Suddenly Married

Suddenly Married
Mau Beli Sendiri



Tiara memang belum mengenal semua dengan pasti keluarga Rivan. Dia hanya baru berkenalan dengan bunda Amel dan Vani, dan belum pernah bertemu ataupun berkenalan dengan ayah Rivan ataupun kakeknya yang katanya seorang pengusaha terkenal di Indonesia.


Sebenarnya dia bisa saja mencari informasi mengenai keluarga suaminya dari google yang bisa kita pakai untuk mencari informasi hal penting. Apalagi keluarga Rivan katanya pengusaha terkaya nomer 3 di Indonesia yang pastinya bisa dengan mudah dia dapatkan informasinya. Tapi dia tidak ingin melakukannya, dia ingin mengetahui dan mengenal keluarga suaminya secara langsung dari mereka sendiri bukan dari orang lain apalagi informasi dari digital.


Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil untuk pulang ke rumah mereka setelah baru saja terjadi drama yang membuat Tiara begitu kesal karena pertemuan dirinya dengan Dika. Apalagi Rivan juga sempat melihat pertemuan mereka, namun dirinya hanya berpura pura tidak mengetahui dan begitu penasaran dengan apa yang mereka bicarakan tadi.


Tentu saja Rivan sangat penasaran ingin mengetahui semuanya, tapi dirinya tidak ingin terlalu ikut campur dengan urusan mereka sebelum Tiara sendiri yang mengatakan. Dirinya tidak akan bertanya mengenai seorang pria yang dia ketahui sebagai mantan kekasih dari istrinya dan menunggu Tiara sendiri yang bercerita padanya.


Sementara itu mendapat kabar ulang tahun kakek dari Vani awalnya dia merasa kesal karena Rivan sama sekali tidak memberitahu dirinya mengenai ulang tahun kakeknya yang akan dirayakan dua minggu lagi. Dia juga merasa kecewa karena merasa dirinya tidak akan diundang oleh keluarganya, tapi kenyataannya Rivan justru akan mengajaknya untuk ikut merayakan ulang tahun kakeknya.


Tapi disisi lain dia juga merasa bingung karena harus mencarikan kado ulang tahun dalam waktu yang singkat. Mendengar ucapan Rivan membuatnya merasa berkecil hati saat mendengar hadiah yang diberikan orang orang pada kakeknya. Karena hadiah yang diberikan kebanyakan barang mewah dan belum tentu Tiara bisa menandingi hadiah yang diterima oleh kakek Rivan.


Tiara akan mencarikan kado ulang tahun untuk kakek mertuanya meskipun tidak sebanding dengan hadiah lain yang diterimanya. Tapi dia optimis kakeknya Rivan akan dengan senang menerima hadiah darinya. Apalagi di acara ulang tahun kakek mertuanya nanti mereka akan bertemu untuk pertama kalinya dan dia harus bisa mengambil hati beliau agar bisa diterima di keluarga besar mereka.


Tiara juga merasa tersinggung dengan ucapan Rivan yang mengatakan bahwa dirinya disamakan dengan harta. " Jadi aku cuma kamu anggap perhiasan. Barang buat dipamerin gitu?!" tanya Tiara dengan kesal pada suaminya.


Rivan hanya bisa mengeryit, sekali lagi dirinya telah salah bicara pada Tiara yang selalu kritis dengan ucapan seseorang. " Siapa yang ngomongin kamu sebagai perhiasan sih, sayang??" tanya balik Rivan yang merasa heran dengan pemikiran sang istri.


" Terus maksudnya apa nyamain aku dengan harta?!" tanya Tiara dengan sarkas.


Sejenak Rivan menutup mata dan menghela nafas panjang. " Maksudnya... keberadaan kamu di hidup aku ngelebihin semua materi yang aku miliki di dunia ini. Nggak ada hubungannya dengan aku anggep kamu sebagai barang atau perhiasan" jelas Rivan pelan yang langsung membuat wajah sebal Tiara hilang seketika.


" Ohh…" balas Tiara singkat, dirinya merasa benar benar tidak enak hati telah berpikiran buruk dan sewot terhadap suaminya.


" Kamu tuh ya, sukanya nge-gas terus" kata Rivan merasa gemas dengan sikap kritis istrinya.


" Aku nggak suka aja, kalo aku cuma dilihat dari penampilan aja mas. Aku berusaha dengan keras untuk bisa menjadi seorang wanita seperti sekarang ini. Suka miris aja kalau endingnya cuma dilihat dari tampang doang" jelas Tiara.


" Percaya padaku, dalam pandanganku kamu lebih dari cantik" puji Rivan, dia menatap Tiara sebentar sebelum akhirnya perhatiannya kembali ke jalanan.


Mereka terus mengobrol mengomentari topik musik yang sedang mereka dengar di radio sampai tidak terasa waktu berlalu begitu saja.


Saat mobil mereka sudah dekat dengan rumah, Tiara tiba tiba kembali membahas soal ulang tahun kakek Rivan. " Aku akan tetap mau nyariin kado buat kakek, nggak apa apa kan? aku yakin pasti akan sesuai dan kakek pasti senang menerima hadiah dariku" kata Tiara optimis namun membuat Rivan langsung mengernyit kurang begitu yakin.


