
Sebenarnya bunda Amel merasa bahagia saat mengenal Tiara adalah istri yang dinikahi oleh putranya. Selain itu juga awalnya dia juga berniat untuk berkenalan dan menjodohkan Rivan dengan Tiara beberapa hari yang lalu. Tapi rupanya takdir telah menyatukan mereka dengan sendirinya tanpa ikut campur dari orang lain.
Dia juga bangga dengan putranya karena sudah berhasil menjadikan Tiara miliknya. Dia adalah sosok perempuan yang telah mencuri hati putranya sejak pertemuan mereka. Namun bunda Amel merasa kesal dan marah sebab tidak ada satupun keluarganya yang diundang untuk menghadiri acara ijab qabul mereka berdua.
" Sebenarnya kami berencana menghadap ayah sama bunda" jawab Rivan dengan santai.
Rivan sangat faham dengan sifat sang bunda, beliau tidak akan bisa berlama lama marahan dengan orang yang dia sayang. Dan kali ini pun dia sangat yakin bundanya tidak akan bisa lama lama marah dengan mereka berdua, terutama Tiara karena dia juga yakin bundanya pasti akan sangat menyukai Tiara.
Bunda Amel menatap penuh selidik pada Rivan dan Tiara secara bergantian. " Tapi akhirnya kalian memutuskan untuk menunggu bunda yang mendatangi kalian lebih dulu, begitu kan?" ada sedikit kekesalan di hati sang bunda dengan sikap keduanya selama ini.
Ada rasa nyeri yang langsung menghantam dada Tiara mendengar sindiran ibu mertuanya secara bertubi tubi. Menurutnya ibunya sendiri selama ini selalu berkata pedas dan suka menyindir tapi dia biasa saja menanggapinya, atau mungkin dia sudah terbiasa.
Entah kenapa mendapat sindiran dari ibu mertuanya rasanya begitu nyeri di hatinya, apakah mungkin karena mereka baru bertemu dengan kondisi yang situasi yang tidak tepat. Mungkin benar kata pepatah di atas langit masih ada langit.
Meskipun begitu Tiara hanya bisa menahan dan berusaha untuk tidak membalas semua sindiran yang dia dapatkan. Karena menurutnya dia juga ikut andil membuat kesalahan yang mengakibatkan ibu mertuanya marah. Selain itu dia juga harus menghormati orang tua seperti yang diajarkan oleh orang tuanya.
" Bukan salah Rivan Bu, saya yang kemarin kemarin belum berani berkenalan dengan keluarganya. Saya yang yang selalu menolak ajakannya" akhirnya Tiara memberikan alasan yang tepat.
"Kalau bunda boleh tau, kenapa kamu belum siap bertemu dengan keluarga kami" tanya bunda Amel penuh selidik pada anak menantunya.
" Hmm... karena pernikahan kami mendadak, jadi___ " belum sempat Tiara menyelesaikan ucapannya disela oleh sang mertua.
" Segan ya bertemu saya?" sela bunda Amel.
Seketika Tiara terdiam tidak menjawab dan langsung menundukkan kepalanya.
" Memang begitu kalau menikahi anak orang tanpa meminta ijin terlebih dulu pada orang tuanya. Seperti maling, bawaannya takut ketahuan" ucap bunda Amel dengan begitu sarkasnya.
" Bun...." Rivan meminta pengertian sang bunda agar tidak semakin menjadi menyindir atau menghakimi Tiara yang wajahnya terlihat semakin pucat.
" Loh, bunda hanya menjelaskan dampak dari perbuatan kalian. Tiara pasti seperti ketakutan karena dikira membawa lari anak orang" katanya semakin memojokkan Tiara.
Tiara yang tertunduk, tiba tiba punggungnya bergetar menahan tawa saat mendengar perkataan bundanya Rivan. Lalu dengan pelan mengangkat wajahnya, dan karena tidak dapat menahan tawanya, akhirnya Tiara tertawa lepas. Baik Rivan dan bunda Amel menatap dengan wajah bingung melihat Tiara yang tadi wajahnya tertunduk dan terlihat pucat karena sindiran bunda Amel. Tiba tiba dia tertawa disaat kondisi yang terlihat masih tegang diantara mereka bertiga.
" Saya mohon maaf kalau saya dianggap tidak sopan saat ini, tapi saya tidak tahan untuk tidak tertawa" ucap Tiara dengan tersenyum pada bunda Amel. " Saya rasa dugaan menculik atau membawa lari Rivan itu terlalu berlebihan. Rivan lebih dari mampu untuk menolak atau bahkan melawan saya dengan kekuatannya" kata Tiara dengan santai.
" Rivan itu putra saya dan tidak seharusnya kamu mengambil Rivan tanpa meminta ijin saya" kata bunda Amel tegas tanpa adanya senyuman, namun dia berusaha menahan untuk tidak berbicara dengan nada yang tinggi.
Rivan yang duduk di sebelah Tiara hanya diam sambil menatap wajah sang bunda dengan istrinya secara bergantian. Ada rasa bangga terhadap sang istri yang kini sudah berani menyampaikan argumennya tapi masih dengan cara yang bijak.
