Suddenly Married

Suddenly Married
Kemana saja selama ini ?



Sebulan berlalu, Ananya dan Varo masih nampak seperti biasa. Selama sebulan pernikahan mereka, selama itu pula Alvaro tinggal di rumah Ananya. Ananya kini jauh lebih baik dari sebelumnya. Perlahan, ia mulai bisa melupakan kesedihannya. Meskipun tinggal di rumah Ananya, namun Varo selalu menyempatkan untuk berkunjung ke rumah orang tuanya walau hanya sekedar makan malam.


Bagaimana dengan Alvino ?


Ia kini lebih memilih mengelola salah satu hotel besar milik keluarganya. Ia belum bisa menerima pernikahan sang kakak dengan gadis pujaannya, namun sampai sekarang ini ia pun tidak berani mengatakan hal tersebut kepada kakak dan orang tuanya. Ia benar-benar tidak tahan jika harus berada di ruangan yang sama dengan Ananya dan Varo.


Sampai suatu ketika, ia menghubungi Ananya, dan memintanya untuk menemuinya. Awalnya Ananya ragu memenuhi permintaan itu, namun ia tidak ingin lari dari masalah. Semakin ia menghindar, maka masalah diantara keduanya tidak akan pernah selesai. Ananya pun merasa kini telah di musuhi oleh sahabatnya itu, meskipun Ananya tidak tau pasti apa penyebabnya.


Sebenarnya bukan hanya Ananya yang merasakan hal tersebut, Varo pun demikian. Namun Varo lebih baik memilih diam daripada harus menanyakan langsung kepada Vino, apa yang menyebabkan ia tidak pernah mau berada dalam satu ruangan dengannya. Setiap kali mereka bertemu maka Vino akan buru-buru pergi dari tempat itu.


****


"Nya, bisakah kita bertemu ? Sekarang !!!" Vino


"Baiklah, di tempat biasa." Ananya.


Ananya dan Vino janjian via telepon akan bertemu di sebuah kafe langganan mereka dulu. Namun sebelum kesana, Ananya terlebih dahulu meminta ijin kepada Varo untuk pulang lebih awal.


"Mm... kak Varo. Nya mau ijin, boleh tidak ?"


"Untuk ?" Alvaro bertanya namun tetap fokus memeriksa dokumen yang ada di hadapannya.


"Nya mau ketemu sama teman kampus dulu. Tidak akan lama kok, Nya akan pulang sebelum petang." Jawab Ananya.


"Baiklah, akan aku antar."


"Ehh... tidak usah. Aku akan naik taxi, kak Varo lanjutkan saja pekerjaan kakak. Nya bisa sendiri kok..!" Ananya menolak tawaran Varo, karena tidak ingin Varo salah faham kepadanya.


"Baiklah, terserah apa katamu saja." Vari Masih fokus dengan dokumennya, padahal dalam hatinya bertanya-tanya siapa yang akan di temui oleh istrinya.


Alvaro dengan segera membereskan pekerjaan, perasaannya tidak enak karena tidak biasanya Ananya meminta izin untuk bertemu dengan temannya. Yang ia tahu, Ananya bukanlah gadis yang suka bergaul. Terlebih lagi ia pernah mendengar bahwa di kampusnya dulu hanya Vino dan Reno yang akrab dengannya.


Ia memutuskan untuk membuntuti istrinya, ia mengenakan jaket hoodie, topi, dan kaca mata untuk menyempurnakan penyamarannya. Ia pun mengikuti istrinya dari belakang dengan menggunakan taxi. Saat taxi yang di tumpangi Ananya berhenti di salah satu cafe, ia pun memerintahkan kepada supir taxi yang telah disewa untuk berhenti tepat di depan coffe shop.


Tanpa Ananya sadari, Varo pun masuk ke dalam cafe itu. Varo duduk dengan posisi membelakangi Ananya. Alangkah kagetnya Varo mendengar suara seseorang yang baru saja menyapa Ananya. Suara yang sangat ia hafal meskipun tanpa melihat wajahnya. Alvino !


