Suddenly Married

Suddenly Married
Kisah Ayah dan Ibu.



Di tempat lain, Ananya nampak gelisah membolak balikkan tubuhnya. Ia pun susah tidur, entah apa yang ia fikirkan saat ini. Bayangan Varo dan Vino bergantian muncul di benaknya. Pria yang satu adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya, sedangkan yang satunya lagi adalah pria yang baik yang kini menjadi suaminya. Setelah capek berkhayal, Ananya akhirnya tertidur dengan sendirinya.


Pagi hari, setelah melakukan ibadah Ananya menuju teras belakang dengan tujuan ingin menghirup udara segar. Setelah merasa bosan, ia pun kembali ke kamarnya dan memainkan telepon seluler miliknya. Di lihatnya foto-foto kebersamaannya dengan vino.


"Vino... apa kamu benar-benar mencintaiku ? Atau kamu hanya menganggapku seperti mainan, dan seperti biasanya kamu tidak ingin jika mainanmu di sentuh oleh orang lain." Benak Ananya.


Sebenarnya, perasaan Ananya masih berat ke Vino, hanya saja ikatan pernikahan itu lah yang membuatnya enggan untuk kembali kepada Vino.


Seketika Ananya mengingat pertemuan terakhirnya dengan Varo, dimana Varo menciumnya sebanyak dua kali. Wajahnya tiba-tiba memerah mengingat adegan ciumannya dengan Varo.


"Aaarrghh... malu-maluin, bagaimana nanti aku menemuinya ? Kenapa juga waktu itu aku tidak menolaknya ? Kak Varo juga sih, main nyosor aja." Ananya merutuki dirinya sendiri.


"Nya...!" Seseorang menyahut dari luar.


"Iya, paman...!" Jawab Nya saat mendengar suara yang di yakini milik pamannya kemudian membuka pintu.


"Apa kamu tidak bosan berada di kamar terus. Ayo paman akan mengajakmu jalan-jalan." Ajak Paman Aiman.


"Baiklah paman, Ananya akan ikut."


Keduanya berjalan-jalan mengitari kampung, Ananya tampak menikmati pemandangan yang asri tanpa polusi berlebih. Sangat jauh berbeda dengan kehidupan di kotanya.


"Udara disini sangat sejuk, Nya suka."


"Hmm... kamu persis seperti ibumu. Saat ia datang kesini bersama ayahmu, ia akan sangat senang. Ia selalu meminta kepada ayahmu untuk tinggal berlama-lama disini."


"Apa mereka dulu sangat bahagia ?" Tanya Ananya.


"Tentu saja, mereka sangat bahagia."


"Pasti mereka saling mencintai yah paman." Ananya bertanya seolah ada rasa iri dalam relung hatinya.


"Hmm... Pernikahan karena perjodohan memang butuh proses untuk saling mencintai dan mengenal satu sama lain."


"Maksud paman ?"


"Apa kamu tidak tau, ayah dan ibu kamu menikah karena perjodohan. Awalnya ibu kamu sangat tidak setuju dengan pernikahan itu, Ibumu adalah gadis kota yang tidak tahan hidup di desa, begitupun sebaliknya ayahmupun sangat tidak menyukai gaya hidup gadis kota metropolitan seperti ibumu. Tapi demi menghormati almarhum kakekmu, ayahmu selalu berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk ibumu. Ibumu pun merasa Ayahmu adalah pria yang baik. Meskipun sedikit kaku dan tidak romantis, ia adalah pria yang sangat baik." Jelas Aiman.


"Wow.. kisah yang sangat luar biasa. Terus paman, bagaiman bisa akhirnya mereka saling mencintai ?" Tanya Ananya kemudian.


"Kala itu, ayahmu bersikeras ingin membawa ibumu kesini. Awalnya Lena tidak setuju, namun karena perintah kakekmu yang tidak bisa di bantah akhirnya ia pun ikut meskipun terpaksa. Beberapa bulan tinggal di kampung, akhirnya ibumu mulai betah. Banyak hal menyenangkan ia jumpai disini yang tak pernah ia dapati di kotanya. Akhirnya, ibumu belajar menghormati ayahmu. Begitupun sebaliknya, ayahmu mulai mengerti akan sikap kekanakan ibumu. Sampai akhirnya mereka jatuh cinta. Saat itu kakekmu sakit dan meminta ayah dan ibumu agar kembali ke kota." Aiman pun menutup ceritanya saat tiba di pekarangan rumahnya dan melihat sosok yang tak asing duduk di bangku halaman.


"Nya, bukankah itu suamimu nak ?" Tanya Aiman dan menunjuk ke arah Varo.


"Kak Varo,..? Sejak kapan kakak disini ?"


"Aku baru saja sampai, Selamat pagi Paman !" Kata Varo yang kemudian menyapa paman Ananya.


"Nya, paman ke dalam dulu. Ajak suamimu ke dalam yah nak." Aiman meninggalkan sepasang suami isteri itu kemudian masuk kedalam mencari keberadaan isterinya.


"Ananya, bagaimana keadaanmu ? maaf aku kesini tanpa memberi tahumu terlebih dahulu." Kata Varo.


"Tidak apa-apa, aku baik kak. Kakak sendiri ?" Tanya Ananya balik.