" Saya sadar saya salah karena sudah memperlihatkan sikap saya yang seolah tidak memahami cara menghormati orang tua" ucap Tiara mengakui kesalahannya. " Ibu adalah orang yang telah membesarkan Rivan, dan seharusnya ibu juga yang memberikan pendapat tentang saya sebelum Rivan memutuskan untuk menikahi saya. Tapi bukan berarti saya yang mencuri Rivan seutuhnya dari ibu" sambungnya mencoba membela dirinya sendiri tanpa menyalahkan orang lain.
" Wah... berani ya kamu sama saya!" seru bunda Amel dengan nada tinggi sehingga terdengar galak. Namun dalam hati dia juga setuju dengan sudut pandang Tiara.
Sebenarnya bunda Amel bukanlah sosok orang tua yang memaksakan kehendak ataupun selalu mengatur jalan hidup anak anaknya. Dia justru mendidik serta membesarkan anak anaknya agar berjalan di jalan mereka sendiri dan mandiri. Tidak pernah bunda Amel memaksa kedua anaknya untuk mengikuti dan melanjutkan bisnis keluarganya. Dia memberikan kebebasan pada kedua anaknya untuk memilih jalan hidup mereka sendiri.
" Harus Bu... Rivan ataupun saya bukanlah suatu barang atau benda mati yang menjadi hak milik seseorang. Perkataan ibu tadi mengisyaratkan bahwa Rivan tidak dapat memilih atau menentukan hidupnya sendiri yang seolah olah pikirannya bisa dipengaruhi oleh ibu ataupun saya. Padahal saya yakin Rivan lebih dari sanggup untuk tidak terpengaruhi oleh siapapun termasuk ibu ataupun saya" sahut Tiara masih dengan nada yang santai mengutarakan pendapatnya.
Bunda Amel semakin dibuat terkagum dengan sikap Tiara yang sangat dewasa dan dia sangat suka dengan hal itu. Sementara itu Rivan yang menatap Tiara dengan mata berbinar setelah mendengar pernyataan yang diungkapkan oleh sang istri. Dalam hatinya dia meras senang dan bahagia karena dia beranggapan bahwa Tiara sedang membela ataupun mempertahankan dirinya.
" Bukan berarti apa yang kamu lakukan itu benar, Tiara..." ucap bunda Ratu tenang dan dia mulai berbicara dengan nada yang biasa saja.
" Iya, Bu... saya salah dan saya juga minta maaf, tapi bukan karena saya menikahi Rivan. Tapi lebih tepatnya saya minta maaf karena melangkahi hak ibu untuk memberikan pendapat pada Rivan tentang saya sehingga bisa dijadikan pertimbangan oleh Rivan" balas Tiara dengan tegas namun masih dengan nada yang biasa bahkan dia juga menampilkan senyuman di kedua sudut bibirnya dengan ramah.
Bunda Amel langsung membuka matanya dengan lebar mendengar balasan Tiara yang begitu tegas. Dia begitu terkejut mendengar argumen Tiara yang benarnya sangatlah tepat dan benar adanya.
" Sekali lagi saya minta maaf... saya akan berusaha dan melakukan apapun demi mengembalikan hak ibu" ucap Tiara begitu penuh penyesalan. " Hubungan antar orang tua dan anak sangatlah kuat dan dalam hubungan tersebut harus ada rasa menghormati yang saling berkesinambungan. Dan saya menyesal karena tidak mampu membuat ibu merasakan hormat dari saya" kali ini Tiara kembali merasa bersalah bahkan semakin besar rasa salah yang telah dia perbuat.
Kembali Tiara menundukkan wajahnya yang penuh dengan penyesalan. Dan sepertinya cukup sampai disini saja dia menyampaikan pendapatnya ataupun argumennya dihadapan bundanya Rivan.
Semuanya kembali lagi pada Rivan ataupun bundanya Rivan, apakah mereka mengerti dan memahami pendapatnya barusan. Jika mereka menerimanya maka Tiara patut berbangga, namun jika mereka tidak menerima argumennya dia juga tidak akan memaksakan lagi.
Dan kelanjutan hubungan pernikahan dirinya dan Rivan juga tergantung pada pendapat dan restu sang bunda. Meskipun sebenarnya yang memiliki hak sepenuhnya adalah Rivan dan dirinya, namun mereka juga tidak bisa mengabaikan hak dari orang tua Rivan.
Rivan hanya diam terpaku dan takjub mendengar pendapat dan argumen dari dua perempuan yang berarti dalam hidupnya. Awalnya dia pikir dirinya akan banyak bicara untuk membela ataupun melindungi istrinya dari sindiran sang bunda. Tapi rupanya Tiara punya cara sendiri untuk membela dirinya sendiri. Dan hal itu membuat Rivan begitu bangga karena telah berhasil memperistri Tiara dengan keyakinannya sendiri bahwa Tiara adalah jodoh terbaik yang dikirim Tuhan untuk dirinya.
Kalian bisa juga membaca karyaku yang pertama dan sudah tamat. Kalian klik aja profil aku dan kalian akan menemukan judulnya di sana. Alur ceritanya juga gak terlalu berat.