
Usai memebersihkan diri, ia mengenakan pakaian yang lebih santai dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang, Ditariknya laci atas nakas yang ada di samping ranjang mewah berukuran king size itu kemudian mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah dari dalam laci. Saat membuka kotak itu, hatinya seolah teriris, perih rasanya. Didalam kotak nampak sepasang cincin pria dan wanita menyerupai cincin kawin. Benar, itu adalah cincin kawin yang sudah ia pesan beberapa hari lalu. Ia berniat memberikan salah satunya kepada Ananya, dan satunya lagi akan ia kenakan.
Hari ini ia tidak berniat ke kantor, melainkan ingin menemui pengacara untuk mengurus perceraiannya dengan Ananya. Tekadnya sudah bulat untuk melepaskan Ananya.
"Mungkin inilah jalan terbaik untuk kita berdua." Kata Alvaro sembari menatap Buku nikah dan kotak cincin yang ia pegang.
Alvaro mengambil kunci kontak mobilbilnya kemudia meninggalkan apartement menuju parkiran. Ia menaiki mobilnya meninggalkan area parkir menuju kantor pengacara keluarganya. Dalam perjalanan, ia menelpon seseorang namun tetap fokus mengemudikan mobilnya.
"Lex... apa kamu ada di kantormu ?"
"Iya, aku di kantor. Ada apa ?"
"Baiklah, tunggu aku. Aku segera kesana." Panggilan di akhiri, Varo menambah laju kendaraannya.
Tak lama kemudian, Varo pun tiba di kantor Pengacara Keluarganya dan langsung menemui Alex. Tanpa mengetuk pintu Varo langsung masuk ke dalam ruangan Alex. Matanya seolah di kutuk saat melihat pemandangan yang ada di depannya, dimana Alex yang tengah asik mencumbui seorang wanita yang duduk di pangkuannya. Alex menghentikan aktifitasnya saat ia menyadari akan kehadiran Varo di ruangannya.
"Keluarlah, akan kita lanjutkan nantu." Bisik Alex pada wanita di depannya. Sesaat wanita itu merapikan pakaiannya yang nampak lusuh akibat ulah Alex kemudian melenggang pergi.
"Kamu menggangguku saja." Alex
"Kan tadi aku sudah bilang mau kesini, kamunya saja yang todak tahu tempat. Ini kantor, bukan kamar hotel." Celutuk Varo.
"Heehhh... enak saja. ini kantorku, ya suka-suka aku dong." Kata Alex.
"Sudahlah,,, aku butuh jasamu." Kata Varo mengalihkan pembicaraan.
"Katakanlah, apa yang harus aku lakukan ?" kata Alex.
"Tolong bantu aku mengurus perceraianku !" Perintah Varo.
"Appaa....? Baru juga minggu lalu kamu menyuruhku mengesahkan pernikahanmu di kantor catatan sipil, sekarang sudah mau bercerai ? Hmmm... benar-benar, sultan mah bebas...!" Ledek Alex.
"Bukan seperti itu..." Varo.
"Apa ? Kamu sudah bosan ?? atau istrimu itu..?" Perkataan Alex menggantung.
"Jangan bicara yang bukan-bukan tentang Ananya. Dia gadis yang baik." Bela Varo.
"Hmm.... baru juga menikah beberapa minggu, sudah jadi janda. Kasian Ananya..." Alex memasang wajah seolah ia kasihan padahal sebenanrnya ia mengejek Varo.
"Diamlah, kau ini...!" Kata Varo yang melempar bantal sofa ke arah alex.
"Baiklah, akan aku urus, tenang saja." Kata Alex.
"Aku pergi dulu, masih ada yang harus aku kerjakan. Akan aku email semua dokumennya. Dan satu lagi, tolong rahasiakan ini dari siapapun, okay ?" Varo berdiri kemudian berlalu dari hadapan Alex.
Varo meninggalkan kantor Alex menuju rumah Ananya. Ia berniat menemui Anna untuk meminta maaf akan keputusan yang akan ia ambil. Bagaimana pun juga Anna adalah orang yan selama ini mendukung hubungannya dengan Ananya jadi ia merasa harus memberitahukan apapun yang terjadi dengannya dan Ananya.
