapan dan dia hanya bisa tersenyum geli melihat reaksi sang istri yang nampak terkejut.
" Sekarang sih sudah dapet peringkat ketiga, yah" ujar Rivan singkat bergantian menatap semua orang yang ada di sana.
Tawa bu Suci langsung menghilang tergantikan dengan matanya yang membulat sempurna. Sementara itu Tiara masih terdiam dengan pikiran pikirannya yang memang belum mengetahui silsilah keluarga suaminya sama sekali. Dia mengira Rivan memang orang kaya tapi dia tidak pernah menduga bahwa keluarga Rivan termasuk dalam jajaran orang terkaya di Indonesia. Tidak heran jika Rivan bisa memiliki mobil mobil mewah serta rumah yang bisa dibilang sangat bagus dan mahal.
" Jadi ayah beneran?" tanya bu Suci yang merasa terkejut dengan mata yang masih terbuka lebar dan Rivan yang justru hanya mengangguk membenarkan pertanyaan ibu mertuanya.
" Kamu sendiri sudah tau, Ara?" kali ini bu Suci bertanya langsung pada putrinya.
Tiara yang juga masih merasa syok, meskipun tidak sehebat ibunya yang benar benar merasa terkejut dengan kenyataan yang baru di didengarnya.
" Belum bu" jawab Tiara setelah dia terdiam untuk menetralkan jantungnya yang serasa ingin copot dari tempatnya dan kepalanya juga langsung menggeleng.
" Tiara hanya sempat berkenalan sama bunda, kebetulan tadi bunda yang datang ke rumah Rivan dan bertemu dengan Tiara" kali ini Rivan yang membatu Tiara menyahuti pertanyaan yang diajukan padanya.
Pak Hendra sendiri hanya bisa menghela nafas dengan panjang. Dia sama sekali tidak pernah bermimpi akan memiliki menantu yang sangat kaya raya.
" Emang kakek kamu bisnis apa, Van... kok bisa banyak banget duitnya, terkaya nomor 3 di Indonesia loh!!" kata bu Suci yang begitu antusiasnya.
" Bisnis kek Gun ada beberapa bidang dan dia masih menjadi pemegang atas delapan perusahaannya misalnya seperti Asri tbk" jawab Rivan. " Kek gun orang pertama yang mempelopori desain rumah minimalis, kalau zaman dulu orang kan sukanya rumah rumah besar tapi sekarang banyak orang yang nyari rumah kecil, sederhana namun terlihat minimalis yang desainnya bagus seperti rumah rumah orang kaya pada umumnya" lanjut Rivan sedikit memberitahukan tentang kakeknya yang memang seorang pengusaha yang terkenal.
Semua orang yang ada di sana mencoba diam untuk memperhatikan penjelasan Rivan yang menurut mereka sangat berarti.