
Dokter yang memerika Aluna sudah pergi. Kamar mewah tersebut lengang, Arjuna menatap istrinya yang diam saja sejak tadi.
"Sayang kamu dengar tadi jika kamu kemungkinan besar hamil." Arjuna berkata dengan perasaan yang bahagia.
"Iya, aku denganr kok, tapi ..." Aluna menjeda ucapannya seraya mengelus perutnya lalu menatap suaminya dengan tatapan polosnya.
"Tapi kenapa? Kamu tidak senang hamil? Atau kamu masih merasa keberatan?" tanya Arjuna lesu, mendudukkan dirinya di tepian tempat tidur karena sebelumnya ia berdiri.
Ia baru teringat jika istrinya itu ingin menunda momongan terlebih dahulu setidaknya sampai lulus kuliah.
"Bukan seperti itu, tapi aku sedang berfikir kenapa aku bisa hamil," jawab Aluna dengan suara pelan, dan otaknya berfikir keras.
Hah?!
Arjuna yang menundukkan kepala kini langsung menegak dan menatap istrinya sambil menahan tawanya.
Jadi masalahnya masih di seputar Pil KB? Arjuna rasanya ingin menonyor kepala istrinya dengan kuat.
Dasar otak udang! umpat Arjuna di dalam hati.
"Mungkin Pil KB-nya tidak manjur maka dari itu kamu bisa hamil," jawab Arjuna asal, mengikuti kebodohan istrinya.
"Iya, mungkin juga. Aku 'kan sudah membeli Pil KB itu semenjak kita tinggal satu rumah," ucap Aluna lagi.
Arjuna menganggukkan kepala berulang kali, meng-iyakan penjelasan istrinya.
"Kamu membeli Pil KB itu ide dari siapa? Tidak mungkin kamu berinisiatif sendiri," tanya Arjuna karena ia mengerti jika istrinya tidak mungkin berfikiran sejauh itu.
"Mia yang memberi saran. Katanya Pil KB bisa mencegah kehamilan dan beli di apotek terdekat," jawab Aluna menirukan gaya bicara 'Mia' yang cempreng.
"Oh ... Iya, teman kamu juga cerdas sekali ya, sama kayak kamu," ucap Arjuna menahan tawanya agar tidak meledak.
"Iya dong kita 'kan bestie jadi kita juga cerdas bersama," jawab Aluna menepuk dada penuh rasa bangga.
"Iya, sama-sama otak udang," ucap Arjuna seraya naik ke atas tempat tidur, lalu memeluk istrinya dengan erat.
"Kenapa kamu terus memanggilku dengan sebutan otak udang sih?" protes Aluna sambil memejamkan mata erat saat Arjuna menyibakkan dress-nya ke atas dan mengelus perutnya yang masih rata itu dengan penuh kelembutan, memberikan sensasi geli.
"Otak kecil 'kan bodoh, jadi artinya aku aku bodoh?!" Aluna berengut kesal seraya menepis tangan suaminya yang masih asik mengelus perutnya itu, lalu merapikan dress-nya yang tersibak ke atas.
"Hei, siapa yang bilang kamu bodoh! Aku tidak mengatakannya," sangkal Arjuna seraya mendekap tubuh istrinya dengan erat, lalu menghujami wajah istrinya dengan ciuman.
"Arjuna lepaskan aku!" Aluna memberontak di dalam dekapan suaminya.
"Yang sopan kalau memanggil suami, dan panggil aku dengan sebutan SAYANG!" Arjuna berkata dengan penuh penekanan.
"Tidak mau! Sebelumnya tidak masalah memanggilmu dengan sebutan nama, tapi kenapa sekarang keberatan?" tanya Aluna masih berusaha untuk melepaskan dekapan suaminya yang membuatnya merasa sesak.
Melihat istrinya yang terengah ia pun segera melonggarkan dekapannya.
"Itu dulu jangan disamakan dengan sekarang. Bukankah kita sekarang sudah saling mencintai?" ucap Arjuna menatap wajah istrinya dengan dalam dan penuh cinta.
Aluna mengangguk sebagai jawaban.
"Jadi kalau suami istri yang sudah saling mencintai tidak boleh memanggil dengan sebutan nama, terdengar tidak sopan," lanjut Arjuna.
"Ah, benarkah? Jadi mulai sekarang aku harus memanggilmu Sayang?" tanya Aluna, menatap wajah tampan suaminya
"Iya," jawab Arjuna.
"Agak terasa aneh memanggilmu dengan sebutan itu, tapi akan aku biasakan," ucap Aluna sambil melebarkan senyumannya.
"Ini baru istriku." Arjuna menarik hidung macung istrinya dengan gemas.
"Jadi tidak ke dokter kandungan?" tanya Aluna.
"Besok saja, ini sudah hampir tengah malam," jawab Arjuna, mendusel-dusel dada Aluna yang empuk.
"Malam-malam begini enaknya ngapain ya?" Aluna bertanya sambil mengetuk-ngetuk lengan suaminya.
***
Jangan mancing-mancing, nanti kamu di caplok Arjuna loh🤣🤣