
Aluna terpaku ketika mendengar pengakuan Mia. Dalam benaknya berpikir, ia tidak menyangka jika teman yang sudah dianggap sebagai saudara itu telah menjadi duri dalam daging.
Namun ia juga bersyukur, karena ia sudah terlepas dari Tommy si brengsek itu. Lalu di pertemukan dengan Arjuna, suaminya.
Jika semua kejadian yang di alaminya di urutkan menjadi sebuah skenario yang sangat bagus dan tersusun dengan rapi.
"Aku tidak menyangka jika teman yang sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri, bisa menusukku dari belakang," ucap Aluna seraya mengulas senyum getir.
"Luna maafkan aku," lirih Mia.
"Untuk apa minta maaf? Sudah tidak ada artinya bagiku, karena hidupku sudah bahagia dengan suamiku," jawab Aluna.
Mia menundukkan kepalanya dengan dalam, menghela nafas panjang. Ia bingung dengan nasibnya saat ini, ia hamil di luar nikah, dan tidak ada yang bertanggung jawab. Apa yang harus ia lakukan? Apa yang harus ia rencanakan kedepannya? Dan tidak mungkin dirinya membesarkan anak yang ada di dalam kandungannya, bisa-bisa dirinya di bun*h oleh kedua orang tuanya.
"Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi 'kan?" Aluna berkata sembari beranjak dari duduknya.
Mia terkesiap, ia berpikir Aluna akan marah dan mengamuk kepadanya, tapi kenyataanya temannya bersikap biasa saja kepada dirinya.
"Aluna kamu tidak marah kepadaku?" tanya Mia, mendongak menatap Aluna yang sudah berdiri.
"Tidak, untuk apa marah. Hanya saja aku tidak ingin menyimpan duri di dalam daging. Kamu pasti tahu 'kan apa maksudku," jawab Aluna dengan datar, lalu segera beranjak dari sana meninggalkan Mia yang membisu di tempat.
Mia menatap kosong ke depan, kedua tangannya mencengkram erat ujung dressnya. Menangis dalam diam.
Sesal yang ia rasakan karena kehilangan sahabat sebaik Aluna, yang selalu ada untuk dirinya dalam suka maupun duka.
Hampa
Hatinya terasa hampa.
Kenapa dulu ia melakukan hal menjijikan seperti ini!
Ya Tuhan, apa yang harus dilakukannya? Apakah ia harus menggugurkan kandungannya? pikir Mia.
***
"Sudah selesai?" tanya Arjuna ketika istrinya menghampirinya.
"Apakah semua baik-baik saja?" tanya Arjuna lagi.
"Aku baik-baik saja, tapi tidak tahu dengan Mia," jawab Aluna, seraya mengulurkan tangan kanannya dan di sambut oleh suaminya.
Arjuna menggenggam erat tangan istrinya dengan hangat dan erat.
"Mia kenapa?" tanya Arjuna.
Aluna terdiam sesaat, sepertinya suaminya juga harus tahu tentang semua ini. Pada akhirnya ia mengatakan yang sejujurnya kepada suaminya.
"Musuh terbesar kita sebenarnya adalah orang terdekat kita sendiri," ucap Arjuna, dan Aluna membenarkan perkataan suaminya itu.
Arjuna dan Aluna berjalan memasuki rumah sakit, menuju ruang praktek dokter Ricky.
"Semuanya baik-baik saja, janinnya juga kuat. Jadi nanti kalian bisa terbang ke Paris," ucap Ricky setelah selesai memeriksa kandungan Aluna.
"Sudah kuat ya? Jadi aku boleh melakukannya?" tanya Arjuna dengan penuh harap.
"Melakukan apa?" Dokter Ricky malah balik bertanya.
"Ck! Itu berhubungan suami istri!" jawab Arjuna sembari menggertakkan gigi, kesal.
"Tentu saja boleh, siapa bilang tidak boleh? Bahkan sejak awal pun kamu boleh melakukannya," jawab dokter Ricky dengan santainya.
"What the fu*k! Dulu kamu bilang tidak boleh melakukannya, bahkan aku sudah menahannya satu bulan lebih, sialan!" umpat Arjuna.
"Oh, iya kah? Apakah aku mengatakan hal itu? Sepertinya aku lupa," jawab dokter Ricky.
Arjuna sudah seperti banteng yang ingin menyeruduk musuhnya!
Sepertinya Dokter Ricky niat sekali mengerjai Arjuna, wk wk wk wk.
****
Selamat hari senin, jangan lupa dukungannya, terima kasih. ❤