
Penjelasan Dika membuat Tiara langsung terdiam dan terpaku, namun bukan berarti Tiara merasakan apa yang digambarkan oleh Rivan barusan. Justru dirinya sedang membayangkan bahwa Dika merasakan hal tersebut padanya dengan begitu kuat.
Ada perasaan yang bergejolak di hati Tiara, antara rasa sedih, penyesalan serta rasa kesal terhadap pria yang ada di hadapannya saat ini. Bertahun tahun dirinya menjalani kebersamaan dengan Dika tanpa merasa bahwa dirinya menjadi orang yang didamba ataupun diinginkan oleh Dika.
Namun meskipun begitu tetap saja, Tiara menerimanya karena dia pikir dirinya tidak dapat berpisah dari pria yang tidak tau bagaimana caranya menghargainya. Tapi setelah semuanya, Dika tetap saja pergi dan meninggalkan Tiara sendiri.
Lalu disaat dirinya sudah menemukan cara untuk tetap hidup tanpa Dika, pria tersebut malah kembali dengan semua rasa dia ingin inginkan di masa lalu. Sungguh tidak pernah Tiara sangka bahwa untuk mendapatkan cinta yang tulus dari seorang Dika adalah dengan cara membiarkan Dika berjalan sendiri tanpa ada dirinya di sisinya.
" Tiara, please jawab aku" ucap Dika kembali dengan begitu memohon setelah tidak ada sahutan dari Tiara setelah penjelasannya tadi.
Tiara yang dari tadi terdiam dengan semua pemikirannya setelah mendengar penjelasan Dika, seolah langsung tersadar dari lamunannya. Dirinya bukanlah orang yang harus bertanggung jawab untuk membuat Dika menjadi lebih baik setelah mereka berpisah.
Tiara sangat menyayangkan bahwa Dika terlambat menyadari semuanya. Sekaligus terlanjur menyakiti Tiara dengan begitu dalamnya, sampai membuat Tiara tidak bisa untuk kembali ke dalam masa dulu.
" Gue tau perasaan itu Dik, karena dulu gue sempat merasakannya..." jawab Tiara melunak kini suara sudah terdengar lebih lembut saat didengar di telinga Dika.
Dan hal itu sukses membuat Dika tersenyum tipis seolah telah berhasil meluluhkan hati Tiara. Tapi itu semua hanya ada di dalam di dalam angan angan Dika saja karena Tiara sama sekali tidak akan pernah luluh untuk kembali bersama dengan Dika.
Tiara ingat bagaimana rasanya untuk pertama kali dirinya yang harus ditinggalkan oleh Dika. Dia juga ingat bagaimana saat dirinya harus pontang panting untuk menjalani hidupnya kembali sendirian.
" Sempat? Tiara kita itu sama, kita itu satu. Aku sangat yakin kamu masih merasakannya sampai saat ini" ujar Dika meyakinkan Tiar bahwa mereka merasakan perasaan cacat yang sama karena kehilangan satu sama lain.
" Tapi sayangnya tidak!" jawab Tiara kembali dengan cepat dan tersenyum sinis oleh pemikiran Dika.
" Nggak mungkin, Tiara! Kamu bukannya tidak merasakannya, Tiara. Kamu hanya sudah merasa terbiasa dengan kecacatan itu!" elak Dika yang tidak sepemikiran dengan Tiara. "Tapi aku nggak akan ngebiarin itu semua...aku nggak mau terbiasa dan menerima kecacatan itu. Kita berdua harus sempurna, Tiara. Makanya kita harus kembali menjadi satu" lanjut Dika yang terus berusaha membujuk Tiara agar bersedia kembali bersamanya.
Mungkin saja jika tanpa Rivan saat ini yang telah hidup bersamanya, Tiara akan dengan mudah meyakini bahwa apa yang dikatakan oleh Dika adalah benar. Tapi meskipun begitu Tiara tau bahwa perasaannya untuk Dika sudah tidak ada lagi.
" Sangat disayangkan keputusan elo yang dulu, elo yang sudah ngehancurin semuanya tapi elo yang sendiri yang menyesalinya" jawab Tiara dengan tegas bahwa dirinya sama sekali tidak merasakan drama yang saat ini Dika rasakan.
" Kita berdua yang sama sama menyesal, Tiara" kata Dika yang terus memaksakan perasaannya yang menurutnya sama sama merasa pincang.
Tiara hanya bisa menggeleng dan tersenyum tipis, dia tau apa yang dirasakannya saat ini dan dia begitu merasa lega.
" Gue nggak menyesal, Dik. Gue bersyukur bisa putus dari elo, karena akhirnya gue bisa lihat pria seperti apa elo sekarang ini" sanggah Tiara dengan yakin. " Seorang pria egois yang gak bisa pegang omongannya dan prinsipnya sendiri. Janji nikah aja gak berarti apa apa buat kamu, apalagi cuma sekedar omongan kayak gini ke gue" sambung Tiara dengan terus mengejek Dika.
Sepertinya perdebatan sengit antar dirinya dan Tiara ini tidak akan bisa dimenanhkan oleh Dika dengan mudah karena perlawanan Tiara yang terus menerus. Tapi batinnya tidak rela jika dirinya harus dikalahkan oleh Tiara.
