
Pagi yang cerah, Ananya memasuki gedung Wijaya Group dengan langkah yang sedikit di percepat.
"Ananya,,,!" teriak seseorang. Ananya berbalik ke arah sumber suara dan menghentikan langkahnya.
"Vin.. kenapa teriak-teriak." Jawab Ananya.
"Kamu darimana saja ? Sepertinya kamu sangat sibuk dan mulai mengabaikanku. Apa pekerjaanmu sekarang jauh lebih penting dari pada aku ?" Vino menunjukkan wajah yang tidak bersahabat. Sepertinya ia sedang kesal pada Ananya.
"Maksud kamu apa sih ? Tiap hari kan kita ketemu. Kamu lihat kan aku tiap hari ke kantor. Kamu tuh yang terlalu sibuk dengan para gadismu." Ananya membalas Vino.
"Come on Ananya, you know lah, gak ada kamu gak seru. Gak ada yang bantuin aku mengusir mereka." Gerutu Vino.
"Vin... sampai kapan kamu seperti ini. Sudah cukup main-mainnya. Apa kamu gak kasian sama mereka yang sangat berharap kepadamu. Apa kamu tidak takut karma ?" Nasehat Ananya kepada sahabatnya.
Ananya berusaha menghentikan pembahasan mereka karena ia sudah berada di depan ruangannya.
"Vin, aku lanjut kerja yah.." Pamit Ananya.
"Lunch sama-sama yah ntar.!" Ajak Vino.
"Sowry... Sudah ada janji dengan Pak Varo dan Client." Tolak Ananya.
"Shiitt...! Sekarang kamu lebih mendengar kakak dari pada aku. Kan aku yang lebih dulu kenal sama kamu di banding kakak. Tapi sekarang kamu malah asik-asikansama kakak. Teman kamu itu aku, bukan kakak tua itu." Vino semakin kesal. Umpatan-demi umpatan berhasil lolos dari mulutnya sampai-sampai ia tidak menyadari sosok sang kakak sudah berdiri di belakangnya. Ananya berusaha memberi kode kepada Vino bahwa yang di umpati mendengarkan ocehannya, namun Vino sama sekali tidak peka.
"Ehem... berani mengataiku di belakang ?" Sontak Vino membalikkan badan ke arah suara berat itu.
"Ti...ti..dak kakak. Mana berani Vino mengatai kakak Vino sendiri." Vino menggaruk tengkuknya yan tidak gatal.
"Terus, barusan apa ?" Varo.
"Tidak kak, Vino pamit yah mau kerja." Vino mengambil langkah seribu meninggalkan kakak dan sahabatnya. Varopun masuk ke ruangannya di ikuti oleh Ananya.
Setibanya di ruangan, Varo langsung membuka laptop dan Ananya duduk di depannya dengan beberapa berkas di tangannya. Sesuai dengan pesan singkat yang di kirimkan oleh Varo tadi pagi, keduanya langsung memulai diskusi untuk mempersiapkan meeting dengan client besar siang ini, Heri pun ikut bergabung dengan Varo dan Ananya. Tak Lama kemudian, keduanya menuju ruangan Papa Ryan untuk menyampaikan hasil diskusi mereka.
Setelah mengetuk pintu, Varo langsung menarik knop pintu dan membukanya. Ia masuk ke dalam ruangan Papa Ryan diikuti Ananya di belakangnya. Ternyata bukan hanya Papa Ryan yang ada di ruangan itu, akan tetapi Mama Diandra dan juga Vino juga ada di dalam. Entah apa yang mereka perbincangkan.
"Kenapa Mama ada disini ?" tanya Varo.
"Iya, tadi mama ke butik dan kebetulan lewat sini sekalian aja mama mampir. Ananya, bagaimana kabar kamu sayang ? Apakah Varo menyusahkanmu..?" Diandra beralih menatap Diandra.
"Nya baik kok tante, Pak Varo juga baik sama Nya tan." Jawab Ananya merasa tidak enak.
"Mama ini kenapa ? memangnya mama pikir anak mama ini bisa jahat sama bawahan ?" protes Varo.
"Mama kan tau bagaimana watakmu pada perempuan, wajar saja jika mama bertanya demikian." Jawab Diandra.
"Jangan salah, Ma... Kakak sangat......" kata-kata Vino terpotong oleh sorot mata Varo yang tajam bak pedang yang siap menyerang mangsanya.
