
Hai-hai.. aku datang lagi. Mohon dukungannya yah.. Terima kasih😘
*****************
Ananya masuk ke dalam rumah dengan suasana hati yang sangat kacau. Bahkan panggilan bundanya pun ia acuhkan. Ia melempar tubuhnya ke atas kasur empuk setelah mengunci pintu kamarnya.
"Kamu jahat, Vin.. Kamu pikir aku wanita apa ? Yang bisa seenaknya saja kamu minta. Apa aku tidak ada harganya di matamu ? Apa yang akan orang-orang katakan tentang diriku, apa kata bunda, mama dan papa, serta mendiang ibuku ? Maafkan Nya kak Varo." Ananya menangis se jadi-jadinya.
Tanpa di sangka, ternyata Alvaro pun sudah sampai di rumah. Ia berdiri di balik pintu kamar Ananya, dan ia pun mendengar ratapan Ananya. Sedangkan bunda Anna hanya melihat dari jauh. Ia dapat melihat dengan jelas, bagaiman hancurnya Ananya, dan raut kecewa di wajah Varo. Hanya saja ia tidak ingin ikut campur dengan masalah rumah tangga keponakannya itu.
Alvaro memilih meninggalkan rumah itu, ia hanya ingin memberi ruang buat Ananya.
"Bunda, untuk sementara Varo akan tinggal di rumah Mama. Sepertinya Ananya butuh waktu untuk menenangkan diri." Kata Varo pada Anna.
"Nak, bukannya bunda mau ikut campur. Bunda hanya berharap kalian bisa menyelsaikan masalah kalian secara baik-baik, dengan hati yang dingin." Anna mengelus lengan atas Varo.
"Iya bunda, Varo mengerti. Bunda, tolong jaga Ananya untuk sementara waktu. Katakan padanya dia tidak usah bekerja dulu. Varo titip Ananya yah Bund, Varo permisi...!" Varo melenggang pergi dengan mengemudikan mobilnya menuju kantor. Sepertinya, malam ini ia akan menginap di kantor, bukan di rumah Mamanya.
****
Ananya tertidur setelah puas menangis. Kepalanya sedikit berat, matanya sembab menandakan terlalu banyak air mata yang telah ia tumpahkan.
"Astaga, sudah jam 8 pagi. Aku sudah terlambat." Ananya bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya.
Ia merasa ada yang aneh saat keluar dari kamar mandi, tapi ia sendiri bingung apa yang kurang di kamarnya itu.
"Ya ampun, kak Varo ?! Apa semalam dia tidak pulang ?" Ananya buru-buru mengecek ponselnya dan membaca satu per satu pesan yang masuk. Namun pesan yang ia buka pertama kali adalah pesan dari Varo.
"Hari ini tidak perlu bekerja, istirahatlah. Aku akan menginap beberapa hari di rumah mama karena ada beberapa pekerjaan yang mendesak. aku akan menjemputmu saat semuanya sudah selesai."
Begitulah isi pesan dari Varo, sedikitpun Ananya tak menaruh curiga. Diliriknya kembali ponsel di genggamannya, ia melihat ada beberapa pesan dari Vino. Ia pun membacanya namun tak ada niat sama sekali untuk membalasnya. Ananya menuruni anak tangga menemui sang bunda di ruang makan.
"Sudah bangun, ayo makan." Ajak Anna.
Ananya menarik kursi kemudian mendudukinya.
"Sudah baikan ?" Ananya hanya mengangguk.
"Kalau ada masalah, jangan di biarkan sampai berlarut-larut. Cepat selesaikan masalah dan jangan pernah lari dari masalah." Anna hanya menasihati semampunya saja, karena ia sudah memutuskan tidak akan mencampuri urusan rumah tangga keponakannya itu.
"Baik bunda.." Ananya hanya mengangguk namun tak berniat bercerita kepada Anna.
*****
Tok..tok...!!!
"Masuk !" Varo menyahuti.
"Kak..." Ucap Vino dengan keraguan.
"Hey, ada apa..." Varo mengangkat wjahnya melihat ke arah sosok yang melangkahkan kaki mendekatinya.
"Ada yang ingin Vino bicarakan, kak !" Vino.
"Katakanlah." Varo berusaha tenang, meskipun ia tahu apa yang akan di bicarakan adiknya.
"Ini soal Ananya."
"Ada apa dengan istriku ?" Varo sengaja menekankan kata istri, dan itu berhasil membuat Vino terperanjat kaget mendengarnya.
"Kak, Vino minta 1 hal kepada kakak, dan Vino janji setelah ini Vino tidak akan minta apa-apa lagi sama kakak." kata Vino
Sontak Alvaro merasa kaget dengan kata pembuka yang diucapkan oleh Vino. Perih rasanya, berada di titik yang salah. Ia bingung, haruskah mempertahankan miliknya, atau merelakannya untuk adik tercintanya.
"Apa itu ? katakan saja. Jika aku bisa maka aku akan memberikannya untukmu." Kata Varo.
