
Suasana makan siang bersama dengan keluarga yang terasa hangat harus berakhir karena mereka semua telah menghabiskan makanan mereka yang sebelumnya sudah tersaji di piring mereka masing. Tiara dan bu Suci langsung membereskan semua piring piring serta peralatan makan bekas makan siang mereka.
Banyak sekali obrolan yang terjadi di meja makan tadi, terlebih Rivan yang terus bercerita dan menjawab pertanyaan dari ayah dan ibu mertuanya mengenai keluarganya. Mereka sangat bangga bisa memiliki seorang anggota keluarga baru yang ternyata berasal dari keluarga yang kaya raya.
Tiara sendiri sempat tidak percaya dengan semua cerita yang dikatakan oleh suaminya. Namun setelah dia berfikir lebih panjang lagi akhirnya dia percaya kalau orang tua Rivan adalah orang kaya. Mengingat mobil dan rumah mewah yang dimiliki Rivan saat ini. Dan ternyata suaminya tidak bohong saat dia mengatakan bahwa dirinya adalah orang kaya.
Benar kata ibunya bahwa dirinya sungguh sangat beruntung bisa memilki suami yang tampan, baik, penyayang dan yang penting dia juga orang yang kaya raya. Tapi Tiara tidak akan memanfaatkan kekayaan yang dimiliki sang suami.
" Kamu istirahat dulu saja di kamar Tiara, Van" suruh pak Hendra saat mereka berdua masih dengan tenang duduk di meja makan.
" Memang boleh yah?" tanya Rivan dengan ragu.
" Ya bolehlah, Van. Siapa juga yang mau ngelarang, hehehe" sahut pak Hendra diakhiri dengan kekehan yang merasa lucu dengan pertanyaan menantunya.
" Baiklah, terima kasih, yah" jawab Rivan yang yang tersenyum canggung.
Pak Hendra yang bisa menggelengkan kepala berkali kali masih merasa lucu dengan kecanggungan Rivan. " Ara, kamu antar suami kamu ke kamarmu, biar dia istirahat dulu" kali ini pak Hendra menyuruh putrinya untuk mengantar suaminya ke kamar Tiara.
" Iya, yah...sebentar ini mau selesai" sahut Tiara yang sedang mencuci piring di wastafel.
" Sudah biar ibu yang melanjutkan. Kamu pergi sana ajak suami kamu istirahat di kamarmu" kali ini bu Suci yang menyuruh Tiara dengan mengambil piring kotor di tangan Tiara dan menggeser tubuh Tiara agar menjauh dari depan wastafel.
" Tapi bu__" Tiara ingin menolak perintah ibunya.
" Sudah sana pergi kasihan suami kamu menunggu, dia pasti sudah lelah" potong bu Suci yang sudah menggantikan Tiara mencuci piring kotor bekas makan siang mereka.
Dengan terpaksa Tiara berjalan mendekati Rivan yang masih duduk di kursi makan bersama dengan ayahnya. " Yuk, Van... kita istirahat di kamar" ajak Tiara yang berjalan terlebih dahulu.
" Kita ke kamar dulu ya, yah..bu" pamit Rivan terlebih dahulu pada mertuanya sebelum akhirnya dia beranjak dari duduknya.
" Iya pergilah" sahut pak Hendra yang mengangguk dan tersenyum tipis, sekaligus mewakili istrinya yang masih sibuk di depan wastafel.
Rivan berjalan mengikuti istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar sang istri. Setelah masuk ke dalam Rivan juga langsung menutup pintu kamar tersebut dan menguncinya. Dia tidak bermaksud apa apa, dia hanya ingin mendapatkan privasi untuk keduanya saat mereka sedang berduaan di kamar.
Baru kali ini Rivan memasuki kamar istrinya karena memang selama mereka menikah Rivan jarang berkunjung ke rumah istrinya. Dia hanya beberapa kali datang ke rumah mertuanya dan sering ketemuan dengan Tiara saat makan siang di luar. Rivan berjalan mendekati sang istri yang tengah terduduk di kursi kerjanya. .
Tiara langsung merapikan beberapa kertas yang berserakan di atas meja kerjanya. Rivan berdiri di sebelah Tiara dan mengamati rak buku yang tertempel di dinding. Di sana banyak buku yang tertata dengan rapi.
Jangan ditanya jantung Rivan sudah seperti suara drum yang sedang latihan bergenderang di dalam tubuhnya, karena saat ini mereka sedang berduaan di kamar istrinya. Meskipun tadi malam mereka juga sudah berduaan di kamarnya, entah kenapa saat ini rasanya begitu berbeda. Rivan berusaha bersikap tenang sambil tersenyum canggung saat melihat istrinya.
Rivan mengambil salah satu buku yang bertema tentang lari dan ada banyak buku lainnya dengan tema lari dan lainnya. " Ternyata kamu suka lari, ya?" tebak Rivan karena begitu banyak buku di sana yang bertemakan tentang olah raga lari dibanding tema lainnya.
" Ya begitulah, karena menurut aku lari itu olah raga yang simpel yang semua orang bisa melakukan dan tidak membutuhkan biaya yang banyak" jawab Tiara sekaligus memberikan alasannya.
