
Tangan Tiara bergerak keatas dan menyentuh serta membelai wajah Rivan yang tengah menunduk. Mata Rivan langsung terpejam merasakan belain tangan sang istri yang begitu lembut menyentuh kulit wajahnya. Kembali dia mengangkat wajahnya dan menatap ke arah istrinya yang sedang tersenyum lembut.
Bisa Tiara lihat wajah suaminya yang sudah tidak terlihat marah lagi. Wajah Rivan kini malah terlihat merasa bersalah dan seolah penuh penyesalan. Dan dia tidak ingin melihat wajah suaminya yang seperti itu. Dia ingin melihat wajah Rivan yang begitu mendamba dirinya, wajah Rivan yang menyayanginya.
" Aku yang minta maaf mas" ucap Tiara dengan senyum manis di bibirnya dan tangannya terus membelai dengan lembut wajah suaminya. Dia tidak akan pernah melepaskan seorang pria sebaik Rivan yang telah hadir dalam hidupnya. Akan dia lakukan apa saja agar Rivan terus menjadi suaminya.
Rivan justru menggeleng dengan cepat. " Aku pernah bilang kalau aku akan dengan sabar menunggu kamu untuk membuka hatimu. Tapi bodohnya aku tadi memaksa kamu nurutin kemauan aku, padahal aku tau kamu belum siap. Aku merasa gagal..." sesal Rivan menundukkan kepalanya dan menggeleng.
" Mas..." panggil Tiara kini memegang bahu Rivan dan mengusapnya pelan. Dia tidak suka melihat Rivan terus merasa bersalah apalagi merasa telah gagal menjadi suaminya. Menurutnya Rivan adalah laki laki terbaik yang pernah hadir di hidupnya dan dia tidak akan melepaskannya.
Rivan masih menutup matanya kembali meresapi belaian tangan istrinya yang bermain di bahunya dengan wajah penuh penyesalan. Dia merasa menjadi seorang pecundang yang memaksakan kehendaknya.
" Aku berharap kita gak akan berantem lagi. Aku minta maaf sudah berbuat kasar sayang...." kata Rivan. Kini pria itu sudah kembali memanggil sayang dengan lembut dan penuh perhatian, panggilan yang paling Tiara suka.
" Aku juga gak mau kita berantem lagi" balas Tiara dengan senyuman yang terasa memabukkan bagi Rivan.
" Syukurlah kalau begitu, ternyata aku gak kuat lama lama marahan sama kamu.." katanya dengan perasaan lega dan begitu tulus karena sudah berbaikan dengan istrinya.
Tiara mati Matian menahan perasa. menggebu di dadanya. Belum pernah ada pria yang berkata dia tidak tahan jika terlalu lama marahan dengan dirinya. Semuanya pergi begitu saja seolah tidak menghargai perasaannya dan tidak pantas untuk dipertahankan.
Tapi berbeda dengan Rivan yang membuatnya merasa begitu penting dan berharga. Mengapa Rivan begitu membuatnya menjadi penting dan istimewa? perasaannya membuncah bahagia bisa menjadi orang yang spesial untuk Rivan.
Mereka berdua saling melempar senyum bahagia. Lalu Rivan mendekati kepala Tiara dan mencium puncak kepala sang istri dengan lembut seolah mengungkapkan perasaannya bahwa dia sangat menyayangi Tiara. Dan Tiara juga merasa begitu disayangi oleh Rivan dan menutup mata sejenak meresapi kecupan Rivan di kepalanya.
" Ini sudah malam, kamu nginap saja di sini ya" ucap Rivan begitu selesai mencium kepala Tiara.
Dan sontak saja hal itu langsung membuat Tiara membuka matanya lebar menatap suaminya yang sedang duduk di sebelahnya. Dalam pikiran Tiara apakah Rivan masih meminta dirinya untuk melakukan apa yang dimintanya tadi. Tiara terdiam dengan pikirannya sendiri apa yang harus dia lakukan.
Rivan tersenyum melihat reaksi istrinya yang terkejut dan takut. " Gak usah khawatir sayang, kamu tidur di kamar sini dan aku akan tidur di bawah" kata Rivan berusaha meyakinkan sang istri.
" Ibu pasti khawatir kalau aku gak pulang" ucap Tiara mencari alasan agar dirinya tidak harus menginap di rumah Rivan.
' Tapi kalau aku gak nginap nanti Rivan pasti marah lagi' batin Tiara merasa bingung harus berbuat apa.
" Kamu telepon ibu, beliau pasti gak keberatan kalau kamu tidur di sini, kalau perlu biar aku yang bicara" lanjutnya memberikan saran dengan tersenyum meyakinkan sang istri sambil mengusap rambut Tiara.
Dia tau bahwa sang istri masih merasa takut terhadapnya dan bingung akan melakukan apa. Tapi dia tidak akan memaksa, dia hanya mau Tiara bisa nginap di rumahnya malam ini karena memang hari sudah semakin malam. Selain itu dirinya juga merasa lelah setelah pertengkaran mereka barusan.
" Tunggu sebentar" Rivan langsung pergi keluar dari kamarnya.
