Suddenly Married

Suddenly Married
Sensitif



Gwen mengulas senyum saat melihat Aluna terlihat sedih mengetahui kondisi putrinya.


“Awalnya kami juga terpukul dan merasa hancur, tapi seiring berjalannya waktu kami mulai menerima kondisi Anaya. Dia sangat spesial,” jelas Gwen kepada Kakak iparnya.


“Kamu ibu yang hebat, Gwen. Aku rasa tidak akan sanggup jika berada di posisimu,” ucap Aluna sambil menggenggam tangan mungil Anaya.


Bayi berusia 13 bulan itu tersenyum ceria memperlihatkan deretan gigi susunya yang rapi.


Aluna merasa ada sebuah kehangatan merasuk ke dalam dadanya saat menggenggam tangan kecil Anaya.


“Aduh, kenapa menjadi melow begini ya.” Gwen berkata sambil tertawa pelan, lalu mencium kedua pipi Anaya dengan begitu gemas.


Aluna tersenyum menanggapinya, seraya mengusap sudut matanya yang sedikit mengeluarkan air mata.


"Jangan ikut bersedih, Kak. Anaya saja tersenyum ceria," ucap Gwen kepada Aluna, sembari menoel pipi putrinya dengan gemas.


"Aku tidak sedih, tapi terharu," jawab Alun berkaca-kaca.


Gwen mengusap punggung kakar iparnya dengan lembut saat melihat Aluna semakin terisak. "Kak, jangan menangis." Gwen menjadi tidak enak hati karena telah membuat Aluna bersedih hati.


"Sory, Gwen. Belakangan ini aku sedikit sensitif," ucap Aluna seraya mengusap wajahnya yang banjir air mata.


"Tidak apa-apa. Jangan menangis, jika Abang melihatnya maka aku yang akan di hajar olehnya karena sudah membuat istri cantiknya menangis," ucap Gwen, menghibur kakak iparnya itu.


"Jika dia berani memarahimu maka aku akan menghajar dia," ucap Aluna seraya terkekeh pelan.


Aluna seharian itu bermain dengan Anaya. Ia merasa sangat bahagia, dan tiba-tiba di dalam hatinya ingin memiliki bayi seperti Anaya. Pasti pernikahannya akan bertambah bahagia dengan hadirnya buah hati diantara mereka.


"Bye, Aunty, Oma, dan Opa, Naya pulang dulu." Pamit Gwen sambil melambaikan tangan Anaya ke arah Aluna dan kedua orang tuanya.


"Bye cantik. Pak, nyetir mobilnya hati-hati ya," pesan Fika kepada sopir Gwen.


Aluna melambaikan tangannya saat mobil yang di naiki Gwen dan Anaya mulai menjauh. Hati Aluna merasa sedih berpisah dengan Anaya yang menggemaskan itu.


"Ada apa?" tanya Fika saat melihat menantunya terisak lirih.


"Nggak tahu, Ma. Hatiku merasa sangat sedih," jawab Aluna sambil menghapus air matanya.


Fika dan Nue saling pandang lalu keduanya itu tersenyum penuh arti.


"Jangan sedih lagi. Ayo, bersiap karena Arjuna mengajak kita makan malam di restoran," ucap Fika kepada menantunya yang mulai tenang.


"Makan malam? Tumben?" tanya Aluna, karena selama menikah dengan Arjuna, ia tidak pernah ajak makan malam di luar.


"Ada acara apa?" tanya Aluna lagi.


"Hanya makan malam biasa. Nanti pakai dress yang sudah Mama siapkan," ucap Fika menuntun menantunya itu memasuki rumah.


"Baiklah, Ma," jawab Aluna segera menuju kamarnya untuk segera bersiap.


Di atas tempat tidurnya ada goodie bag berwarna putih, terlihat sangat mewah, dan Aluna yakin jika di dalamnya berisi dress yang sudah di siapkan oleh ibu mertuanya.


"Oh My God! Indah sekali." Aluna saat membuka goodie bag tersebut, benar saja di dalamnya ada dress yang sangat indah dan mewah.


"Apakah orang kaya jika ingin makan malam harus memakai pakaian mewah seperti ini?" Aluna bergumam sembari meletakkan dress tersebut di atas tempat tidur. Kemudian ia segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


****


Sawerannya dong bestie ❤