"Kakak, tolong lepaskan Ananya !" Suara Vino sedikit meninggi dan bergetar pertanda ia tidak main-main dengan ucapannya.
"Apa maksudnya? Tolong jelaskan, aku tidak mengerti." Varo.
"Aku dan Ananya saling mencintai kak. Tolong kakak jangan jadi penghalang dalam hubungan kami." Vino.
"Hubungan katamu ? Yang kakak tahu kalian hanya berteman. Lagipula, bukannya kamu sendiri yang mengatakan pada kakak bahwa Ananya bukanlah type gadis impianmu ?" Tanya Varo sesikit meledek. Yah, Vino kalah telak, karena termakan omongannya sendiri.
"Maaf kak, Vino memang bodoh karena selama ini tidak mau mengakui perasaan Vino kepada Ananya. Vino terlalu gengsi untuk mengakuinya." Vino.
Varo benar-benar frustasi saat ini, ia tidak menyangka bahwa Vino akan datang menemuinya dan mengakuinya langsung dihadapannya. Disatu sisi ia mulai mencintai wanita yang kini menjadi istrinya itu, namun di sisi lain adiknya pun menginginkan wanita yang sama, naasnya karena istrinyapun menaruh hati kepada sang adik. Dan Bagaimana dengan pernikahannya ? Pernikahan yang baru saja ia daftarkan di catatan sipil ? Dengan demikian, pernikahan merekapun kini resmi dan sah di mata hukum.
"Kakak tinggal menceraikannya saja, bukankah pernikahan kalian belum di laporkan ke catatan sipil ?" Tanya Vino.
"Kamu salah Vin, pernikahan kami sudah sah di mata agama dan hukum." Batin Varo.
"Masalahnya tidak sesederhana itu. Apa kata mama dan papa nanti ?" Varo mulai resah.
"Kakak, tolonglah,,,, aku sangat mencintai Ananya, dan begitupun sebaliknya Ananya juga mencintaiku."
Begitu sakit rasanya mendengar adik kandungnya sendiri berkata bahwa ia mencintai istrinya. Tapi mau bagaimana lagi ? Bukankan perasaan itu sendiri tidak di kendalikan oleh otak, melainkan oleh hati ?
"Kita akan membicarakan ini nanti, okay ?" Varo berusaha menawar.
"Tidak kak, sebelum pernikahan kakak tersebar kakak harus mengakhirinya terlebih dahulu." Vino.
"Vino....!" Satu bentakan dari Varo berhasil membuat Vino tersentak. Seketika ia tertunduk tidak berani menatap wajah kakaknya.
"Kamu pikir sebuah pernikahan serendah itu yang bisa kamu permainkan sesuka hatimu, hah ?" Varo nampak ber api-api.
"Okay, begini... beri kakak waktu. Kakak janji akan menyelesaikan semuanya. Kakak janji. Kakak akan membicarakan hal ini dengan Ananya, mama dan juga papa." Varo menepuk bahu adiknya.
"Bagaimana jika mama dan papa tidak setuju kak ?" Tanya Vino lagi.
"Tenanglah, biar kakak yang mengatur semuanya." Vino pun berlalu.
Varo sedikit tenang mendengar perkataan kakaknya, setidaknya ia percaya kepada kakaknya bahwa ia akan segera menyelesaikan masalah ini.
Ia kembali mengambil benda pipih dari saku celananya, hendak menghubungi Ananya. Namun lagi-lagi Ananya tidak merespon panggilannya.
"Ananya, please.... jawab teleponku. Jangan menyiksaku seperti ini. Semua akan baik-baik saja." Gumam Varo lirih.
******
Di tempat lain, Ananya nampak termenung mengingat perkataan Vino. Ia masih mencintai pria itu, namun Ananya belum bisa menerima sikap ke kanak-kanakannya. Sedangkan Varo ? Ia sangat mengagumi sosok yang sangat dewasa itu. Ia begitu menghormatinya. Meskipun ia tidak tau bagaimana perasaan Varo sendiri, namun selama mengenalnya tak pernah sekalipun Varo menunjukkan sikap yang kurang berkenan di hati Ananya. Bahkan ia selalu menolong dan selalu ada buat Ananya.
Berbeda dengan Vino, ia selalu merasakan sakit sendiri saat bersamanya. Tidak hanya sekali dua kali Vino pergi tiba-tiba dan meninggalkannya demi wanita lain saat mereka sedang bersama.
.
...
.
.
.
.
To be Continued.
Mohon meninggalkan jejak setelah membaca.
LIKE
COMMENT
SHARE
ADD FAVORITE
Rate 5 ⭐⭐⭐⭐⭐
Vote Sebanyak-banyaknya.
Mohon kritik dan sarannya
Tetap jaga kesehatan yah teman-teman. Jangan anggap remeh pandemi ini.
Senantiasa jaga jarak, tetap gunakan masker dan rajin mencuci tangan
THANK YOU 🥰😘
Poin mana poin 😁😁😁