
Meskipun Tiara bukanlah tipe orang yang mau disuruh suruh oleh orang lain, tapi jika Rivan yang menyuruhnya, maka rasanya tidak ada daya untuk membantahnya sebagai baktinya kepada sang suami.
" Baiklah" ujar Tiara akhirnya mengiyakan perintah suaminya tanpa membantah sedikitpun.
' Tunggu aku, okey!' kata Rivan memastikan istrinya untuk segera bersiap siap pulang bersama dirinya.
" Dua puluh menit, kalau lebih dari itu aku pesen taksi online" Tiara justru tergoda untuk menantang suaminya dengan memberinya batas waktu untuk bisa sampai di butiknya.
' Nantang nih ceritanya?" goda Rivan dengan sudut bibir yang terangkat. ' Kira kira hadiahnya apa, sayang?" tak mau kalah Rivan juga menantang dan menjebak Tiara dalam perangkap untuk memberinya hadiah jika dirinya bisa sampai di butik milik istrinya sebelum dua puluh menit lagi.
Tentu saja yang ada diotak Rivan hadiahnya adalah salah satu keinginannya yang selama ini sudah menjadi ujian hidupnya sebagai seorang suami. Kali ini dia berharap Tiara akan memberinya hadiah yang diinginkannya tersebut meksipun belum ada kesepakatan.
" Waktu terus berjalan" goda Tiara tanpa menjawab pertanyaan Rivan dengan mengingatkan waktu yang dia berikan semakin berkurang saat dirinya melihat jam yang tertempel di dinding ruangannya.
Tiara tau apa maksud dari pertanyaan Rivan mengenai hadiah yang dia katakan. Pasti ada yang diinginkan oleh suaminya dengan pura pura menanyakan tentang hadiah. Makanya sebelum dirinya memasuki perangkap yang diberikan suaminya, Tiara berusaha untuk mengalihkan pertanyaan Rivan.
' Okay! tunggu aku ya, nyonya Rivan...." ucap Rivan sebelum menyelesaikan percakapan mereka di telepon dengan memanggil Tiara 'nyonya'l Rivan'.
Rivan yang terlebih dahulu menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu balasan dari Tiara. Dia segera melajukan mobil mewahnya menyusuri jalanan kota yang sudah mulai lenggang. Langit malam sudah mulai gelap dan kerlap kerlip lampu menghiasi gedung gedung tinggi dan juga jalanan yang kini bergantian menerangi jalanan kota Jakarta yang mulai gelap.
' Nyonya Rivan.... lucu juga rasanya dipanggil demikian, tidak terdengar terlalu buruk juga ' gumam Tiara setelah panggilan suara mereka diputuskan oleh suaminya terlebih dahulu. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna merasa bahagia, terharu sekaligus lucu. Suaminya itu memang benar benar telah membuatnya menjadi orang yang bahagia sekaligus gila oleh sikap Rivan.
Dengan wajah yang sumringah, tersenyum sendiri bahkan berkali kali menggelengkan kepalanya, Tiara membereskan kertas kertas yang masih berserakan dia atas mejanya. Kertas tersebut adalah beberapa hasil coretan desain baju yang akan dibuatnya menjadi baju yang indah.
Setelah dirasa semua sudah beres dan ruangan kerjanya juga sudah kembali bersih seperti sebelumnya. Tiara segera beranjak untuk menunggu Rivan di luar butiknya saja yang sudah ada beberapa penjual kaki lima berjualan di sekitar parkiran butiknya.
Dilihatnya waktu yang dia berikan sudah berjalan sekitar 12 menit, dia penasaran apa mungkin suaminya tersebut bisa tiba di butiknya seperti yang dia tantang tadi. Mengingat jarak yang harus ditempuh oleh Rivan dari kantor ke butiknya lebih dari dua puluh menit.
Tadi dia dia juga sedikit menggertak, jika Rivan tidak sampai di butiknya sebelum waktu yang telah dia tentukan maka dia akan langsung memesan taksi. Padahal dalam hatinya dia tidak akan melakukan hal itu, dia akan dengan sabar menunggu kedatangan suaminya sampai dia datang ke butiknya meskipun harus menunggu lebih dari dua puluh menit sekalipun.
Sementara itu di tempat lain, Rivan yang tergesa gesa tanpa menunggu sahutan istrinya lagi di telepon. Rivan langsung menutup teleponnya dan segera menuju mobil mewahnya untuk menjemput Tiara di butik milik istrinya. Rivan akan melakukan mobilnya dengan sekencang mungkin untuk bisa sampai di butik Tiara sebelum batas waktu yang diberikan Tiara.
Tiara terus keluar dari butiknya dan terlihat sudah banyak penjual yang memakai lahan parkir beberapa ruko di sekitar butik Tiara termasuk parkiran butiknya yang sudah tutup. Entah apa yang merasuki pikirannya sehingga dia sangat tidak sabar untuk bertemu Rivan.
" Sudah mau pulang mbak Tiara?" tanya seorang satpam yang memang bertugas menjaga beberapa ruko di sana.
" Iya pak" sahut Tiara yang tersenyum tipis setelah menutup pintu kaca butik miliknya.
