Suddenly Married

Suddenly Married
Ananya Pamit.



Pagi itu di Wijaya Group, Varo tengah sibuk memeriksa berkas-berkas kontrak kerja sama dengan client serta beberapa berkas pengeluaran yang harus ia approve untuk pencairannya. Ananya kini tidak lagi bekerja dengannya, itulah sebabnya mengapa ia sangat sibuk belakangan ini.


Tok...tok...!


Suara ketukan terdengar.


"Masuklah !" Sahut Varo.


Pintu terbuka, alangkah kagetnya Varo melihat sosok Ananya yang berjalan menghampirinya.


"Ananya, kamu datang ?" Varo berdiri menyambut kedatangan Ananya kemudian menyuruhnya duduk di sofa.


"Kelihatannya kakak sibuk, apa Nya mengganggu ?" Tanya Ananya.


"Yah, sejak kamu tidak masuk pekerjaanku sedikit menumpuk. Tapi tak masalah, aku bisa menanganinya." Jawab Varo.


"Hhm... Nya jadi tidak enak. Apa perlu Nya masuk lagi untuk membantu kakak ?" Tanyanya lagi.


"Tidak perlu, lagian aku sama Heri masih mampu menghandlenya."


"Sebenarnya, tujuan Nya kesini ingin minta ijin sama kakak. Nya ingin berkunjung ke rumah Paman Aiman." Kata Ananya sedikit was-was. Khawatir jika permintaannya akan menimbulkan kemarahan baginya.


"Sekarang ?" Tanya Varo, dan Ananya hanya mengangguk ragu.


"Baiklah, aku akan ikut denganmu." kata Varo kemudian.


"Tidak-tidak... Nya akan tinggal beberapa hari disana. Nya hanya ingin sendiri hanya beberapa waktu. Nya ingin menenangkan diri duku, Boleh kan kak ?" Ananya memohon penuh harap.


"Menenangkan diri ? Untuk apa ?"


"Nya..." Ananya menggigit bibirnya karena takut dan bimbang untuk mengatakan apa tujuannya kesana


Varo berdiri mendekati Ananya yang nampak ketakutan, secepat kilat ia mendaratkan sebuah ciuman di bibir Ananya yang mematung mendapatkan serangan tiba-tiba. Lenguhan kecil terdengar dari keduanya. Entah dari mana Varo mendapatkan keberanian itu, Ananya pun tak menolak tindakan Varo yang di luar dugaannya. Lumayan lama keduanya bertukar saliva, di saat keduanya merasa kekurangan oksigen, barulah mereka melepaskan pagutan masing-masing.


"Maafkan aku." Varo memundurkan dirinya menjauhi Ananyayang tak bergeming sama sekali.


"Tapi tenang saja, aku tidak akan melakukan lebih dari ini." Ananya tersentak mendengar penuturan Varo.


"Kecuali, jika kamu sudah benar-benar siap dan yakin." Sambung Varo.


"Apa maksudnya ini ? Apa kak Varo mulai menginginkan pernikahan ini ?" Tanya Ananya dalam hati.


Wajah Ananya memerah merona, ia merasa jantungnya berdegup menari-nari di balik dadanya. Lagi-lagi ia hanya terdiam mendengar ucapan Varo, namun wajahnya nampak berseri.


"Kak, sebenarnya Nya ingin menenangkan diri duku. Nya hanya ingin lebih tenang, mungkin jika Nya sendiri untuk sementara waktu maka Nya akan bisa mengambil keputusan. Sebenarnya, kemarin Nya bertemu dengan Vin..."


"Jangan di teruskan, aku sudah mengetahui semuanya." Varo memotong perkataan Ananya.


"Sebenarnya aku sedikit kecewa karena kamu tidak berterus terang. Tapi kejujuranmu kali ini membuatku sedikit lebih tenang." Tutur Varo.


"Kak Varo..." Ucap Ananya lirih.


"Aku sadar, kamu sudah lama menyukai adikku. Aku hanya orang yang baru kamu kenal. Poin plus ku saat ini hanya karena sekarang aku adalah suamimu, meskipun pernikahan itu tak di rencanakan. Aku tidak akan mengingkari janjiku kepada Ibu, tapi jika kamu menginginkan kebebasan, maka aku akan memenuhi permintaanmu." Ananya hanya mendengar penuturan Varo, tanpa sedikitpun ia menjawabnya.


"Nya permisi dulu kak, keretanya akan berangkat sebentar lagi." Pamit Ananya.


"Baiklah berhati-hatilah. Jangan lupa kabari aku sesampainya disana. Sampaikan salamku buat paman."


"Iya, kak.. Nya pergi dulu." Ananya berdiri dan melangkahkan kakinya membuka pintu ruangan kebesaran Alvaro. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia merasakan tubuhnya di peluk dari belakang oleh Varo.


