
Setelah tidur siang Tiara segera mengeluarkan beberapa baju dari lemari dan meletakkannya di atas ranjang. Dia mengeluarkan beberapa baju dan tidak akan membawa semua baju bajunya. Masih ada beberapa bajunya yang dia tinggal di lemarinya. Ya, Tiara memilih dan mengambil beberapa bajunya, kemudian memasukkannya ke dalam koper. Dia akan membawa baju tersebut ke rumah suaminya karena mulai hari ini dia akan tinggal di rumah suaminya.
" Gak usah dibawa semuanya, sayang... bawa seperlunya saja" ucap Rivan yang saat itu duduk di ranjang sambil melihat kegiatan istrinya memasukkan beberapa baju ke dalam koper. " Nanti kamu bisa beli yang baru, yang di sini kita tinggal biar nanti kalau mau nginap di sini kita gak perlu repot bawa baju lagi" lanjutnya.
Tiara memasukkan beberapa bajunya ke dalam koper sambil memilah milah lagi baju mana yang sebaiknya dia bawa. " Iya, mas...aku hanya membawa beberapa baju saja kok" kata Tiara sambil terus menata baju bajunya ke dalam koper.
Tiara melarang Rivan membantunya memasukkan baju bajunya ke dalam koper. Makanya sekarang Rivan hanya diam duduk di ranjang sambil melihat istrinya yang terlihat sibuk.
Dari awal Tiara memang hanya akan membawa beberapa bajunya, alasannya agar saat dia berkunjung ke rumah orang tuanya dia tidak perlu repot membawa baju ganti lagi. Sebagai anak tunggal tidak mungkin Tiara tidak akan mengunjungi orang tuanya lagi. Meskipun dia sudah menikah dia akan sering sering berkunjung ke rumah mereka, entah itu sendiri atau bersama dengan suaminya.
Tiara yakin kedua orang tuanya pasti akan merasa kesepian setelah kepindahannya nanti. Dan rumah mereka akan sepi karena hanya ayah dan ibunya saja yang akan menempati rumah tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, sebagai seorang istri dia harus mengikuti kemanapun suaminya pergi kan?.
Selain baju Tiara juga memasukkan beberapa perlengkapan make up-nya dan semua peralatan kerjanya ke dalam koper. Dia masih mencari barang barang lainnya yang sekiranya penting untuk dia bawa serta.
" Sepertinya sudah semua" kata Tiara setelah memastikan barang barang yang akan dia bawa sudah masuk semua ke dalam koper. " Tolong tutup kopernya, mas" kali ini Tiara meminta bantuan suaminya agar menutup koper yang sudah penuh dengan barang barang pribadi milik Tiara.
Tanpa berkata Rivan langsung menutup koper yang ada di sebelahnya dan segera menutup resleting tersebut. Lalu diangkatnya koper tersebut dan diletakkan di samping pintu kamar Tiara.
" Ini sudah sore, kamu mandi duluan aja, aku mau bantu membersihkan rumah dulu" suruh Tiara yang kemudian mengambilkan handuk di lemarinya dan memberikan pada Rivan.
Rivan langsung berjalan mengikuti Tiara yang keluar dari kamar mandi setelah dia menerima handuk pemberian istrinya. Di rumah orang tua istrinya itu kamar mandinya memang hanya ada satu dan itupun dipakai oleh semua anggota. Bahkan letakkan juga berada di luar kamar lebih tepatnya berada di sebelah ruang dapur.
Tentunya sangat berbeda dengan kamar mandi yang ada di rumahnya yang berada di dalam kamarnya. Ada juga kamar mandi lainnya yang tidak jauh dari ruang dapur dan itu biasanya digunakan oleh para tamu atau asisten di rumahnya.
*
Malamnya mereka berdua segera pamit pulang, setelah sebelumnya mereka makan malam bersama terlebih dahulu dan mengobrol sebentar. Awalnya bu Suci merasa sedih harus melepas putrinya untuk tinggal bersama dengan suaminya. Beliau juga meminta agar Tiara dan Rivan menginap menginap dulu di rumahnya.
Tapi setelah dibujuk oleh pak Hendra dengan kata kata yang sakti, akhirnya bu Suci luluh juga dan mengikhlaskan kepergian putrinya pergi ke rumah suaminya. ' Apa ibu tidak ingin segera punya cucu, jadi biarkan mereka membuatnya di rumah mereka sendiri, kalau di sini mereka tidak bisa bebas melakukannya' itu adalah kata sakti yang diucapkan oleh pak Hendra.
Tiara sangat malu saat ayahnya membujuk ibunya dengan kata yang menurutnya memalukan. Tapi tidak dengan Rivan dia justru tertawa, bahkan dia menimpali ucapan ayah mertuanya. ' Iya, bu... kami akan berusaha keras untuk segera memberikan cucu buat ayah dan ibu' ucap Rivan menimpali ucapan ayah mertuanya yang semakin membuat Tiara sangat malu.
