Suddenly Married

Suddenly Married
Galau



Seperti biasanya, usai makan malam mereka akan berbincang-bincang dibruang keluarga atau ruang kerja Papa Ryan. Sangat nampak raut bahagia terpancar di wajah Mama Dian. Bagaimana tidak, ia tidak perlu lagi repot-repot menjodihkan anaknya dengan wanita pilihannya, toh mereka sendiri yang memilih untuk menikah.


"Hhm... Nya, Varo.... apa tidak sebaiknya kita menggelar resepsi pernikahan untuk kalian ?" Tanya Mama Dian.


"Saya terserah Ananya saja, Ma... Bagaimana sayang ?" Varo.


"Mmhh... Bukannya Nya tidak mau tante, maksud Nya Ma..ma.. Hanya saja Nya masih dalam keadaan berduka." Jawab Ananya.


"Iya, kamu betul nak. Sebulan dari sekarang bgaimana ?" Diandra.


"Bukankah itu terlalu cepat, sayang... Tiga bulan sepertinya waktu yang tepat. Jadi kita bisa menyiapkan segala sesuatunya dengan lebih leluasa." Kata Ryan.


"Varo setuju, bagaimana sayang ?" bertanya dan menatap ke arah Ananya, yang di tatap hanya mengangguk setuju.


*****


Ditempat lain, Alvino terlihat sangat kacau. Iya kelihatannya sangat marah setelah mengetahui pernikahan kakaknya. Bukan marah karena kakaknya menikah tanpa sepengatuhuannya, lebih tepatnya marah karena Ananya. Karena kakaknya menikahi Ananya.


"Kenapa kakak melakukan ini kepadaku ? Tidak, ini tidak boleh terjadi, Ananya itu milikku. Kakak menikahinya pasti karena kasihan." Vino berbicara pada dirinya sendiri.


Tidak seperti biasanya, Vino ke dermaga tua untuk menenangkan pikirannya. Biasanya, ia akan menghabiskan waktunya di club malam atau cafe saat sedang suntuk. Ia benar-benar butuh ketenangan saat ini.


"Ananya, bagaimana mungkin secepat itu kau berpaling dariku. Aku tau selama ini kamu hanya mencintaiku, kamu milikku Ananya. Aku tau, kamu tersiksa dengan pernikahan ini. Jika aku memintamu pada kakak, pasti kakak akan memberikannya. Tapi bagaimana dengan mama dan papa ?" Vino membatin.


Sudah hampir sebungkus rokok yang ia habiskan untuk mengusir penatnya, ditambah beberapa botol minuman beralkohol yang menemani kesepiannya. Sebenarnya ia tidak begitu suka dengan alkohol meskipun ia sendiri sering mengunjungi tempat hiburan malam yang identik dengan alkohol. Wajar saja, karena dia adalah seorang atlit, dan alkohol tidaklah baik untuk staminanya. Namun saat ini ia benar-benar merasa kacau dan membutuhkan minuman itu untuk sedikitmeringankan beban pikirannya saat ini.


Ia mengmbil ponsel dari dalam saku celananya, kemudian menghubungi salah satu sahabatnya di kampus.


"Ren, kamu dimana ?" Sahutnya saat panggilannya telah terjawab


"Di apartemen, mau dimana lagi." Sahut Reno dari seberang.


"Aku kesana yah." Vino.


"Mimpi apa semalam ? tumben-tumbennya kamu ingin mengunjungiku." Reno.


"Sudah jangan banyak bicara. Kamu berisik sekali." Vino.


"Slow... oke aku tunggu." Reno.


"Ok, bye.." Vino.


Vino segera melajukan mobil sportnya menuju apartemen Reno. Reno adalah sahabat satu-satunya yang Vino percaya setelah Ananya. Vino memang mempunyai banyak teman, tapi Vino tau beberapa dari temannya itu tidak tulus berteman dengan Vino. Mereka hanya memanfaatkan Vino saja. Entah itu mereka numpang tenar, bhkan diantaranya hanya ingin makan gratis di kantin. Meskipun kaya raya, Vino tidaklah sombong dan ia terkenal sangat dermawan di kalangan teman-temannya.


Vino memarkirkan mobilnya di basement kemudian menuju lift untuk sampai ke apartement Reno sahabatnya.


Alvino memencet passcode pintu apartement Reno kemudian membuka pintulalu masyk ke dalam menari sosok sahabatya.


"Hey,,, ada apa bro? Kusut amat. Butuh strika ?" Ledek Reno.


"Sialan, jangan ajak aku beanda dulu. Kepalaku seperti mau pecah." Vino


"Wow... sepertinya serius. Ada masalah sama bokap ?" Tanya Reno.


Saat ia uring-uringan seperti ini, biasanya ia lafi berselih dengan Papanya. Papanya yang selalu menyuruhnya belajar mengelola perusahaan, namun Vino masih aktif mengikuti beberapa tournament.


"Bukan papa,..." Vino.


"Ananya.."


