
Tiara dan Rivan segera menyelesaikan sarapan mereka yang selalu diselingi dengan obrolan ringan serta candaan dan godaan yang selalu dilontarkan oleh Rivan. Meskipun dalam hati Rivan ada sedikit rasa cemas dan khawatir yang menghantui dirinya mengenai hubungan mereka yang masih berjalan ditempat.
Hubungan mereka memang semakin mesra tidak harinya, tapi hal itu bisa saja langsung jatuh jika ada sebuah sandungan batu besar yang menghalangi hubungan mereka berdua. Mereka yang hanya makan bersama bergandengan tangan berpelukan, meskipun mereka sesekali berciuman namun hanya ciuman biasa tidak lebih.
Karena hubungan mereka inilah yang hanya berjalan layaknya orang yang sedang berpacaran saja. Tanpa ada hubungan intim yang terjadi dalam hubungan mereka padahal mereka sudah lebih dari boleh untuk bisa melakukannya. Tapi karena Tiara masih belum siap melakukannya maka sampai detik ini mereka belum pernah melakukannya meskipun mereka sudah tinggal dalam satu atap dan tidur di ranjang yang sama.
Setelah kejadian dia memergoki istrinya yang ditemui oleh mantan kekasihnya, meskipun Tiara seolah enggan menerima kehadiran pria yang sudah memiliki istri tersebut. Tetapi ada rasa khawatir dan cemas bahwa Tiara akan menerima kembali pria tersebut dalam hidupnya dan meninggalkan dirinya. Apalagi Tiara yang seolah menutup nutupi darinya padahal dia sudah siap untuk mendengar cerita istrinya, tapi sampai detik ini Tiara bahkan tidak mengatakan apa apa padanya.
" Sepertinya aku harus segera berangkat" ucap Rivan setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
" Huh!" Tiara menghembuskan nafasnya dengan pelan, entah kenapa rasanya dia tidak ingin suaminya pergi dari sampingnya.
Hembusan nafas Tiara tersebut bisa didengar oleh Rivan yang duduk di sebelahnya. Dan Rivan tersenyum lucu saat melihat bibir Tiara yang manyun ke depan. Rasanya ingin sekali menggigit bibir tersebut
" I miss you, sayang" ucap Rivan tiba tiba yang langsung sembari tersenyum dengan lembut.
Ucapan Rivan yang begitu kontras membuat Tiara menoleh ke samping dengan kedua alisnya naik ke atas, bingung dengan maksud perkataan suaminya.
'Cup' Rivan langsung mengecup bibir Tiara sekilas saat wajah mereka berhadapan begitu Tiara menolehkan wajah ke arahnya.
Sontak saja hal itu langsung membuat Tiara tersadar. " Ihhh.... kamu itu sengaja ya! gak jelas ngomong apa, habis gitu langsung nyosor aja!" seru Tiara merasa kesal, yang langsung membuat bibirnya lebih manyun dari biasanya.
" Hahaha... i miss you too, aku tau kamu masih pengen aku ada di sini, kan..." Rivan tertawa melihat wajah istrinya yang begitu menggemaskan. " Lalu siapa yang bisa tahan ngelihat bibir manyun kayak gini, maunya malah pengen gigit aja tuh bibir" lanjut Rivan sambil memegang bibir manyun Tiara dengan lembut.
Tiara menepis tangan Rivan yang ada di bibirnya dengan penuh kesal, namun dia juga merasa bahagia mendapatkan kasih sayang dari suaminya. Memang benar apa yang dikatakan suaminya dia merasa berat jika harus berpisah dengan Rivan padahal mereka hanya berpisah beberapa jam saja, entah kenapa rasanya begitu berat.
Rivan segera berdiri dari duduknya dan diikuti oleh Tiara yang juga ikut berdiri untuk mengantarkan Rivan keluar dari butiknya.
" Nanti aku akan jemput kamu, sayang" beritahu Rivan kemudian mencium seluruh wajah Tiara mulai dari dahinya dan berakhir di bibir ranum milik Tiara hanya sekilas saja karena dia tidak ingin sampai lepas kendali.
" Iya, jangan sampai lupa untuk makan siang" ujar Tiara menasehati suaminya yang sering lupa untuk makan siang apalagi jika sudah berkutat dengan pekerjaannya dia tidak akan mengabaikan makan siangnya jika tidak ada yang mengingatkan dirinya.
Makanya hampir setiap hari Tiara selalu mengirim pesan atau menelponnya jika perlu hanya untuk mengingatkan suaminya agar segera menghentikan pekerjaan dan langsung makan siang. Dan hal itu sukses membuat Rivan menjadi orang yang bahagia bisa mendapatkan perhatian lebih dari istrinya dan pola makannya mulai teratur semenjak dirinya menikah dengan Tiara.
" Iya, sayang" sahut Rivan yang kemudian mengajak Tiara untuk keluar dari ruangan kerja istrinya.
