Suddenly Married

Suddenly Married
Terbongkar.



Alvaro keluar dari kamar mandi dengan menggosok-gosokkan handuk dikepalanya. Ia nampak lebih segar dari sebelumnya. Karena ini bukan kamar pribadinya, jadi Alvaro memutuskan untuk mengenakan pakaiannya sebelum keluar dari kamar mandi. Biar bagaimanapun juga, hubungannya dengan Ananya saat ini tidak seperti suami isteri pada umumnya.


"Eh, kakak sudah selesai ?" Ananya menoleh ke arah Varo.


"Ini handuknya, dijemur dimana ?" Avaro menunjukkan handuk yang nampak basah.


"Sini, biar Nya aja yang menjemurnya kak." Nya meraih handuk dari tangan Alvaro.


"Ananya..!" Langkah Ananya terhenti mendengar sahutan Alvaro. Alvaro pun berjalan mendekat ke arah Ananya dan bertumpu pada kedua bahunya.


"Malam ini aku akan kerumah Mama, maaf aku belum bisa membawamu. Aku akan menjelaskan semuanya secara perlahan kepada mereka. Jangan khawatir, aku tidak akan mengingkari janjiku kepada Ibu." kata Alvaro penuh penekanan.


"Iya kak, terserah kak Varo saja. Andaipun kak Varo mau mengakhiri pernikahan tiba-tiba ini, Ananya tidak keberatan kok kak. Nya juga sadar diri." Ananya berlalu meninggalkan Alvaro yang mematung.


Alvaro berusaha mencerna kata-kata Ananya yang seolah kecewa dengan keputusannya. Seharusnya ia bisa lebih tegas kepada dirinya sendiri untuk segera memberi tahukan kebenaran ini kepada keluarganya, namun di sisi lain ia ingin memberi waktu kepada Ananya untuk menenangkan hatinya yang baru saja ditinggalkan oleh Ibunya.


"Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang ? Tolong beri aku petunjukmu. Aku benar-benar bingung harus bagaimana." Batin Varo sembari mendaratkan bokongnya di sisi ranjang.


Iapun bangkit, memberanikan diri menemui Bunda Anna dan Ananya di ruang makan.


"Varo, bibi baru saja hendak menyuruh Ananya memanggilmu. Duduklah, mari makan bersama." Ajak Anna.


"Iya, tante... terima kasih." Varo pun duduk tepat di hadapan Ananya.


"Sekarang, kamu adalah menantu Bunda. Jadi jangan panggil tabte lagi, yah.. Panggil Bunda seperti Ananya." Kata Anna.


"Sudahlah bunda... Jangan memaksakan kehendak kepada Kak Varo." sahut Ananya.


"Tidak apa-apa Ananya. Saya akan membiasakan diri, benar kan bunda ?" Alvaro.


"Iya, betul. Ananya, Ibu kamu sudah bahagia disana sayang, tolong jangan bersedih lagi yah nak. Jika kamu terus-terusan murung dan bersedih seperti ini, Ibu kamu juga tidak akan bisa tenang disana." Kata Anna.


"Iya bund.. Nya mengerti. Tolong beri Nya waktu. Semuanya begitu cepat dan tiba-tiba. Ananya belum siap kehilangan." Ananya tertunduk menyembunyikan tangisannya.


"Siap tidak siap, kita harus ikhlas menerima semuanya." Anna.


"Maafkan Nya, bunda..." Ananya berdiri dan berlari meninggalkan meja makan menuju kamarnya dan mengunci diri disana.


"Ananya, kamu belum makan sayang...!" Sahut Anna setengah berteriak.


"Sudahlah bunda, biarkan dia menyendiri dulu. Dia butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Bunda makanlah, Bunda juga butuh tenaga, sejak kemarin bunda sangat sibuk mengurus segala hal. Setelah ini, bunda juga harus istirahat." Nasihat Varo.


"Sebenarnya, bunda melakukan semua ini semata-mata hanya untuk menghibur diri. Ananya memang benar, semuanya begitu cepat dan tiba-tiba. Bunda juga belum siap kehilangan kakak, Maafkan bunda Varo.. hiks.. hiks.. hiks.. Bunda hanya mencoba tegar dihadapan Ananya. Jika Bunda juga terlihat lemah, maka siapa yang akan menghibur dan menyemangatinya.. hiks..hiks..!" Suara Anna bergetar karena menahan tangisan yang kini telah tumpah. Sejak kemarin ia terlihat tegar dan jarang menangis, namun siapa sangka dibalik ketegarannya itu terdapat luka yang amat sangat dalam.


