Suddenly Married

Suddenly Married
Hobby Baru Ananya.



Jantung Varo berdegup kencang mendengar pengakuan Ananya. Ia memegang tangan Ananya yang masih melingkar di perutnya, melepasnya perlahan. Ia membalikkan badannya menatap mata Ananya ingin mencari kebenaran disana, namun ia tak menemukan sedikitpun kebohongan dari mata teduh itu.


"Apa kamu serius ?" tanya Varo dan Ananya hanya mengagguk menjawabnya. Bibir Varopun tertarik menampilkan senyum indahnya.


Dengan refleks Ananya berjinjit meraih bibir Varo, ia menempelkan bibirnya dengan bibir Varo dengan singkat. Dengan seringai kemenangan, Varopun memulai aksinya memainkan bibir Ananya dengan rakus, ditariknya pinggang Ananya agar ubuh Ananya bisa menyatu dengan tubuhnya. Ananyapun mengangkat kedua tangannya mengalungkannya di leher Varo.


Setelah keduanya merasa kehabisan nafas, ciuman panas pun terhenti.


"Apa kamu sudah memikirkannya ?" Kata Varo lagi yang enggenggam kedua tangan Ananya.


"Iya..." jawab Ananya dengan seyuman.


"Ajari aku untuk mencintaimu." Ananya langsung memeluk tubuh suaminya.


"Jadilah istriku, sekarang dan selamanya." Kata Varo.


Jantung Ananya seolah meronta-ronta meminta untuk keluar dari tempatnya. Perasaanya kini bercampur aduk, antara malu, takut dan bahagia. Baru kali ini ia seekstreme ini dengan lawan jenis.


Alvaro memeluk tubuh ramping istrinya, mengusap rambutnya dan mencium pucuk kepala sang isteri. Ananya hanya memejamkan mata menerima perlakuan dari Varo yang sangat menenangkan hati menurutnya.


Alvaro meregangkan pelukannya. Kini ia yang menuntun Ananya untuk duduk di sofa. Namun kali ini Varo meminta Ananya untuk duduk di pangkuannya. Awalnya Ananya menolak, namun Varo langsung menarik tubuh Ananya dan menguncinya dengan pelukannya. Varo menikmati aroma tubuh istrinya, wangi yang sangat lembut dan tidak menusuk di hidung.


"Jadi sekarang ini kita sudah menjadi suani istri sungguhan ?" Goda Varo, lagi-lagi Ananya hanya mengangguk malu-malu menjawab pertanyaan suaminya.


"Berarti... sudah boleh dong..!" Bisik Varo di telinga Ananya yang sontak membuat bulu kuduk Ananya berdiri, di tambah lagi pergerakan tangan Varo yang mulai nakal di perut Ananya. Varo belum menyentuh ke area sensitif saja Ananya sudah merasa geli minta ampun.


Ananya berdiri dan pindah posisi duduk di samping Varo karena mulai merasa tidak nyaman.


"Kak, ini kantor bukan di rumah." bisik Ananya.


"Berarti kalau di rumah nanti boleh dong..!" Goda Varo.


"Issh... apaan sih." Wajah Ananya kembali memerah setelah di goda Varo.


Kruuyuuk...kruyuuukk....!


Keduanya saling bertatapan, kemudian tertawa dengan bersamaan.


"Sayang, kamu belum makan ?" kata Varo. Ananya yang mendengar Varo memanggilnya dengan sebutan sayang kembali memancarkan hawa panas dari dalam tubuhnya. Wajahnya kembali memerah seperti tomat.


"Belum, sejak semalam..." Jawabnya maku-malu.


"Ya ampun... maaf yah. Kalau begitu sekarang kita cari makan, setelah itu aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Kata Varo.


"Kemana ?" Tanya Ananya penasaran.


"Rahasia, nantijuga kamu akan tahu." Jawab Varo.


"Bagaimana dengan pekerjaanmu ?" Tanya Ananya lagi.


"Kan ada Heri... ayolah kita pergi sekarang."


Alvaro berdiri diikuti oleh Ananya. Keduanya melenggang pergi meninggalkan ruangan yang menjadi saksi penhatuan mereka. Sepanjang perjalanan Alvaro menggenggam tangan Ananya dan Ananya pun tak henti-henti menatao wajah suaminya.


Tak sedikit dari para karyawan yang bergosip tentang kedekatan keduanya. Ada yang iri, ada yang cemburu bahkan ada yang terkagum-kagum melihat pasangan yang nampak serasi itu. Terjawab sudah rasa penasaran mereka akan beredarnya tentang pernikahan rahasia keduanya.


Vino yang juga melihat kedekatan keduanya nampak sedih dan cemburu. Ia berusaha ikhlas menerima kebahagiaan kakaknya.


"Loh kenapa kita ke rumah mama ?" Tanya Ananya saat memperhatikan jalan yang sudah mendekat ke arah Mansion Keluarga Wijaya.


"Mama sudah sangat merindukan menantunya. Ia selalu menanyakanmu." Jawab Varo.


"Maafkan aku, kak...!" Ananya menunduk sedih.


"Sudah, tidak apa-apa. Semuanya sudah berlalu, demi hubungan kita dan mama, anggap semuanya tidak pernah terjadi, okay ?" pinta Varo dan Ananya mengangguk menyetujuinya.


