Suddenly Married

Suddenly Married
Makan malam keluarga.



Alvaro memasuki halaman kediaman keluarganya, kemudian langsung memarkirkannya di garasi. Ia memasuki rumah diikuti Ananya di belakangnya.


"Nah, ini dia yang dibicarakan sudah datang." Kata Diandra. Hendra, Melda dan Sherly yang tengah duduk di ruang tamu menoleh ke arah Alvaro yang baru saja menginjakkan kakinya dinruang keluarga.


Gadis cantik yang berbalut mini dress bertubuh mungil itu menatap aneh ke arah Ananya yang berdiri di samping Alvaro.


"Kak Varo, long time no see..!" Sherly mendekat ke arah Varo kemudian memeluknya, seperti biasanya Varo tidak membalas pelukan Ananya.


"Ananya, sini duduk sama tante. Perkenalkan ini Om Hendra Sepupunya Om Ryan dan ini istrinya tante Melda." Diandra memperkenalkan Hendra dan Melda kepada Ananya.


"Halo, tante.. Saya Ananya, teman..."


"Dia ini asistennya Varo di kantor." Kata Diandra yang memotong perkataan Ananya yang hendak memperkenalkan diri sebagai teman Vino.


"Dan ini Sherly, tsman kecil Vino, anaknya Om Hendra." Diandra lanjut memperkenalkan Sherly, keduanya bersalaman dan saling memperkenalkan diri.


"Maaf, Ma, Om, dan tante... Varo ke kamar dulu yah. Mau ganti baju dulu. Nya, kamu tunggu sebentar yah..." Pamit Varo. Ananya hanya mengangguk.


Sedangkan Sherly, raut kekecewaan nampak di wajahnya karena merasa di abaikan oleh Varo.


"Kak Varo masih tetap sama, ia tidak pernah mau memandangku. Tapi kenapa dia terlihat sangat peduli dengan asistennya ? Apa mereka punya hubungan khusus ?" Batin Sherly.


"Hai semua wanita-wanita cantik ?! Hai sher..." Vino datang memecah keheningan.


"Vino, Sang juara, Jagoan Om ini semakin ganteng yah..." Kata Hendra.


"Vino udah pensiun Om, di paksa sama Papa. Hahaaha..." Kata Vino enteng.


"Tapi kan untuk kebaikan kamu juga sayang.." Diandra menyahuti. Sedangkan Ryan lebih memilih diam mendengar percakapan mereka.


Vino memilih duduk di samping Ananya yang sedari tadi terdiam.


"Eh, kamu sudah dari tadi ? Kenapa dandan seperti ini ?" Tanya Vino menatap aneh sahabatnya.


"Emang kenapa ? Jelek yah ?" Ananya cemberut mengerucutkan bibirnya.


"Iya, kamu tidak cocok berpenampilan seperti ini." Jawabnya mengacak-acak rambut Ananya.


Melihat keakraban keduanya, lagi-lagi Sherly merasa terasingkan. Biasanya, saat bertemu Vino dia akan menjadi orang nomor satu yang di perhatikan oleh Vino.


"Segitu istimewanya kah wanita ini, bahkan Vino pun lebih memperhatikannya dari pada aku." Kata Sherly dalam hati.


Tidak lama kemudian, Varo turun dari kamarnya dan ikut bergabung dengan mereka. Penampilannya terlihat lebih santai, menggunakan celana jeans dan kaos yang berkerah tinggi ngepas di badan membuat otot-ototnya nampak sexy.


"Vin, dari tadi kamu gangguin Ananya terus. Kasihan dia, mau dimarahin kamu sama bossnya ?" kata Diandra.


"Yee... Mama, belain Nya terus. Anak mama itu Vino, bukan Ananya." Gerutu Vino.


"Sudah-sudah, kita makan sekarang. Makanan sudah siap kan sayang ?" Ryan menyudahi perdebatan ibu dan anak itu.


"Iya, ayok mari semua kita ke ruang makan saja." Ajak Diandra.


Mereka menuju ruang makan, kemudian duduk di kursi masing-masing. Diandra memilihkan kursi untuk Ananya di samping Alvaro, padahal Sherly baru saja ingin duduk disana. Sherlypun bergeser duduk di samping Vino.


Makanan sudah tersaji, mereka pun makan malam sesekali perbincangan dan candaan kecil menemani santap makan malam mereka.


