
Arjuna memasuki ruangan khusus yang di gunakan untuk perawatan ibunya.
Salah satu pegawai yang sedang memijat punggung Aluna menoleh lalu memundurkan diri, saat mendapat kode dari Arjuna yang menyuruhnya pergi dari sana.
Arjuna kini yang menggantikan punggung putih, mulus, tanpa cela itu. Membuat jangkunnya naik turun. Tubuhnya terasa tersetrum hingga membuat Si Junaedi yang bobok ganteng kini terbangun dari tidurnya sembari menganggukkan kepala botaknya.
Aluna yang terlelap karena sangat menikmati SPA yang sedang ia lakukan itu, dan ia saat ini tidak sadar jika yang memijatnya saat ini adalah suaminya.
Afika yang melihat tingkah putranya pun mengerti segera beranjak dari Bed, sembari melilitkan kain ke tubuhnya. Lalu beranjak keluar dari ruangan tersebut.
"Mama mau pulang, dan jangan lupa nyalakan peredam suara," pesan Fika kepada putranya yang sedang mupeng.
"Siap!" jawab Arjuna hanya menggerakan bibirnya saja.
"Awas saja kalau kamu tidak berhasil mencetak cucu untuk Mama! Aku coret kamu dari daftar kartu keluarga!" Ancam Fika kepada putranya, sebelum berlalu dari sana.
Mama Fika pengertian sekali.π€£
Arjuna menggosok kedua telapak tangannya yang sudah di baluri oleh minyak zaitun.
"Emh ... Mbak. Mijatnya jangan sampai di situ," ucap Aluna masih memejamkan kedua matanya. Ia merasakan tangan pemijat itu ke bagian bokongnya, dan merematnya berulang kali.
"Mbak!!" kesal Aluna, seraya membuka kedua matanya, dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya dirinya saat melihat suaminya berada di sana, dan memijat dirina.
"Arjuna!" Aluna segera menjauhkan dirinya, duduk di tengah Bed seraya memegangi kain untuk menutupi tubuhnya yang setengah polos itu.
"Apa? Dosa kalau tidak menuruti keinginan suami," jawab Arjuna menatap nakal istrinya yang terlihat sangat menggairahkan.
"Jangan mesum di sini!" ucap Aluna, menolak halus keinginan suaminya.
"Jadi kalau di rumah boleh?" tanya Arjuna seraya mengerling nakal, dan mendudukkan diri di tepian tempat tidur, menoleh ke arah istrinya dengan tatapan mesum.
"Bu-bukan seperti itu," jawab Aluna tergagap, kini ia merasa terjebak dengan ucapannya sendiri.
"Jadi?" Arjuna berkata sembari menarik salah satu kaki jenjang istrinya. Tangan kanannya merambat naik menuju paha bagian dalam istrinya, menyentuh dengan lembut lalu membelai bagian sensitif Aluna dengan sensual.
"Emhhh ..." Aluna mengerang tertahan sembari menggigir bibir bawahnya saat merasakan sensasi geli nikmat yang menjadi satu.
Ah, suaminya itu sangat pandai membuat gairah cepat naik kepermukaan. Jika sudah seperti ini, Aluna hanya bisa pasrah, seraya membuka kedua kakinya dengan lebar untuk suaminya.
"Tubuhmu Canduku," bisik Arjuna saat akan melakukan penyatuan dan memburu kenikmatan bersama sang istri.
Dan selanjutnya yang terjadi adalah Emak putar balik. Dengkul lemes bestie dan takut bintitan kalau ngintip. π€£π
Jangan hujat, Emak yang solehah ini ya. ππ
***
Fika menghentikan langkahnya saat dirinya di panggil oleh Nyonya Kim di depan salonnya.
"Ada apa?" ketus Fika kepada besannya itu.
"Aku rasa bukan. Karena menantuku sudah tidak mempunyai orang tua lagi!" jawab Fika yang begitu menohok di hati Nyonya Kim.
"Jeng Fika kenapa Anda begitu kejam berkata seperti itu?" Nyonya Kim merasa teraniaya oleh Fika. Ia berkata dengan nada yang sedih, membuat Fika merasa muak saat mendengarnya.
