
Arjuna mengerjapkan kedua matanya, saat pagi telah menyapa. Ia menggeliat lalu merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku. Meraba sisi sebelahnya yang kedua matanya yang setengah terpejam, mengernyit heran saat tidak ada istrinya di sampingnya.
"Kemana dia?" Arjuna berucap pelan saat kedua matanya terbuka dengan lebar. Ia mengedarkan pandangan keseluruh kamarnya itu, istrinya tidak ada di sana.
Segera turun dari atas tempat tidur, menuju kamar mandi, barang kali istrinya ada di sana, namun hasilnya nihil. Tidak menyerah, ia kemudian keluar kamar untuk mencari istrinya.
"Selamat pagi Abang," sapa Bibi yang sedang mengepel lantai di ruang tamu.
"Pagi, Bi," jawab Arjuna tanpa menatap Bibi, karena pandangannya saat ini sedang mencari keberadaan Aluna di sekitar sana.
"Mencari siapa?" tanya Bibi saat melihat anak majikannya itu celingukan, seperti mencari seseorang.
"Aluna kemana, Bi?" Arjuna balik bertanya sembari mengacak rambutnya dengan resah, pasalnya ia sudah mencari keberadaan istrinya di setiap sudut rumah tersebut, ia tidak menemukannya.
"Non Aluna berangkat kuliah, Bang. Tadi pagi di antar orang tua Abang," jawab Bibi, sembari mengangkat ember untuk mengepel lalu berpindah ke bagian lainnya.
"Tadi pagi?" Arjuna mengernyit lalu menatap jam yang tertempe di dinding ruang tamu tersebut. "What the ..." Kedua mata Arjuna melebar saat melihat waktu sudah menunjukkan jam sembilan pagi.
Arjuna mengusap wajahnya dengan kasar, ia bangun kesiangan karena tadi malam dirinya tidak bisa tidur lantaran di belakangi oleh Aluna. Istrinya itu sulit di ajak bicara jika sedang marah.
"Sial! Rasanya nggak enak banget di cuekin istri! Gara-gara foto laknat!" umpat Arjuna seraya menaiki anak tangga, menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Ia memutuskan ke kampus Aluna untuk membujuk istrinya itu. Dengan style yang apa adanya. Hanya memakai kemeja lengan panjang yang di gulung sampai ke siku, dan bagian dadanya terbuka lebar, di padukan dengan celana jeans berawarna abu, tidak lupa waistbag berwarna senada dengan celananya tersampir di pundaknya, untuk menunjang penampilannya itu.
Sepertinya semua itu adalah outfit andalan Arjuna, sederhana, berantakan namun tidak menghilangkan ketampanannya, justru malah sebaliknya, ia malah semakin terlihat sangat tampan.
Benar kata orang, kalau orang ganteng mau pakai pakaian apa pun akan tetap terlihat ganteng. 🤣
*
*
*
"Kamu mengganggu waktu tidurku, Luna!" Mia menguap sembari merebahkan kepalanya di pudak Aluna dengan lesu.
"Dasar buffalo!" Aluna mencebikkan bibirnya, lalu ia menyedot es teh manis yang ada di hadapannya. Ya ... saat ini mereka berdua berada di kantin kampus.
"Jadi kenapa kamu mengajakku berangkat sepagi ini? Kelas kita 'kan masih lama, habis dzuhur nanti," keluh Mia.
Aluna mengedarkan pandangannya, mengamati sekelilingnya saat melihat mahasiswi dan mahasiswa yang sedang menatap ke arahnya. Kabar pelecehan seksual tentang dirinya sudah mereda, hanya saja ingatan itu masih membekas di benaknya, membuat Aluna merasa tidak nyaman.
"Hei! Malah diam?" Mia menggoyangkan bahu temannya itu.
"Mia apa yang kamu lakukan jika kekasihmu masih menyimpan foto mantannya?" Aluna merasa membutuhkan teman curhat untuk masalahnya itu.
Mia yang memejamkan kedua mata kini membuka matanya dengan lebar, lalu menegakkan tubuhnya menatap Aluna dengan serius.
"Jangan bilang kalau suamimu, masih menyimpan foto mantan kekasihnya?" tebak Mia dengan raut wajah yang terkejut.
"Ya, seperti itulah. Aku harus bagaimana, rasanya aku marah, sakit hati dan merasa dikhianati oleh dia," keluh Aluna sembari mengusap wajahnya kasar dengan perasaan gamang.
***
Bestie jangan lupa Vote, komentar, like, dan Gift-nya ya. ❤❤