
Satu persatu tamu undangan masuk dan menyaksikan pengantin kawakan itu berdiri di tengah ruangan tersebut. Fika dan Nue menatap haru anak dan menantunya yang terlihat sangat bahagia.
Sedangkan Nyonya Kim bergaya sangat angkuh sembari mengipasi wajahnya dengan kipas mewah yang di bawanya itu. Ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa putrinya menikah dengan keluarga terpandang dan kaya raya.
Berbeda dengan Tuan Kim yang merasa bahagia melihat putrinya akan melangsungkan resepsi pernikahan.
Aluna memandang suaminya yang terlihat sangat tampan dengan setelan tuxedo berwarna hitam. “Terima kasih,” ucap Aluna, kedua matanya berkaca-kaca lantaran sangat bahagia.
Arjuna menganggukkan kepalanya, kemudian ia mengambil sesuatu dari saku Jas-nya. Kotak bludru merah berukuran kecil berada di genggaman Arjuna.
“Aluna, aku bukan pria romantis yang pandai merangkai kata-kata cinta. Seperti katamu jika aku adalah pria yang kaku dan menyebalkan, itu memang benar,” ucap Arjuna tertawa kecil di ujung kalimatnya.
“Apakah dia sedang membuat pertunjukan stand-up komedi?” ucap Nue kepada istrinya.
Para tamu undangan ikut tertawa saat mendengar ucapan Arjuna yang tidak romantis sama sekali.
“Iya, kamu memang sangat menyebalkan,” jawab Aluna memasang wajah sebal.
“Walau aku sangat menyebalkan, tapi kamu sangat mencintaiku ‘kan? Maka dari itu dengan berbesar hati, aku ingin melamarmu untuk menjadi pendamping hidupku sampai kita tua nanti dan sampai maut memisahkan kita,” ucap Arjuna dari hatinya yang paling dalam, penuh ketulusan, namun raut wajahnya terlihat datar, dan kaku.
Arjuna mengambil cincin berlian dari dalam kotak beludru tersebut, seraya menarik tangan kanan istrinya lalu menyematkan cincin berlian tersebut ke jari manis Aluna. Kemudian ia mencium punggung tangan itu dengan sangat mesra.
Riuh tepuk tangan dari para tamu undangan memenuhi ruangan tersebut. Mereka ikut bahagia menyaksikan dua sejoli yang tengah berbahagia itu.
“Terima kasih, Pak Su.” Aluna langsung memeluk suaminya dengan erat, dengan perasaan yang sangat bahagia tiada terkira.
“Jangan di tanya lagi. Walau pun tidak ada kata cinta darimu, tapi aku merasa sangat bahagia, karena aku tahu di dalam hatimu hanya ada aku seorang,” jawab Aluna, seraya mengurai pelukannya, lalu menunjuk dada bidang suaminya.
“Iya, kamu benar. Di dalam hatiku hanya ada si otak udang, tidak ada yang lainnya,” jawab Arjuna tertawa pelan, dengan cepat ia memeluk Aluna erat sebelum istrinya itu mengamuk dan merah kepadanya.
“Kamu cantik sekali malam ini jadi nggak tahan,” bisik Arjuna tepat di dekat telinga istrinya, membuat sekujur tubuh Aluna merinding.
“Dasar maniak!” kesal Aluna, di saat seperti ini suami itu masih berpikiran mesum.
"Tapi, kamu suka 'kan?" Goda Arjuna lalu mengecup pipi istrinya mesra.
*
*
“Apakah di sini tidak ada wartawan Jeng Fika?” tanya Nyonya Kim kepada besannya.
“Tidak ada!” sewot Fika.
“Aduh sayang sekali. Publik seharusnya menyaksikan resepsi pernikahan anak-anak kita,” keluh Nyonya Kim yang tidak bisa panjat sosial.
“Dasar norak!” cibir Fika kepada besannya itu.
“Ih! Siapa yang norak? Saya ini artis terkenal seharusnya Jeng Fika mengundang media ke sini untuk meliput saya dan resepsi pernikahan yang sangat mewah ini,” jawab Nyonya Kim tidak tahu malu.
“CIH!” Fika berdecih kesal menanggapinya.