"Aku... sedikit kurang baik." Varo menggedikkan bahunya.


"Kalau kakak tidak sehat, kenapa repot-repot datang kesini ? kalau sakitnya bertambah parah bagaimana ?" Ananya terlihat khawatir kemudian meletakkan punggung tangannya di dahi Varo.


"Tapi kak Varo gak demam." Kata Ananya.


"Bukan disitu yang sakit, tapi disini !" Varo meraih tangan Ananya dari kepalanya dan membawa ke dadanya. Ananya tercengang, tanpa melawan ia membiarkan Varo menggenggam tangannya di atas dada Varo.


"Bagaimana bisa aku baik-baik saja, sedangkan isteri ku sendiri berada jauh dariku. Sepertinya aku merindukannya." Kata Varo.


Ananya diam, ada banyak pertanyaan yang timbul dalam benaknya. Seketika ada perasaan aneh yang muncul dalam hatinya, namun ia sendiri pun tak tahu perasaan apa itu. Perkataan Alvaro berhasil memporak-porandakan suasana hatinya.


"Rindu katanya ? Apa mungkin ? Apakah ini adalah jawaban dari do'a-do'a dan kebimbanganku srlama ini ? Apa aku harus belajar mencintai suamiku sendiri dan melupakan cinta pertamaku ?" Batin Ananya.


Alvaro tersenyum saat Ananya menggenggam tangannya. Seketika lamunan Ananya buyar dan melepaskan tangan Varo.


"Ananya, apa kau juga merindukanku ?" Tanya Varo.


"Kak, ayo kita ke dalam. Paman dan bibi menunggu kita." Ajak Ananya dengan tujuan mengalihkan pertanyaan Varo.


"Kau belum menjawab pertanyaanku." Ananya menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Varo.


"Kak, masuklah dulu. Kita akan membicarakannya di dalam."


"Okay, tunggu sebentar aku ambil koper dulu di mobil." kata Varo.


"Apa ? Koper ?? untuk apa kak Varo pakai acara bawa koper ?" Tanya Ananya yang nampak membelalakkan matanya.


"Iya koper, untuk apalagi kakau bukan untuk menampung beberapa pakaianku. Selama isteriku berada disini maka aku juga akan berada disini." Kata Varo yang kemudian berjalan ke arah mobil dan mengambil kopernya.


Ananya hanya ternganga melihat koper besar yang di bawa Varo.


"Memangnya berapa lama dia akan tinggal disini, merepotkanku saja !" Gumam Ananya.


Varo berjalan di belakang Ananya sambil menyeret kopernya. Ananya nampak berpikir keras harus tidur sekamar dengan Varo setelah adegan ciuman itu. Ia khawatir kejadian yang sama akan terulang lagi.


"Kakak duduk dulu yah, aku ke dalam dulu." Ananya menuju dapur mencari keberadaan paman dan bibinya.


"Paman, bibi...bagaimana ini ? Varo ingin nginap juga. Apa masih ada kamar yang kosong ?" Tanya Ananya yang nampak resah.


"Loh, kalian ini sudah suami isteri. Jadi tidak apa-apa jika kalian tidur sekamar." Jawab bibi Santi istri Aiman.


"Bibi.... bibi kan tau sendiri kalau Nya dan Kak Varo belum itu..!" Jawab Ananya polos.


"Sudah,, sudah... disini sudah tidak ada lagi kamar yang kosong. Kamu bawa saja suami kamu ke kamar. Selesaikan masalah kalian. Nanti paman akan ke atas memanggilmu untuk makan siang." Kata Aiman.


"Biar saja kak Varo sendiri, Nya mau bantu bibi di dapur." Ananya ngeless.


"Tidak usah bantu bibi, ada paman dan Nayla yang akan membantu disini." Tolak bibi Santi.


"Baiklah, Nya ke atas dulu."


Ananya berjalan ke ruang tamu hendak menemyi Varo yang sedari tadi menunggunya di depan.


"Ayo, kak kita ke atas." Ajak Ananya.


Varo berdiri dan kembali menyeret kopernya mengikuti langkah Ananya. Keduany menuju lantai atas tepatnya di kamar yang Ananya tempati.


"Masuklah..!" Ananya.


"Hhhmm... ini kamarmu ?" Tanya Varo.


"Iya, kenapa ? Kakak tidak suka ? Kalau tidak suka kakak bisa mencari penginapan." Cerocos Ananya.


"Aku hanya bertanya, bukan tidak suka. Lagi pula kasurnya pas buat berdua." Kata Varo sembari mengangkat kedua alisnya.


"Adduuhhh mati aku. Otaknya mulai error, dasar kak Varo mesum. Awas saja kalau kakak berani macam-macam akan aku adukan kepada paman Aiman." Gumam Ananya dalam hati.


.......


To Be Continued


Tinggalkan jejak setelah membaca.


Tekan Like dan Add Favorite


Terimakasih untuk semua pembaca setia "Suddenly Married". Terus ikuti lanjutan kisahnya yah,..


Mohon maaf author baru bisa update, soalnya kemarin sibuk banget di kantor karena dikejar deadline laporan akhir bulan. Mohon kritik dan sarannya di kolom komentar. Terimakasih 🤩