"Bunda, sekarang kan ada Varo. Percayakan semuanya kepada Varo bund. Varo janji akan selalu ada buat Ananya, sebisa mungkin Varo akan mencoba untuk membahagiakannya." Varo mendekap tubuh Anna berusaha memberikan kekuatan dan ketenangan.


Varo menyelesaikan makan malamnya, setelah itu ia langsung pamit kepada Anna. Annapun tidak keberatan dengan keputusan Varo untuk pulang ke rumahnya malam ini.


"Varo mau menemui Ananya sebentar bunda." Pinta Varo.


"Silahkan nak, Ananya sekarang adalah istri kamu. Kamu berhak sepenuhnya atas Ananya." tegas Annna.


Varo meninggalkan Anna menuju kamar Ananya yang berada di lantai atas. Ia mengetuk pintu kamar ilyang di cat dengan warna pink itu, tak lama kemudian pintu pun terbuka.


"Ananya, aku ke rumah Mama dulu. Tidak apa-apa kan ?" Varo.


"Iya, kak. Pergilah... Ananya tidak apa-apa kok." Ananya.


"Katakanlah." Ananya.


"Istirahat yang cukuplah malam ini. Jaga kesehatanmu, Besok aku akan kembali." Pinta Varo, dan Ananya mengangguki permintaan suaminya itu.


"Baiklah, aku pergi yah.." Sebelum meninggalkan Ananya, Alvaro sempat menggenggam tangan Ananya dengan hangat. Seolah mendapatkan energi positif, Ananya pun menarik sudut bibirnya ketika Varo membalikkan badannya untuk melangkah pergi.


"Kak Varo...!"


Varo pun berbalik menatap Ananya yang menyahutinya.


"Kakak hati-hati yah." Alvaro tersenyum dan mengangguk. Iapun berlalu dsri hadapan Ananya.


Alvaro melajukan mobilnya menuju Mansion keluarga Wijaya. Saat memasuki rumah, betapa kagetnya ia mendapati seluruh anggota keluarganya berkumpul di ruang keluarga, termasuk Oma dan Opanya.


"Dari mana saja kamu ?" Tanya Papa Ryan datar tanpa menatap ke arahnya.


"Masih ingat pulang juga kamu ?" Tambah Ryan.


"Oma, Opa..! kapan kalian datang ?" Varo mendekati Oma dan Opanya kemudian menyalami keduanya.


"Jawab Papa, Varo !" Ryan membentak putra sambungnya yang tidak lain adalah anak dari kakak kandungnya sendiri.


"Maaf, Pa... Varo tidak bermaksud membuat kekacauan di rumah." Varo menunduk merasa bersalah.


"Kamu benar-benar membuat Papa kecewa, kamu itu anak kebanggan Papa, bisa-bisanya kamu pergi selama dua hari tanpa memberi kabar kepada kami. Kita lagi kedatangan tamu, Om Hendra dan Bibi Melda, apa kamu tidak memikirkan apa kata mereka tentang keluarga kita ? Benar-benar tidak tahu batasan." Wajah Ryan memerah karena emosi.


"Papa, Varo akui jika Varo salah, dan ini adalah pertama kalinya Varo membuat kesalahan. Varo juga manusia biasa pah.. Varo bukan malaikat yang selalu benar. Bagaimana dengan anak papa yang lain ? Entah mengapa, Varo merasa bahwa papa ini membedakan kami. Papa tidak adil..!" Protes Varo.


"Alvaro...! Cukup !"Kamu benar-benar membuat Mama kecewa." Diandra menimpali.


"Yah, semuanya menyalahkan Varo." Varo mulai terbawa emosi. Tidak biasanya dia seperti ini melawan keluarganya. Sedangkan Oma dan Opanya lebih memilih bungkam.


"Kamu memang baru pertama kali membuat kesalahan, tapi kesalahan kamu sangat fatal.!" Ryan kembali tersulut emosi.


"Bagaimana dengan pernikahan rahasiamu ?" Sontak Varo menatap kaget ke arah ayahnya...


Yah, pernikahan yang ia rahasiakan ternyata telah diketahui oleh seluruh anggota keluarganya kecuali Vino. Hanya saja, mereka belum megetahui, siapa wanita yang telah ia nikahi.


.


.


.


.


.


To Be Continued


Mohon bantuannya yah readers setiaku. Terus beri dukungan buat Author. Tetap ikuti lanjutan kisahnya dan Jangan Lupa Like, Comment dan Vote sebanyak-banyaknya biar author lebih rajin lagi biat Up Babnya. Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐ dan tambahkan ke bookmar kalian.


Terima kasih