
Sebelumnya....
"Menangislah, jika dengan menangis bisa membuatmu tenang." Kata Anna dengan pelukan hangatnya.
Setelah merasa lebih tenang, Ananya melonggarkan pelukannya. Perlahan ia pun menarik diri menjauhi bunda Anna dan menghapus air matanya. Ia pun menceritakan semua kejadiannya kepada Anna kejadian di rumah Paman Aiman secara detail. Sembari bercerita, namun air matanyapun tak henti menetes.
"Ananya, sebaiknya kamu temui suamimu nak sebelum semuanya terlambat. Sepertinya Varo salah paham sayang." Kata Anna yang memberi saran.
"Iya bunda, Ananya akan menemuinya." Jawab Ananya.
"Iya sayang, jangan menunda waktu. Kalau begitu bunda akan menyuruhnya datang, agar kamu bisa sambil beristirahat." Anna memberikan saran karena ia pikir mungkin Varo belum terlalu jauh dari sini. Ia pun mengirimkan pesan singkat kepada Varo seketika itu juga memberitahukan bahwa Ananya sudah pulang dan ada hal penting yang harus mereka bcarakan.
"Nya kamu bersihkan badan dulu, bunda sudah mengirim pesan kepada Varo. Dia pasti akan datang." Kata Anna lagi kemudian masuk kek dalam kamarnya.
"Baik, bunda.."
Saat Ananya hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu. Ia pikir itu adalah Varo, ia pun dengan semangatnya berlari ke arah pintu dan membukanya.
"Vino....! Mau apa kesini malam-malam begini ?" Tanya Ananya dengan wajah kagetnya. Vino mendekat dan memeluk tubuh Ananya.
Sontak Ananya melepaskan pelukan yang secara tiba-tiba itu kemudian menjauhkan tubuhnya dari Vino.
"Jangan seperti ini, Vin...!" Kata Ananya.
"Maafkan aku, Ananya. Aku sangat merindukanmu. Aku seperti orang gila yang mencarimu kemana-mana tapi tak juga menemukanmu. Dan sekarang kamu di hadapanku, aku tidak bisa membendung perasaanku Ananya." Jawab Vino.
"Tolong katakanlah, apa tujuanmu kesini ?" Ananya semakin ketus kepada Vino.
"Apa tidak ada lagi rasa cintamu untukku ?" Tanya Vino.
"Vino, sudahlah... Semuanya telah berakhir dan sekarang ini aku sudah menjadi iatri sah Kak Varo, kakak kamu sendiri. Mengertilah !" Ananya menegaskan suaranya.
"Aku tidak peduli dengan pernikahan kalian, aku hanya ingin tau perasaanmu, Ananya..!" Vino pun balas menegaskan suaranya.
"Perasaan ?? Yah, aku memang masih mencintaimu. Tapi lambat laun perasaan ini pasti akan hilang. Kak Varo orang yang sangat baik dan penyayang, rasanya tidak sulit untuk jatuh cinta kepadanya." Jawab Ananya dengan mantap.
"Aku tidak percaya kamu bisa melakukan itu kepadaku Ananya." vino.
"Apanya yang tidak bisa ? Kami menikah secara agama dan kini telah sah di mata hukum. Tak ada lagi yang harus kami takutkan. Aku cukup menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri, maka pernikahan kami akan sempurna, lama kelamaan cinta pun akan tumbuh diantara kami." Tutur Ananya.
"Tidak Ananya, aku mohon...!?" Pinta Vino.
"Vin... sudahlah... demi persahabatan kita Aku mohon kepadamu biarkan aku bahagia bersama kak Varo. Kamu pasti bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari diriku." Suara Ananya mulai melemah, berharap Vino bisa luluh dan mengerti keadaannya saat ini.
Hening...
Sejenak keduanya terdiam, tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan. Yah, ternyata Varo sudah ada dihalaman rumah sejak tadi. Namun saat ia melihat di dalam ada Vino, ia pun mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam. Ia lebih memilih masuk kedalam mobil menunggu Vino pergi baru kemudian ia pun akan masuk.
"Maafkan aku Ananya, karena sudah memaksakan kehendakku. Maafkan atas keegoisanku ini, maaf juga karena selama ini aku mengabaikan perasaanmu. Aku benar-benar menyesali semuanya, Aku harap kalian bisa bahagia. Namun sebelum kamu benar-benar pergi, bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali ?" Pinta Vino, dan Ananya pun mengangguk menyetujui permintaan Vino.
Keduanya saling berpelukan, tampak keduanya tersenyum bahagia karena akhirnya mereka bisa sama-sama mengikhlaskan perasaan masing-masing.
Varo yang melihat adegan keduanya nampak terbakar emosi. Ia mencengkeram kemudi, kemudian memukulnya dan mengusap wajahnya dengan kasar. Emosinya memuncak, dan saat ini ia benar-benar cemburu melihat istrinya di dalam pelukan adiknya sendiri.