" Kamu tau berapa banyak biaya yang akan kamu keluarkan untuk kakekku?" tanya Rivan berusaha membujuk Tiara agar membatalkan keinginannya.


" Aku memiliki gambaran di pikiranku yang__" belum selesai berbicara ucapan Tiara langsung disela oleh Rivan.


Dia tidak ingin Tiara merasa kecewa, karena penolakan yang akan diterima dirinya setelah dia berusaha memberikan yang terbaik untuk kakeknya.


" Please… aku nggak mau ketemu sama kakek kamu dengan tangan kosong. Apalagi ini acara ulang tahun beliau" paksa Tiara yang penuh dengan permohonan untuk bisa disetujui oleh suaminya.


" Ya udah.... besok kita beli bareng bareng ya kado untuk kakekku" akhirnya Rivan mengabulkan keinginan istrinya meksipun dengan terpaksa.


" Nggak...! aku mau beli sendiri" Rivan langsung menghentikan mobilnya bukan hanya karena mobil mereka yang telah parkir di depan rumah mereka, tapi juga karena Rivan yang tidak senang dengan ucapan terakhir Tiara.


" Sayang... aku nggak mau ngucapin hal yang akan menyinggung kamu, jadi aku cuma akan tanya sekali lagi. Kamu tau harus ngeluarin berapa rupiah untuk membelikan kakekku hadiah ulang tahun yang sesuai standart hadiah yang biasa dia terima?" tanya Rivan dengan hati hati agar tidak menyinggung perasan istrinya.


" Aku ngerti mas, penghasilan butik aku sebulan pun mungkin belum cukup" jawab Tiara santai.


" So… kita beli bareng besok ya, pakai uangku" ucap Rivan yang sama sekali tidak ada maksud merendahkan uang yang dimiliki istrinya.


Tiara menggeleng. " Ini pemberian dari aku mas. Nanti aku pake uang tabunganku nggak apa apa ya…"


" Nggak usah sayang…."


" Kado itu adalah bentuk penghormatan aku ke keluarga kamu, itu juga nunjukin bukti keseriusan aku untuk bisa diterima di keluarga kamu, mas... Please ini penting buat aku" paksa Tiara.


Rivan hanya bisa mendesah lalu melepas sabuk pengamannya, dia tidak tau lagi bagaimana menjelaskan kepada si kepala batu Tiara, bahwa kakeknya tidak membutuhkan hadiah dan apapun yang akan dipersiapkan oleh Tiara adalah sebuah pemborosan. Rivan tau kalau diskusi ini mereka lanjutkan, mereka pasti akan bertengkar dan dirinya tidak ingin hal itu terjadi. Mengingat tadi saat menjemput Tiara, dapat dia lihat mood istrinya sudah jelek dan akan semakin memburuk jika ditambah dengan pertengkaran mereka.


" Turun dulu, nanti kita lanjutin" ucap Rivan dengan wajah sedikit lesu karena bingung harus berbicara apa lagi untuk meyakinkan istrinya.


Melihat reaksi suaminya Tiara hanya bisa menghela nafas panjang, tapi dia juga tidak ingin membantah perintah suaminya barusan. Dirinya juga setuju dengan Rivan untuk menghentikan sejenak diskusi mereka, bahwa masih ada waktu 2 minggu lagi untuk dirinya meyakinkan suaminya dan mempersiapkan kado untuk kakek suaminya.


Tiara juga tidak terima jika masih harus didikte oleh Rivan untuk tidak memberikan sang kakek sebuah hadiah di hari spesialnya.


Apa salahnya kalau Tiara tidak ingin terlihat sebagai perempuan meterialistis di mata keluarga Rivan? Apa salah kalau dia ingin memperlihatkan bahwa dirinya memiliki kepedulian kepada kakek Rivan? seharusnya tidak kan?


Rivan terlebih dahulu masuk ke dalam rumah setelah dirinya keluar dari mobilnya yang langsung diikuti oleh Tiara yang berjalan di belakangnya. Tidak ingin terus berdebat yang mengakibatkan pertengkaran diantara mereka, Rivan langsung naik ke atas menuju ke kamar mereka dan langsung mandi untuk menyegarkan tubuh dan emosinya yang sudah berada di ubun ubun kepalanya. Dengan begitu dia akan berusaha untuk bersikap sabar dan tidak terbawa emosi saat berbincang dengan istrinya lagi.


Tiara sendiri juga membiarkan suaminya untuk menyegarkan tubuhnya, dia tau suaminya tidak ingin sampai kelepasan mengeluarkan semua emosinya yang akan membuat pertengkaran diantara mereka. Tiara juga tidak akan membahas hal itu lagi setelah ini, mungkin setelah mood suaminya membaik dia bisa berbicara pelan dengan suaminya.


Dirinya akan mencoba mencari hadiah yang cocok untuk dia berikan pada kakeknya Rivan sebelum nantinya dia akan meminta pendapat suaminya. Selain itu nanti dia juga akan berusaha untuk terus meyakinkan suaminya bahwa yang dia lakukan semata mata agar dirinya bisa diterima di keluarga Rivan dengan tangan terbuka lebar.