
Saat ini mereka berdua sedang berada di dalam mobil Volkswagen yang dikemudikan dengan pelan oleh Rivan menuju rumah mereka. Sama seperti saat mereka mengendarai mobil mewah milik Rivan yang lainnya kali ini semua orang juga banyak yang melihat mobil yang terbilang juga mahal apalagi mobil tersebut termasuk mobil antik yang jarang ada orang yang memilikinya saat ini.
Namun seakan sudah merasa terbiasa setelah dirinya menikah dengan Rivan hingga dirinya selalu menjadi pusat perhatian dari orang orang yang melihat kagum kepada mereka. Entah itu wajah mereka yang sama sama tampan dan cantik ataupun kekayaan yang dimiliki oleh Rivan terutama mobil mewah yang selalu menjadi pusat perhatian orang orang yang melihat mobil Rivan.
Tidak seperti sebelumnya, Tiara sudah merasa lebih baik dan tidak merasa syok lagi saat menaiki mobil mewah milik Rivan. Apalagi semua karyawan juga sudah mengetahui bahwa dirinya memiliki pasangan yang membawa mobil mewah, meskipun mereka belum ada yang tau mengenai status Tiara dan Rivan yang sebenarnya.
Dunianya sudah tidak seheboh dulu saat dirinya pertama kali menaiki mobil mewah milik Rivan. Tiara sering merasa geli sendiri dengan nasibnya saat ini. Tidak pernah terbayang dalam hidupnya bahwa dirinya akan bisa menaiki beberapa mobil mewah milik suaminya sendiri.
Kembali dengan keduanya yang saat ini sedang berada di dalam mobil kodok berwarna hijau. Mereka sedang mengobrol santai di dengan topik yang ringan sambil bercanda dan tertawa. Hingga perhatian keduanya teralihkan ketika ponsel milik Rivan berbunyi saat seseorang menelpon.
" Tolong angkatin dong, sayang. Bilang kalau aku lagi nyetir, soalnya jalanan lagi lancar nih" kata Rivan sambil matanya fokus pada jalanan agar mereka bisa cepat sampai di rumah.
Jantung Tiara berdebar begitu cepat saat dengan ragu dirinya mengambil ponsel milik Rivan. Rivan selalu membuatnya terkejut seperti saat ini yang begitu mempercayai dirinya. Berbanding terbalik dengan dirinya yang masih belum bisa memberikan kepercayaan sepenuhnya pada sosok pria yang begitu sempurna di sampingnya.
Tiara yang masih merasa takut untuk disakiti seorang pria, makanya dia belum bisa menyerahkan dirinya secara utuh kepada Rivan terlepas dari benih cinta yang mulai tumbuh di hatinya. Tiara mendesah dan mencoba menghilangkan pikirannya, dia tidak boleh larut dalam pikiran yang akan membuatnya resah.
Dilihatnya nama pemanggil di ponsel Rivan, dan ternyata yang menelpon Rivan adalah Vani adik kandung Rivan.
" Vani" ucap Tiara sambil memperlihatkan ponsel Rivan yang sedang menyetir.
" Angkat aja, sayang" suruh Rivan yang hanya menatap sekilas ke arah ponselnya dan kembali fokus melihat jalan raya.
" Hallo Van... ini aku Tiara" sapa Tiara setelah mengangkat panggilan suara di ponsel Rivan.
' Oh mbak Tiara... mas Rivan sama mbak, ya?' sapa Vani balik dari seberang.
" Iya ini dia lagi nyetir makanya nyuruh aku angkat teleponnya" ucap Tiara.
' Titip pesan buat mas Rivan aja mbak. Tolong bilang, kalau dua Minggu lagi acara ulang tahun kakek" beritahu Vani.
" Oh.. gitu, baiklah nanti aku sampein" sahut Tiara tersenyum tipis.
' Oh ya mbak, bilang juga kalau acaranya diadain di the Sab House' ucap Vani lagi.
" Ok Van, nanti disampaikan ke mas Rivan" sahut Tiara.
' Ya udah kalau gitu makasih ya, mbak' ucap Vani. ' Selamat bersenang senang, buruan bikinin aku ponakan yang lucu lucu' goda Vani sekaligus menggoda kakak iparnya sebelum akhirnya dia menutup panggilan teleponnya.
Mendengar godaan dari adik iparnya hanya bisa membuat Tiara tersenyum lucu sambil menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak lucu disaat semua orang berharap adanya buah hati di dalam kehidupan mereka berdua. Tidak ada yang tau bahwa sampai saat ini mereka sama sekali belum pernah melakukan hubungan suami istri.
" Vani ngomong apa, sayang? kok kamu senyum senyum sendiri?" tanya Rivan heran yang sekilas melihat Tiara tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Tiara melihat ke arah Rivan yang sedang fokus menyetir mobilnya. " Vani titip pesan supaya mas Rivannya gak lupa sama ulang taun kakek" ucap Tiara sama dengan apa yang dikatakan oleh adik iparnya.
" Ya ampun... niat amat...." sahut Rivan dengan wajah datarnya.
" Kakek kamu ulang tahun, mas?" tanya Tiara ingin memastikan bahwa apa yang dikatakan Vani adalah benar adanya.