"Apa ini alasan bunda menyuruhku kesini ?" Lirihnya.
Vino pun meninggalkan rumah Ananya, tanpa memperhatikan mobil kakaknya yang terparkir di bawah pohon. Setelah Vino benar-benar pergi, Varo pun keluar dari mobilnya melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Ananya.
"Ananya...!"
"Apakah belum puas dia memeluk Vino ?" Gumam Varo dalam hati kemudian melepaskan pelukan Ananya dan menjauhkan tubuhnya.
"Ma..maaf kak. Kak Varo, ada yang ingin Ananya katakan pada kak Varo. Ayo duduklah dulu." Pinta Ananya.
"Tidak Usah, aku buru-buru.. Aku hanya ingin menyerahkan ini padamu." Kata Varo menyodorkan Sebuah Amplop cokelat berukuran besar kepada Ananya.
"Apa ini kak ?" Tanya Ananya penasaran.
"Nanti kamu juga akan tahu setelah kamu membukanya. Aku pergi dulu !" Varo hendak pergi namun suara Ananya menahan langkahnya.
"Kak, Dengarkan Nya dulu, kak Varo harus mendengar penjelasan Nya.!" Kata Ananya setengah berteriak.
"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, semuanya sudah sangat jelas. Akupun melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana bahagianya kalian berdua. Jangan khawatir, tidak lama lagi kamu akan mendapatkan kebebasanmu, bukankah itu yang kau inginkan dari dulu ??" Varo pun akhirnya benar-benar meninggalkan Ananya tanpa mau mendengar penjelasan darinya.
"Kak Varo, tunggu... Kak Varo salah faham...!" ananya berlari mengejar Varo, namun Varo sama sekali tidak bergeming. Ia malah mempercepat langkahnya masuk ke dalam mobil kemudian berlalu dari rumah Ananya.
Ananya menatap kepergian Varo dengan wajah sedih, air matanya kembali tumpah membasahi pipinya.
"Bahkan kamu tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan semuanya... Maafkan aku.." Anannya terduduk lesu di tanah, meratapi nasibnya. Di bukanya amplop coklat yang ada di tangannya, alangkah kagetnya ia melihat isi dari amplop itu.
"Kak Varo menggugatku ?" Gumamnya lirih seolah tak percaya.
"Tidak-tidak... ini tidak bileh terjadi. Bunda...?!" Ananya berlari masuk ke dalam rumah mencari bundanya.
"Ada apa, kenapa teriak-teriak ?" Tanya Anna keheranan.
"Bunda, lihat ini.. Varo akan menceraikan Nya bunda... Varo salah faham..." Rengek Ananya dengan tangisannya.
"Bukannya tadi Varo kesini ? Apa kalian belum bicara ?" Tanya Anna lagi.
Ananyapun menceritakan kejadian barusan kepada bundanya. Belum juga air matanya kering, kini ia harus menangis lagi.
"Ananya... kamu yang sabar yah nak. Biarkan Varo tenang dulu. Beri dia waktu, setelah keadaan mulai tenang, cobalah untuk menemuinya kembali. Kali ini, kamu yang harus datang padanya. Tunjukkan padanya kalau kamu benar-benar serius akan keputusannmu." kata Anna.
"Tapi kak Varo sudah tidak menginginkan Nya lagi bunda, mungkin sakit hatinya sudah melewati batas, buktinya ia melayangkan gugatan cerainya buat Nya." Timpal Ananya.
"Cobalah dulu... Jangan terbawa emosi. Bunda sangat tau watak Anak itu sejak ia masih kecil." Kata Anna dengan mata berbinar.
"Maksud bunda ?" Ananya nampak bingung mendengar kata-kata Anna.
Anna menceritakan masa lalunya yang dulu bersahabat dengan Diandra, bagaimana ia mengasuh Varo saat Diandra sibuk dan samoai akhirnya mereka berpisah dan tak pernah bertemu lagi.
"Dunia ini memang sempit yah bunda, semuanya memang serba kebetulan" Kata Ananya.
"Tidak ada yang kebetulan, semuanya sudah takdir. Tuhan memberikan masalah, pasti Tuhanpun akan memberikan jalan keluar. percayalah, jika kalian memang diciptakan untuk bersama, bagaimanapun caranya cinta akan menemukan jalannya untuk pulang."
TO BE CONTINUED
Maaf author cuma bisa update segini, author sudah ngantuk parah. Maklumlah auathor lagi hamil muda jadi sangat wajar jika author gampang lelah dan ngantuk.
Tolong, bantu author untuk memberikan rate 5 bintang
Tinggalkan jejak anda setelah membaca novelku.
Like dan comment please...