Suddenly Married

Suddenly Married
Kamu berhak bahagia.



Sebelumnya....


Ananya berjalan ke ruang tamu hendak menemyi Varo yang sedari tadi menunggunya di depan.


"Ayo, kak kita ke atas." Ajak Ananya.


Varo berdiri dan kembali menyeret kopernya mengikuti langkah Ananya. Keduany menuju lantai atas tepatnya di kamar yang Ananya tempati.


"Masuklah..!" Ananya.


"Hhhmm... ini kamarmu ?" Tanya Varo.


"Iya, kenapa ? Kakak tidak suka ? Kalau tidak suka kakak bisa mencari penginapan." Cerocos Ananya.


"Aku hanya bertanya, bukan tidak suka. Lagi pula kasurnya pas buat berdua." Kata Varo sembari mengangkat kedua alisnya.


"Adduuhhh mati aku. Otaknya mulai error, dasar kak Varo mesum. Awas saja kalau kakak berani macam-macam akan aku adukan kepada paman Aiman." Gumam Ananya dalam hati.


"Kenapa wajahmu seperti itu ? Kamu tidak mau berbagi tempat tidur denganku ?" Varo memperhatikan wajah Ananya yang nampak masam.


"Nya, Varo... makanan sudah siap. Ayo turun, bibi kamu dan Nayla sudah ada di bawah. !" Aiman tiba-tiba muncul mengajak keduanya untuk makan.


"Baik paman !" jawab keduanya kompak.


Paman Aiman menuju dapur di ikuti oleh Ananya dan Varo. Bibi Santi dan Nayla sudah duduk sedari tadi menunggu mereka.


"Wah... kelihatannya enak Bi..!" Sahut Ananya.


"Nayla yang masak loh kak, tapi di bantu sama ibu, hehehe !" Canda Nayla.


"Apa gak kebalik ? Ibu yang masak tapi di bantu Nayla, haahaa !" Bi Santi menimpli.


"Aaaahhh... Ibu, Nayla kan jadi malu !" Protes Nayla dengan wajah yang di tekuk dan berhasil membuat Ananya terkekeh.


"Benar-benar istimewa, meskipun hanya gurauan kecil bisa membuatnya tertawa seperti itu. Sejak kepergian ibu, aku bahkan tidak pernah melihat senyum di wajahnya, apalagi sampai melihatnya tertawa." Batin Varo yng sedsri tadi memperhatikan Ananya.


"Sudah...sudah... Becandanya nanti saja, ayo makan. Gak enak ada nak Varo disini, kalian ini kebiasaan pas mu makan berisiknya minta ampun." Aiman.


Mereka pun akhirnya makan, Ananya makan dengan lahapnya. Sepertinya ia membalaskan dendam kepada lambungnya karena belakangan ini jarang sekali ia mengisinya dengan makanan enak. Apalagi makanan yang ada di hadapannya kini benar-benar menggugah seleranya. Tidak tanggung-tanggung ia sampai nambah berkali-kali, Varo sedikit merasa heran dengan selera makan Ananya kali ini namun ia tidak berani menegurnya.


"Aku tidak menyangka, perutnya yang sekecil itu bisa menampung banyak makanan. Benar-benar gadis langka !" Lagi-lagi Varo bergumam dalam hati.


"Nak Varo, kenapa cepat sekali selesainya ? Jangan sungkan yah nak..!" Bibi Santi.


"Varo tidak sungkan, Bi.. Hanya saja sebelum berangkat kesini Varo sudah sarapan di rumah Mama." Varo.


"Kak Varo, anggap rumah sendiri yah. Jangan malu-malu. Mulai sekarang kak Varo jadi abangnya Nayla." Nayla.


"Hehee iya.." Jawab Varo.


"Nayla,,,!" Ananya menghunuskan tatapan tajam ke arah adik sepupunya.


"Maafkan Nayla yah nak. Dia memang seperti itu, dari dulu pengen punya abang." Timpal Bi Santi.


"Gak apa-apa bi, Varo juga senang karena Varo sendiri tidak memiliki adik perempuan. Lagian, Nayla kan adiknya Ananya, berarti adik Varo juga." Tambah Varo.


"Tuh... kak Nya dengar sendiri kan ? Mulai sekarang kak Nya gak boleh jahilin Nay lagi, gak boleh cubit-cubit pipi Nay lagi. Kalau kak Nya macam-macam, akan Nay laporin sama babang tamvannya Nay, babang Varo." Nayla berkata dengan angkuh merasa ada yang melindungi.


Semuanya terkekeh melihat tingkah Nayla. Menjahili Nayla memang menjadi salah satu hobby Ananya. Bagaimana tidak, Nayla adalah gadis remaja yang sangat cantik tetapi juga sangat cerewet. Tingkat ke ingin tahuannya berada diatas rata-rata (alias kepo). Meskipun demikian, ia gadis yang rajin dan penyayang, itulah sebabnya mengapa Ananya pun sangat menyayanginya.


Setelah makan siang bersama, Varo pamit ke kamar untuk istirahat.


"Paman, bibi... Varo pamit ke atas dulu."


