Suddenly Married

Suddenly Married
Panas di sore hari



Arjuna semakin mengeratkan pelukannya, ia mengusap-ngusap punggung istrinya yang terasa bergetar, menandakan jika istrinya itu tengah menangis di pelukkannya.


"Sudah aman," ucap Arjuna seraya mengurai pelukannya, lalu menangkup wajah istrinya dengan kedua tangannya.


Tommy sudah pergi dari sana, meninggalkan Arjuna dan Aluna yang masih di dalam toilet. Pria itu terkejut bercampur syok, mengetahui jika Aluna sudah menikah dengan Arjuna.


Bagai jatuh tertimpa tangga, Tommy merutuki nasibnya yang sial, tapi semua itu berawal dari tingkah lakunya sendiri yang berengsek.


"Terima kasih," ucap Aluna dengan bibir yang bergetar dan kedua mata yang berkaca-kaca. Kejadian mengerikan itu menyisakan trauma di hati Aluna.


"Sudah menjadi tugasku melindungimu," jawab Arjuna seraya tersenyum lalu mengusap air mata istrinya.


"Dia tidak menyakitimu, kan?" tanya Arjuna, menatap intens istrinya lalu menelisik penampilan Aluna, meyakinkan jika istrinya itu tidak terluka.


"Dia tidak menyakitiku, hanya saja sikapnya sangat mengerikan," jawab Aluna. Masih terbayang di ingatannya saat Tommy mengejarnya seperti orang kesetanan.


"Aku akan memberikannya pelajaran. Ini sudah masuk ke tindakan kriminal," ucap Arjuna seraya menuntun istrinya keluar dari toilet tersebut. "Aku juga curiga jika pria bajingan itu bekerja sama dengan semua security di sini," lanjut Arjuna dengan geram.


"Aku baru menyadarinya jika sejak tadi tidak melihat security." Aluna setuju dengan pemikiran suaminya.


"Apakah tanganmu tidak apa-apa?" tanya Aluna seraya menarik tangan Arjuna dan menatap punggung tangan suaminya yang terlihat sedikit memar.


"Hanya lebam biasa, aku terlalu kuat meninju wajahnya," jawab Arjuna seraya menarik tangannya, lalu beralih menggenggam tangan istrinya dengan lembut.


Aluna tersenyum tipis sembari menatap wajah tampan suaminya itu. "Terima kasih, Arjuna. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa, karena jika hanya ucapan terima kasih saja tidak cukup," ucap Aluna kepada suaminya yang tiba-tiba menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Aluna saat suaminya itu menatapnya dengan intens.


"Kamu tadi bilang ingin membalas perbuatan baikku?" tanya Arjuna dan di jawab anggukan kepala oleh Aluna.


"Cukup berikan dua ronde setiap malamnya, bagaimana?" ucap Arjuna pelan seraya mengerlingkan matanya nakal.


Wajah Aluna seketika itu langsung merona malu saat mendengarkan ucapan Arjuna. "Ck! Kamu tidak ikhlas membantuku?" ketus Aluna, untuk menutupi rasa malunya.


"Hei! Menyenangkan hati suami juga berkah untukmu," jawab Arjuna seraya mengusap pucuk kepala istrinya dengan gemas.


"Mencari kesempatan dalam kesempitan," gerutu Aluna sembari mencebikkan bibir.


Arjuna tertawa pelan saja mendengar gerutuan istrinya. Mereka melanjutkan langka menuju mobil yang terparkir di depan gerbang kampus.


"Tommy bilang akan melaporkanmu ke polisi, aku jadi takut," ucap Aluna saat mereka sudah berada di dalam mobil. "Maafkan aku, Juna. Karena aku, kamu menjadi terkena masalah," lanjut Aluna dengan perasaan bersalah.


"Jangan di pikirkan. Semua akan baik-baik saja. Percayalah." Arjuna menyakinkan istrinya yang terlihat resah. Ia menyalakan mesin mobilnya mah, lalu menjalankan mobilnya itu menuju pulang ke rumahnya.


"Kita ke dokter dulu ya," ucap Arjuna kepada Aluna yang sejak tadi duduk terdiam sembari menundukkan kepala.


Aluna menoleh saat mendengarkan ucapan suaminya. Ia mengurutkan keningnya seraya berkata, "untuk apa? Aku tidak butuh dokter."


"Aku hanya takut jika kejadian tadi membuatmu merasa trauma," jawab Arjuna yang peka terhadap perasaan istrinya.


Sungguh beruntung sekali, Aluna mendapatkan suami seperi Arjuna.