" Iya, dua Minggu lagi. Vani selalu jadi tangan kanan bunda kalau ada acara keluarga kayak gini" jawab Rivan dengan mata masih terus fokus melihat ke depan.
" Iya udah aku setel waktu pengingat kok. Makasih ya, sayang" kata Rivan menoleh ke arah Tiara dan memberikan senyuman yang begitu tulus. Sementara itu Tiara membalas senyuman Rivan dengan senyuman yang lebih irit dan terkesan tidak terlihat jika dia sedang tersenyum.
" Kok kamu gak bilang bilang ke aku sih, mas?" tanya Tiara setelah suasana mobil yang terasa hening.
" Nggak bilang bilang...? apa?" tanya balik Rivan yang masih belum mengerti konteks dan maksud pembicaraan Tiara kali ini.
" Ulang tahun kakek kamu, mas" jelas Tiara dengan raut wajah sedih saat Rivan sama sekali tidak menyadari maksud ucapannya.
" Oooh..."
" Kenapa gak bilang aku? aku gak diundang ya?" ada segurat sedih di wajah Tiara saat dirinya tidak dianggap sebagai anggota keluarga dari keluarga suaminya.
" Ya nggaklah, sayang. Kamu itu kan istri aku, jadi pasti diundang banget sama keluarga aku. Tapi acaranya kan masih dua minggu lagi, jadi ngapain ngasih tau dari sekarang?" jelas Rivan sambil memegang tangan kiri Tiara dan mengecupnya sekilas.
Rivan tau saat ini istrinya sedikit merajuk karena mengetahui kabar ulang taun kakek dari Vani dan mengira keluarga Rivan tidak pernah ingin mengundangnya. Tentu saja itu salah besar, sebenarnya acara ulang tahun kakek akan diadakan sama bunda Amel, sebagai moment kebersamaan keluarga mereka yang jarang sekali bisa berkumpul bersama. Selain itu juga sebagai moment untuk memperkenalkan serta menyambut kedatangan Tiara sebagai anggota keluarga baru di dalam keluarga Sanjaya.
" Yaa... buat nyariin kado buat kakek dong, mas" kata Tiara penuh keyakinan untuk memberikan kado ulang tahun pada kakeknya Rivan.
Pernyataan Tiara ini membuat Rivan tertawa dan langsung membuat Tiara menatap ke arah Rivan yang sedang fokus menyetir sekaligus tertawa yang membuat Tiara terheran.
" Kok aku diketawain? konyol ya, aku?" tanya Tiara dengan sebal, tersinggung dengan tawa Rivan.
" Bukan... aku hanya geli saja, sayang... aku aja nggak ngasih kado buat beliau loh" jelas Rivan
" Kamu kok gak care gitu sih sama keluarga?" tanya Tiara heran sambil mengerutkan kedua alisnya.
" Hmmm... gimana ya, kakekku itu tipe orang yang kalau ulang tahun malah beliau yang bagi bagi hadiah ke orang lain" jawab Rivan menjelaskan.
" Hah... gimana ceritanya? kok bisa gitu?" Tiara semakin penasaran dengan kehidupan keluarga Rivan, meskipun dia tau keluarga Rivan termasuk keluarga pengusaha tapi dia belum tau kehidupan keluarga mereka sama sekali.
" Kamu kan tau, sayang, kakekku seorang pengusaha yang sudah memiliki apa saja dan pernah menyoba banyak hal. Lagian kalau dikasih hadiah sama orang, biasanya aku sama Vani yang kelimpahan kadonya saking banyaknya" sahut Rivan masih dengan terus fokus nyetir dengan sesekali menoleh ke samping.
" Hmmm... biasanya orang kalau ngasih hadiah, beliau dikasih hadiah apa?" tanya Tiara masih begitu penasaran dengan kakek Rivan.
" Ya macam macam, sayang.... tiket penerbangan first class ke luar negeri, parfum mewah dengan harga puluhan juta, gadget keluaran terbaru, mobil...." belum selesai Rivan bercerita dan menoleh ke samping. Dia langsung menghentikan ceritanya saat melihat reaksi istrinya yang terbelalak, mungkin karena terheran mendengar sederetan hadiah yang diterima oleh kakeknya.
" Gila apa! masak ngasih hadiah barang barang mewah semuanya?" tanya Tiara yang terheran.
" Ya masalahnya barang barang mewah kayak gitu udah biasa buat kakekku" kata Rivan
" Ternyata keluarga kamu tuh benar benar ya.... beyond rich..." puji Tiara yang merasa kecil hati.
" Tapi... aku selalu ingat pesan kakekku soal kekayaan" ucap Rivan menoleh sekilas ke samping.
" Apa tuh?" tanya Tiara begitu penasaran dengan nasehat yang diberikan kakek Rivan.
" Bahwa harta yang paling berharga itu yang bisa ngisi hati kita dengan kebahagiaan, kayak kamu" kata Rivan dengan tersenyum lembut. Dalam hati dia berniat untuk bermain manisan dengan Tiara, justru saat itu juga Tiara memandangnya dengan tatapan sinis seolah tidak terima. Apa ada yang salah dengan ucapan Rivan???