"Firasatku tidak munkin salah, Varo sepertinya mulai menyukai Ananya. Saat ia menatap Ananya sagat berbeda, sangat berbeda jika ia menatap Sherly." Gumam Diandra dalam hati saat mengamati anaknya.


Usai makan malam, semuanya kembali berkumpul di ruang tengah. Tujuan Diandra menggelar makan malam sebenarnya hanya ingin merayakan kemenangan Vino di turnamen terakhirnya dan menyambut kedatangannya di perusahaan. Diandra berharap agar anak bungsunya itu bisa lebih dewasa lagi, dan memikirkan masa depannya. Kebetulan Hendra dan Melda pun sedang berkunjung, jadi menurutnya ini adalah waktu yang pas buat mereka berkumpul. Ananya, yah dia sengaja mengundangnya agar Ananya bisa lebih akrab dengan keluarganya. Ia jatuh cinta kepada Ananya saat pertama kali melihatnya, ia sangat berharap kelak Ananya akan menjadi menantunya, menjadi istri Alvaro.


"Maaf tant, Nya mau pamit dulu sudah larut malam." Pamit Ananya.


"Iya, Nya... kamu nginap aja yah. Kita main sampai pagi, kebetulan ada sherly disini. Lagian besok kan libur." timpal Vino.


"Maaf, tadi Nya tidak ijin menginap sama Ibu. Lain kali aja yah, tant..." Bujuk Ananya pada Diandra yang tengah merajuk.


"Atau tante telpon Ibu kamu, bagaimana ?" Tawar Diandra.


"Mah... jangan seperti itu dong Ma... Kasian Ananya. Biarkan dia pulang. Varo janji nanti bakal ijin ke Ibu Lena untuk bawa Ananya kesini." Varo membujuk Mamanya yang terlihat sedih. Sebenarnya ia pun heran, Mamanya yang terkesan cuek itu bisa segitu sayangnta kepada Ananya yang hanya teman dari adiknya.


"Baiklah nak, Sekarang kamu antar Ananya pulang, tapi kamu janji yah nanti ijin sama Ibu Ananya." Pinta Diandra.


"Biar Vino yang antar Ma..." Vino menawarkan diri.


"Jangan, kamu disini aja temenin Sherly. Varo yang membawa Ananya kesini, jadi Varo juga yang akan membawanya pulang" Tolak Diandra.


"Mama, Tante Lena itu kenal Vino, dia tidak akan keberatan Mama.." Bantah Vino.


"Begini saja, biar Ananya pulang sendiri yah Tan..." Pungkas Ananya.


"Tidak boleh !" Vino, Varo dan Mama Dian menjawab dengan serentak.


"Ayo, aku antar sekarang." Varo menarik tangan Ananya meninggalkan Vino yang nampak kesal. Ananya pun mempercepat langkahnya menyamai langkah Varo. Keduanya pun pergi meninggalkan Mansion Keluarga Wijaya.


"Apa bagusnya wanita itu, sampai Varo dan Vino berebut ingin mengantarnya pulang. Aku jadi terabaikan disini. Biasanya Vino sangat mengistimewakan diriku, tapi sekarang ? Kak Varo juga semakin tidak memandangku." Gerutu Sherly dalam hati.


"Sherly sayang, bagaimana kuliahmu ?" Tanya Diandra.


"Sebentar lagi kelar Tante, thesisnya masih di revisi. Doakan yah tant, mudah-mudahan cepat selesai." Jawab Sherly dengan anggun.


"Tante yakin Sherly pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Kalau begitu Sherly istirahat dulu di kamar, kamu pasti sudah sangat lelah sayang. Vin, tolong antar Sherly yah, kamarnya sudah di siapkan sama Bibi tadi." Perintah Diandra.


"Gak Ma, Vino mau ngajak Sherly ke Balkon, biasa anak muda, mau berbagi cerita dulu. Ya kan Sher...?!" Ucap Vino sambil mengedipkan matanya.


"Tapi jangan sampai larut yah, kasian Sherly pasti capek." kata Diandra.


"Tidak kok Ma.. ayok Sher.." Ajak Vino.


Vino dan Sherly menuju balkon di lantai atas, sedangkan Papa Ryan dan Om Hendra sedari tadi derada di ruang kerja. Diandra dan Melda pun menyusul para suami ke ruang kerja.


.


.


.


.


To Be Continued


Like


Comment


Add Favorite


Rate 5⭐⭐⭐⭐⭐


Mohon masukannya, dan Vite se ikhlasnya.


Terimakasih 😘😘😘