Reno kaget, mendengar nama itu. Yang ia tahu, Ananya sangat mencintai Vino, begitupun sebaliknya. Reno pun tahu mengapa selama ini Vino tidak berterus terang kepada Ananya soal perasaannya.


Vino sebenarnya menyukai Ananya, hanya saja ia lebih memilih untuk menjadikannya sahabat karena ia tidak ingin terikat. Dengan menjadikan Ananya sebagai sahabat, maka ia pun bisa mengontrol Ananya, dengan siapa Ananya dekat dan dengan siapa Ananya bergaul. Selama ini Vino merasa dirinya aman, karena selama bersahabat dengan Ananya, tak pernah sekalipun ia melihat Ananya dekat dengan pria lain selain dirinya dan Reno. Yah, kali ini Vino kecolongan, benar-benar lalai.


"Aku kehilangan Ananya, ia menikah dengan pria lain karena permintaan almarhumah tante Lena. Sadisnya lagi, pria itu adalah kakakku sendiri."


"What....??" Reno benar-benar kaget mendengar pernyataan Vino.


"Yah, itu benar. Mereka menikah secara tiba-tiba tanpa terencana. Waktu itu Ibu Ananya sekarat, ia meminta kepada Ananya untuk membawa kekasihnya agar segera menikahinya sebelum ia meninggal. Nasib buruk saat itu, hanya kak Varo yang ada di dekat Ananya. Kamu tahu kan sebagai asisten kakak, Ananya sering keluar bersama kakak, tapi itu hanya sekedar urusan pekerjaan. Tapi kenapa di saat seperti itu bukan aku yang menemani Ananya ?" Vino sedikit menyesal karena belakangan ini jarang sekali ia menhabiskan waktu bersama Ananya.


"Tapi, kok bisa yah Kak Varo mau begitu saja menuruti permintaan tante Lena." Reno berkomentar.


"Entahlah, aku benar-benar bingung... Aku harus bagaimana ? Pernikahan mereka tidak didasari cinta, mana mungkin Ananya bisa bahagia. Kamu tahu sendiri kan bagaimana sikap Kak Varo terhadap wanita." Vino mendengus kesal, kecewa dan patah hati. Perasaannya kini bercampur jadi satu.


"Aku punya ide, tapi entahlah ide ini baik atau buruk. Bicaralah kepada Kak Varo, dan ceritakan semua kepadanya. Siapa tau dia mau mengalah, itu pun kalau kamu masih mau menerima bekas kakakmu." Sontak perkataan Reno menimbulkan rasa sakit yang mendalam buat Vino, kata-kata itu terasa seperti sebilah pisau yang menikam jantungnya.


"Maksudmu ?" Vino menatap Reno dengan tatapan membunuh.


"Come on.... Kak Varo itu laki-laki normal. Coba pikirkan, mereka sudah menikah, dan orang yang telah menikah tinggal seatap dan tidur satu kamar kira-kira bakal ngapain ? Yang belum menikah aja dan tinggal cuma beberapa jam di kamar aja sudah bisa melakukan apa saja, apalagi yang tinggal ber hari-hari." Kata-kata Reno sedikit menyindir kebiasaan biruk Vino, dan Vinopun semakin merasa gelisah.


"Tidak mungkin, Ananya tidak akan semudah itu menyerahkan dirinya kepada orang lain. Aku tahu bagaimana kualitas Ananya. Dia bukan wanita gamoangan." Vino mencoba menenagkan dirinya sendiri.


"Terserahlah... aku cuma memberi saran. Kalau tidak bicara dengan kak Varo, cobalah bicara dengan Ananya." Ide Reno kali ini masuk di akal Vino.


"Kamu benar, Ren... Aku akan jujur pada Ananya. Saat ia mengetahui bahwa aku juga mencintainya, akan mudah bagi kami untuk bersama. Kakak akan mengerti." Kata Vino.


"Dari dulu aku selalu berusaha meyakinkanmu. Tapi kamu selalu saja keras kepala. Apa salahnya mengakui perasaan kamu sendiri ? Menyesal kan, Ananya di ambil orang." Reno merutuki sahabatnya.


"Iya, kamu benar. Dan aku benar-benar menyesal Ren.. Apa aku masih punya kesempatan untuk mendapatkannya ?" Vino bertanya dan berharap sahabatnya itu akan berkata Iya.


"Kamu coba saja, mudah-mudahan nasib baik masih berpihak kepadamu. Tapi tolong, kamu harus berpikiran jernih. Kamu harus bisa menerima apapun keputusan Ananya. Kamu jangan egois. Jika memang Ananya tidak bisa menerimamu, yah kamu harus terima. Berarti Ananya bukan jodohmu. Siapa tau jodohmu belum lahir, atau mungkin sudah di gugurkan. Hahaaahaa" Reno tertawa terbahak-bahak melihat kekesalan sahabatnya. Sontak Vino melempar Reno dengan kaleng minuman yang sudah kosong.


.


.


.


.


.


.


Di Like please....


Comment dan kritik di kolom komentar. Tetap tambahkan ke Favorite dan berika rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote dengan poin se ikhlasnya...


Terima kasih 😘😘😘