"Mengapa mereka bertemu di belakangku ? Dan kenapa Ananya tidak jujur bahwa yang ia temui adalah Vino ?" Dalam hati Varo mulai bertanya-tanya. Ia mulai gelisah.


****


"Nya, kenapa kamu melakukan semua ini ? Tanya Vino.


"Maksudmu ?" Ananya balik bertanya.


"Yah, apalagi !!! pernikahan kalian. Bahkan kamu tidak meminta ijin dulu padaku." Ananya membelalak kaget akan perkataan Vino.


"Meminta ijin ? For what, Vin..!" Nada Ananya meninggi.


"Ya... setidaknya kamu memberi tahuku terlebih dahulu. Apa kamu tidak pernah lagi mengingatku ? Bahkan Ibu kamu sakit pun aku tidak pernah tahu." Vino nampak kesal.


"Vin, apa kamu sadar ? Siapa aku, Vin... Apa artinya aku buat kamu." Ananya tidak kalah kesalnya.


"Semenjak kamu bekerja, kamu sangat berubah. Bukan Ananya yang aku kenal." Vino menghela nafas panjang.


"Kenapa kamu harus mempermasalahkan ini ? Memangnya kamu siapaku ?"


"Ananya, bicara yang sopan. Berhenti seolah kamu memojokkanku. Oke, aku akui, aku tidak bisa menerima pernikahan kalian. Hatiku sakit Nya.." Vino berusaha meraih tangan Ananya.


Varo yang mendengar percakapan keduanya merasa sakit. Ia tak menyangka jika Vino juga mencintai Ananya. Andaikan ia tahu, mungkin ia tak akan berani mengambil langkah itu.


"Vin... kamu benar-benar bodoh membiarkan gadis sebaik Ananya menunggumu selama empat tahun. Tapi kenapa waktu itu kamu mengatakan bahwa Ananya bukanlah typemu ?" Gumam Varo dalam hati.


"Nya,, please... berikan aku kesempatan kedua. Aku akan memperbaiki kesalahanku. Aku akan bilang kepada kakak untuk memberikanmu kepadaku."


Deg...!!!


Jantung Varo seketika berdegup dengan kencang, ada rasa perih disana mendengar perkataan adiknya.


Plak...!!!


Ananya berdiri dan mendaratkan sebuah tamparan di wajah Vino. Ia pun bergegas meninggalkan cafe itu dan menaiki taxi yang kebetulan terparkir di perempatan jalan samping coffeshop.


Alvino hanya mematung memegang pipinya yang baru saja di tampar oleh Ananya. Sebenarnya rasa sakit di pipinya tak sebanding dengan rasa sakit yang kini di rasakan oleh hatinya.


Prang..prang...!!


Ia menghempas semua benda yang ada diatas meja, semua nampak berantakan. Para pelayanpun tidak berani mendekatinya, walaupun sekedar membersihkan meja dan lantai. Ia nampak menarik rambutnya dan diusapnya wajahnya dengan kasar. Ditinggalkannya beberapa lembar uang seratusan ribu kemudian berlalu meninggalkan coffeeshop itu.


Sedangkan Alvaro, penyesalan kini nampak merasuki relung hatinya. Ia mencintai Ananya, namun ia pun tidak ingin melukai perasaan adik satu-satunya. Sebandel-bandelnya Vino, Varo akan selalu berusaha keras untuk membahagiakannya. Itulah sebabnya mengapa ia mati-matian bekerja, itu semata-mata demi kebahagiaan sang adik yang lebih memilih menjadi atlit. Ia seolah mengambil alih jatah bekerja Vino, agar Vino bisa menekuni hobbynya tanpa harus terbebani persoalan pekerjaan di kantor.


.


.


.


To be Continued.


Mohon meninggalkan jejak setelah membaca.


LIKE


COMMENT


SHARE


ADD FAVORITE


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote Sebanyak-banyaknya.


Mohon kritik dan sarannya


Tetap jaga kesehatan yah teman-teman. Jangan anggap remeh pandemi ini.


Senantiasa jaga jarak, tetap gunakan masker dan rajin mencuci tangan


THANK YOU 🥰😘


Poin mana poin 😁😁😁