
Aluna mengernyit heran saat tiba di restoran mewah di pusat kota tersebut, pasalnya restoran tersebut terlihat sepi dan minim penerangan, membuatnya takut.
“Kamu tunggu di sini. Mama dan Papi akan mencari Arjuna, seharusnya dia sudah berada di sini,” ucap Fika sembari merapikan dress yang di kenakan oleh menantunya itu.
Aluna memakai dress mewah berwarna putih menjuntai ke bawah, tanpa lengan, dengan belahan dada rendah membentuk huruf V. Tatanan rambut yang di sanggul modern dan make-up natural menghiasi wajahnya.
Aluna terlihat sangat cantik dan elegant. Ia seperti bidadari yang turun dari khayangan, membuat siapa pun akan terpesona saat melihatnya.
Anggap saja ruanganya gelap, ye kan. 🤣
“Mama tapi aku takut, dan kenapa restoran ini terlihat sepi dan sedikit gelap?” Aluna mengedarkan pandangannya ke setiap sudut restoran tersebut.
“Oh, ini sengaja di sewa oleh Juned. Mungkin di sini lagi ada pemadaman listrik bergilir,” jawab Fika asal di kalimat terakhirnya.
“Kamu tunggu di sini,” ucap Fika lagi, menggandeng tangan suaminya, lalu segera beranjak dari sana meninggalkan Aluna seorang diri.
Aluna berdiri di tengah ruangan restoran tersebut. Seharusnya di restoran ada meja dan kursi akan tetapi ia tidak melihatnya. Ruangan tersebut sangat luas dan lengang.
“Ya, ampun. Mana tidak bawa ponsel,” keluh Aluna, ia benar-benar merasa takut.
Menyingsing dress-nya agar memudahkannya berjalan. Lebih baik dirinya menunggu di luar restoran dari pada menunggu di dalam sana, serasa uji nyali jika tidak kuat melambaikan tangan ke arah kamera. Wk wk wk wkckkk
“Mau ke mana?” suara tersebut berhasil menghentikan langkah kaki Aluna.
Aluna menoleh ke sumber suara, sedikit terkejut saat suaminya berdiri di tengah kegelapan.
“Arjuna, kamu ke mana saja? Kenapa baru datang, dan kenapa kamu datang dari dalam sana?” tanya Aluna beruntun, dalam hati merasa lega karena Arjuna datang di waktu yang tepat.
Ah! Sial! Membayangkan saja sudah membuat dede gemes-nya menggembung di balik celananya. Pusing jadinya.
“Aku ada sesuatu untukmu,” ucap Arjuna kepada istrinya.
“Apa?
“Tutup kedua matamu,” pinta Arjuna sembari mengeluarkan sebuah sapu tangan dari kantong celananya.
“Tidak mau! Kamu pasti ingin mengerjaiku ‘kan!” tolak Aluna diiringi dengan gelengan kepala.
“Menurutlah!” Arjuna langsung menutup kedua mata istrinya dengan sapu tangan yang sudah di lipat dengan sedemikian rupa.
“Ah, bulu mataku bisa rontok, jangan terlalu kencang!” omel Aluna saat Arjuna mengikat sapu tangan di belakang kepalanya sedikit kencang.
“Bawel!” Arjuna mendengus kesal, lalu menuntun istrinya menuju ke tengah restoran tersebut.
Arjuna menjentikkan tangan kanannya, tidak lama kemudian lampu di ruangan tersebut menyala bersamaan. Ruangan yang gelap tersebut menjadi terang benderang. Setelah itu Arjuna membuka sapu tangan yang menutup kedua mata istrinya.
Aluna mengerjap berulang kali, membuka kedua matanya secara pelahan.
“Oh, My God!” pekik Aluna, melihat ruangan tersebut di hias dengan dekorasi white elegant wedding. Dihiasi dengan mawar putih dan kristal chandelier yang menggantung mewah di atasnya membuat tampilan ruangan tersebut begitu mewah dan elegant.
“Ini--” Aluna tidak mampu berkata-kata, rasa haru dan bahagia menyeruak masuk ke dalam dada. Tidak menyangka akan mendapatkan kejutan yang sangat luar biasa dari suaminya.