
Tiara terus menceritakan pembicaraan alot yang dilakukannya bersama Dika tadi pagi. Dengan bercerita seperti ini, dia bisa merasa lebih lega daripada sebelumnya. Apalagi bercerita pada sahabatnya sendiri, karena untuk bercerita pada suaminya tentu dia masih belum ada keberanian.
Nita terus menyimak cerita Tiara yang juga dapat merasakan apa yang dialami Tiara saat pembicaraannya dengan Dika. Ada rasa kesal dan marah saat Tiara bilang Dika ingin mengajak Tiara untuk berbaikan dengan Dika. Sebagai sahabat Tiara dia takut dan tidak akan pernah terima jika saja Tiara luluh dan kembali kepada Dika.
Tentu saja ada perasaan takut dan khawatir yang dirasakan Nita jika Tiara bersedia kembali pada Dika, mengingat Tiara yang dulu begitu sangat mencintai Dika sampai rela melakukan apa saja. Hingga Tiara tidak mudah melupakan Dika saat itu, bahkan membuat dia merasakan trauma berat untuk bisa mengenal laki laki lain karena hatinya masih terpatri nama Dika.
Apalagi saat ini Tiara baru beberapa hari memulai hidup barunya bersama dengan suaminya yang baru dikenalnya. Hanya satu yang ada dalam doanya saat ini dalam hati bahwa hati Tiara tidak akan goyah untuk memaafkan atau kembali dengan Dika.
" Gue langsung ngomong ke dia gini ' kalau memang elo gak bisa hargai pernikahan elo, setidaknya hargai pernikahan gue dan menjauh jangan pernah menampakkan wajah elo di depan gue lagi. Sebelum suami gue nemuin elo dan bikin elo nyesel karena udah memperlakukan gue kayak gini'. Gimana keren gak gue?" tanya Tiara kemudian dengan bangganya.
Perkataan Tiara barusan langsung membuat Nita membuka matanya dengan lebar sambil tersenyum dengan lebar. Seketika perasaannya langsung merasa lega, begitu bangga dan penuh kagum dengan tindakan yang sudah dilakukan oleh Tiara pada Dika. Bahkan Nita langsung bertepuk tangan dengan pelan dan tetap terus tersenyum dengan bangganya.
" Hebat, keren gue bangga sama Lo, Ara" komentar Nita merasa bangga pada Tiara yang langsung tertawa dengan suara pelan.
" Selesai ngomong sama Dika saat itu, gue jadi sadar kalau gue gak akan nyia- nyiain Rivan yang telah hadir dalam hidup gue. Makanya gue netapin hati buat ngembangin hubungan gue sama Rivan menjadi lebih baik. Dan diawali dengan tinggal bareng dulu, nanti kami akan semakin dekat dan perasaan hati akan tumbuh dengan sendirinya di hati kami..." kata Tiara yang mulai yakin akan hubungan dirinya dengan Rivan.
" Wah... sudah mulai move on beneran nih, dan semakin naik level aja nih anak!" seru Nita dengan bangga sambil mengacungkan kedua ibu jarinya ke hadapan Tiara.
Mereka berdua langsung terkekeh bersama karena ucapan Nita yang menggambarkan rasa senang dan bahagianya pada Tiara. Sahabatnya itu memang sudah menjalani tahap hubungan yang lebih dewasa dari sebelumnya dan semoga saja hubungan Tiara dan Rivan berjalan dengan baik.
" Ngomong ngomong, habis Lo kasih tau status lo yang udah nikah, gimana tuh reaksi si Dika?" tanya Nita begitu penasaran selesai mereka tertawa bersama.
" Hmmm...dia diem aja kayak orang linglung, Nit. Habis itu gue langsung aja pamitan tapi gak digubris sama dia" beritahu Tiara mengingat reaksi Dika saat itu. " Gue nangkepnya sih dia marah atau masih belum terima gitu kayaknya. Tapi gue gak mau mikirin ataupun peduli dia nerima atau enggak, itu bukan urusan gue lagi, iya gak?" lanjut Tiara dengan tegas.
Nita mengangguk setuju dengan pemikiran Tiara yang menurutnya semakin dewasa dan tau apa yang harus dilakukan.
" Syukur deh Lo pisah sama cowok kayak gitu, Ara. Tadi gue sempet khawatir hati Lo goyah dan nrima dia balikan lagi sama dia" kata Nita dengan suara lega. " Gue gak kebayang kalau Lo masih sama dia atau tadi Lo balikan sama orang yang tega ngorbanin perasaan orang lain hanya untuk mewujudkan keinginan dan ambisinya..." lanjut Nita yang merasa kesal mengingat perlakuan Dika dulu pada Tiara.
" Iya emang brengsek banget yah itu orang!" ujar Tiara setengah mati.