Kemudian pak satpam membantu Tiara menutup pintu rolling door yang berbentuk seperti harmonika milik butik Tiara dan langsung menguncinya setelah Tiara memberikan 3 gembok sebagai pengunci keamanan butik Tiara.
" Ini mbak" pak satpam langsung mengembalikan kunci gembok pada Tiara dan langsung diterima oleh Tiara.
" Nunggu taksi online, mbak Tiara?" tanya pak satpam lagi dengan ramah.
" Nggak pak saya nunggu jemputan" sahut Tiara yang juga berkata dengan sopan.
" Ya sudah saya tinggal dulu keliling, mbak" pamitnya.
" Iya pak" sahut Tiara yang masih setia berdiri di depan butiknya.
Mata Tiara menatap ke arah jalan raya yang tidak terhalang oleh tenda warung penjual makanan. Dia mencoba melihat beberapa orang yang berlaku lalang di sekitaran sana untuk memastikan bahwa suaminya memang belum sampai di butiknya.
' Dia pasti masih berada di jalan' gumam Tiara setelah melihat jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
Kini dia seperti orang gila sendirian menunggu Rivan di depan butiknya dengan bibir yang tidak berhenti tertutup membentuk senyuman. Permainan kejar kejaran waktu antara dirinya dan Rivan membuat dirinya jauh lebih bersemangat dari yang seharusnya dia rasakan.
' Apa mungkin karena bersama Rivan, makanya menunggu pun terasa begitu menyenangkan?' tanya Tiara dalam hati. Dia bahkan harus melipat bibirnya ke dalam untuk mengontrol dirinya agar tidak dikira orang stress karena tertawa tawa sambil berdiri sendirian.
Saat dirinya masih dengan pemikiran serta pertanyaan pertanyaan yang terus melintas di otaknya. Tiba tiba terdengar suara seorang pria memanggil dirinya yang sedang berdiri sendiri.
" Tiara!" panggil seorang pria yang sedang berjalan mendekat ke arahnya yang berada di belakangnya.
Kepala Tiara yang saat itu dipenuhi dengan Rivan, serta penantiannya terhadap laki laki tersebut membuat jantungnya ingin melompat.
Dapat Tiara dengar dan dia kenali suara pria tersebut yang dari tadi pagi selalu membuat hari harinya semakin buruk. Dia langsung berasumsi bahwa Rivan-lah yang telah memanggil dirinya. Tiara buru buru berbalik dan tersenyum dengan lebar.
Sejenak Tiara melihat jarum jam yang melingkar manis di pergelangan tangannya dan seketika langsung tersenyum. Ternyata belum ada Dua puluh menit sesuai dengan kesepakatan yang dia berikan. Dia tidak menyangka bahwa laki laki yang ditunggunya tidak hanya datang lebih cepat dari dugaannya. Rupanya pria tersebut memberinya kejutan dengan menunggunya di sekitar butiknya.
Tiara langsung membalikkan badannya untuk melihat dan memastikan suaminya Rivan yang telah berdiri di belakangnya. Bibir yang awalnya tersenyum dengan lebar, seketika langsung lenyap saat dirinya mendapati sosok di belakangnya bukanlah seperti yang dia bayangkan melainkan orang lain.
Sosok pria yang sudah tidak dia harapkan entah berada di depan matanya maupun dalam hidupnya. Sosok pria yang tadi pagi sudah berani mengganggu dirinya dengan mengajak dirinya mengobrol dan seketika langsung membuat mood Tiara tadi pagi langsung menjadi buruk seketika.
Benar apa yang kalian pikirkan bahwa pria tersebut adalah Dika. Pria yang sudah membuat hari harinya menjadi trauma mengenai seorang pria yang pernah dikenalnya selama bertahun tahun lamanya. Seorang pria yang tadi pagi tiba tiba datang menemui juga di tempat tersebut yang langsung membuat moodnya seketika langsung memburuk.
Bagaimana moodnya tidak memburuk disaat dirinya sudah bisa menghilangkan rasa trauma di dalam hatinya karena seorang pria selam bertahun tahun. Serta dirinya yang sudah bisa berdiri tegak setelah berdampingan dengan seorang pria yang telah membuat hidupnya sangat bahagia siapa lagi kalau bukan Rivan suaminya.
Tiba tiba pria tersebut dengan seenaknya saja meminta maaf dan yang lebih parah meminta dirinya kembali menjadi pasangan hidupnya. Sungguh seorang pria yang tidak punya rasa malu mengajak baikan dengan wanita lain padahal dirinya sudah memiliki istri yang sedang menunggunya di rumah mereka.
" Hai" sapa Dika kembali dengan wajah yang sumringah karena dia mengira senyum lebar yang Tiara sematkan di bibirnya barusan adalah untuk dirinya. Tapi rupanya hal tersebut hanya salah paham semata yang tidak dipedulikan oleh Dika yang terpenting dia bisa melihat kembali senyum cerah Tiara.
Tiara tidak membalas sedikitpun sapaan dari Dika. Wajahnya sudah berubah menjadi datar dan dingin lagi. Tiara langsung membalikkan badannya lagi dan menganggap Dika hanyalah orang asing yang kebetulan saja lewat di depan butiknya.