
Arjuna dan Aluna saat ini sudah selesai dengan kegiatan panas mereka, setelah hampir satu jam bercinta. Lutut Aluna terasa sangat lemas karena siang dan malam terus di gempur oleh suaminya.
Sedangkan Arjuna tersenyum puas seolah mendapatkan jackpot besar.
"Kamu benar-benar tidak tahu tempat!" sungut Aluna seraya melirik sebal suaminya yang sedang memakai pakaian. Aluna merasa sangat malu dengan ibu mertuanya, karena tingkah suaminya itu.
"Tapi, kamu suka 'kan?" goda Arjuna seraya mendekati Aluna yang akan memakai dress. "Kenapa dress-mu terbuka? Siapa yang mengizinkanmu memakai pakaian seperti ini?" protes Arjuna, seraya menghentikan gerakan tangan istrinya.
Dress yang di kenakan Aluna sedikit terbuka di bagian punggung dan pundaknya, memperlihatkan kulitnya yang putih dan mulus. Tentu saja Arjuna tidak terima melihat tubuh istrinya tereskpos dan dilihat oleh banyak orang.
Arjuna menarik dress yang ada ditangan Aluna lalu membuangnya ke tempat sampah.
"Pak Su!" kesal Aluna seraya menghentakkan kedua kakinya bergantian, menatap sedih dress yang baru di berikan oleh ibu mertuanya tadi pagi dan bernilai jutaan rupiah kini berakhir di tempat sampah.
Suaminya itu sungguh menyebalkan!
"Apa?! Kamu tidak mau mendengar ucapan suamimu?" Arjuna menarik Aluna ke dalam pelukannya, lalu menggigit pundak istrinya sedikit kuat, membuat Aluna memekik sakit.
"Aww!" pekik Aluna sembari mengusap pundaknya yang terasa linu. Baru saja akan melayangkan protes kepada suaminya, namun dirinya kalah cepat dengan gerakan bibir Arjuna yang mencaplok bibirnya dengan sangat menuntut.
"Hukuman untukmu!" ucap Arjuna setelah melepaskan ciuman tersebut.
Aluna mengusap bibirnya yang basah karena saliva-nya Arjuna, lalu memukul lengan suaminya dengan kesal. "Kamu menyebalkan, aku membencimu! Cepat berikan pakaian untukku, aku mau pulang!" sewot Aluna seraya menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.
Arjuna menghela nafas panjang, lalu mengambil ponselnya, menghubungi karyawan butik milik ayahnya untuk mengantarkan sebuah dress yang agak tertutup dan sesuai dengan ukuran Aluna.
"Janga marah lagi, aku sudah memesankan Dress untukmu," ucap Arjuna seraya membelai pucuk kepala istrinya dengan mesra.
Aluna melengos, enggan menyahuti perkataan suaminya. Hatinya sudah terlanjur kesal dengan sikap suaminya yang sangat posesif.
"Aku melakukan semua ini karena aku tidak rela jika tubuhmu di lihat oleh pria lain. Kamu harusnya paham dengan maksudku," jelas Arjuna seraya menatap istrinya yang masih terlihat kesal kepadanya.
Aluna menundukkan kepalanya lalu menatap suaminya. Menyadari kesalahannya yang keras kepala. "Maafkan aku. Tapi, dress itu pemberian Mama tadi pagi dan harganya sangat mahal, tapi kamu malah membuangnya begitu saja," ucap Aluna pada akhirnya.
"Oh, jadi yang memberikan dress itu adalah Mama?" tanya Arjuna seraya memicingkan kedua matanya. Sepertinya ibunya itu sengaja ingin membuatnya marah, karena ia sudah pernah berpesan kepada Fika jika dirinya tidak suka melihat istrinya memakai pakaian terbuka.
Aluna mengangguk sebagai jawaban.
Pakaian yang di pesan oleh Arjuna untuk istrinya sudah sampai di salon. Dan segera di pakai oleh Aluna.
Dress berwarna putih, berlengan panjang dengan belahan dada sedikit rendah namun tidak terlalu vulgar seperti dress yang di berikan oleh ibunya. Aluna terlihat sangat cantik bagai bidadari yang turun dari khayangan di mata Arjuna. Rambut panjang Aluna tergerai indah, dan memakai make-up tipis, istrinya itu sangat cantik. Arjuna menjadi tidak rela jika membiarkan istrinya keluar rumah sendirian.