"Sudahlah, Vino kembali ke ruanganmu dan lanjutkan pekerjaanmu." Papa Ryan menengahi perbincangan ketiganya, sedangkan Ananya hanya terdiam mendengar percakapan ibu dan anak itu.
"Maaf, Pa... Ini laporan yang Papa minta. Jam makan siang nanti Varo dan Ananya yang akan menemui Pak Baskoro untuk membicarakan lebih lanjut rancangan pembangunannya. Mungkin papa bisa memeriksa kembali draft PK nya, jangan sampai ada yang varo lewatkan." Kata Varo sembari menyerahkan sebuah map kepada Papa Ryan.
"Kamu sudah memeriksanya ?" Lidik Papa Ryan.
"Varo dan Ananya sudah memeriksanya pak. Heri pun sudah mencocokkannya dengan data yang ia punya." Jawab Varo mantap.
"Baiklah, papa percaya pada kalian. Satu pesan papa, kalian jangan lengah dengan Pak Baskoro, setau papa ia orang yang sangat ambisius dan mementingkan dirinya sendiri. Jangan sampai dia bertindak curang kepada kita. Papa percayakan project ini kepada kalian, tapi kalian Jangan sungkan meminta bantuan papa jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan." Terang Papa Ryan.
"Baik, Pa... Varo mengerti. Kalau begitu Varo permisi dulu pa..!" Varo berpamitan.
"Tunggu nak, sebentar malam pulanglah lebih awal. Bibi Melda dan Paman Hendra mau berkunjung. Kita akan makan malam bersama. Kalau ada waktu, ajak Ananya juga. Ananya bisa kan sayang ?" Tanya Mama Dian.
"Baguslah, Varo akan menjemputmu." Kata Mama Dian lagi.
"Nya bisa datang sendiri tante..." Jawab Ananya merasa tidak enak.
"Tidak, anak gadis tidak boleh berkeliaran sendiri. Varo akan menjemputmu, iya kan Varo ?" Tanya Mama Diandra lagi dan lagi.
"Iya Mama... Mama Puas? Sekarang Varo dan Ananya mau keluar dulu yah." Varo meninggalkan ruangan Papa Ryan namun sebelumnya tidak lupa ia mendaratkan ciuman di pipi sang ibu. Tanpa ia sadari, ia menarik tangan Ananya keluar dari ruangan itu.
"Pak Varo,..." Kata Ananya lirih. Varo menghentikan langkahnya.
"Ya....?" Varo menoleh ke arah Ananya.
"Tangan Nya pak..." Ananya melirik ke arah pergelangan tangannya yang di genggam oleh Varo.
"Oh, sorry.." Varo melepaskan geggama tangannya perlahan, kemudian melanjutkan perjalanan ke hotel dimana ia membuat janji dengan Pak Baskoro.
***
"Bagaimana menurut papa ?" Tanya Diandra kepada suaminya.
"Bagaimana apanya ?" Ryan penasaran.
"Varo dan Ananya, mama lihat keduanya sangat cocok. Yang satu kaku, dan satunya lagi periang." Jawab Mama Dian.
"Sayang, biarkan anak-anak menentukan pilihannya sendiri. Lagipula bukannya Ananya itu kekasihnya Vino ?" Ryan balik bertanya.
"Mereka hanya berteman pah... Papa kan tau sendiri dari Kecil Vino sukanya saa Sherly." Jawab Mama Dian.
"Sherly...? Maksud mama anaknya Hendra ? Yah waktu itu mereka kan masih kecil sayang. Jangan ngarang deh Mama..!" Kata Ryan.
"Mama gak ngarang pah, hanya seorang Ibu yang bisa merasakan perasaan anak-anaknya. Mama yakin, Varo suka sama Ananya. Mama gak sabar pengen liat Varo menikah pah, jadi papa mohon dukungannya yah." Pinta Mama Dian.
"Terserah kamu saja sayang, asalkan jangan memaksakan kehendak pada anak-anak, papa setuju-setuju saja." Ucap Ryan bijak.
"Tentu saja, Mama juga pengen anak-anak Mama bahagia."
Begitulah perbincangan Ryan dan Diandra mengenai rencana perjodohan anaknya Varo dan Ananya. Entah mengapa, Diandra sangat yakin bahwa Ananya adalah gadis yang cocok untuk mendampingi putra sulungnya.
.
.
..
.
..
To Be Continued....
Mohon di Like sayang.
Jangan lupa commentnya, agar author bisa lebih semangat lagi update Babnya.
Vote nya please... ,😍
Thank You 😘