"Iya nak, Ananya antar suamimu ke atas." Perintah bibi Santi.


"Kak Varo udah besar bi, tidak perlu diantar. Dia bisa bisa sensiri kok." Kata Ananya.


"Ananya...!" Paman Aiman memberikan kode agar Ananya tidak membantah.


"Iya... iya... Ananya naik." Jawab Ananya kesal, sedangkan Varo nampak tersenyum penuh kemenangan.


Keduanya berjalan menaiki anak tangga menuju lantai atas. Ananya menghentak-hentakkan kakinya berjalan mendahului Varo. Ia nampak kesal. Sedangkan Varo dari tadi menahan tawanya melihat tingkan Ananya yang menggemaskan.


"Ananya...!"


"Kamu tidak suka yah kalau aku kesini ?" Tanya Varo dengan wajah yang di buat terlihat sedih.


"Bukan begitu, kak... tapi..." Ananya menggantungkan kalimatnya.


"Tapi ?" Sambung Varo.


"Ananya, ma..lu.. !?" Jawab Anannya terbata.


"Malu ? Kamu malu punya suami seperti saya?" Varo memicingkan mata menatap Ananya dengan heran.


"Bukan begitu kak, Nya malu sama paman dan bibi." Jawab Ananya asal.


"Hmmmm tidk masuk akal. Bilang saja kamu mau menghindariku. Tapi aku tidak akan menyerah, kita lihat saja nanti." Gumam Varo.


"Kak Varo istirahat saja dulu, saya mau ke dapur bantu-bantu bibi dan Nayla." Kata Ananya.


"Ananya, tadi Bibi kan sudah bilang kamu temenin saya istirahat. Ayo sini !" Varo menepuk ranjang meminta Ananya duduk di sampingnya. Ananya tak bergeming, ia terlihat gugup meremas jemarinya dan menggigit bibir tipis indahnya.


"Tenang saja, aku kan sudh bilang tidak akan pernah berbuat lebih tanpa ijin darimu. Kecuali jika kamu yang menginginkannya ya aku nurut aja." Kata Varo.


Wajah Ananya bersemu merah, ia semakin bingung bagaimana cara menghadapi Varo yabg semakin hari semakin banyak bicara. Sangat berbeda jauh dengan Varo yang pertama kali ia temui. Ananya memberanikan diri duduk di samping Varo dengan langkah perlahan.


"Maafkan Nya kak, sudah tidak sopan kepada suami Nya sendiri."


"Tunggu, apa ? Tadi kamu bilang apa ?" Tanya Varo. Entah mengapa, sangat sejuk rasanya mendengar Ananya menyebutnya dengan kata SUAMI


"Nya bilang maaf." kata Ananya.


"Bukan yang itu, yang tadi kamu bilang aku ini siapanya kamu..." Kata Varo lagi.


"Kak Varo mulai deh..." Ananya kesal bercampur malu. Pipinya kembali memerah seperti tomat.


"Iya...iya.. maaf. Kamu lucu." Timpal Varo yang menoel hidung Ananya.


"Iisshh... Kak, boleh Nya bertanya ?" Ucap Ananya sedikit ragu dan Varo hanya mengangguki pertanyaan Ananya.


"Kenapa kakak menyusul Nya kesini ?"


"Memangnya salah ?"


"Bukan seperti itu."


"Jadi, tidak masalah kan ?" Kata Varo lagi.


"Bagaimana dengan pekerjaan kakak, bukannya belakangan ini kak Varo sangat sibuk ?" Tanya Ananya kemudian menundukkan wajahnya.


"Tidak apa-apa. Lagian ada Heri, Vino dan juga papa." Kata Varo sambil berdiri dan berjalan ke arah jendela menatap ke luar.


"Kak, bagaimana hubungan kakak dengan Vino ?" Ananya berjalan mendekati Varo.


"Kami baik, hanya saja...." Varo tidak melanjutkan perkataannya.


"Semua salah Nya. Maaf.!"


"Jangan menyalahkan dirimu, Tidak ada yang salah disini. Ini sudah takdir.


Apa kamu masih mencintai Vino ?" Tanya Varo tanpa menatap wajah Ananya. Gurat kecewa nampak di wajahnya. Ananya kaget, dan seketika wajahnya memucat, namun ia tetap bungkam tak ingin menjawab pertanyaan Varo.


"Tidak usah di jawab, aku tidak akan memaksa. Semua terserah kamu, saya hanya minta ketegasanmu saja. Saya siap apapun keputusan kamu." Sambung Varo.


"Terima kasih kak." Jawab Ananya singkat.


"Kamu berhak bahagia Ananya, itu yang terpenting. Jika keberadaanku tidak membuatmu bahagia, maka aku akan pergi." Kata Varo yang meletakkan kedua tangannya di kedua pipi Ananya.


"Kak Varo...." Mata Ananya berkaca-kaca menatap nanar pria di hadapannya.


To Be Continued


Tinggalkan jejak setelah membaca.


Tekan Like dan Add Favorite


Terimakasih untuk semua pembaca setia "Suddenly Married". Terus ikuti lanjutan kisahnya yah,..