Arjuna adalah sosok suami idaman wanita, termasuk para readers. ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿ™ˆ


"Aku baik-baik saja, tenang saja," jawab Aluna seraya mengangguk menyakinkan suaminya.


"Tapiโ€”"


"Aku hanya butuh istirahat saja." Aluna memotong ucapan suaminya dengan cepat.


"Baiklah," jawab Arjuna pada akhirnya, mengalah demi istrinya.


sampai di rumah, Aluna memasuki kamarnya lalu membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


Sedangkan Arjuna berada di ruang tamu untuk menghubungi asisten pribadinya.


"Urus dan usut peristiwa yang menimpa istriku! Periksa semua CCTV yang ada di kampus untuk di jadikan barang bukti!! Kita harus bertindak cepat dan bajingan itu harus mendapatkan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya!" tegas Arjuna dengan nada datar dan sangat dingin, lalu menutup sambungan teleponnya secara sepihak.


Arjuna menghembuskan nafas dengan kasar, kemudian ia berjalan menuju kamarnya.


"Kamu mau mandi?" tanya Aluna yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan selembar handuk putih yang menutupi dua area pribadinya.


Jangkun Arjuna naik turun saat melihat penampilan istrinya yang sangat sexy dan menggoda imannya yang setipis benang.


"Aku tidak mau mandi, tapi mau makan," jawab Arjuna tanpa bisa mengalihkan pandanganny dari lekuk tubuh istrinya yang sangat sexy.


"Mau makan? Baiklah, aku pakai baju dulu," jawab Aluna, berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaiannya.


Arjuna mendekati istrinya yang saat ini sedang berdiri di depan lemari, kemudian ia langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Eh!" Aluna terkejut saat suaminya memeluknya dengan begitu erat. "Arjuna, aku mau pakai baju dulu!" Aluna menjadi kesal dengan tingkah suaminya itu.


"Tidak perlu memakai baju," bisik Arjuna sembari mengendus leher istrinya yang jenjang putih mulus, dan sangat wangi yang begitu menyegarkan di indra penciumannya.


"Karena aku hany ingin memakanmu," bisik Arjuna lagi, kedua tangannya sembari menarik handuk yang melilit di tubuh istrinya itu dan menghempaskan ke lantai.


Arjuna membalikkan tubuh istrinya menghadap ke arahnya.


"Juna!!" Aluna terkejut dengan ulah suaminya. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, wajahnya merona malu karena tubuhnya saat ini polos tanpa sehelai benang.


"Tubuhmu sangat indah sekali," ucap Arjuna memandang tubuh Sexy istrinya dengan tatapan sayu dan bergairah. Arjuna menurunkan kedua tangan istrinya yang menyilang di dapan dada.


"Dan ini juga seperti buah melon, besar dan juga segar," ucap Arjuna lagi dengan suara seraknya, kedua tangannya memilin, dan menggosok pucuk buah melon itu dengan gemas.


"Emhhh ..." tindakan Aluna membuat Aluna melenguh manja.


Arjuna tersenyum tipis, lalu menuntun istrinya menuju tepian tempat tidur. Tanpa perlawanan, Alun mengikuti keinginan suaminua.


Arjuna mendorong tubuh istrinya hingga terlentang di atas tempat tidur yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu percintaan mereka.


"Emhhh ... ah ..." Suara indah Aluna mulai terdengar saat Arjuna mencaplok bibirnya dengan ganas, tangan kekar itu pun tidak mau diam, memainkan dada istrinya lalu turun menuju lembah yang sudah basah itu.


Permainan panas pada siang menuju sore hari itu pun di mulai. Suara *******, lenguhan, dan kecipak-kecipak jeder pun terdengar memenuhi kamar tersebut.


Arjuna meneguk madu kenikmatan dari tubuh istrinya tanpa merasa lelah sama sekali, hingga membuat istrinya itu terkulai lemas saat sudah mencapai pelepasan.


"Enak? Masih sakit nggak?" tanya Arjuna di sela aktifitasnya yang melenakan itu.


"He-em, enak banget. Tapi, aku sudah lemas," jawab Aluna, seraya menggigit bibir bawahnya saat Arjuna menghujamnya dengan cepat dalam, mengejar pelepasan yang sebentar lagi akan datang.


"Aku keluar," ucap Arjuna bergerak naik turun semakin cepat. "Hughh!!" Arjuna mengerang panjang seraya menghentakkan senjatanya sampai titik yang paling dalam, menyemburkan bibit premiumnya ke ladang istrinya yang sudah gembur.


Nggak boleh hot-hot dulu, ada yang julid soalnya. Segitu aja ya, yang penting anget๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ™ˆ