
"Apa kamu yakin akan bekerja dengan paman Ryan ?" Melda seolah tawar menawar dengan putri sulungnya agar membatalkan keberangkatannya ke Kota J untuk bekerja di Wijaya Group.
"Harusnya kamu disini saja sayang, bantu mama dan papa mengelola hotel." Rengek Melda sembari merapikan pakaian Sherly ke dalam koper.
"Ayolah Mama... Ini adalah kesempatan emas buat Sherly, Ma.. Sherly ingin mencari pengalaman, dan Wijaya Group merupakan tempat yang pas buat Sherly belajar dan mengasah kemampuan. Lagian kan masih ada Alex yang akan bantu Mama sama Papa." Kata Sherly.
"Kamu tau kan, Alex masih sekolah dan belum bisa membantu apa-apa." Melda.
"Justru karena itu, Ma.. Lebih baik mulai dari sekarang Mama dan Papa mengajak Alex ikut bergabung mengelola hotel. Biarkan dia belajar, seperti Sherly dulu." Sambung Sherly.
"Tapi Mama akan sangat kehilangan kamu sayang..."
"Aaahhh Mama, jangan kayak gini dong.. Sherly janji akan sering-sering pulang menjenguk mama, papa, sama Alex." Sambil bermanja-manja di pundak sang ibu.
"Sher, baru saja kamu menyelesaikan kuliahmu di luar negeri, sekarang kamu sudah akan pergi lagi. Tak terasa gadis kecil Mama ini sudah tumbuh dewasa. Hanya saja, sampai sekarang kamu belum memiliki kekasih lagi setelah putus dengan Steven." Melda terlihat sedih yang di buat-buat.
"Mama, ya namanya bukan jodoh mau gimana lagi, aku sama Steven memang tidak cocok, Ma.. Lagipula Sherly masih mencintai cinta kanak-kanak Sherly sampai sekarang ini, meskipun ia sama sekali tidak pernah memandangku."
"Mama tau siapa yang kamu maksud, nak. Ternyata kejadian itu terulang lagi. Persis Mama yang selalu mencintai Om Ryan, namun sama sekali tak pernah di balas olehnya. Mama bisa mengerti perasaanmu,nak.!" Gumam Melda sembari mengelus rambut indah anaknya.
"Jangan sedih begitu, Tuhan pasti punya rencana yang lebih hebat untukmu sayang. Mungkin memang pria itu tidak pantas untukmu, Mama yakin kamu akan menemukan pria yang jauh lebih baik dari dia dan cocok untukmu." Melda menghibur putrinya.
"Aamiin... Doakan Sherly yah Ma.." Acara mengemas barang pun selesai, Melda kini menuju kamar tidurnya menemui sang suami. Sedangkan Sherly sendiri malah asik melamun.
"Aku akan menyusul kak Varo, kali ini aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hati kak Varo. Yah, aku akan berusaha." Gumam Sherly lirih.
****
Pagi itu, Sherly menuju ke Bandara di antar oleh Mama dan adiknya Alex. Papa Hendra tidak ikut mengantar karena ada pertemuan dengan client.
"Kamu jaga diri yah disana, jika ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungi Mama dan Papa. Tante Dian yang akan menjemputmu di bandara, kamu jaga kesehatan yah sayang."
" Mama... sudahlah jangan berlebihan. Sherly sudah gede, lagian ini bukan pertama kalinya Sherly bepergian seorang diri. Bahkan Ke negara yang lebih jauh pun Sherly pernah hidup sendiri. Lagian kan Sherly tinggalnya bersama Mama Dian, jadi Mama jangan khawatir." Memeluk erat ibunya.
"Ingat, kamu hati-hati sama Vino. Jangan biarkan dia menjahilimu lagi., okay ?"
"Haahaa... iya mama. Lagian Vino juga udah dewasa bukan anak kecil yang nakal lagi. Mama lihat sendiri kan kemarin dia sudah memperlakukan Sherly dengan baik."
"Iya..iya... Mama tahu. Pergilah, nanti kamu ketinggalan pesawat."
"Dagh Mama... Alex jaga mama yah, jangan nakal !" Sherly berlalu sambil melambaikan tangan kepada Mama dan Adiknya. Melda mematung menatap kepergian anaknya sampai sosoknya benar-benar tidak terlihat lagi diantara kerumunan orang banyak.