"Lalu aku harus berkata apa?! Apakah aku harus berkata jika kedua orang tua menantuku adalah orang yang kejam dan biadap, mengusir putrinya sendiri hanya karena putrinya itu menikah dengan seorang sopir! Begitu?" balas Fika menumpahkan kekesalannya.
Ucapan Fika mengandung bon cabe level lima puluh, seolah membuat Nyonya Kim terbakar dan menjadi abu.
Wajah Nyonya Kim memerah karena menahan rasa malu.
"Apakah karena kamu sudah mengetahui jika Arjuna adalah putraku, kamu ingin berbaik hati kepada Aluna dan Arjuna? Cuih! Hatimu benar-benar sangat busuk!" Fika semakin menabuh genderang perang kepada Nyoya Kim.
"Jeng Fika, saya ini tanya baik-baik, kenapa malah mendapatkan hinaan? Salah jika aku bertanya?" tanya Nyonya Kim, menggunakan jurus andalannya yaitu mengeluarkan air mata kadal.
"Hei! Nyonya Kim yang terhormat dan terkenal sebagai selebritis! Aku rasa kamu pantas mendapatkan cacian dan makian bukan hanya dariku, tapi juga dari semua orang! Apakah kamu pantas di sebut sebagai seorang ibu?!" balas Fika dengan menggebu-gebu, dadanya naik turun menahan emosinya yang sudah siap meledak.
"Aku rasa otak Nyonya Kim sudah berpindah ke dengkul, makanya tidak bisa untuk berfikir!" balas Fika dengan sangat pedas.
"Cukup Jeng!" bentak Nyonya Kim yang sudah tidak tahan menghadapi Fika yang bar-bar.
"Oke! Jangan pernah mengusik Aluna lagi, dia sudah bahagia bersama keluarga barunya!" balas Fika, seraya mengibaskan rambut panjangnya seray masuk ke dalam mobil mewahnya.
"Anda tidak bisa memutuskan hubungan kami begitu saja!" teriak Nyonya Kim dengan penuh emosi.
"Benarkah? Lalu siapa dulu yang mengusir Aluna dan Arjuna? Hingga kamu mencoret nama Aluna dari daftar kartu keluargamu! Lalu apa salahku, jika aku ingin melindungi anak dan menantuku dari wanita bermuka dua sepertimu?!" balas Fika dengan telak, seraya mengacungkan jari tengahnya dengan penuh emosi.
"Ingat Nyonya Kim, karma itu pasti ada!" lanjut Fika, kemudian melajukan mobilnya menjauh dari salonnya tersebut.
"Argghh!!!" kesal Nyonya Kim sembari menghentakkan kedua kakinya dengan perasaan kesal. Ia tidak menyangka jika akan menjadi seperti ini. Berhadapan dengan Fika dan keluarganya sepertinya akan sangat sulit.
Tapi, Nyonya Kim juga merutuki kebodohannya karena dulu tidak menerima Arjuna sebagai menantunya, tapi malah sebaliknya, ia mengusir Arjuna dari rumahnya beserta Aluna, anaknya sendiri.
Kemudian Nyonya Kim beranjak dari sana dan memasuki mobilnya. Ponselnya berdering panjang bertanda jika ada panggilan masuk, tidak membutuhkan waktu lama, ia segera mengangkat panggilan telepon tersebut yang ternyata dari suaminya sendiri.
"Ya, Halo," jawab Nyonya Kim dengan malas, karena saat ini suasana hatinya sedang sangat buruk.
"Mommy, ternyata Arjuna itu adalah putra dariβ" belum selesai berbicara, ucapannya di putus oleh istrinya sendiri.
"Sudah tahu! Ternyata Arjuna bukan Sopir, dia kaya raya, Dad," ucap Nyonya Kim, seraya menghela nafas kasar.
"Kita harus mencari cara untuk mendekati mereka, Dad," pinta Nyonya Kim kepada suaminya yang terdengar mendengus kesal di seberang sana.
"Mom! Hentikan semua ini! Jangan macam-macam!" Tuan Kim meng-ultimatum istrinya dengan sangat tegas, lalu ia memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak, membuat Nyonya Kim bertambah semakin kesal.
"Aku tidak macam-macam, tapi hanya satu macam saja," ucap Nyonya Kim, seraya tersenyum miring sembari meletakkan ponselnya di dalam tas, lalu ia menyalakan mesin mobilnya.
Yei!!! Mana Vote dan dukungan lainnya?