*
*
*
Tanpa ada rasa curiga Vani langsung menyetujui ajakan makan siang sang kakak. Karena selama ini mereka memang sudah lama tidak bertemu karena kesibukan masing masing. Sehingga Vani langsung mengiyakan dan kebetulan hari ini dia memang tidak ada keinginan untuk pergi kemanapun.
Tiara dan Rivan sudah siap dari pagi setelah mereka sarapan bersama dengan menu sarapan sederhana yang dibuat Tiara. Sebelum menemui Vani, terlebih dahulu Rivan mengajak Taira untuk pergi berbelanja semua kebutuhan yang dibutuhkan Tiara.
Pertama mereka mengunjungi toko furniture untuk melihat perabotan dan meja yang disukai Tiara, agar dapat ditempatkan di kamar, kamar mandi ataupun di ruang keluarga. Dan disinilah mereka saat ini di toko yang cukup besar dan terkenal yang menjual segala furniture rumah tangga.
" Mas...perabotan di rumah kamu kan sudah cukup, kita tidak perlu lagi membelinya" tolak Tiara yang merasa enggan untuk membeli perabotan yang menurutnya sudah ada di rumah Rivan yang bisa juga dia pakai.
" Aku mau kamu mempunyai perabotan sendiri yang kamu sukai di rumah kita. Biar kamu ngerasa bahwa rumah itu adalah rumah kamu juga" sahut Rivan yang kemudian mengecup pipi Tiara yang masih terbengong. Pasalnya toko furniture yang mereka kunjungi saat ini adalah toko mahal dengan kualitas dan desain artistik yang bercita rasa tinggi.
Kali ini Tiara hanya bisa pasrah untuk memilih segala perabotan yang menurut Rivan dibutuhkan oleh dirinya. Rivan membeli semua furniture yang dirasa dibutuhkan oleh Tiara kemudian meminta istrinya untuk memilih furniture yang dia sukai. Rivan segera melakukan pembayaran dan meminta pihak toko untuk mengirim ke rumah mereka sore harinya.
Hingga hari sudah semakin siang mereka segera pergi, Rivan segera melajukan mobilnya menuju ke restoran The Sab House, salah satu restoran yang dimiliki oleh Vani. Hanya ada obrolan ringan yang mereka lakukan di dalam mobil, hingga tidak lama lama kemudian mereka telah sampai di restoran tersebut.
Rivan langsung memarkirkan mobilnya di parkiran bawah tanah dan masuk ke dalam. Terlihat suasana restoran yang ramai karena ini adalah hari Minggu dan waktu berkumpulnya keluarga untuk melakukan aktivitas bersama setelah beberapa hari mereka disibukkan dengan urusan pekerjaan dan salah satunya adalah makan bersama dengan keluarga tercinta di salah satu restoran favorit.
" Ada yang bisa kami bantu, mbak...mas.." ucap pegawai restoran yang langsung menyambut kedatangan Tiara dan Rivan.
" Kami sudah buat janji dengan Vani, pemilik restoran ini" ucap Rivan yang memegang pinggang Tiara dan menunjukkan bukti pesan yang dikirimkan oleh Vani sebelum mereka sampai di restoran.
" Baik, mbak... mas...mari saya antar" kata pegawai tersebut sopan lalu mengantarkan Tiara dan Rivan ke salah satu ruangan VIP yang kosong.
" Silakan duduk, saya akan memanggilkan mbak Vani" ucap pegawai tersebut yang kemudian langsung pergi dari ruangan tersebut untuk memanggil bosnya.
Rivan dan Tiara langsung duduk di kursi melingkar yang sudah tersedia di sana. Kali ini ruangan VIP sedikit berbeda dengan ruangan yang mereka tempati beberapa hari yang lalu saat merayakan ulang tahun bu Suci. Namun masih menampilkan sisi mewah fasilitas bagus dari ruangan VIP sendiri.
" Mas... apa Vani juga akan marah seperti bunda waktu itu ?" ada rasa khawatir menghinggapi hati Tiara saat ini, bahkan dia berkali kali menghembuskan nafas dengan berat untuk menenangkan hatinya. " Apa dia akan menerimaku, mas?" tanya Tiara lagi yang masih merasa cemas dengan pemikiran jelek.
Rivan menoleh dan memegang tangan Tiara dengan lembut. " Vani pasti akan menerima menyukai kamu, sayang" ucap Rivan tersenyum lembut untuk menenangkan istrinya.
Tidak lama pintu ruangan terbuka dan langsung menampilkan bayangan seseorang. Sangking cemasnya Tiara langsung beranjak berdiri dan menatap sosok perempuan yang tengah berdiri di depan pintu.
" Gila kamu mas! nikah gak bilang bilang!" seru Vani dengan suara lantang penuh kemarahan yang membuat Tiara semakin cemas saat berdiri berhadapan dengan Vani.