EPILOG (FLASH BACK)
Semasa kecil Sherly, ia tumbuh dan besar di mansion keluarga Wijaya. Saat ia lahir, Melda pindah ke Kota J karena maresa kesepian di Kota M, terlebih lagi waktu itu Hendra tengah sibuk-sibuknya memulai bisnis dan mengelola Hotel yang dihibahkan untuknya oleh Papa Raka. Setiap akhir pekan, maka Hendra akan mengunjungi anak istrinya di Kota J.
Ia pun tumbuh bersama Varo dan Vino. Saat itu, Usia Varo menginjak 6 tahun sedangkan Ia dan Vino baru lahir, hanya selisih 6 bulan saja. Tentu saja Vino yang lebih tua 6 bulan darinya.
Sherly adalah gadis kecil yang cantik, manis, sopan serta lemah lembut. Berbeda dengan Vino yang sangat aktif dan suka membuat onar. Kerap kali Vino menggodanya hingga ia menangis. Dan Varo akan menjadi penyelamatnya. Setiap kali ia di bully oleh Vino maka ia akan mencari kakak Varo yang selalu melindunginya.
Hingga mereka tumbuh remaja pun, Vino masih suka mengganggunya. Meskipun demikian, tapi Vino tidak pernah sampai bertindak kurang ajar kepada Sherly. Ia hanya mengganggunya saja karena saat Sherly merajuk atau menangis wajahnya akan terlihat sangat menggemaskan bagi Vino. Terlepas dari semua itu, ketiganya saling menyayangi satu sama lain.
Sejak saat itu, Sherly mulai menaruh hati kepada Varo. Ia merasa nyaman dan terlindungi saat bersama Varo. Hanya saja, Varo terlalu kaku dan dingin untuk memahami perasaan Sherly. Lagipula, Varo menyayangi Sherly hanya sebagai seorang, tidak menyayanginya sebagaimana seorang pria menyayangi serang wanita.
Flashback Off.
***
"Sherly, disini sayang !" Diandra melambaikan tangannya saat melihat sosok tubuh mungil yang ia kenal.
"Mama Dian... Udah lama Ma ?" Tanya Sherly yang memanggil Diandra dengan sebutan Mama karena permintaan Diandra saat kunjungan terakhirnya.
"Baru tiba juga, ayok sayang... Pak, Tolong bawakan koper Sherly ke mobil." Pinta Diandra kepada supirnya. Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran mobil.
"Bagaiman, apa kamu lelah ?" Tanya Diandra.
"Hhmm... tidak juga Ma, hanya saja sedikit Jet lag tadi di pesawat."
"Kalau begitu, kita langsung pulang saja yah, Ibu Mirah sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu. Oma Rika juga ada loh ?"
"Benarkah, Ma ?? Sudah lama Sherly tidak ketemu dengan Oma."
Selama empat puluh menit perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di mansion keluarga Wijaya. Wajah Sherly nampak berseri akhirnya menginjakkan kakinya di rumah itu lagi. Rumah yang menjadi saksi dimana cintanya tumbuh detik demi detik kepada Varo.
"Oma...." Sherly menghampiri Oma Rika yang tengah bersantai di ruang keluarga kemudian memeluknya.
"Hei gadis cengeng, kamu sudah sampai. Semakin cantik saja cucu oma ini."
Oma Rika membelai lembut wajah cantik Sherly.
"Oma sehat kan ?" Tanya Sherly.
"Tentu saja, seperti yang kamu lihat. Oma selalu sehat sayang." Jawab Oma.
"Kangen-kangenannya nanti dulu, ayo kita makan siang..!" Papa Ryan tiba-tiba muncul dari ruang keluarga kemudian menghampiri Sherly den merangkulnya.
Sherly sudah Ryan anggap seperti putrinya sendiri. Jadi tidak heran jika keduanya nampak sangat akrab dan dekat. Wajarlah, ia melihat sendiri bagaimana gadis itu tumbuh di rumahnya. Kerap kali ia menggantikan peran Hendra yang saat itu tengah berjuang untuk memulai bisnisnya dan berada jauh dengan anak istrinya. Rasa sayang Ryan kepada Sherly tidak berbeda dengan rasa sayangnya kepada kedua putranya.
.
.
.
.
.
.
To be Continued.
Mohon meninggalkan jejak setelah membaca.
LIKE
COMMENT
SHARE
ADD FAVORITE
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote Sebanyak-banyaknya.
Mohon kritik dan sarannya
Tetap jaga kesehatan yah teman-teman. Jangan anggap remeh pandemi ini.
Senantiasa jaga jarak, tetap gunakan masker dan rajin mencuci tangan
THANK YOU 🥰😘
Poin mana poin 😁😁😁