"Bunda tidak bisa berkata apa-apa. Bunda serahkan semuanya kepada kalian, kalian yang akan menjalani dan kalian pula yang harus mengambil keputusan. Pesan bunda, jangan gegabah dan pikirkan semuanya dengan baik. Kalian harus bisa memahami apa dampak atas keputisan yang kalian tempuh. Sebagai orang tua, tentu saja bunda selalu berharap yang terbaik buat kalian." Anna nampak Lesu.
"Bunda, Varo minta bunda tidak usah memberi tahukan Ananya soal perasaan Varo." kata Varo menatap lurus ke depan.
"Kenapa nak ? Nya harus tau perasaanmu yang sebenarnya." Timpal Bunda Anna.
"Secara tidak langsung Varo sudah mengatakannya pada Ananya, namun Varo ingin agar Ananya merasakan dan menyadarinya sendiri. Aku akan memberinya waktu untuk jatuh cinta ladaku dan merasakan cintaku." Sambung Varo dengan senyum di wajahnya.
"Bagaimana jika Ananya tidak menyadarinya ?" Tanya Anna lagi.
"Mungkin memang kami tidak di takdirkan bersama." Varo tersenyum kecut.
"Cinta tidak pernah salah bunda, ia tahu kemana ia harus kembali, benar khan ?" Kata Varo kemudian dengan senyum di wajahnya menatap Bunda Anna dengan lekat.
"Iya nak, semoga kamu beruntung. Dan bagaimana pun hasil akhirnya nanti, bunda berharap agar kamu selalu bahagia dan kamu akan tetap menjadi anak kesayangan bunda." Kata Anna yang merangkul pundak Alvaro yang merebahkan kepalanya di pundaknya.
Keduanya nampak akrab seperti ibu dan anak. Entah mengapa keduanya terlihat sangat akrab seolah telah lama saling mengenal.
"Bunda, malam ini Varo ingin mengajak bunda makan di luar bersama Mama. Varo minta bantuan bunda untuk menjelaskan semuanya kepada Mama. Varo tidak tega mengatakannya langsung kepada Mama." Pinta Varo.
"Hanya dengan Mamamu saja ?" Tanya Anna dan Varo hanya mengangguk.
"Iya,, papa lagi ke luar kota. Nanti aku akan menjemput bunda."
"Baiklah... demi anak kesayangan bunda, bunda akan ikut.!" Kata Anna kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga keduanya sampai lupa waktu.
"Sudah hampir sore, Varo pamit dulu yah bun... Jangan lupa sebentar malam Varo akan menjemput bunda."
"Baiklah, kamu hati-hati... Jangan ngebut-ngebut..!" kata Anna.
Alvaro berlalu meninggalkan kediaman bunda Anna. Setidaknya, perasaannya kini lebih tenang setelah menumpahkan segala isi hatinya kepada wanita paruh baya itu. Ia merasa bahwa Anna adalah orang yang tepat untuk berbagi cerita, dan malam ini ia pun akan berterus terang kepada Diandra sang ibu yang beberapa hari ini selalu menanyakan keberadaan sang menantu. Selama ini, Varo hanya beralasan kepada Diandra bahwa Ananya berada di Luar kota untuk menghilangkan kepenatannya, namun Varo pun tidak tega jika harus terus menerus membohongi sang ibu. Ia sadar, tidak seharusnya ia bersembunyi dari masalah, semakin ia sembunyi makan masalahnya akan semakin rumit.
"Aku tidak boleh bersembunyi, Masalah yang ada harus di hadapi. Kalah menang urusan belakang, yang penting aku sudah mencobanya." Gumam Varo lirih.
*****
TO BE CONTINUED
Maaf author cuma bisa update segini, author sudah ngantuk parah. Maklumlah auathor lagi hamidun baru 3 minggu jadi sangat wajar jika author gampang capek dan ngantuk.
Tolong, bantu author untuk memberikan rate 5 bintang
Tinggalkan jejak anda setelah membaca novel****ku.
Like dan comment please...