" Aku tau aku gak salah, Tiara! aku bilang kalau aku nyesel dan bersalah sama kamu. Kapan aku pernah melakukan kesalahan aku?!" emosi Dika sudah tidak dapat dia tahan hingga dirinya membentak Tiara dan memukul meja dengan kepalan tangannya. Semua orang yang ada di sana langsung menatap ke arah mereka berdua sambil menebak nebak apa yang Tiara dan dan Dika bicarakan saat itu.
Mengetahui emosi Dika yang sudah meletup letup, Tiara berusaha menutupi keterkejutannya dengan ekspresi yang tetap tenang meskipun Dika baru saja telah berbuat kasar. Dia tidak ingin menunjukkan keterkejutannya dan ketakutannya pada Dika tidak merasa puas telah berhasil menakut nakuti dirinya.
" Seingat gue sih gak pernah" jawab Tiara dengan suara kalem masih berusaha bersikap tenang.
" Memang gak pernah, Tiara! karena aku percaya apa yang aku lakukan tidak pernah salah" kata Dika kini sudah bisa bicara dengan suara lebih pelan dari sebelumnya.
Tiara hanya bisa mendengus kesal dan menggelengkan kepala tidak percaya dengan sikap Dika yang terlalu percaya diri. " Terus mengejar gue, lalu meminta gue menjadi milik elo lagi, sementara itu ada istri elo yang sudah menemani elo selama ini dan mau elo ceraikan hanya demi untuk dapatin gue! Apa itu bukan sebuah kesalahan?!" seru Tiara balik mengingatkan satu kesalahan yang baru saja dilakukan oleh Dika.
" Itu adalah kesalahan fatal!" lanjut Tiara merasa begitu marah karena Dika masih saja merasa dirinya tidak pernah berbuat kesalahan dan nyatanya itu adalah satu kesalahan yang sangat nyata.
" Bukan begitu, Tiara. Aku hanya ingin kembali bersama kamu, perempuan yang aku inginkan dan aku cintai, dan menurutku itu bukanlah sebuah kesalahan" sanggah Dika yang tepat kekeh tidak ingin disalahkan untuk usahanya yang ingin memiliki Tiara.
Tiara sudah tidak dapat menahan amarahnya jika dia masih harus berdebat lebih lama dengan Dika yang selalu merasa benar. Dia harus segera mengakhiri perdebatan sengit mereka agar hatinya tidak semakin buruk karena sudah bertemu dengan Dika dan selalu berbicara omong kosong gak jelas.
" Terserah elo mau ngomong apa, gue udah gak peduli lagi. Sekali lagi gue tekankan bahwa gue sudah punya seorang pria yang jauh lebih baik dari elo bahkan jauh dari segala galanya dari elo..." ucap Tiara sudah ingin segera mengakhiri pembicaraan mereka.
Dika terdiam mendengarkan penjelasan Tiara lebih jauh lagi. Ingin tau apa yang akan disampaikan oleh perempuan yang masih begitu susah dia luluhkan kembali hatinya.
" Dan gue udah menikahi satu pria yang gue maksud!" kata Tiara penuh penekanan agar Dika bisa mendengarkan dengan jelas. Bahkan Tiara mengangkat tangan kanannya dan menunjukkan cincin berlian yang melingkar sempurna di jari manis Tiara yang sudah diberikan Rivan saat ijab qabul mereka.
Mata Dika seketika langsung terbuka lebar dengan sempurna seolah bola matanya akan keluar dari tempatnya. Saat dia melihat cincin berlian telah melingkar di jari manis Tiara yang bahkan tidak pernah dia sadari sejak mereka duduk bersama di sana dari tadi. Kini bibirnya seakan Terada kelu tidak sanggup berkata lagi.
" Jadi, kalau memang elo gak bisa hargai pernikahan elo, setidaknya hargai pernikahan gue dan menjauh jangan pernah menampakkan wajah elo di depan gue lagi. Sebelum suami gue nemuin elo dan bikin elo nyesel karena udah memperlakukan gue kayak gini" ucap Tiara penuh dengan sebuah ancaman yang bahkan dirinya sendiri tidak percaya kalau Tiara akan dengan mudah mengancam seseorang bahkan menyertakan suaminya yang mungkin memiliki kekuasaan tinggi di kota tersebut.
Tiara langsung beranjak berdiri dan pergi tanpa meninggalkan sepatah kata lagi setelah ancaman yang sudah dia katakan dengan tegas sebelumnya. Tiara segera meninggalkan restoran bahkan dia juga meninggalkan Dika yang masih duduk dengan terpaku seolah tersadar dari lamunannya.
Dengan senyuman yang begitu lebar karena telah memenangkan perdebatan yang dari tadi tida ujungnya. Dia seolah baru menyesal kenapa tidak sedari tadi terpikirkan olehnya untuk segera mengakhiri perbincangan alot mereka yang sudah membuang buang waktu paginya dengan sia sia hingga paginya menjadi kacau dan begitu buruk.