Suddenly Married

Suddenly Married
Permohonan Ayah Tommy



Nyonya Kim mendekati suaminya yang sedang marah kepadanya. "Daddy, jangan marah dong. Aku melakukan semua ini juga demi kebaikan kita," ucap Nyonya Kim seraya mendudukkan dirinya di sofa ruang keluarga, tepatnya di samping suaminya.


Tuan Kim mendengus kesal, karena istrinya itu masih bersikap egois, mementingkan diri sendiri.


"Berhentilah berbicara, Mom! Jika arah pembicaraan Mommy tentang karier dan uang! Aku sudah merasa muak dengan semua ini!!!" Tuan Kim sudah terlanjut kecewa dengan istrinya.


Nyonya Kim terdiam, bagaimana pun ia harus bisa membujuk suaminya agar mau mengikuti keinginannya.


"Bagaimana kalau kita ke rumah Aluna dan Arjuna. Kita harus meminta maaf kepada mereka, Dad. Mommy merasa bersalah, dan ini murni dari hati Mommy yang paling dalam," ucap Nyonya Kim terlihat sangat meyakinkan.


Tuan Kim menoleh, menatap istrinya. "Mommy tidak ada maksud tersembunyi 'kan?" tanyanya dengan penuh selidik.


"Tentu saja tidak. Bukankah aku sudah bilang kalau ini murni dari hatiku yang paling dalam," jawab Nyonya Kim mengulangi ucapannya yang sebelumnya.


"Baiklah, kalau begitu," jawab Tuan Kim pada akhirnya, karena ia juga merasa harus meminta maaf kepada anak dan menantunya.


"Kita bersiap dulu," ajak Nyonya Kim seraya menarik lengan suaminya.


*


*


*


Sementara itu di Rumah Utama Emanuel. Seorang pria paruh baya duduk menghadap Aluna sembari memohon-mohon agar putranya di bebaskan dari penjara.


"Saya mohon kepadamu, Aluna, tolong cabut tuntutanmu. Kasihanilah putraku yang saat ini depresi," ucap pria tersebut dengan nada memelas.


Aluna merasa tidak tega kepada pria paruh baya itu. Ia menatap Arjuna, lalu beralih menatap kedua mertuanya, seolah meminta pendapat.


Arjuna menaikkan kedua bahunya, mempercayakan segala keputusan kepada istrinya, sedangkan kedua orang mertuanya pun melakukan hal yang sama.


Aluna menghembuskan nafas panjang, seraya mememjamkan kedua matanya dengan erat, semoga keputusannya yang sudah ia ambil tidak salah.


"Terima kasih, Aluna, saya tahu kalau kamu adalah wanita yang sangat baik dan berhati mulia. Tuan Arjuna sangat beruntung mendapatkanmu. Dan Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu atas perbuatan Tommy yang tidak terpuji," ucap Pria tersebut dengan perasaan yang haru dan juga menahan malu karena perbuatan putranya itu.


"Iya, saya sudah memaafkan dia, Om. Tapi, beritahu dia agar tidak melakukan kesalahan yang sama atau kesalahan yang lainnya," jawab Aluna.


"Baiklah, sekali lagi saya mengucapkan banyak terima kasih, kepada Tuan Arjuna, Aluna, Nyonya Fika dan Tuan Emanuel," ucap Pria tersebut dengan sangat tulus.


"Hah? Terima kasih doang?" cibir Nue sembari meniupi kuku cantiknya, dan melirik pria tersebut dengan kesal.


"Papi!!" Fika mencubit perut buncit suaminya itu agar tetap diam, dan tidak banyak bicara.


"Aww!! Sakit, Honey!" pekik Nue tertahan lalu mengusap perutnya yang terasa panas akibat mendapatkan cubitan kepiting dari istrinya.


Pria paruh baya tersebut menundukkan kepala, merasa sangat malu.


"Jangan di anggap serius. Kami sudah memaafkan putra Anda, Pak," sahut Fika.


"Terima kasih banyak, Nyonya," jawabnya.


Setelah berbincang sebentar, Ayah Tommy pamit undur diri, dan sekali mengucapkan banyak terima kasih kepada Aluna dan keluarga.


"Seharusnya tadi, Yei, biarkan saja si Tomcat itu metong di penjara!! Ih, kesel!!" Nue mengungkapkan kekesalannya saat Ayah Tommy sudah tidak ada di sana.


"Bisa tidak, bicaranya itu biasa saja! Dasar gemulai!!" kesal Fika, kepada suamimya.


"Yang penting gagah perkasa kalau Anu," jawab Nue tanpa malu sedikit pun membuat Fika semakin kesal, lalu memukul lengan suaminya bertubi-tubi.


***


Sawerannya mana bestie? Bunga dan kopi ya💃💃