Suddenly Married

Suddenly Married
Berpisah



Tiga puluh menit berlalu..


empat puluh menit....


Sepertinya tak ada tanda-tanda Ananya akan ikut, Varo pun angkat kaki dari rumah Paman Aiman dengan rasa kecewa. Tak pernah ia merasa hancur se hancur sekarang ini. Impiannya membangun rumah tangga bersama wanita yang di cintainya pupuslah sudah.


Varopun duduk di belakang kemudi, sesaat ia menatap ke arah pintu berharap sosok yang ia tunggui akan tiba-tiba muncul dan mengejarnya. Namun nihil, Ananya sama sekali tak menunjukkan kehadirannya.


"Cih.... bahkan untuk mengantarkanku saja ia enggan. Kasian sekali kau Alvaro." Senyum mengejek nampak di wajahnya, namun ejekan itu ia tujukan untuk dirinya sendiri.


Alvaropun berlalu mengendarai mobilnya menuju kota J. Selama perjalanan, ia tak henti-hentinya mengingat tentang Ananya. Tidak biasanya Alvaro berkendara dengan kecepatan yang cukup tinggi, anggap saja ini adalah luapan emosinya.


Kali ini, Alvaro lebih memilih pulang ke apartemen yang baru saja di belinya. Sebenarnya ia berencana menghadiahkan apartemen itu kepada Ananya sebagai hadiah pernikahannya. Namun rencana tinggal rencana. Ia pun tak menyangka jika pernikaannya akan berakhir seperti ini. Karena merasa lelah setelah menyetir selama empat jam, ia pun akhirnya tertidur tanpa membersihkan diri dan mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


*****


Di tempat lain,


Paman Aiman dan Bibi Santi beserta Nayla nampak panik. Kejadian itu berawal ketika Nayla mencari Ananya dengan tujuan ingin meminta bantuan kakaknya itu untuk mengerjakaan tugas kuliahnya. Saat ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar, alangkah kagetnya ia melihat tubuh Ananya yang tergeletak di depan kamar mandi serta tak sadarkan diri dengan luka kecil di bagian dahi.


Di dalam kamar itu, pakaian Ananya nampak berserakan di depan lemari yang sepertinya akan di masukkan ke dalam koper yang tengah terbuka disana.


"Ayaahhh.... Ibu....!!" Teriak Nayla meminta pertolongan.


Aiman dan Santi yang mendengar teriakan Nayla dengan segera mencari sumber suara itu. Alangkah kagetnya mereka tatkala melihat tubuh keponakannya yang terbaring tak sadsrkan diri di lantai.


"Astagfirullah...! Kakak kamu kenapa nak ?" Santi panik.


"Iya, apa yang terjadi ? Kenapa bisa seperti ini ?" Aiman menimpali.


"Nay gak tahu yah... Pas tadi Nayla masuk, keadaan Kakak sudah seperti ini." Jawab Nayla denan gurat cemas di wajahnya.


"Ayo bantu aku mengangkat Ananya ke tempat tidur. Nayla, tolong ambilkan kotak P3K." Perintah Aiman.


"Baik, yah...!" Sahut Nayla.


Nayla membawa kotak P3K dari ruang keluarga dan memberikannya kepada ibunya. Kebetulan Bibi Santi adalah seorang perawat jadi ia bisa menangani luka kecil di dahi Ananya tanpa harus membawanya ke rumah sakit. Tak lama kemudian, Ananya pun sadar dari pingsannya.


"Paman, Bibi... Kak Varo mana ?" Tanya Ananya yang nampak mencari sosok suaminya.


"Loh, Varo kan sudah berangkat dari tadi nak ?" Aiman nampak kebingungan.


"Tidak, paman... Nya harus menyusul kak Varo sekarang. Dia pasti salah faham kepada Ananya." Ananya hendak bangun namun di tahan oleh paman dan bibinya.


"Tidak, Bi... Nya harus menyusul Kak Varo sekarang juga. Nya gak mau kak Varo salah faham." Rengek Ananya.


"Besok saja, masih banyak waktu. Istirahatlah dulu. Lagian tengah malam begini mana ada kereta menuju ke kota J. Besok saja yah nak, malam ini kamu istirahat dulu." Pinta Bibi Santi.


"Iya, kak... Ibu benar. Kakak istirahat saja dulu." Nayla turut memberi masukan kepada Ananya.


"Tapi...!"


"Sudah, tidak ada tapi-tapian. Istirahat saja dulu. Malam ini jangan berpikir macam-macam. Besok sebelum kamu berangkat, kamu harus menceritakan semuanya kepada paman. Tolong jangan anggap paman sebagai orang lain, anggap paman ini seperti ayahmu nak. Paman sudah berjanji kepada mendiang ayahmu akan selalu menjaga dan melindungimu seperti paman menjaga Nayla." Kata Paman Aiman sembari mengusap pucuk kepala Ananya. Ananya hanya mengangguk pasrah mengikuti perkataan paman dan bibinya.


"Nayla, kamu temani kakak kamu yah.. tapi jangan diajak bercerita. Biarkan dia istirahat malam ini." Bibi Santi.


"Baik, Bu...!" Jawab Nayla.


Setelah meminum obat yang di serahkan bibinya tadi dan masih merasa pusing, Ananya akhirnya tertidur. Nayla pun turut terbuai di samping Ananya.


******


Sang surya kini menampakkan kekuasaanya menyapa seluruh penduduk bumi. Cahaya matahari pagi masuk melalui celah jendela kamar berukuran besar dengan cat berwarna putih.


Varo terbangun, di raihnya ponselnya berharap akan ada pesan atau panggilan dari wanita yng masih berstatus istrinya itu. Lagi-lagi ia harus kecewa karena tak ada satu pun pesan dari Ananya.


"Hmm.... sepertinya aku terlalu berharap banyak." Gumamnya lirih.


Ia pun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Hari ini ia mulai memantapkan dirinya untuk merelakan Ananya. Mungkin dengan melepasnya, akan membuat keadaan jauh lebih baik. Ananya tidak harus tertekan, dan Vino tidak akan lagi menjauhinya meskipun ia sendiri akan merasakan sakit hati.


Usai memebersihkan diri, ia mengenakan pakaian yang lebih santai dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang, Ditariknya laci atas nakas yang ada di samping ranjang mewah berukuran king size itu kemudian mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam laci. Saat membuka kotak itu, hatinya seolah teriris, perih rasanya. Didalam kotak nampak sepasang cincin pria dan wanita menyerupai kawin. Benar, itu adalah cincin kawin yang sudah ia pesan beberapa hari lalu. Ia berniat memberikan salah satunya kepada Ananya, dan satunya lagi akan ia kenakan.


Hari ini ia tidak berniat ke kantor, melainkan ingin menemui pengacara untuk mengurus perceraiannya dengan Ananya. Tekadnya sudah bulat untuk melepaskan Ananya.


"Mungkin inilah jalan terbaik untuk kita berdua." Kata Alvaro sembari menatap Buku nikah dan kotak cincin yang ia pegang.


TO BE CONTINUED


Maaf author cuma bisa update segini, author sudah ngantuk parah. Maklumlah auathor lagi hamidun baru 3 minggu jadi sangat wajar jika author gampang capek dan ngantuk.


Tolong, bantu author untuk memberikan rate 5 bintang


Tinggalkan jejak anda setelah membaca novel****ku.


Like dan comment please...