Kali ini Tiara sudah terbiasa berjalan bersama bergandengan tangan dengan Rivan meskipun menjadi bahan tontonan orang orang yang ada di sekitarnya. Termasuk seluruh karyawan di butiknya yang melihat dirinya dan Rivan, begitu juga dengan para pelanggan yang sedang memilih beberapa baju desain milik Tiara.
Semua orang melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan penuh pujian. Bagaimana tidak mereka berdua pasangan yang sangat serasi. wajah mereka yang tampan dan cantik membuat semua orang merasa iri saat melihat mereka berjalan bergandengan tangan.
Wajah Rivan yang tampan, tubuh tinggi tegap, kulit bersih serta dengan penampilannya yang selalu terlihat memukau membuat perempuan yang melihatnya langsung terpesona dan sulit mengalihkan pandangan mereka. Meskipun wajah Rivan selalu menampilkan wajah yang terlihat datar, cuek dan sombong bahkan matanya selalu fokus melihat jalan tanpa sedikitpun melirik para wanita yang terpesona padanya.
Begitu juga dengan Tiara yang memiliki wajah cantik, kulit putih bersih, rambut panjang, hidung mancung, tinggi yang cukup standar untuk ukuran seorang perempuan serta penampilan setiap harinya yang selalu terlihat elegan. Entah kenapa baju yang setiap hari dipakai oleh Tiara selalu pas dan terlihat elegan di tubuh Tiara, padahal baju yang dipakai Tiara baju biasa yang biasa dipakai juga oleh perempuan lain pada umumnya.
" Aku pergi dulu!" pamit Rivan lagi saat mereka sudah berdiri di sebelah mobil mewah milik Rivan, wajah menatap istrinya dengan penuh sayang.
Tanpa berkata Tiara mengambil tangan kanan Rivan dan mencium tangan tersebut dengan lembut. " Hati hati di jalan" ucap Tiara menasehati setelah selesai mencium tangan Rivan.
Rivan tersenyum dan mengangguk lalu mencium dahi Tiara tanpa memperdulikan tatapan orang orang yang mungkin melihat mereka. Kemudian Tiara masuk ke dalam mobil dan membuka kaca jendela untuk melihat Tiara sebelum melajukan mobilnya.
" I Love you" ucap Rivan dari dalam mobil dengan tersenyum lembut.
" Love you too" balas Tiara tidak Kalam lembutnya.
Rivan segera menyalakan mobilnya dan melajukan mobilnya dengan pelan meninggalkan butik milik istrinya setelah melambaikan tangannya kepada Tiara. Sementara Tiara masih terdiam di tempatnya dengan senyuman yang tidak pernah luntur sedari tadi. Tangannya membalas lambaian tangan Rivan hingga mobil yang dikendarai suaminya menjauh dari butiknya.
Tiara masuk kembali ke dalam butiknya setelah tidak melihat bayangan mobil Rivan yang sudah berhamburan bersama dengan mobil lainnya.
" Mbak Tiara tadi itu pacarnya ya?" tanya salah satu karyawannya.
Tiara hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan salah satu karyawannya, dia juga tidak mengatakan apapun.
" Iya mbak kenalin ke kita kita dong pacarnya" ucap yang lainnya menimpali.
" Jangan mbak! nanti malah diembat sama dia" sahut yang lainnya lagi.
" Tampan sih.... tapi dinginnya itu loh, nakutin..." balasnya dengan berpura pura merinding hingga membuat mereka yang berada di sana tertawa pelan.
" Iya dingin banget, gak bisa diajak bercanda"
Tiara juga tertawa pelan dan tidak tersinggung sama sekali karena yang saat ini di tertawakan adalah suaminya sendiri. Dia tidak peduli apa kata orang yang terpenting Rivan akan selalu bersikap manis dan hangat terhadapnya, selalu tersenyum bahkan sesekali juga tertawa jika sedang bersamanya.
" Tapi kayaknya dia sayang banget ya sama mbak"
" Iya dia terus menggandeng tangan mbak Tiara loh..."
" Hemm... jadi iri deh..."
Beberapa kali karyawan Tiara selalu menggoda dirinya, namun dia tetap tidak bergeming. Dia sama sekali tidak menjawab atau menyahuti ucapan mereka. Bahkan dia hanya diam tersenyum dan tidak marah sama sekali pada mereka semua.
" Waktunya bekerja" ujar Tiara dengan masih terus tersenyum lembut pada semuanya tidak ada perasaan kesal ataupun marah sama sekali.
" Siap bu bos!" sahut mereka bersamaan tentu saja dengan candaan yang membuat suasana butik menjadi ramai dan hangat dengan sikap mereka yang selalu bersikap baik dan ramah dengan semuanya.
Semua langsung tertawa bersamaan namun dengan suara yang pelan agar tidak mengganggu pelanggan yang sedang berbelanja. Semua karyawan langsung pergi ke tempat awal mereka sebelum menggoda Tiara. Sementara Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis melihat karyawannya. Lalu dia sendiri juga langsung naik ke atas untuk pergi ke ruangannya yang ada di lantai dua.