
"Apa! Seperti triplek? Kau sungg—" ucapan Aluna terhenti saat menyadari sesuatu. Aluna menatap suaminya dengan intens, "jadi kamu mengharapakan aku?" tanya Aluna, menunjuk dirinya sendiri.
"Menurutmu?!" Arjuna menjawab dengan ketus seraya menaikkan sebelah alisnya.
Aluna memanyunkan bibirnya, kecewa dengan jawaban Arjuna. "Jika kamu mengarapkan aku, kenapa kamu tidak pernah menyatakan cinta kepadaku?" tanya Aluna lagi.
Arjuna menghela nafas saat mendengar pertanyaan istrinya. "Apakah sebuah ungkapan kata cinta sangat penting bagimu?"
"He-em tentu saja. Karena dengan begitu, aku bisa mengetahui apakah kamu tulus mencitaiku atau tidak," jawab Aluna dengan penuh kejujuran.
"Baiklah kalau begitu, dengarkan aku baik-baik karena aku tidak akan pernah mengulanginya dan tanamkan di dalam otak udangmu ini!" ucap Arjuna sembari menuding kening istrinya dengan jari telunjuknya.
"Ehem!' Arjuna berdehem dulu sebelum melanjutkan ucapannya. Entah kenapa ia menjadi gugup dan jantungnya berdetak tidak karuan. "Huh!" Ia menghela nafas dengan panjang, perasaannya menjadi tidak karuan, dan rasa percaya dirinya lenyap begitu saja.
"Cepatlah!" pinta Aluna tidak sabaran.
"Ck, iya! Ehmmm Aluna, cinta kamu," ucap Arjuna dengan pelan, terkesan malu-malu seperti anak SD yang mengungkapkan kata cinta kepada kekasihnya.
Arjuna segera melipat bibirnya, seraya menghadap lurus ke depan sambil mengetuk-ngetuk stir mobil. Wajahnya bersemu merah, karena malu, dan ia enggan menatap istrinya.
"Hah? Kamu bilang apa? Aku tidak dengar?" Aluna memiringkan wajahnya seraya menjenjeng salah satu daun telinganya, berharap jika Arjuna mengulangi ucapannya.
"Dasar tuli!" umpat Arjuna dengan kesal untuk menutupi kegugupannya.
"Ih! Aku memang tidak mendengarnya!" balas Aluna dengan kesal.
"Kemari!" Arjuna menggerakkan jari telunjuknya, bertanda jika Aluna harus mendekat ke arahnya.
Dengan cepat Arjuna menarik tengkuk Aluna, dan melabuhkan ciuman mesra di bibir yang sudah menjadi candunya itu.
CUP
"Emhh!" Aluna memekik kaget saat benda kenyal itu mendarat di permukaan bibirnya dan menyesap bibirnya atas bawah bergantian dengan penuh kelembutan.
Arjuna melepaskan tautan bibir itu. Aluna yang terpejam, perlahan membuka kedua matanya. Tatapan matanya bertemu dengan manik mata abu suaminya yang begitu tajam.
Aluna menjawab dengan anggukan kepala, kedua matanya masih terpaku pada manik abu suaminya yang juga tengah menatapnya.
"Sama. Dadaku juga berdebar jika berdekatan denganmu," ucap Arjuna sembari menarik salah satu tangan Aluna dan meletakkannya di dadanya. "Rasakan detakannya yang seolah menyebut namamu di setiap detiknya," ucap Arjuna dengan lembut.
Aluna menganggukkan kepalanya lagi sambil merasakan detak jantung Arjuna yang seperti genderang perang.
"Apakah kamu masih ragu dengan perasaanku?" tanya Arjuna.
"Tidak." Aluna menjawab sembari menggelengkan kepalanya. Dalam hati ia bahagia dengan ungkapan kata cinta dari Arjuna, walaupun jauh dari ekpetasinya.
Arjuna tersenyum lalu memajukan wajahnya lagi, melabuhkan ciuman lembut di bibir istrinya.
"Aku mencintimu, Aluna Kim," bisik Arjuna di sela ciumannya itu.
"Aku juga mencintaimu, Arjuna," balas Aluna dengan perasaan yang berdebar-debar tidak karuan. Rasanya ia ingin melayang di udara karena merasakan kebahagiaan tidak terkira.
Keduanya itu saling berciuman dengan lembut, saling memanggut dan mellumat. Akan tetapi ciuman yang lembut itu semakin menuntut.
"Ahhh ... shhh ... Jangan di sini," ucap Aluna saat kedua tangan Arjuna melepas satu persatu kancing dress yang ia kenakan, hingga tersembullah dua pepaya california yang segar dan menggiurkan di mata Arjuna.
"Aku sudah tidak tahan," bisik Arjuna dengan suara seraknya.
"Please," mohon Arjuna dengan kedua mata yang sudah sayu, bertanda jika dirinya sudah sangat bergairah.
"Pelan-pelan," jawab Aluna pasrah.
Dan selanjutnya ...
Besok saja ya, otakku mendadak nge-lag🤣😜😜
Vote mana Votenya ya??