" Biasanya kamu suka lari indoor atau outdoor?" tanya Rivan yang mulai membuka satu persatu buku yang dipegangnya.
" Lebih suka outdoor" jawab Tiara yang melihat ke arah Rivan yang masih berdiri di sebelahnya.
" Kenapa?" tanya Rivan lagi sambil mengernyitkan kedua alisnya.
" Enak aja bisa sekalian menikmati udara segar secara langsung daripada di dalam ruangan dengan menggunakan treadmill" jawab Tiara.
" Oh ya?" tanya Tiara yang sudah mengetahui namanya tapi dia belum pernah bertemu dengannya.
Rivan hanya mengangguk mengiyakan sambil bergumam dan tersenyum tipis melihat istrinya.
" Tapi sayang, aku belum pernah bertemu dengan Vani" kata Tiara dengan wajah cemberut.
" Kalau kamu mau kita bisa bertemu dengannya di restoran tempat kita merayakan ulang tahun ibu" kata Rivan.
" Bisakah?" tanya Tiara sedikit ragu.
" Bisalah sayang, nanti aku coba hubungi dia" beritahu Rivan yang langsung diangguki oleh Tiara dengan senang.
Tiara beranjak berdiri dan berjalan menuju ke ranjangnya. Lalu di duduk berselonjor di tepi kasur dengan punggung bersandar di kepala ranjang.
Melihat istrinya kini sudah duduk di ranjang, Rivan mengembalikan buku yang tadi dia ambil ke tempatnya semula. Dengan jantung yang masih berdebar Rivan mengikuti Tiara dan duduk di pinggir ranjang satunya.
" Bolehkan aku tidur di ranjang kamu?" tanya Rivan untuk memastikan terlebih dahulu kalau istrinya tidak keberatan mereka tidur bersama seperti tadi malam
" Hemm..." jawab Tiara sambil mengangguk dengan pasti. " Tapi ingat! hanya tidur tidak tidak lebih!" lanjutnya mengingatkan dengan penuh penekanan.
" Iya sayang, tenang saja aku akan selalu mengingatnya sampai kamu siap untuk melakukannya denganku" goda Rivan dengan tersenyum melihat sang istri yang langsung membelalakkan matanya dengan lebar lalu mendengus kesal yang justru membuat Rivan tertawa.
Untuk menghilangkan kekesalannya Tiara membuka ponselnya dan melihat pesan pesan yang masuk dan membalasnya satu persatu.
" Aku hanya bercanda, sayang" kata Rivan sambil menatap wajah istrinya yang sedang menatap ponselnya. " Dan aku gak akan pernah mengkhianati kepercayaan kamu, sayang" lanjut Rivan dengan penuh keyakinan sambil.
Tiara menoleh dan melihat wajah suaminya dan kini mata mereka saling bertatap dengan sangat instens. Jarak mereka yang cukup dekat membuat nafas mereka saling menyapu wajah keduanya.
Tanpa perintah dari siapapun Rivan langsung mencium bibir Tiara dengan sangat lembut. Bahkan sang istri juga tidak menolaknya, justru semakin lama Tiara membalas ciuman Rivan. Akhirnya mereka berciuman saling merasakan lembutnya bibir mereka yang saling m*****t. Mereka berdua langsung menghirup udara sebanyak banyaknya untuk mengatur nafas mereka.
Tidak ingin sampai lepas kontrol Rivan lebih dulu menghentikan ciuman mereka. " Terima kasih, sayang" kata Rivan dengan masih mengatur nafasnya.
Mereka kembali dengan posisi awal mereka dengan Tiara yang kembali sibuk dengan ponselnya. Sementara itu mata Rivan mengamati dengan baik baik seluruh isi kamar istrinya.
Rivan baru menyadari bahwa semua benda yang ada di kamar istrinya hampir semuanya bernuansa warna kuning. Mulai dari meja kerja, beberapa hiasan dinding bahkan frame foto yang berbentuk matahari. Bahkan jam dinding serta warna sprei yang di duduki ya juga berwarna kuning.
" God..." ucap Rivan dengan penuh antusias sambil matanya terus mengamati seisi kamar istrinya yang begitu menyejukkan.
" Kenapa?" tanya Rivan heran melihat suaminya yang begitu bersemangat.
" You are a sunshine" jawab Rivan yang langsung membuat Tiara tersipu malu.
" Gombal banget sih kamu... sunshine sunshine segala...!" kata Tiara merasa malu.
Rivan tipe orang yang suka mengungkapkan perasaan serta pikirannya dengan black blakan. Dan pujian yang dilontarkan Rivan membuat wajahnya selalu bersemu merah. Tiara juga tau bahwa suaminya bersungguh sungguh dengan ucapannya yang membuatnya sangat tersanjung. Rivan juga sering sekali memujinya akhir akhir ini.
## Maaf kak habis ikut vaksin booster jadinya tanganku terasa sakit dan ngilu susah digerakkan. Tapi aku berusaha menulis sebisaku hanya untuk para reader setiaku.