Aluna berjalan menuruni tangga dengan langkah kaki yang gemetar, sedangkan suaminya sudah berjalan mendahuluinya.
"Dasar tidak peka! Maunya enaknya saja!" gerutu Aluna.
"Awas saja kalau nanti malam minta jatah, tidak akan aku kasih!" batin Aluna terus menggerutu kesal.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arjuna, menoleh ke belakang, melihat istrinya yang masih berada di tengah tangga.
Aluna tersenyum meringis sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya. Salah satu tangannya bertumpu pada dinding karena kakinya benar-benar terasa sangat lemas dan bergetar, ia takut terjatuh dari tangga.
Arjuna tersenyum melihat istrinya tersenyum, lalu menghampiri Aluna lagi, dan tanpa di sangka Arjuna langsung menggendong tubuh Aluna keluar dari salon tersebut.
Aluna memekik tertahan, lantaran terkejut saat suaminya mengangkat tubuhnya begitu saja.
"Arjuna malu," ucap Aluna saat semua pelanggan salon tersebut melongo dan terkagum-kagum saat melihat dirinya di gendong oleh Arjuna.
Akan tetapi suaminya itu tidak mendengarkannya, tetap berjalan sembari menggendong dirinya dengan cuek.
"Mau juga di gendong seperti itu," ucap salah satu pelanggan salon, merasa iri dengan Aluna. Dan masih banyak ucapan konyol lagi dari pelanggan lainnya yang mengagumi Arjuna dan ingin berada di posisi Aluna saat ini.
***
Arjuna mendudukkan Aluna di jok depan mobil mewahnya. "Masih lemas kakinya?" tanya Arjuna seraya memasangkan sabuk pengaman ke pinggang istrinya.
Jarak keduanya sangat dekat, bahkan wajah mereka pun hampir menempel. Namun Aluna segera memalingkan wajahnya, dan enggan menjawab pertanyaan suaminya itu.
CUP
Arjuna mengecup pipi Aluna dengan mesra. "Di tanya kok nggak di jawab?"ucap Arjuna seraya memundurkan tubuhnya karena sudah selesai memasangkan sabuk pengaman istrinya.
Wajah Aluna bersemu merah, ia memegangi pipi kanannya yang baru saja mendapatkan kecupan mesra dari suaminya.
"Sudah tahu tanya! Kamu selalu tidak pernah merasa puas," jawab Aluna pada akhirnya dengan nada ketus.
Arjuna tertawa pelan saat mendengar jawaban istrinya itu. Ia mendudukan diri di balik stir mobil lalu mengelus bagian bawah sana yang sudah terasa on kembali.
"Aku juga tidak tahu. Sinyalmu terlalu kuat, lihatlah Si Junaedi sudah On kembali," ucap Arjuan, menurunkan pandangannya ke bawah sana, dan di ikuti oleh Aluna.
"Ish!! Dasar mesum!" umpat Aluna seraya memalingkan wajahnya memerah ke kiri. Suaminya itu memang tidak pernah ada puasnya.
"Ha ha ha," Arjuna tertawa terbahak-bahak saat melihat ekspresi istrinya yang menggemaskan menurutnya.
"Nanti malam akan aku buat lemas lagi, ya," ucap Arjuna seraya mencolek lengan istrinya dengan manjah.
"Ih! Jangan colak-colek!" Aluna mengusap lengannya yang baru saja di coleh oleh suaminya.
"Lalu maunya langsung di terobos ya? Sabar nanti malam ya," ucap Arjuna masih meninggalkan sisa tawanya, ia segera menyalakan mesin mobilnya menuju ke restoran terdekat untuk mengisi perut mereka yang sudah keroncongan karena sudah melewati jam makan siang.
"Dasar maniak!"
"Kejar setoran, Luna. Bulan depan kamu harus hamil," jawab Arjuna melirik istrinya sekilas karena saat ini dirinya sedang fokus menyetir mobil.
"A-apa?!" pekik Aluna, wajahnya memucat seraya meremas kedua tangannya bergantian.
***
Kenapa Aluna takut? Apa ya?
Jangan lupa Vote-nya ya bestie❤