
Di tempat lain, Ananya nampak termenung mengingat perkataan Vino. Ia masih mencintai pria itu, namun Ananya belum bisa menerima sikap ke kanak-kanakannya. Sedangkan Varo ? Ia sangat mengagumi sosok yang sangat dewasa itu. Ia begitu menghormatinya. Meskipun ia tidak tau bagaimana perasaan Varo sendiri, namun selama mengenalnya tak pernah sekalipun Varo menunjukkan sikap yang kurang berkenan di hati Ananya. Bahkan ia selalu menolong dan selalu ada buat Ananya.
Berbeda dengan Vino, ia selalu merasakan sakit sendiri saat bersamanya. Tidak hanya sekali dua kali Vino pergi tiba-tiba dan meninggalkannya demi wanita lain saat mereka sedang bersama.
"Bunda... bunda dimana ?" Ananya mencari Anna.
"Kenapa teriak-teriak ? bunda di kamar tadi." Jawab Anna.
"Bunda, ada yang ingin Ananya sampaikan. Nya tidak tau lagi harus bagaimana. Nya bingung bunda..." Ananya napak lesu.
"Ayo, sini duduk dulu. Ceritakan semuanya kepada bunda."
Ananya pun menceritakan apa yang selama ini mengganjal dalam hatinya. Ia menceritakan semuanya kepada Anna, mulai dari sejak kapan ia mulai jatuh cinta kepada Vino, sampai kejadian semalam dimana Vino memintanya untuk meninggalkan suaminya demi hidup bersama Vino.
"Nak, Bunda tidak akan memberikanmu pilihan. Bunda mau Nya sendiri yang menentukan pilihan Nya sendiri. Sebaiknya, Nya memikirkannya matang-matang. Tapi jika Nya meminta pendapat bunda, maka bunda akan mengemukakan pendapat Bunda. Saat ini yang terpenting adalah kebahagiaan dan kenyamanan Nya sendiri. Bunda tidak meminta Nya untuk egois, tapi terkadang kita pun harus memikirkan diri sendiri ketimbang orang lain. Kalau Nya masih mencintai Vino, yah mau bagaimana lagi. Hati memng tidak bisa berbohong. Akan tetapi, Jika Nya meninggalkan Varo untuk bersama Vino, itu jelas salah menurut bunda. Biar bagaimanapun, sekarang Nya adalah istri sah Varo. Sah di mata hukum dan agama." Anna menjelaskan.
"Kami hanya menikah secara agama bunda, pernikahan kami bahkan belum di daftarkan." Kata Ananya membantah perkataan Anna.
"Siapa bilang pernikahan kalian belum terdaftar ? Asal Nya tahu, Varo sudah mendaftarkan pernikahan kalian di catatan sipil. Kalian ini sudah resmi dan sah." Anna.
"Tapi bagaimana mungkin bunda ? Nya bahkan tidak tau, Kak Varo tidak pernah memberi tahu Nya."
"Semalam Varo disini, namun kamu mengunci diri di kamar. Varo berpesan kepada bunda untuk menjagamu sementara waktu, entah apa maksud dari perkataannya. Ia juga mengatakan kalau ia akan mengnap di rumah Mamanya. Kalau bunda lihat, sepertinya ada sesuatu hal yang membuatnya sedih."
"Benarkah bunda ? kalau benar Varo di rumah Mama, pasti Mama Dian akan bertanya kenapa Varo pulang kesana tanpa Nya." Ananya kini mencemaskan Varo. Tiba-tiba ia mengingat pertemuannya dengan Vino di coffeshop. Saat itu Ada seorang pria yang nampak tak asing duduk membelakanginya. Namun karena Vino datang ia pun tidak memperhatikan pria itu.
Ananya semakin ragu, ia masih sangat mencintai Vino, namun ia pun tidak begitu yakin jika harus melepaskan Varo yang sudah sangat baik kepadanya selama ini. Mengingat janjinya kepada ibu Lena dan pesan terakhirnya sebelum beliau meninggal.
"Bunda... apa yang harus Nya lakukan sekarang ? Nya bear-benar bingung." Ananya tertunduk lesu, membiarkan air matanya lolos begitu saja. Anna hanya mengusap punggung keponakannya dengan maksud memberikan kekuatan dan ketenangan kepadanya.
"Jangan biarkan masalah ini sampai berlarut-larut nak. Teguhkan perasaanmu, kamu harus tegas dalam menentukan pilihan. Tapi terlebih dahulu kamu harus menenagkan pikirannmu agar tidak salah dalam mengambil keputusan. Apapun keputusan Nya, bunda akan mendukung Nya."