Varo memarkirkan mobil di garasi kemudian menggandeng tangan Ananya ke dalam ke dalam rumah.


"Mama...!" Varo sedikit mengeraskan suarnya. Ia melihat ke arah dapur, ternyata Sang Mama ada di dalam bersama bu Mirah.


"Mama...!"


"Iya Mama..." Ananya langsung memeluk ibu mertuanya kemudian menuju ke arah Bu Mirah dan memeluknya juga.


"Ibu masak apa ?" tanya Varo ke Bu Mirah.


"Pantas saja hari ini ibu pengen sekali masak makanan kesukaannya Varo, ternyata Nak Varonya mau berkunjung." timpal Bu Mirah.


"Hmm... kelihatannya sangat lezat. Apa sudah boleh di makan ?" tanya Varo.


"Tentu saja, ayo kita makan. Kamu duduklah, Mama akan panggil papa kamu dulu." Kata Diandra dan berjalan menuju ruang kerja Papa Ryan.


Tak lama kemudian Papa Ryan pun datang diikuti Mama Dian di belakanganya. Mereka berlima pun makan bersama. Mata Ananya seolah mencari-cari sesuatu, namun ia merasa sungkan bertanya kepada Varo atau yang lainnya.


"Apa kamu mencari Vino ?" Bisik Varo di telingan Ananya.


"Ia memang jarang pulang ke rumah untuk makan siang. Mungkin dia bersama Heri." Tambah Varo kemudian melanjutkan makannya. Ananya merasa kurang nyaman karena kepergok mencari Vino.


Setelah makan siang, Varo meminta ijin kepada ayahnya untuk tidak masuk kantor dulu dengan alasan ingin mengajak Ananya ke suatu tempat. Papa Ryanpun mengerti akan kondisi anaknya saat ini yang masih tergolong pengantin baru.


Setelah berbicara dengan ayahnya di ruang kerja, Varo pamit ke kamarnya dan mengajak Ananya ikut dengannya.


"Mama, boleh Varo pinjam Ananya sebentar ?" Pinta Varo pada Mama Diandra yang tengah asyik mengobrol dengan Ananya.


"Tentu saja, mama juga mau istirahat sebentar. Mama tinggal yah sayang.." Pamit Diandra pada menantunya.


"Ikutlah denganku.." kata Varo dengan nada dinginnya.


"Hhmmm... kenapa dia berubah jadi dingin lagi yah ? Apa karena waktu makan siang tadi ??" Aaahhh... aku benar-benar bodoh." Gumam Ananya dalam hati sambil melangkahkan kakinya mengikuti Varo.


"Kita mau kemana kak ?" Tanya Ananya dengan nada ragu.


"Ke kamarku." Jawabnya singkat.


"Buat apa ?" Pertanyaan Ananya berhasil membuat langkah Varo terhenti tiba-tiba dan membalikkan badannya menoleh kepada Ananya.


Sontak Ananyapun mematung dengan wajah takutnya menatap ke arah Varo.


"Aku akan memakanmu." Kata Varo lagi kemudian melanjutkan langkahnya.


Ananya bergidik ngeri melihat tatapan Varo yang seolah akan mengulitinya saat itu juga.


"Kenapa dia berubah jadi seseram itu ?" Gumamnya dalam hati.


Keduanyapun masuk ke dalam kamar mewah yang dominan berwarna Abu dan putih kemudian Varo menutup pintu dan menguncinya.


"Seharian ini sudah berapa kali kamu mengumpatku ? Sepertinya kamu sangat suka mengumpatku." gerutu Varo, namun Ananya hanya menunduk takut mendengar perkataan suaminya.


"Duduklah..!" Perintah Varo.


"Kak, apakah ini kamar tidur kakak ?" Tanya Ananya memberinikan dirinya.


"Iya !" Varo berjalan medekati Anannya yang duduk di sofa. Ananyapun menggeser duduknya menjauh dari Varo namun Varo semikin menghimpit tubuh Ananya yang nampak sudah berada di sudut Sofa.


"Apa yang akan kakak lakukan ?" Ananya berusaha memaksakan senyumnya.


"Tidak ada, hanya mengambil ini." Tunjuk Varo pada koper yang berada di dekat sofa. Wajah Ananya seketika memerah karena menahan malu. Ia teringat akan kejadian tadi saat di ruang kerja Varo, saat keduanya berciuman.


"Maukah kau membantuku mengemas sebagian pakaianku ?" Pinta Varo.


"Oh.. tentu saja. Kemarikan kopernya dan tunjukkan dimana lemari pakaian kakak." Varo membawa kopernya menuju salah satu ruangan yang ada di kamarnya. Lagi-lagi Ananya berdecak kagum.


"Wooww.... ruangan di dalam ruangan. Luar biasa..!" Gumamnya sambil membelalakkan mata menatap wardrobe milik Varo.


"Sebagian saja, tidak usah semuanya." kata Varo kemudian menuju ke meja kerjanya mengambil beberapa berkas dan memasukkannya ke dalam map folder.


TO BE CONTINUED


Ayo.... Like dan Commentnya.


Vote sebanyak-banyaknya biar author lebih semangat 🥰🥰