
Pagi hari di kediaman Emanuel.
“Uh! Ya amidong!! Honey, lihatlah kuku-kuku cantikku ini,” ucap Nue sembari memperlihatkan kukunya yang baru saja selesai ia poles dengan kutek berwarna pink.
PLAK!
Bukannya mendapat pujian dari istrinya, malah sebaliknya. Kedua tangannya di pukul oleh istrinya.
“Ish! Honey!” Nue mencebikkan bibirnya kesal, seraya menatap nanar kuku cantiknya rusak, karena kutek yang ia poleskan itu belum kering.
“Sudah punya cucu satu dan OTW punya cucu lagi. Hilangkan gemulaimu itu!!” kesal Fika, menatap tajam suaminya.
“Biar gemulai tapi kamu cinta ‘kan? Hem?” Nue menggoda istrinya sembari menaik turunkan alisnya berulang kali.
Fika memutar kedua bola matanya dengan malas menanggapi ucapan suaminya itu. Kemudian ia mengambil remot televisi, menonton televisi sepertinya lebih menarik dari pada mendengarkan ucapan suaminya yang absrud itu.
“Ish!! Aku muak melihat akting mereka!” sungut Fika saat melihat Tuan dan Nyonya Kim beradu akting di televisi yang ia tonton, kemudian ia mematikan televisinya lagi dan meletakkan remot yang di pegangnya dengan kasar.
“Kenapa stasiun televisi tidak memboikot artis seperti mereka! Mereka disanjung dan diagungkan oleh para nitizen, padahal kenyataannya mereka hanyalah sepasang orang tua yang munafik!” geram Fika dengan perasaan dongkol.
“Sudah jangan julid,” sahut Nue sembari memandang kuku cantiknya yang baru selesai ia berbaiki.
“CK! Aku ini kesal! Kamu paham tidak sih!” jawab Fika sembari menatap sebal suaminya yang kemayu itu.
“Mereka tidak berperasaan mengusir Aluna, dan sampai saat ini mereka pun tidak mencari keberadaan putrinya,” lanjut Fika lagi, geram.
“Janganlah emosi. Yang terpenting sekarang Aluna sudah bahagia dengan Juned. Dan aku yakin jika mereka tahu siapa Juned sebenarnya maka mereka akan bersujud di kaki putrinya. Tipe orang seperti mereka itu mengagungkan uang dan juga jabatan,” jawab Nue dengan tenang.
“Hem, kamu benar sekali, Pi. Kalau begitu ...” Fika tidak melanjutkan ucapannya karena ia tengah merencanakan sesuatu yang besar. Ia menganggukkan kepalanya dan tersenyum lebar.
Nue memerhatikan istrinya sembari menghela nafas panjang, ia yakin jika istrinya itu tengah merencanakan sesuatu.
“Jangan bertindak sesuatu yang membuat Papi dan Juned malu.” Nue mengingatkan istrinya itu.
“Papi tenang saja,” jawab Fika dengan mantap, sembari mengepalkan tangan kirinya lalu meninjukan ke telapak tangan kanannya berulang kali, dan tersenyum iblis.
*
*
*
“Selamat pagi, Cantik?” sapa Arjuna sembari menatap wajah istrinya yang baru membuka mata. Tubuh mereka saling menempel dalam keadaan polos, kulit mereka saling menempel dan ber-gesekkan menciptakan sebuah kehangatan dan gairah yang mengalir ke alirah darah mereka.
“Pagi,” jawab Aluna seraya tersenyum tipis, lalu menutup kedua matanya lagi.
Tubuhnya terasa sangat lelah karena tadi malam Arjuna tanpa lelah mencicipi tubuhnya sampai menjelang subuh.
“Hari ini jangan masuk kuliah dulu,” ucap Arjuna seraya memeluk istrinya lebih erat lagi, tangannya merambat nakal menyentuh gunung kembar istrinya dengan gemas.
“Euhhh.” Aluna melenguh saat merasakan sentuhan nakal suaminya.
“Kenapa?” tanya Aluna seraya menepis tangan Arjuna yang menyusup ke sela pahanya.
“Aku tidak ingin kamu mengingat kejadian kemarin,” jawab Arjuna seraya menyibakkan selimut yang menutupi tubuh keduanya itu. Gairah Arjuna naik dengan cepat saat melihat tubuh sexy istrinya yang sudah menjadi candunya.
“Apakah kamu tidak merasa lelah?” tanya Aluna seraya memejamkan kedua matanya saat suaminya membuka pahanya dengan lebar dan menindih tubuhnya dengan cepat.
“Tidak,” bisik Arjuna lalu mencium bibir Aluna dengan penuh kelembutan.
Aluna membalas ciuman suaminya tidak kalah lembut. Bibir mereka saling memagut, mellumat, berperang lidah dan bertukar salivanya.
Keduanya kini larut dalam sebuah gairah yang sudah tidak terbendung lagi. Padahal semalaman suntuk mereka terus melakukan penyatuan akan tetapi hal itu tetap saja membuat keduanya masih merasa kehausan.