"Bunda benar, Ananya ingin pergi ke kampung halaman Ayah. Untuk sementara Nya ingin tinggal bersama paman Aiman dan bibi Nurul. Disana Nya akan menenangkan diri bunda. Nya janji tidak akan lama. Siapa tau, dengan tidak adanya mereka berdua di sisi Nya maka Nya akan bisa dengan mudah menentukan pilihan." Ananya.
"Terserah kamu saja, nak. Tapi bunda minta kamu tetap minta ijin kepada suami kamu. Jangan buat dia khawatir. Varo adalah pria yang baik, bunda rasa dia akan mengerti."
"Iya, bunda Nya akan menelponnya."
"Tidak nak, jangan menelponnya, temui dia... Bicarakan langsung apa tujuanmu kesana."
"Tapi Nya takut bunda... Nya juga malu bertemu dengan kak Varo."
"Bersikaplah dewas sayang, Varo tidak akan marah. Bunda yakin akan hal itu."
"Baiklah bunda, besok sebelum berangkat Nya akan menemui kak Varo di kantornya."
Rembulanpun menyapa, pertanda sang malam mulai menunjukkan kekuasaannya. Lagi-lagi Varo memilih untuk tidur di ruangan pribadinya di Wijaya Group. Ruang kerjanya sudah di design khusus menyediakan satu kamar mewah dan dilengkapi dengan keperluan lainnya layaknya kamar tidur pada umumnya. Disana pun sudah tersedia peralatan mandi serta pakaian ganti yang biasa Varo gunakan.
Diambilnya ponsel diatas meja kerjanya, kemudian menatap salah satu foto di gallerynya. Foto Ananya yang ia ambil tanpa sepengatahuan Ananya.
"Manis..." Senyum manis tercipta di sudut bibirnya.
"Apa aku bisa melepasmu ? Salahkah jika kali ini aku mementingkan diriku sendiri ? Ananya, kamu nyaris membuatku gila. kamu benar-benar membuatku jatuh cinta, jatuh se jatuh-jatuhnya." Gumam Varo lirih sembari menatap foto Ananya.
Diambilnya dua buku kecil berwarna merah dan hijau dari dalam laci, yang satu milik Alvaro, dan satunya lagi milik Ananya. Yah, itu adalah buku nikah Alvaro dan Ananya sebagai dokumen sah bukti pernikahan mereka.
Ia berjalan ke arah jendela, membukanya lebar-lebar hingga semilir angin menerpa wajahnya. Diambilnya sebatang rokok dari dalam kotaknya kemudian menyalakan korek api dan membakarnya. Varo bukanlah pecandu rokok, namun di saat seperti ini, ia nampak membutuhkan benda itu untuk sekedar memberikan ketenangan pada otaknya. Hanya beberapa kali hisap, Varo pun mematikan rokoknya, kemudian membakar rokok yang lain lagi.
Sepertinya ia memang benar-benar stress dan frustasi.
Ia memberanikan diri mengirim pesan kepada Ananya.
"Bagaimana keadaanmu ? Maaf aku masih sangat sibuk, aku akan segera pulang menemuimu." Send....
Pesan pun terkirim, tak lama kemudian ponsel itu berbunyi, pertanda notifikasi pesan masuk.
"Jangan khawatirkan Nya kak, Nya baik-baik saja. Besok Nya akan ke kantor kakak, kakak jangan bekerja terlalu keras. Istirahat dan makan yg teratur yah kak."
Ada rasa bahagia yang menyelimuti hati Varo saat ini setelah membaca pesan dari Ananya yang nampak peduli kepadanya. Ia semakin ragu untuk melepasnya. Ia pun membalas pesan dari Ananya.
"Sudah larut, istirahatlah. Sampai ketemu besok." Send...
Ananya masih membalas pesan dari Varo.
"Kakak juga istirahat yah, sampai ketemu besok. 😊"
Varo seolah terhypnotis oleh pesan yang dikirimkan oleh Ananya. Seketika ia pun tertidur lelap di kasur empuknya dengan posisi tangan yang masih menggenggam erat benda pipih yang menjadi media komunikasi mereka malam ini. Meskipun hanya sekedar pesan singkat, namun Varo sangat bahagia membacanya.
.
.
.
.To be Continued.
Mohon meninggalkan jejak setelah membaca.
LIKE
COMMENT
SHARE
ADD FAVORITE
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote Sebanyak-banyaknya.
Mohon kritik dan sarannya
Tetap jaga kesehatan yah teman-teman. Jangan anggap remeh pandemi ini.
Senantiasa jaga jarak, tetap gunakan masker dan rajin mencuci tangan
THANK YOU 🥰😘
Poin mana poin 😁😁😁