"Biarkan seperti ini dulu, aku mohon." Pinta Varo.


Ananya kembali mematung mengikuti perkataan Varo. Saat ia merasa pelukan Varo mulai melonggar, ia membalikkan badan menatap wajah Varo. Tatapan keduanya saling mengunci seolah memberikan isyarat mendamba dan saling membutuhkan satu sama lain.


Varo pun kembali memajukan wajahnya dan membenamkan ciuman hangat di bibir sexy Ananya, kali ini Ananyapun membalas ciuman itu. Saat Varo merasa mendapatkan respon dari Ananya, Varo kembali menutup pintu ruanganny menggunakan kaki dan menggiring Ananya kembali duduk di sofa tanpa melepaskan ciuman masing-masing. Ciuman yang cukup lama, hampir saja mereka larut dalam buaian masing-masing. Namun Varo sudah berjanji tidak akan menuntutnya lebih. Ia pun akan memberikan Ananya waktu untuk berfikir, meskipun juniornya sudah menuntut ingin melakukan pelepasan.


"Maaf." Hanya itu yang bisa dikatakan Varo kemudian berjalan menuju meja dan membuka lacinya. Diambilnya dua buah buku kecil berwarna maroon dan hijau dan memperlihatkannya kepada Ananya.


"Ini adalah buku nikah kita, aku mau kamu menyimpan salah satunya. Setidaknya selama status kita masih menjadi suami isteri." Kata Varo sambil menyerahkan buku berwarna hijau kepada Ananya.


"Baik, Nya akan menyimpannya."


"Tolong kamu jaga yah, setidaknya selama...."


"Nya mengerti kak, Nya akan menjaganya dengan baik." Kata Ananya yang memotong perkataan Varo.


"Baiklah, Nya berangkat kak.." Ananya pun berdiri meninggalkan Varo yang masih menunduk merasa bersalah karena mencium Ananya sebanyak dua kali tanpa permisi. Ananya menutup pintu kemudian melenggang pergi.


Saat melewati ruangan kerja Heri dan Vino, Ananya semoat berukar tatap dengan Vino. Tatapan yang tidak biasanya, begitu dingin. Ananya berhenti sejenak kemudian masuk ke ruangan itu.


"Vin, aku mau ke rumah paman Aiman."


"Terserah kau saja." jawab Vino cuek.


"Okay,. Heri, aku pamit yah."


"Yuupps... Hati-hati Nya.." Kata Heri kemudian, sedangkan Vino ia hanya memalingkan wajahnya tidak suka.


Ananya meninggalkan ruang kerja Vino dan Heri dengan perasaan aneh. Tidak seperti biasanya Vino bertingkah dingin kepadanya.


"Apa mungkin karena kemarin aku meninggalkannya begitu saja ? Ah yah, mungkin saja. Tapi biarlah seperti ini dulu." Batin Ananya.


Ananya pun menuju stasiun kereta dengan menggunakan taxi. Setibanya di sana ia pun segera melapor kepada petugas stasiun dan menunjukkan tiket yang ia pesan secara online.


Beberapa saat kemudian, kereta pun berangkat. Tanpa Ananya sadari, ternyata ada sepasang mata yang mengantar kepergiannya dari kejauhan. Yah, Varo mengikuti Ananya ke stasiun. Beberapa saat Setelah Ananya meninggalkan ruangannya tadi, ia ke ruangan Heri mencari keberadaan sang adik. Ia pun berpikir bahwa Vino yang mengantarkannya ke stasiun. Namun ternyata dugaan salah, ia melihat dari kejauhan Ananya seorang diri. Ia sangat senang mengetahui bahwa dugaannya salah.


"Apakah aku mulai cemburu ? Bukannya kekhawatiranku ini wajar-wajar saja ? Aku adalah suaminya. Yah, aku suaminya. Ananya milikku. Maafkan kakak Vin... Sepertinya kakak tidak bisa melepaskannya." Batin Varo yang kemudian melangkahkan kaki meninggalkan stasiun kereta.


Siang itu, Varo hendak menuju rumah Ananya ingin makan siang bersama Anna. Sudah beberapa hari ini ia tidak menengok wanita paruh baya itu. Ia sedikit mengkhawatirkan kesehatan Anna apalagi sekarang ia tengah seorang diri di rumah. .


.


.


..


.


.


.


To be Continued.


Mohon meninggalkan jejak setelah membaca.


LIKE


COMMENT


SHARE


ADD FAVORITE


Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐


Vote Sebanyak-banyaknya.


Mohon kritik dan sarannya


Tetap jaga kesehatan yah teman-teman. Jangan anggap remeh pandemi ini.


Senantiasa jaga jarak, tetap gunakan masker dan rajin mencuci tangan


THANK YOU 🥰😘


Poin mana poin 😁😁😁