" Pantesan tadi waktu nyampek di butik mood Lo jelek banget" ejek Nita. " Tapi tunggu deh, nggak lama habis itu mood Lo kembali membaik malah makin bahagia aja, apa yang terjadi?" tanya Nita yang juga penasaran dengan mood Tiara yang mudah sekali berubah
Nita mengangguk mengerti, sepertinya suami Tiara termasuk orang yang romantis. Dia belum pernah sekalipun bertemu dengan Rivan, tapi mendengar cerita Tiara dapat dia simpulkan kalau Rivan suami yang baik, penyayang dan romantis.
" Oh ya, ngomong ngomong gimana nih rasanya tinggal bareng suami?" tanya Nita bermaksud menggoda Tiara.
Tiara tersenyum tipis sambil mengingat awal mula dirinya bersedia tinggal serumah dengan Rivan. " Senenglah Nit yang pasti, apalagi gue tinggalnya berdua doang sama suami gue" ucap Tiara dengan terus senyum senyum.
" Jadi dia punya rumah sendiri? beruntung banget Lo, Ara.... punya suami yang gak perlu repot repot nyari eh tau taunya dateng sendiri langsung nikahin elo, udah gitu mapan lagi!" puji Nita meskipun dia sendiri belum tau pasti siapa sebenarnya suami Tiara.
" Trus keluarganya udah tau Lo nikah sama Rivan?" tanya Nita balik.
Tiara menatap Nita dengan wajah sayu, mengingat pertemuan dirinya dengan bunda Amel yang tidak disengaja. Bunda Amel sangat marah dan kecewa dengan kabar pernikahan mereka yang tidak mengundang keluarganya. Tapi untungnya beliau akhirnya merestui juga pernikahan mereka dengan syarat sang bunda akan menyiapkan resepsi pernikahan untuk mereka.
Begitu juga dengan adik Rivan yang ternyata langsung bisa menerima dirinya sebagai kakak iparnya. Mungkin karena dia tidak memiliki seorang kakak perempuan jadi dia begitu bahagia bisa bertemu dengan dirinya. Hanya mereka berdua yang masih dikenal oleh keluarga suaminya, dia masih belum tau anggota keluarganya yang lain. Apakah mereka akan menerima dirinya sebagai istri Rivan atau malah menentang hubungan mereka berdua. Hanya itu yang dipikirkan Tiara saat ini.
" Gue udah ketemu sama bundanya Rivan dan juga adik kandung satu satunya. Kalau bunda awalnya sangat marah banget, tapi kemudian setelah ngobrol beliau akhirnya merestui hubungan kami" ucap Tiara. " Kalo adiknya ini jangan ditanya, dia sangat bahagia bisa memiliki seorang kakak perempuan, makanya dia langsung Nerima gue jadi kakak iparnya"
" Mereka pasti baik banget sama Lo ya, Ara... gue jadi ngiri banget sama elo" kata Nita yang justru bersedih mengingat dirinya yang jauh dari keluarganya ataupun keluarga suaminya karena mereka berada di luar kota dan mereka hanya sendirian aja di kota Jakarta ini.
Tiara yang mengerti maksud ucapan sahabatnya langsung menggenggam tangan Nita yang ada di atas meja. " Lo harus tau, Lo nggak sendirian di kota ini. Lo sama Doni udah jadi saudara gue sejak kita masih kuliah dulu, jangan lupakan itu!" sahut Tiara menghibur sahabatnya yang sering merasa kesepian karena jauh dari orang tua dan kerabat.
Tiara sudah mengenal Nita dan Doni sejak mereka kuliah di kampus yang sama. Dulu Tiara mengenal Nita karena mereka teman satu jurusan, sementara Doni satu jurusan dengan Dika. Saat itu Doni dan Nita menjalin hubungan asmara setelah mereka saling mengenal satu sama lain. Dan dari sana pula Tiara akhirnya kenal dengan Dika dan akhirnya mereka berpacaran juga.
Sifat Doni sangat berbeda jauh dengan sifat Dika, Doni sangat menyayangi dan mencintai Nita. Bahkan sebelum mereka menikah sah mereka juga sudah tinggal satu rumah karena keduanya yang anak perantau. Agar tidak menjadi bahan gunjingan orang lain akhirnya Doni menikahi Nita meskipun status mereka masih seorang mahasiswa tingkat akhir. Dan sampai sekarang hubungan mereka masih baik baik saja.
Berbeda dengan hubungan Tiara dan Dika yang harus putus ditengah jalan saat Dika meninggalkan dirinya dan menikah dengan perempuan yang kaya raya hanya untuk mewujudkan keinginannya. Dan karena itu membuat Tiara begitu trauma mengenal seorang pria lain karena rasa sakit yang telah ditorehkan oleh Dika.
Dia berharap hubungan dirinya dengan Rivan dapat berjalan dengan baik, menjadi keluarga yang harmonis. Saling menyayangi, mencintai dan saling menghormati hingga akhirnya mereka tidak terpisahkan hingga mau memisahkan mereka.