Tangan Arjuna merayap turun menyentuh titik sensitif istrinya dengan ibu jarinya, memutar daging kecil yang tumbuh di sana dengan gerakan lembut.
“Ouhh .... yeahh ...” Aluna menaikkan bo kongnya saat merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa itu. Arjuna sungguh pandai mempermainkan tubuhnya yang sudah kecanduan dengan akan penyatuan itu.
Dessahan Aluna seperti melodi yang mengalun indah di indra pendengaran Arjuna. Membuat pria tersebut menjadi semakin bersemangat untuk melancarkan aksinya.
PLUK
Arjuna melepaskan pucuk dada Aluna dari jepitan bibirnya itu, kemudian ia membuka kedua kaki istrinya lebih lebar, selebar pinggangnya. Lalu ia memosisikan dirinya seraya menuntun junaedi yang sudah tidak sabar bertemu dengan bestie-nya.
Aluna menahan nafasnya, saat merasakan benda seperti talas bogor itu ingin menerobos masuk ke dalam inti tubuhnya. Terasa sesak, hangat dan nikmat yang di rasakan Aluna, saat tubuh mereka berhasil menyatu dengan sekali hentakan saja.
“Ah ... ah ...” desaah Aluna dan Arjuna bersahutan dalam penyatuan yang melenakan dan menggetarkan jiwa dan raga mereka.
Bahkan suara ponsel Aluna yang sejak tadi berdering pun mereka abaikan, demi mengejar kenikmatan dan kepuasan.
Di seberang sana Mia sangat cemas dan berusaha untuk menghubungi Aluna berulang kali tapi tidak kunjung ada jawaban.
“Ini anak ke mana sih?” gumam Mia dengan cemas seraya menoleh ke arah kanan di mana ada beberapa polisi yang sedang memeriksa para security dan CCTV di kampus tersebut.
“Jabrik! Kamu serius kalau yang menjadi korban pelecehan itu Aluna?” tanya Mia kepada temannya yang mempunyai rambut jabrik seperti landak.
“Iya, satu kampus sudah heboh, Mi. Dan pelakunya adalah si Tomcat!” jawab Jabrik menjadi kesal jika mengingat si Tommy brengsek itu.
“Bangsat banget itu cowok!!” umpat Mia dengan perasaan marah dan kesal.
“Aku duluan ya, kelasku sudah mau di mulai,” pamit Jabrik dan diangguki oleh Mia.
Kembali lagi pada pasangan yang sedang berolah raga pagi.
Aluna mengerang panjang bertanda jika dirinya sudah mencapai pelepasan. Sedangkan Arjuna masih bergerak maju mundur di atas tubuh istrinya.
“Sebentar lagi ...” ucap Arjuna dengan nafas yang tersengal, kemudian ia mengentakkan senjatanya dengan kuat saat ia menyemburkan benihnya ke dalam rahim istrinya.
“Ouhh ... sshhh ...” Arjuna mendesis seperti ular, sembari memaju mundurkan senjatanya dengan pelan, menuntaskan pelepasannya. Setelah merasa benihnya masuk semua ke dalam rahim istrinya, barulah ia mencabut penyatuannya itu, lalu menggulingkan badannya ke samping kanan Aluna tidak lupa sebelumnya ia mengecup pipi dan bibir istrinya sebagai tanda terima kasih.
Pasangan tersebut memejamkan kedua matanya seraya mengatur nafas mereka yang masih memburu.
“Arjuna,” panggil Aluna kepada suaminya dengan kedua mata yang masih terpejam.
“Hem?” jawab Arjuna hanya dengan deheman saja.
“Hari ini kita menikah genap satu bulan, jadi--”
“Sudah aku katakan jika kita tidak akan perpisahan, paham?!” Arjuna memotong ucapan istrinya dengan cepat.
Aluna mengangguk seraya tersenyum tipis, ada sebuah kebahagiaan yang merasuk ke dalam hatinya.
“Terima kasih,” jawab Aluna seraya membuka kedua matanya dan menatap suaminya yang juga tengah menatapnya.
“Kamu sudah menyerahkan segalanya kepadaku, Aluna. Seharusnya aku yang berterima kasih kepadamu,” ucap Arjuna seraya membelai wajah cantik Aluna dengan lembut.
“Aku menyerahkan apa?” tanya Aluna dengan kepolosannya.
Arjuna terkekeh geli lalu menyentuh lembah istrinya dan mengusapnya dengan pelan. “Ini, kamu menyerahkan ini kepadaku, dan artinya kamu menyerahkan seluruh hidupmu kepadaku,” jelas Arjuna membuat Aluna menjadi tersipu malu.
***
Hujan-hujan tapi kok gerah ya bestie🤣🤣🤣.
Dukungannya mana nih? Vote-nya dong dam like jangan lupa ya bestie ❤❤❤