Sementara Tiara termenung sendiri di sana berfikir keras antara dirinya dan suaminya.Mau dibawa kemana hubungan mereka? Bagaimana caranya agar pertengkaran seperti tadi tidak terulang lagi kelak? Tiara tidak ingin membuat Rivan merasa bersalah padahal sang suami hanya berusaha ingin menjangkau hati dan dan kepercayaannya. Dan jangan sampai Tiara menjadi perempuan egois yang melepaskan pria sebaik Rivan.
Tiara langsung mengambil ponselnya dan menghubungi sang ibu. Dan saat dia meminta ijin untuk menginap di rumah Rivan terdengar ibunya langsung memberikan ijin. Karena menurutnya memang demikianlah hubungan suami istri bahwa mereka harus tinggal bersama. Tiara langsung meletakkan kembali ponselnya begitu selesai memberikan kabar pada sang ibu.
Setelah mendengar ibu mertuanya memberikan ijin pada Tiara untuk menginap di rumahnya, Rivan langsung beranjak berdiri dan menuju ke walk in closed. Lalu dia membawa piyama dan kembali duduk di sebelah sang istri.
" Di sini gak ada baju cewek, kamu bisa pakai baju ini kalau kamu merasa kurang nyaman dengan baju kerja kamu" memberikan piyama miliknya yang dia rasa bisa dipakai oleh Tiara meskipun ukurannya kebesaran untuk ukuran Tiara.
Tiara menerima piyama milik Rivan di tangannya, namun pikirannya masih bingung harus menjawab apa.
" Kalau kamu merasa gerah, kamu bisa langsung mandi di sana dengan air hangat" tunjuk Rivan pada salah satu pintu di dalam kamarnya dengan tersenyum lembut.
Tiara masih terdiam dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang sedang dia pikirkan seolah dia tidak mendengar ataupun memperhatikan ucapan Rivan.
" Sayang..." panggil Rivan sambil memegang bahu Tiara pelan melihat istrinya tidak bereaksi dari tadi.
" Ahhh iya... ada apa?" tanya Tiara setelah dia tersadar.
Rivan tersenyum melihat reaksi istrinya. " Kamu gak perlu takut, aku akan tidur di sofa bawah" ucap Rivan dengan sabar lalu dia beranjak dari duduknya.
" Tunggu mas... kita belum selesai bicara" buru buru Tiara berucap. Bahkan dia juga langsung memegang pergelangan tangan Rivan sebelum pria itu melangkah pergi.
" It's ok sayang..." Rivan menyentuh tangan Tiara yang memegang pergelangan tangannya dan berusaha untuk melepaskan tangan Tiara dengan lembut. Menurut Rivan sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, lagi pula bukankah pertengkaran mereka telah berakhir dan sudah saling meminta maaf.
Jauh di lubuk hatinya Rivan takut jika mereka akan membicarakan masalah mereka yang baru saja terjadi, akan memicu pertengkaran yang lebih hebat lagi. Rivan akan mencoba untuk lebih kuat dan bersabar menghadapi Tiara. Rivan juga akan bertekad agar bisa lebih menahan untuk tidak mendesak ataupun memaksa Tiara ke depannya lagi.
" Nggak mas.... kita gak bisa terus kayak gini" ucap Tiara menggeleng sambil mengeratkan genggaman tangannya di pergelangan suaminya. Tiara tau jika mereka tidak segera menyelesaikan permasalah diantara mereka hingga tuntas dan benar. Maka bisa dipastikan kedepannya mereka akan tersulut kemarahan lagi jika terjadi masalah yang sama.
Rivan mengerutkan kedua alisnya tajam, lalu dia mendudukkan kembali tubuhnya di sebelah sang istri sambil menggenggam tangan Tiara dengan lembut. " Kayak gimana maksud kamu sayang?" tanya Rivan bingung juga merasa cemas takut jika sang istri mulai menyerah dengan hubungan mereka.
" Kita sudah menikah, tapi kita hidup layaknya bukan bukan suami istri dan itu semua gak bener" ucap Tiara pelan.
" Terus kamu maunya kita gimana?" tanya Rivan lembut dengan mengusap rambut Tiara. Bisa dilihat sang istri merasa begitu tegang dan takut. Rivan juga merasa ketakutan jika mereka harus bertengkar sekali lagi dan dia sudah tidak memiliki kekuatan untuk bertengkar lagi dengan istrinya malam ini.
" Ya... kayak yang kamu bilang tadi" ucap Tiara meremas tangan Rivan berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdebar kencang.
Sekali lagi Rivan menautkan kedua alisnya bingung dengan maksud Tiara. " Aku tadi bilang banyak hal sayang. Tolong lebih spesifik maksud kamu sayang" kali ini tangan satunya memegang pipi Tiara dengan lembut berusaha menenangkan istrinya untuk dapat berbicara lebih jelas.
" Kita... sekamar... seranjang..." jelas Tiara dengan suara terbata.
Mata Rivan langsung terbuka lebar, ada rasa menggelitik di hatinya. Jantungnya seakan mau melompat keluar saat dia memastikan Tiara yang menganggukkan kepalanya. Keduanya membeku sambil saling menatap.